Bab 5

1028 Kata
Di teras rumah, Asgar tampak bahagia melihat Clara yang sibuk bermain dengan mainan barunya. Senyumnya mengembang saat melihat Clara tersenyum dan tertawa bahagia. Tidak terasa, Clara sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang manis, sama seperti mendiang ibunya. Asgar merasa bangga, karena usahanya membesarkan Clara tak sia-sia, meskipun ia harus melewati berbagai macam rintangan. Helaan napas panjang pun terdengar. Asgar menatap ke arah awan yang tampak mendung sambil tersenyum dan bergumam, "Asya, putrimu udah besar sekarang. Kamu pasti bangga di sana, kan? Kamu nggak perlu khawatir lagi. Aku bakal terus jagain dia." Asgar kembali melihat Clara, kemudian ikut duduk di lantai bersama gadis kecil itu. Tangan kanannya membelai rambut hitam Clara. Clara pun menatap Asgar sambil tersenyum. "Kamu kok main sendiri aja? Ajakin Ibbas dong, biar seru," ujar Asgar sambil menunjuk seorang anak laki-laki yang sejak tadi hanya duduk diam di hadapan Clara. Clara pun langsung menggelengkan kepalanya seraya berkata, "Nggak mau. Dia suka ngerusakin mainan aku, Ayah. Aku nggak mau ngajakin dia. Ini mainan baru." "Sayang, nggak boleh gitu sama Ibbas ya. Kalau mainannya rusak, nanti Ayah beli lagi yang baru. Jangan gitu ya. Berbagi ya. Ayah nggak suka kalau kamu jahat sama Ibbas," Asgar menasehati Clara dengan cara yang baik sampai membuat gadis kecil itu menundukkan kepala, merasa bersalah. "Tapi Ayah janji bakal beliin mainan lagi, kan?" Asgar mengangguk. "Ayah janji." Clara berseru gembira, lalu membagi mainannya dengan Ibbas untuk bermain bersama. Asgar pun tersenyum, kemudian beranjak masuk ke dalam. Ia merasa lelah sekali dan merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil meregangkan otot-ototnya agar tidak kaku. Setelah itu, Asgar menatap plafon ruang tamu sembari menghela napas berat. "Aku rindu kamu, Asya," gumam Asgar. Helaan napas panjang kembali terdengar, kemudian perlahan Asgar memejamkan kedua matanya. Ia memang belum puas tertidur sejak tadi, karena kepalanya terasa pusing. Asgar pun sudah terlelap dan melupakan Clara yang sedang bermain di teras bersama Ibbas. "Asgar." Asgar belum membuka matanya, namun telinganya bisa mendengar suara yang sedang memanggil namanya. Asgar mencoba untuk mengabaikannya. Tapi lagi-lagi, suara itu kembali terdengar. Kali ini terdengar sedikit lebih keras daripada sebelumnya. "Asgar!" Merasa jengah, Asgar pun membuka matanya yang masih terasa berat, lalu menguap sekali sambil menutup mulutnya dengan tangan. Kedua matanya mengerjap malas, kemudian menatap ke arah sofa satunya yang berada tepat di depannya. Seketika kedua matanya melebar, karena terkejut. "A-Asya?" Asya pun tersenyum. "Hai." Asgar yang tidak percaya pun mencoba untuk mengusap kedua matanya berulang kali. Kemudian menepuk kedua pipinya sendiri, memastikan apakah ia sedang bermimpi atau tidak. Ternyata, Asgar bisa merasakan sakit di kedua pipinya. "Ka-Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Asgar sambil berusaha menggapai Asya, namun rasanya pergerakan Asgar terlalu lambat. "Aku ke sini cuma mau bilang makasih, karena kamu udah mau jagain Clara." Asgar tersenyum tipis. "Itu udah jadi tugas aku. Kasihan kalau dia dibawa sama Papanya." "Iya. Jangan biarin dia bawa Clara ya," pinta Asya. "Aku nggak akan biarin itu, Asya," kata Asgar. "Aku rindu banget sama kamu, Sya. Aku mau peluk kamu, tapi kenapa kamu ngejauh gitu?" Asya justru tersenyum. "Aku juga rindu sama kamu, Asgar. Tapi, aku nggak bisa dekatin kamu." "Tapi, kenapa?" "Karena alam kita beda, Asgar," jawab Asya yang wajah dan tubuhnya semakin memudar, seakan ingin menghilang dari pandangan Asgar. Asgar menggelengkan kepala, mencoba mengejar Asya yang semakin berjalan menjauh darinya. Akan tetapi, langkah Asgar justru semakin melambat dan tidak mampu mengejar wanita itu. "Nggak. Asya, kamu nggak boleh pergi lagi. Tunggu aku, Asya!" teriak Asgar. Asya hanya tersenyum sambil melambaikan tangan kanannya. Tak berapa lama, Asya pun menghilang. Sontak hal itu membuat Asgar semakin berteriak memanggil nama Asya. "ASYA!" *** Asgar terduduk di sofa dengan napas tersengal-sengal. Keringat pun tampak mengucur di keningnya. Asgar mengerjapkan kedua matanya dan tersadar bahwa semua itu hanyalah sebuah mimpi. Tapi bagi Asgar, mimpi itu tampak nyata sekali. Ia menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran tentang mimpi tersebut. Saat masih berusaha mengatur deru napasnya yang tak beraturan, Asgar kembali dikejutkan oleh tangisan Clara dari arah teras rumah. Asgar langsung beranjak dari sofa dan berlari keluar untuk melihat keadaan Clara. Asgar mendapati Clara tengah berada dalam gendongan seorang wanita berambut hitam lebat dan panjang. Asgar mengenal wanita tersebut. "Catherine!" teriak Asgar. "Lepasin dia!" "Ayah!" Clara terus berteriak memanggil Asgar sambil menangis terisak dalam gendongan Catherine. Clara mencoba melepaskan diri, namun tenaganya tidaklah sebanding dengan wanita tersebut. Sepertinya, Clara memang tidak menyukai Catherine. Asgar berjalan menghampiri Catherine, lalu mengambil paksa Clara dari gendongan wanita itu. Clara pun memeluk erat leher Asgar sambil tetap menangis. Asgar mengelus pundak Clara, berusaha untuk menenangkannya. "Tenang, Sayang. Ayah di sini. Kamu aman sekarang," ucap Asgar pada Clara, kemudian beralih menatap Catherine dengan tajam. "Mau apa kamu datang ke sini?! Kamu udah buat Clara nangis!" "Aku rindu sama kamu. Kamu pergi gitu aja, tanpa kabar. Aku udah susah payah cari kamu kemana-mana, tapi kamu malah dingin sama aku. Aku nggak suka," gerutu Catherine sambil memanyunkan bibirnya. "Sambutan kamu buruk." Asgar mendengus kesal, kemudian menurunkan Clara dari gendongannya. Pria itu berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan Clara. Ia mengelus rambut berkilau Clara seraya berkata, "Kamu masuk duluan ya, Sayang. Nanti Ayah nyusul kamu. Ajak Ibbas main di dalam ya." Clara hanya mengangguk lalu berlari masuk ke dalam rumah. Asgar pun kembali berdiri, berhadapan langsung dengan wanita bernama lengkap Catherine Walker itu. Tatapan Asgar benar-benar tidak bersahabat. "Apa maumu?" tanya Asgar datar. Catherine mendecak. "Aku mau kamu balik ke Australia, terus kita nikah di sana. Orang tua kita udah rencanain ini semua dari dulu. Jadi sekarang kamu harus ikut aku balik ke Australia malam ini." "Enggak." Asgar berniat masuk ke rumah, namun Catherine segera menahan lengan Asgar sambil memperlihatkan tatapan sendunya pada pria tersebut. "Aku mohon, kamu pulang sekarang ya. Persiapannya udah selesai semua. Kita bakal nikah seminggu lagi dan kamu harus ikut balik. Orang tua kita udah nentuin tanggal pernikahan kita." "Maaf, Cath. Tapi itu kemauan kalian, bukan aku. Jadi, jangan paksa aku, karena aku nggak mau nikah sama kamu. Titik." Asgar mencoba menyingkirkan tangan Catherine dari lengannya, namun tidak berhasil. Wanita itu justru semakin memeluk lengan Asgar dengan erat seraya menangis terisak. Catherine terus memohon pada Asgar agar pria itu mau kembali ke Australia untuk melangsungkan pernikahan dengannya yang memang sudah direncanakan sejak lama. "Aku mohon. Kalau pernikahan ini batal, aku malu sama orang-orang," ujar Catherine. Asgar mendecak. "Itu urusanmu. Lebih baik, kamu cari cowok lain. Aku nggak mau nikah sama kamu. Tinggalin aku." "Enggak!" tolak Catherine dengan tegas. "Aku nggak mau nikah sama cowok lain. Aku maunya sama kamu! Kamu harus pulang. Jangan buat keluarga kita malu karena ulah kamu." "Aku nggak peduli." Asgar menghempaskan tangan Catherine, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sambil menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Sementara Catherine tampak kesal sambil menghentak-hentakkan kaki kanannya ke lantai teras. Wanita itu kesal dengan penolakan Asgar. Pria asal Australia itu pun berjalan menuju kamar dan melihat Clara tengah tertidur di atas kasurnya bersama Ibbas, cucu dari Bi Asri. Asgar tersenyum, lalu menyelimuti keduanya dan membelai rambut Clara dan Ibbas secara bergantian. Setelah itu, Asgar mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas, lalu berjalan keluar kamar. Asgar mencari nomor telepon seseorang di ponselnya, kemudian menghubunginya. Nada sambung dari panggilan tersebut masih terdengar cukup lama, karena si pemilik nomor belum menerima panggilan Asgar. Setelah menunggu beberapa detik, barulah panggilan itu tersambung dengan si pemilik nomor. "Halo." "Halo, Ayah," Asgar membalas sapaan tersebut. "Aku mau tanya sesuatu sama Ayah." "Tanya soal apa?" "Soal Catherine. Kenapa dia bisa ada di Indonesia? Aku udah bilang berkali-kali, aku nggak mau nikah sama dia, Ayah. Aku nggak suka dipaksa," protes Asgar. "Maafin Ayah, Nak. Ayah cuma disuruh sama Ibu kamu. Kamu kan tahu gimana sifat Ibu kamu yang keras kepala itu. Kalau boleh jujur, Ayah juga nggak suka sama Catherine. Tapi ya, mau gimana lagi?" Helaan napas berat pun terdengar dari Asgar. Pria itu menunduk sambil memijat dahinya yang terasa berdenyut. "Ayah, keputusanku tetap sama. Aku nggak akan pernah nikah sama dia. Tolong bilang sama Ibu, kalau aku nggak suka sama Catherine." Pria itu langsung memutus sambungan teleponnya secara sepihak, lalu melemparkan ponselnya ke sofa. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Asgar tidak tahu harus melakukan apa untuk meyakinkan Ibunya bahwa Catherine bukanlah wanita yang baik untuknya. Lagipula, Asgar tidak mencintai Catherine sedikitpun. "Hhh! Ibu, maaf. Aku nggak bisa nurutin semua kemauan Ibu. Aku tahu, Ibu pasti punya rencana lain. Makanya Ibu terus maksa aku buat nikah sama Catherine. Aku nggak mau diatur lagi sama Ibu," gumam Asgar sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa. To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN