bc

Why Should I?

book_age16+
880
IKUTI
2.3K
BACA
fated
drama
twisted
brilliant
icy
multi-character
campus
city
office/work place
sacrifice
like
intro-logo
Uraian

SERI KE-2 DARI CERITA THE ACCIDENT

Asgar Pradiaksa atau yang biasa disapa Asgar merupakan seorang pria berusia 28 tahun yang memiliki sifat dingin namun berhati lembut. Banyak wanita yang tergila-gila akan pesonanya, apalagi saat dia tengah bermain dengan kameranya. Profesinya sebagai photographer membuatnya sering dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Tak heran jika Delika Angello, putri sulung dari pasangan Dehan dan Alika, teramat menyukainya. Mereka saling mengenal karena unsur tak sengaja. Asgar sendiri tak mengerti, kenapa Delika begitu menggilainya? Padahal kasta mereka sangat berbeda jauh bagaikan langit dan bumi. Inilah alasan Asgar kenapa terus berusaha menjauhi Delika. Lalu, bagaimana dengan Delika? Apa rencananya untuk semakin dekat dengan Asgar?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
"Pa, ayo bangun!" Delika Angello mengguncang tubuh sang ayah yang masih terlelap di atas kasur. Putri semata-wayang dari pernikahan Dehan dan Alika itu tampak kesal, karena sejak tadi Dehan tak kunjung bangun dari tidurnya. Memang, kebiasaan buruk Dehan itu tidak pernah berubah. Sedikit saja begadang, esoknya akan sangat susah untuk dibangunkan. Sekali lagi, Delika mengguncang tubuh Dehan. Bahkan ia melompat-lompat di atas kasur agar guncangannya lebih hebat lagi. Akan tetapi, aksi itu tetap tidak berhasil membangunkan sang ayah. Yang ada, Delika malah kelelahan karenanya. "Pa, bangun! Nanti aku telat ke kampusnya!" teriak Delika di telinga Dehan, namun Dehan justru semakin menutup kepalanya dengan selimut. "Astaga! Susah banget sih?!" Gadis berusia kurang lebih 21 tahun itu pun menghela napas kasar. Ia menguncir kuda rambutnya yang sedikit berantakan. Setelah itu, ia menarik kembali selimut yang menutupi tubuh Dehan hingga ke kepala. "Papa, buruan bangun!" seru Delika kesal. Namun hasilnya tetaplah sama. Tidak ada yang berbeda. Hal itu membuat Delika menepuk dahinya sendiri seraya menggumam kesal, "Nenek dulu ngidam apaan sih waktu hamil Papa?! Kesel gue!" Delika pun melirik jam tangan hitam yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Pukul tujuh pagi. Hari ini, dia mendapat jadwal kelas pagi yang dibawakan oleh dosen tersadis di kampusnya. Harusnya ia sudah tiba di kampus lebih awal sebelum dosen itu datang. Tetapi, berkat sang ayah, Delika menjadi sedikit terlambat. Ini benar-benar kacau. "Mampus gue! Kalau sampai telat, Bu Dian bakalan marah banget. Bisa-bisa gue di skors. Ih! Gara-gara bangunin Papa nih!" gerutu Delika kesal sambil menghentakkan kakinya ke lantai marmer kamar Dehan. Sambil menghela napas kasar, Delika melihat ke arah Dehan yang masih tenang bersama mimpi-mimpi indahnya itu. Kemudian ia berkata, "Oke. Kalau Papa gak mau bangun, aku bakal naik bus." "Iya, naik bus aja ya. Papa masih ngantuk banget. Ongkosnya minta sama Mama sana," jawab Dehan dengan suara seraknya, tanpa membuka selimutnya. Mendengar jawaban sang ayah, Delika pun menganga tak percaya. Benarkah yang ia dengar barusan? Dehan mengizinkannya naik bus untuk pergi ke kampus. Astaga! Mimpi apa Delika semalam? Ini suatu keajaiban untuknya. Tuhan benar-benar adil padanya, karena selama ini sang ayah selalu melarangnya untuk pergi sendirian, apalagi menaiki angkutan umum seperti bus. Alasannya hanya takut jika putri kesayangannya itu digoda oleh preman ataupun pria lain yang ada di dalam bus. Itu alasan yang tidak logis, menurut Delika. Lagipula, Delika tidak takut pada siapapun. Dia juga pintar berkelahi. Jadi, siapapun yang macam-macam dengannya, pasti akan ia lumpuhkan. Begitulah pemikiran Delika. Delika tersenyum riang lalu mendekati sang ayah dan berbisik, "Oke, Pa. Tapi, aku minta uang jajan ya. Hari ini, aku ada kerja kelompok untuk buat jurnal. Kayaknya bakal pulang sore deh, Pa." "Hhm." Delika mendecak kesal. "Jadi, uang jajannya mana, Pa?" "Hhm." Gadis berambut hitam panjang itu pun mendengus lalu melirik kearah meja nakas yang ada di dekatnya. Ia melihat dompet Dehan sedang menganggur di sana. Seketika muncul ide cemerlangnya untuk sedikit menipu sang ayah. Hanya sedikit saja. "Aku ambil sendiri ya, Pa. Aku udah izin loh. Jangan marah ya," ujarnya sambil terkekeh pelan. "Hhm." Delika kembali terkekeh saat mendengar jawaban sang ayah. Ia pun membuka dompet berwarna cokelat itu, lalu mengambil 5 lembar uang kertas berwarna merah dan 6 lembar uang kertas berwarna biru. Totalnya ada 800.000 rupiah yang diambil oleh Delika. Dan setelah mengambilnya, Delika langsung mengantongi uang tersebut di saku celana jeans berbahan denim yang ia kenakan saat ini. Ia pun hendak menaruh kembali dompet tersebut ke atas meja nakas, namun niatnya ia urungkan sejenak. Uang yang tadi harus ia genapkan menjadi satu juta. Jadi, ia pun kembali mengambil 4 lembar uang kertas berwarna biru untuk menggenapkan uang yang ada di sakunya tadi. "Pa, aku ambil satu juta ya. Ikhlas, kan?" tanya Delika sebelum pergi. "Hhm." Jawaban yang sama kembali terdengar. Sepertinya Dehan benar-benar mengantuk, karena semalam ia tidak tidur demi menyelesaikan berkas proyeknya. Bahkan ia mungkin tak sadar dengan kata-kata yang ia lontarkan pada putrinya. "Aku ke kampus dulu ya, Pa." Delika sedikit membuka selimut tebal itu dan menampilkan dahi Dehan, lalu ia menciumnya singkat, "Aku sayang Papa." Setelahnya, Delika keluar dari kamar Dehan dan bergegas untuk menemui sang ibu di ruang makan. Tanpa sadar, Dehan tersenyum saat mendengar pernyataan sayang dari putri tercintanya. Ia pun bergumam, "Papa juga sayang kamu, Nak." Di ruang makan, Alika terlihat sibuk menghidangkan masakannya di atas meja, dibantu oleh ibu mertuanya, Christina. Sementara Ben terlihat sedang membaca koran di kursi makan sembari menunggu Alika dan istrinya selesai menata makanan. Delika sudah turun dan menghampiri meja makan. Alika menatap putrinya. "Papa mana?" "Masih tidur, Ma. Susah banget dibangunin," jawab Delika dengan nada sedikit kesal, jika mengingat ia membangunkan Dehan tadi. "Nenek dulu ngidam apaan sih? Papa sampai susah bangun gitu." Christina yang mendengar omelan sang cucu pun tertawa. Ia sudah tidak heran lagi dengan tingkah putranya itu. "Nenek dulu gak ngidam apa-apa kok. Cuma memang Papa kamu aja yang aneh sendiri. Keseringan begadang, jadi gitu deh," ujarnya. "Kalau kakek sih gak heran sama Papa kamu," sahut Ben sambil melipat korannya. "Iya, Kek. Capek banget banguni Papa." Alika mengusap rambut Delika. "Biar Mama yang banguni Papa ya. Kamu sarapan aja." "Gak usah, Ma," cegah Delika. "Kalau Mama yang banguni, Papa malah makin gak bangun. Entar minta yang aneh-aneh sama Mama. Papa kan mesum." Hal itu sontak mengundang tawa dari Christina dan Ben. Astaga! Cucu mereka itu sangat pintar dalam menilai Dehan. Padahal tidak ada satupun dari mereka yang memberitahukan kebiasaan m***m Dehan. "Delika, gak mungkin dong Papa gitu. Kan masih pagi," ujar Alika sedikit malu. "Lagian Papa juga harus nganter kamu ke kampus." Delika justru terkekeh geli. "Gak, Ma. Hari ini, aku berangkat naik bus. Papa udah izinin kok." Alika mengernyit heran. Begitu juga dengan Christina. Ben yang sedang menyeruput kopinya pun hampir tersedak karena ucapan Delika. Lantas ia menatap cucunya. "Kamu gak lagi bercanda, kan?" tanya Ben. "Gak, Kek. Aku serius," jawab Delika sehabis meminum susunya. "Papa juga udah ngasih uang satu juta buat aku." "Itu Papa lagi gak ngigau, kan?" tanya Alika lagi. Ia tahu bagaimana watak suaminya, apalagi menyangkut putri semata-wayang mereka. Delika terkekeh lalu menaikkan kedua bahunya. "Aku juga gak tahu, Ma. Soalnya aku minta izin naik bus, jawabnya cuma 'hhm'. Terus waktu aku minta uang jajan, izin ambil sendiri, jawabnya juga sama. Aku gak salah dong, Ma." Alika, Christina dan Ben pun tertawa kompak. Mereka sudah menduga hal ini akan terjadi jika Dehan nekad begadang. Delika pasti akan mengerjai sang ayah dan pasti saat terbangun nanti, Dehan akan kelimpungan karenanya. Bahkan mereka menilai, Delika lebih cerdik daripada Dehan. "Kalau gitu, aku pergi dulu ya. Udah telat soalnya," ujar Delika sambil mencium tangan Alika, Christina dan Ben bergantian. "Kabari Mama kalau udah sampai di kampus ya." "Siap, Ma!" Delika pun berjalan meninggalkan meja makan menuju halte bus yang jaraknya tak begitu jauh dari rumahnya. Ia berjalan sedikit lebih cepat karena waktu terus berjalan. Bus juga pasti akan segera tiba di halte hanya dalam hitungan menit saja. Kalau sampai dia ketinggalan bus, bisa lebih gawat urusannya. Delika pun tiba di halte bus. Di sana sudah banyak penumpang yang menunggu kedatangan bus, termasuk Delika. Ia duduk di salah satu kursi sambil memasang earphone di telinganya dan memutar lagu-lagu bergenre pop. Bibirnya tak berhenti bersenandung, tanpa mempedulikan tatapan orang-orang di sana. Daripada bosan menunggu, lebih baik ia mendengarkan musik. Berselang lima menit, bus yang ditunggu tiba. Delika segera masuk ke dalam bus, kemudian duduk di bangku tengah, sebelah kiri bus sambil menatap kearah jendela. Ia pun tak lupa melepas earphone serta menyimpan ponselnya di dalam tas. Bahaya jika ia mengabaikan hal-hal kecil seperti itu, karena ini pertama kalinya ia menaiki bus. Tanpa sengaja, Delika melihat seorang nenek tua yang berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Ia pun merasa kasihan dan melihat tempat duduk di sampingnya yang sudah diisi oleh seorang pria berwajah tampan dengan kumis tipis. "Maaf, Om. Bisa tolong kasih kursinya ke nenek itu?" tanya Delika sambil menunjuk kearah sang nenek. Pria yang diajak bicara justru tidak menggubris dan masih memeriksa kamera yang ada di tangannya. Hal itu membuat Delika sedikit kesal, namun ia masih bisa menahan emosinya dan mencoba untuk berbicara kembali. "Om gak tuli, kan? Bisa dengar omongan aku, kan?" "Aku gak tuli dan jangan panggil Om. Aku bukan Om-mu," jawab pria itu datar. Delika mendecih kesal. Baru kali ini dia bertemu dengan pria seperti itu. Terlalu datar dan sombong. "Terserah deh. Yang penting kasih nenek itu tempat buat duduk. Kasihan," ujarnya. "Kamu aja yang kasih." "Ih! Om kan cowok. Harusnya Om yang berdiri dong. Masa gue sih," gerutu Delika sambil memelankan nadanya saat mengatakan 'masa gue sih'. Pria tersebut menatap datar Delika. "Kenapa harus aku? Kamu kan bisa." "Gak bisa dong!" Namun pria itu tak membalas ucapan Delika lagi. Ia kembali fokus pada kameranya. Delika pun mendengus kesal, kemudian berkata lagi, "Dasar Om-Om gak punya hati!" "Aku gak setua itu. Jangan panggil Om," balas pria itu tanpa menatap lawan bicaranya. Delika lantas mencebikkan bibir dan memutuskan untuk berdiri. Ia membantu sang nenek untuk duduk di bangkunya. "Makasih banyak ya, Nak," ucap Nenek tersebut. "Iya, Nek." Pada akhirnya, Delika harus rela berdiri sambil berpegangan pada gantungan bus agar tidak terjatuh. Tapi sialnya, bus tiba-tiba berhenti sehingga membuat Delika oleng dan terjatuh tepat di atas pangkuan pria yang berdebat dengannya tadi. Mereka berdua saling bertatapan satu sama lain, namun sepersekian detik kemudian, Delika sudah membenarkan posisinya. Ia memutuskan untuk turun dari bus dengan tergesa-gesa karena malu. Sementara pria yang berwajah datar tadi justru terdiam mematung dan tak sedikitpun berkedip saat melihat Delika turun. To be continue~

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
63.6K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook