Bab 2

1442 Kata
Setelah kepergian Delika, tak lama pria berwajah datar itu tampak memikirkan sesuatu. Ia tidak bisa mengalihkan wajah cantik Delika yang baginya sangat tidak asing. Tapi hanya beberapa saat, karena ia kembali fokus membersihkan lensa kamera miliknya. Sampai ponsel yang berdering di saku celananya menghentikan segala aktifitasnya. Ia pun segera mengambil ponselnya dan menerima panggilan tersebut. "Ya?" jawabnya datar. "Halo! Lo dimana, Asgar?" "Di bus." "Ah, baguslah kalau lo pulang. Besok lo harus datang pagi ya, karena kita kebanjiran job untuk sesi pra-wedding. Ada sekitar empat pasangan yang percaya sama lo jadi photographer mereka. Jangan sampai telat!" "Oke." Asgar Pradiaksa. Dia berusia 28 tahun dan bekerja sebagai seorang photographer di salah satu perusahaan photography di Jakarta. Hasil foto-fotonya memang sangat bagus dan banyak sekali pasangan yang memintanya sebagai photographer untuk acara pernikahan. Tak hanya itu, pesonanya yang terlihat dingin membuat beberapa model wanita asuhan perusahaan tempatnya bekerja juga selalu menggodanya, namun tidak berhasil. Saat ini, Asgar baru saja tiba di Jakarta setelah beberapa waktu lalu ia bekerja di Surabaya untuk melakukan sesi pemotretan bersama beberapa model wanita. Besok, ia harus kembali ke kantor untuk melakukan pemotretan pra-wedding. Asgar terkenal sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk sekedar berkumpul dengan teman-temannya. Padahal beberapa teman dekatnya selalu mengajaknya, namun Asgar menolak dan mengutamakan pekerjaannya. Bagaimana dalam urusan cinta? Apakah dia punya pasangan di usianya yang ke-28 ini? Tentu saja tidak. Asgar tidak lagi berurusan dengan yang namanya cinta, setelah hatinya tersakiti beberapa tahun lalu. Mantan kekasihnya, Asya telah mengkhianati perasaannya dan lebih memilih menikah dengan pria lain. Mungkin karena saat itu Asgar belum memiliki pekerjaan yang baik dan terbilang belum mapan dibanding pria itu. Tapi tetap saja, itu sangat menyakitinya. Sampai tiba saatnya, ia harus melihat Asya meninggal karena ulah suaminya sendiri. Dan Asgar, harus menjaga putri Asya yang saat itu usianya masih hitungan bulan. Kini, usia putri Asya sudah 5 tahun, bernama Clara. Asgar merawatnya dengan baik dan ia juga dibantu oleh tetangga yang bisa dipercaya bernama Bi Asri. Sejak saat itu, fokus Asgar hanyalah membesarkan dan mendidik Clara agar kelak menjadi wanita yang baik dan tangguh. Asgar tiba di halte berikutnya lalu ia turun dari bus dan memberhentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat. Ia masuk ke dalam taksi sambil menjinjing beberapa oleh-oleh untuk Clara. Sepanjang perjalanan, Asgar masih tetap sibuk dengan kameranya. Karena sebelum kembali ke Jakarta, tak sengaja kameranya terjatuh dan harus diperbaiki. Jadi, ia memastikan apakah kamera tersebut masih berfungsi dengan baik atau tidak. Asgar tidak mau pekerjaannya menjadi kacau karena kamera tersebut. "Dimana rumahnya, Pak?" tanya si sopir taksi. Asgar menatap sang sopir taksi. "Oh, berhenti di sini aja. Ini uangnya." Setelah memastikan semua barangnya sudah ia bawa keluar dari taksi, Asgar pun berjalan memasuki pekarangan rumah yang tidak terlalu luas, namun terkesan rapi. Banyak bunga-bunga merekah di sana dan itu tampak indah. Mungkinkah Asgar yang merawatnya? Tentu tidak. Bi Asri yang sengaja menanam bunga-bunga itu agar pekarangan rumah Asgar tidak kusam seperti dulu. Asgar menghela napas lega. "Akhirnya... sampai juga." Dengan langkah pasti, Asgar menginjakkan kakinya di lantai teras rumah bergaya minimalis itu lalu mengetuk pintu. "Clara, ayah pulang!" Tak lama kemudian, pintu terbuka dan menampilkan sosok Bi Asri dan Clara di sana. Clara yang sudah sangat merindukan Asgar pun langsung menghambur ke pelukan sang ayah dan mencium pipinya. Asgar memeluk Clara dengan erat sambil menggendongnya. "Aku rindu ayah," ucap Clara. "Clara selalu menanyakanmu setiap saat, Asgar," sahut Bi Asri sambil tersenyum bahagia melihat kedekatan Asgar dan Clara. Asgar ikut tersenyum lalu menurunkan Clara dari gendongannya. Ia mengacak rambut hitam berkilau milik Clara lalu berkata, "Ayah juga rindu, Nak. Kamu udah makan? Kamu gak ngerepotin Bibi, kan?" "Gak, Ayah. Aku gak ngerepotin Bibi, kok. Aku kan anak baik," jawab Clara. Asgar mencium pipi kanan Clara kemudian menatap Bi Asri dan tersenyum. "Makasih banyak, Bi. Aku bersyukur Bibi mau merawat Clara selama aku pergi," ucapnya tulus. "Gak masalah, Asgar. Bibi senang ngebantu kamu," kata Bi Asri. "Kamu gak perlu sungkan sama Bibi. Kalau perlu sesuatu, langsung kasih tahu Bibi ya." "Iya, Bi." "Yaudah, Bibi pulang dulu ya. Kalau mau makan, Bibi udah masak untuk kamu sama Clara," ujar Bi Asri lagi sekalian berpamitan. Asgar hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia menatap kepergian Bi Asri lalu segera mengajak Clara untuk masuk ke dalam rumah. Asgar ingin memberikan oleh-oleh yang ia bawa untuk Clara. Sebenarnya, itu pesanan Clara. "Ayah," panggil Clara saat Asgar baru saja duduk di atas sofa. "Iya, Sayang. Ada apa?" Sontak tangan Clara menengadah kearah Asgar. "Mana pesananku? Ayah gak lupa, kan?" Asgar pun tertawa melihat tingkah lucu Clara lalu mengambil salah satu paper bag yang ada di sampingnya. Ia menyodorkan paper bag tersebut pada Clara dan gadis cilik itu menerimanya dengan antusias. "Ayah gak mungkin lupa." "Makasih, Ayah," ucap Clara lalu mencium pipi kiri Asgar. "Yaudah, kamu main dulu ya. Ayah mau mandi," kata Asgar. Clara hanya mengangguk tanpa menatap sang ayah. Ia begitu tertarik pada mainan yang begitu diinginkannya beberapa hari lalu. Asgar pun tersenyum senang dan berlalu dari sana menuju kamar mandi. Selesai mandi, Asgar mengambil sebuah kaos putih polos lalu memakainya. Saat hendak menyisir rambut, ia tiba-tiba teringat kembali pada Delika. Wajah gadis itu melintas secepat kilat di pikirannya. Asgar pun duduk di tepi kasur sambil menatap cermin di depannya. "Kenapa aku gak bisa lupa sama dia? Siapa dia?" gumamnya heran. Asgar berusaha mengingat tentang gadis itu. Tapi, ingatannya terlalu payah untuk saat ini. Bahkan Asgar sampai memukul kepalanya karena kesal. Dan tak sengaja, ia melihat foto Asya di atas nakas. Tangannya terulur untuk mengambil foto tersebut lalu mengelus wajah yang ada di dalam foto. Sesaat ia tersenyum lalu sedetik kemudian ia menangis. "Kenapa kamu jahat sama aku? Aku salah apa sama kamu?" tanya Asgar pada foto Asya bersama dengan isakannya. "Aku udah rela jauh-jauh ke Indonesia cuma untuk jumpa sama kamu. Tapi kamu... malah nikah sama yang lain. Aku tahu, aku bukan orang kaya. Tapi... tapi... kamu udah nyakitin aku dengan cara yang salah!" Asgar meletakkan kembali foto itu dengan kasar di atas nakas. Ia masih terisak sampai akhirnya isakannya berhenti karena suara Clara. Dengan cepat, Asgar menghapus airmatanya agar Clara tidak bertanya lebih padanya. "Ayah, ayo main bareng! Aku bosan!" rengek Clara. "Iya, Sayang. Bentar lagi Ayah ke ruang tamu. Kamu main duluan ya," ujar Asgar memberi pengertian pada Clara. "Oke. Aku tunggu!" Clara pun keluar dari kamar. Asgar kembali membenarkan foto Asya yang seharusnya tidak ia pajang di sana. Tapi, Clara merengek terus jika foto itu hanya disimpan di dalam laci nakas. Asgar harus mengalah demi putri Asya yang semakin hari, semakin bersikap manja padanya. Asgar pun menyisir rambut hitamnya lalu segera keluar dari kamar untuk menemani Clara bermain. Padahal ia ingin istirahat karena terlalu lelah. Tapi, lagi-lagi ia harus menjaga perasaan Clara. "Ayah," panggil Clara saat Asgar baru saja duduk di bawah bersama Clara. "Kapan Ibu pulang?" Asgar menghela napas lelah. Setiap hari, pertanyaan yang diajukan Clara tetaplah sama. Memang selama ini, Asgar tidak memberitahukan fakta yang sebenarnya pada Clara. Selama ini, Clara mengira bahwa Asgar dan ibunya adalah pasangan suami-istri. Padahal tidak seperti itu. Hanya saja, Asgar belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi ia juga lelah memendam semuanya sendirian. Bi Asri juga sudah memperingatkan Asgar untuk segera mengatakannya, namun Asgar tidak siap dengan itu. "Ayah, apa dia baik-baik aja?" tanya Clara lagi. Asgar mengangguk samar. "Ya, dia baik-baik aja, Nak." "Kalau dia baik, kenapa gak pulang-pulang? Memangnya Ibu kemana?" "Ehm... dia lagi ada bisnis di luar negeri, Nak," jawab Asgar, berbohong. "Kapan dia kembali? Aku rindu Ibu, Ayah," rengek Clara. "Ayo kita susul Ibu!" Asgar semakin bingung. Alasan apa lagi yang harus ia gunakan untuk membohongi Clara? Dia sudah kehabisan akal sekarang. Bagaimana jika Clara berkeras dan pergi sendiri untuk mencari Asya? Astaga! Hal itu tidak bisa dibayangkan lagi oleh Asgar. Semuanya semakin kacau. "Ayah, ayo!" "Ah, kapan-kapan ya, Nak. Kalau urusan Ibumu udah selesai, dia pasti pulang," ujar Asgar lagi. Clara langsung cemberut dan membuang wajahnya kearah lain. Enggan untuk menatap Asgar. Pria berusia 28 tahun itu pun merasa bersalah pada Clara karena sudah menutupi kebenaran yang terjadi. "Apa kamu suka mainannya?" tanya Asgar, mencoba mengalihkan permasalahan. Clara pun mengangguk antusias lalu menatap Asgar. "Suka sekali, Ayah! Ini sesuai sama pesananku, Yah." "Syukurlah. Ayah juga senang," ucap Asgar. "Ayo, kita main!" Asgar tersenyum lalu mengelus rambut Clara. "Sayang, Ayah ngantuk banget. Kamu main sendiri gak apa-apa, kan?" "Hhm.... Oke deh. Ayah tidur aja." "Yaudah, nanti kalau udah selesai, jangan lupa diberesin ya," ujar Asgar mengingatkan. "Iya, Ayah." Asgar mengecup ujung kepala Clara lalu berdiri dan meninggalkan Clara bermain sendirian di ruang tamu. Sementara ia masuk ke kamar untuk beristirahat sejenak. Sungguh, matanya sungguh tidak sanggup lagi untuk terbuka. Dalam sekejap, ia sudah masuk kedalam mimpinya. To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN