Bab 3

1172 Kata
Sejak pagi, Delika terus termenung, sampai dosennya terpaksa mengeluarkan Delika dari kelas karena tidak fokus pada pelajaran. Delika masih memikirkan pria yang ada di bus bersamanya. Pemikirannya sama dengan Asgar. Ia merasa sudah pernah bertemu dengan Asgar sebelumnya, namun Delika tidak bisa mengingat pasti kapan dan dimana. Delika menggelengkan kepalanya. Memukulnya sebanyak dua kali secara perlahan agar bisa menyingkirkan pria itu dari pikirannya. Bahkan Delika pun baru sadar, ternyata sejak tadi ia sedang duduk di kantin kampus dengan kekasih barunya, Rio Ananda. Delika menatap Rio yang duduk berhadapan dengannya sambil menampilkan wajah kesal. Delika mendengus, tidak suka dengan wajah Rio yang seperti itu. "Apa?" "Kamu tuh kenapa sih? Dari tadi ngelamun mulu. Ada masalah?" "Ck!" Delika mendecak. "Nggak ada masalah." "Ya terus, kenapa ngelamun? Kamu lagi mikirin soal Bu Dian yang ngusir kamu dari kelas ya? Takut dimarahi sama Om Dehan?" Rio bertanya lagi karena sangat penasaran dengan apa yang dipikirkan Delika. "Cerita dong." Helaan napas panjang pun terdengar dari Delika. Kedua bola matanya memutar malas sambil mendengus. "Bisa diem nggak? Gue tuh lagi mikirin seseorang. Jadi jangan berisik." "Siapa? Cowok? Kamu selingkuh ya?" Delika justru menoyor kepala Rio, hingga membuat pria itu mengusap kepalanya sendiri dengan mulut manyun. "Sakit," keluh Rio. "Abisnya lo buat gue kesel. Bisa nggak sih lo itu mikir positif dikit? Pikirannya negatif mulu. Heran gue," gerutu Delika kesal. "Ya maaf. Aku kan takut ditinggal sama kamu," ucap Rio manja. Delika menatap pria itu dengan rasa malas dan jijik. "Gue tadi ketemu sama om-om di bus. Tapi gue kayak nggak asing aja sama tuh orang. Pernah lihat, tapi nggak ingat dimana. Makanya gue kepikiran." "Oh, gitu toh." Rio mengangguk paham. "Ya mungkin kamu emang pernah ketemu sama dia secara nggak sengaja. Atau emang dulunya udah saling kenal, tapi sama-sama lupa. Bisa jadi dia itu temennya Om Dehan, atau cuma perasaan kamu aja." "Yah bisa jadi sih. Mungkin aja gue jumpa dia di dalam mimpi." "Bisa jadi juga," kelakar Rio, lalu menyantap mie ayam Pak Kadir yang menjadi makanan favoritnya di kampus. Delika menatap mie ayam tersebut sambil menelan salivanya. Ia mendadak ingin merasakan mie ayam tersebut. Perutnya menjadi lapar setelah melihat cara makan Rio yang mampu mengundang selera. "Bagi dong. Gue laper nih." "Oh, bentar." Rio menyendok mie tersebut dan berniat menyuapi Delika, "Ayo, buka mulutnya." "Nggak usah lebay deh. Gue bisa makan sendiri," ketus Delika seraya mengambil sendok tersebut dari tangan Rio, lalu memakan mienya. Rio justru tersenyum melihat Delika. "Aku kan lebay-nya cuma sama kamu doang. Emangnya kenapa kalau aku suapi? Kamu kan pacar aku. Jadi, wajar dong." Seketika perut Delika merasa mual dan ingin sekali memuntahkan isi perutnya di wajah Rio. Jujur saja, Delika tidak pernah suka diperlakukan semanis itu oleh Rio. Kesannya sangat menjijikkan. Padahal Rio termasuk dalam predikat pria terpopuler di kampusnya dan banyak sekali yang menyukainya. Tapi tidak dengan Delika. Bagi Delika, pembuktian cinta jauh lebih penting daripada kepopuleran dan ungkapan manis, seperti yang diucapkan Rio tadi. "Kamu tuh harus bersyukur bisa punya pacar super romantis kayak aku. Kamu tahu kan, aku selalu jadi incaran cewek-cewek di kampus ini," lanjut Rio dengan segala tingkat kepercayaan dirinya yang terlalu tinggi. "Kalau aku mau, mungkin kamu udah aku selingkuhin. Tapi kenyataannya kan nggak, karena aku sayang sama kamu. Jadi, kamu jangan marah ya kalau aku bersikap romantis kayak gini sama kamu. Oke, Sayang?" "Astaga! Nih orang kelewat percaya diri. Ih! Najis gue," batin Delika. Delika beranjak dari kursinya, berniat pergi meninggalkan Rio. Tapi pria itu langsung menahannya. "Kamu mau kemana?" "Ke perpus." "Aku ikut ya. Tapi, aku habisi dulu mie ayamnya. Mubazir," ucap Rio sambil menyengir. Delika menghela napas berat. "Gue duluan. Entar lo nyusul aja." "Eh, tapi…." Belum selesai Rio bicara, Delika sudah pergi meninggalkannya. Wanita itu benar-benar sudah tak berselera untuk makan setelah mendengar ucapan Rio yang begitu percaya diri. Delika tidak pernah percaya pada Rio. Mustahil jika Rio tidak pernah meladeni godaan dari wanita lain di kampusnya. Delika mendecih kesal. "Munafik banget tuh cowok. Nggak percaya gue sama omongannya. Mana mungkin dia nggak tergoda, secara cewek-cewek di sini cantik semua. Dia pikir, gue b**o. Kesel gue jadinya." Wanita berparas cantik itu sudah melangkah masuk ke perpustakaan, lalu mendekati rak buku khusus bisnis dan manajemen. Saat tengah asyik memilih beberapa buku, ponsel Delika berdering di saku celana jeans birunya. Dengan cepat ia mengambil ponsel tersebut dari saku celana, kemudian menerima panggilan yang berasal dari ayahnya, Dehan. "Halo, Pa," jawab Delika. "Kenapa nggak banguni Papa tadi pagi, hah? Kamu kan tahu Papa nggak pernah bolehin kamu pergi sendirian ke kampus." Delika mendengus saat mendengar ocehan Dehan. Ia sudah paham bagaimana karakter ayah tercintanya itu. "Papa, aku tuh udah banguni Papa loh. Berkali-kali. Tapi Papa-nya aja yang nggak denger, terus tidur lagi. Aku bakalan telat ke kampus kalau nungguin Papa bangun." "Ck! Alasan aja ya. Kan bisa minta anterin sama Kakek atau Mama. Nggak mau tahu, pokoknya nanti pulang kuliah harus tungguin Papa di kampus. Kamu bakal Papa jemput." "Ih! Posesif banget sih. Aku tuh abis kuliah ada kerja kelompok, Pa. Bareng temen kampus. Nanti aku bakal dianterin sama Rio kok," ujar Delika kesal. "Rio? Dia siapa? Pacar kamu? Pacar yang keberapa itu, hah? Kamu tuh jangan jadi playgirl dong. Cukup Papa aja yang gitu. Kasihan anak orang kamu sakitin terus." "Hhh!" Helaan napas panjang terdengar dari Delika. Sejujurnya, ia menyesal telah menyebut nama Rio saat berbicara dengan Dehan. "Pa, akunya nggak mau, tapi Rionya yang maksa. Kalau aku putusin, dia bakal bunuh diri, Papa. Entar jadi kasus lagi." "Ya ampun. Pusing Papa lihat kamu gonta-ganti pacar terus. Papa aja dulu capek banget mainin banyak perempuan. Kamu nggak bakalan sanggup deh. Mending udahin aja ya. Bicaranya baik-baik. Jangan marah-marah. Oke?" Delika terkekeh saat mendengar Dehan curhat tentang masa lalunya. Ia memang sudah mendengar hal itu dari ibunya, Alika. Jadi, tidak heran jika dirinya tertawa saat Dehan kembali menceritakan hal tersebut. "Kamu ngetawain Papa ya?" "Hah?" Delika langsung tersadar. "Enggak kok, Pa. Lagian aku juga udah tahu gimana Papa dulu. Kalau aku sih masih batas wajar. Kalau Papa, udah kelewat batas," kelakarnya. "Makanya itu, kamu jangan sampe kelewat batas. Bisa runyam urusannya nanti." "Iya deh, Papaku sayang," ucap Delika. "Udahan dulu ya, Pa. Aku lagi di perpus nih. Nggak boleh berisik." "Oh, oke. Papa juga mau meeting. Kamu hati-hati di kampus. Jangan keluyuran." "Iya, Papa. Dah." Delika mengakhiri panggilannya dengan segera, sebelum Dehan berbicara semakin panjang-lebar. Delika kembali memilih beberapa buku tentang bisnis yang akan dibacanya. Setelah selesai memilih, Delika pun membawa buku-buku tersebut dan meletakkannya ke atas meja yang tersedia di perpustakaan. Ia duduk di sana sambil membuka lembaran demi lembaran buku bisnis di depannya. Tapi, tiba-tiba saja ia kembali memikirkan Asgar. Fokusnya pun terpecah dan alhasil Delika tidak bisa berkonsentrasi untuk membaca buku bisnis tersebut. "Ya ampun," gerutu Delika sambil mengacak rambutnya sendiri. "Kenapa sih gue mikirin dia mulu? Bikin pusing aja deh. Ck! Gue yakin sih, pernah ketemu sama tuh cowok. Tapi, dimana ya? Gue nggak bisa inget sama sekali." Delika mendengus kesal, kemudian kembali menatap buku bacaannya. Mencoba untuk fokus pada apa yang sedang dibacanya itu. To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN