Seperti biasa rutinitasku di sekolah, setiap jam istirahat aku selalu cari pojokan paling nyaman dan mojok sendiri sambil main HP ditemani segelas es teh.
Aku memang jarang jajan, makanan juga lebih sering bawa dari rumah atau aku makan di rumah walau agak telat kesorean, tapi aku juga heran kenapa ya nafsu makanku koq memang tidak besar, makan sedikit aja udah kenyang mual, mungkin itu salah satu alasan aku nggak kunjung gemuk.
Jadi karena aku irit makanya tabunganku banyak.
Untungnya di sekolahku bebas menggunakan HP tapi hanya pada jam istirahat saja, kalau jam pelajaran HP wajib di simpan di tas dan di-silent atau dimatikan, kalau ada yang melanggar siap-siap disita.
“Woi, mojok sendirian aja…” tegur Rino.
Nah, itu dia si Rino, tetanggaku sekaligus satu-satunya temanku yang paling dekat di sekolah walau kami beda kelas. Penggemar hentai kelas berat berbagai genre, dari yang normal sampai yang hardcore, pokoknya yang penting ada suara cewek ngerang-ngerang dan suara becek ceplak-ceplak. Chara hentai kesukaannya yang modelnya kayak anak-anak SD tapi toketnya segede semangka. Yah, namanya juga anime alias kartun animasi semua khayalan bisa jadi kenyataan.
“Wow, followers lu di akun Vika nambah terus, friendlist f*******: lu aja udah poll tuh 5000.” kata Rino.
“Ahahaha, gue nggak tau tuh Rin, koq bisa ya? Emang dasar netizen terutama cowok, ga tahan lihat cewek apalagi yang bening-bening, padahal dia nggak tau aja tuh yang di-add cowok.” kataku sambil tertawa.
“f*******: gue nih nggak ada lagi yang add friend, yang gue add aja belum pada respon.” kata Rino.
“Sini lu gue permak jadi cewek kali aja FL (friendlist) lu langsung meroket.” kataku.
“Idih, najong dah, kagak perlu, gue nggak mau ikut-ikutan jadi banci.” katanya.
“eh… eh… tuh si Icha, gebetan lu, lagi gandengan mesra sama pacarnya… hahahah….” tunjuk Rino sambil meledek.
* * *
Si Icha adalah anak yang paling cantik di sekolah menurutku, rambut hitam lurus panjang, mata bulat yang menghiasi wajah imut dengan kulit putih cerah. Tidak hanya cantik imut-imut, dia juga pintar dan cerdas, juara tarian daerah dan lomba pidato bahasa Inggris.
Begitu banyak cowok-cowok yang mengidolakan Icha tapi semua mundur terhormat karena mereka tahu tidak mungkin bersaing dengan pacarnya Icha yang juga super-star sekolahan.
Apalagi aku, yang hanya sebatas secret admirernya saja. Untuk kenalan dan bertegur sapa dengan Icha saja aku takut.
Lagian cewek populer, cantik dan cerdas macam Icha mana level sama cowok kutu kupret culun macam aku. Ya aku bukan kutu buku, kalau kutu buku kan pintar, aku mah kutu kupret.
Si Icha punya cowok namanya Johan. Walau masih kelas 1 SMA tapi tingginya Johan sudah 170cm, putih, gagah, bodinya bagus, juara basket dan renang. Hampir semua cewek di sekolah mengidolakan Johan, tapi ya semua juga cuma bisa jadi admirer saja karena juga tidak mampu menyaingi Icha.
Ya begitulah dunia, kalau lu punya penampilan masalah idup lu beres, kalau butek kayak gue ini ya masalah idup banyak.
* * *
“Bro, semua orang di sekolah ini punya prestasi, ada juara pidato, kesenian, olah-raga, nah kita belum jadi apa-apa nih bro.” celetuk Rino.
“Udah koq gue punya kegiatan eks-kul (ekstra kurikuler).” kataku.
“Apa tuh?” tanya Rino.
“Catur.” jawabku.
“Woi, kunyuk, eks-kul itu udah nggak aktif lagi karena nggak ada peminatnya, 80% cowok di sekolah ini tuh pilih basket, sisanya antara renang sama bulutangkis.” kata Rino.
“Terus apa donk? Udah kita bedua nih payah di bidang olah raga, fisik aja kalah. Mo lomba pidato?? kita aja gagap depan orang, apalagi di atas panggung. Kalo kesenian lu bisa apa? Lukis? Nyanyi? Baca Puisi?” kataku.
“Udah lah, jadi populer di sekolah tuh nggak penting, yang penting kita tuh cepet lulus, cepet bebas.” kataku lagi.
* * *
Tidak terasa akhirnya jam istirahat selesai dan kami kembali melanjutkan jam pelajaran sampai waktunya pulang.
Saat keluar kelas, aku baru saja hendak berjalan pulang tapi kulihat si Icha lagi berdiri sendiri sambil memainkan HP nya. Sejenak terbesit keinginan untuk mendekatinya sekedar berkenalan saja, tapi aku begitu ragu dan takut.
Dari dulu aku memang suka takut mendekati lawan jenis karena jujur saja aku malu dan tidak tahu bagaimana cara memulai perkenalan dengan lawan jenis, aku suka kurang percaya diri kalau berada dekat cewek. Apalagi sekarang, modalku apa buat deketin cewek, tampang nggak punya, kepintaran yang menarik juga nggak ada.
Akhirnya keburu si Johan datang dan mendekati Icha, cowok tinggi gagah itu serta merta nyosor aja dengan mudahnya ke pipi Icha, dan Icha pun sukarela menerima ciuman dari cowoknya di pipinya. Johan juga tidak malu-malu memperlihatkan kemesraan merangkul pinggang Icha.
Duh, kapan gue bisa menyentuh cewek kayak gitu, lah jangankan menyentuh, deket aja nggak berani.
* * *
Akhirnya semua khayalan itu hanyalah fantasi angin lalu, si Icha naik ke boncengan motor Kawaskaki Tinja 250 cc milik Johan dan berpelukan mesra menempel begitu rapat sampai tidak ada celah sedikitpun buat lalat numpang lewat saking rapatnya Icha memeluk Johan.
Brrrmmmm…. kemudian hanya suara knalpot motornya saja yang melambaikan salam perpisahan kepadaku yang menjadi penonton dari jauh.
“Woi duluan Bro.” ucap si Rino lewat di sampingku mendahuluiku dengan sepedanya.
Di sekolah ini ada yang punya mobil, ada yang dijemput supir, ada yang punya motor dari motor 250 cc sampai bebek dan skuter matic, yang paling low cost ya si Rino satu-satunya yang pakai sepeda.
Yah, sedangkan aku ya cukup jalan kaki aja, padahal sih keadaan ekonomi keluargaku tergolong lebih dari mampu. Orang tuaku bisa aja kalau mau beliin aku motor merk apapun, tapi entah kenapa mereka nggak mau, aku disuruh jalan kaki aja.
Dari rumah ke sekolahku jaraknya sekitar 20 menitan kalau kuhitung dengan berjalan kaki, apalagi pulang siang gini gerah panasnya bukan main. Tapi ya herannya sih aku tetap aja putih.
Mungkin juga salah satu alasan aku nggak tinggi-tinggi karena buku pejalaran sekolahku tuh banyak dan berat, dan setiap hari aku harus memanggul tas berat ini dengan jalan kaki.
Huh, orang tuaku koq tega ya biarin anaknya tumbuh kayak aku gini. Nggak ada kek nya aku dikasih supplement penambah tinggi badan gitu selama masa pertumbuhan.