Entah berapa lama aku tertidur, setiap disuntik obat aku tertidur, sudah hampir tiga hari lamanya aku dirawat hanya diinfus saja, tidak boleh makan dan minum.
“Fiki… gimana keadaanmu.” kata sebuah suara yang sangat familiar di sampingku.
“Icha…” selalu Icha yang kulihat di sampingku.
“Icha, kamu nungguin aku terus?”
“Iya, nggak apa-apa, abis nggak ada yang bisa nungguin Fiki, kasihan kan.” kata Icha.
“Makasih Cha, aku baik-baik aja koq.” kataku.
“Fiki bibirnya kering…” kata Icha.
Kemudian ia pun meneteskan air dengan jarinya di bibirku.
“Cha… makasih koq kamu mau melakukan ini untukku.”
Icha tersenyum menatapku, “harus gitu aku bilang? Nggak bisa kamu lihat sendiri?”
Aku menatap Icha, aku takut menafsirkan perasaanku.
“Icha… dari pertama lihat kamu… aku… aku suka kamu…” kataku.
Icha tersenyum dan membelai rambutku yang acak-acakan.
“Boleh nggak kalau aku juga suka sama kamu?” kata Icha.
“Cha… beneran?”
Icha mengangguk, “Fiki orangnya baik, aku suka berada di dekat kamu, aku mau jalan sama kamu.”
“Tapi… Icha kan udah ada yang punya.”
Icha menggeleng.
“Nggak, Icha nggak mau kembali sama orang itu lagi, Johan itu awalnya aja baik, lama kelamaan dia cuma ada maunya aja, masa iya dia berkali-kali maksa ngajakin aku berhubungan intim. Nggak mau lah, masa kita melakukan hubungan terlarang di luar nikah. Apalagi kita masih di bawah umur.” kata Icha. “Udah gitu, Icha juga ga bisa jalan sama orang jahat macam Johan yang tega menyakiti orang ga bersalah.” kata Icha.
“Tapi, apa kelebihan aku buat kamu, aku lemah, culun, aku juga nggak ganteng dan nggak menarik. Sementara Icha bagai bidadari, aku mah kutu kupret yang dikorek dari pojok daki.” kataku.
“Eeeh… koq Fiki merendahnya kelewatan gitu sih, Fiki nggak boleh gitu, Fiki harus bersyukur dengan diri Fiki yang punya banyak kelebihan.” kata Icha.
“Emang apa kelebihan aku?”
“Fiki cuma belum tau aja, nanti juga Fiki tau.” kata Icha sambil tersenyum.
Kemudian masuklah papa dan mamaku dan juga mamanya Icha yang meminta Icha untuk pulang.
“Icha, udah sana kamu pulang dulu gih, mama kamu khawatir tuh. Fiki akan baik-baik aja koq.” kataku.
“Bener ya.” kata Icha yang masih menggenggam tanganku di depan orang tua kami semua.
“Apalagi aku udah tau perasaan Icha sama aku, sekarang aku lebih kuat lagi.” kataku.
Icha pun tersenyum, kemudian ia mencium kepalaku.
“Aduuuh, anak gadis sama anak lanang cinta-cintaan…” kata Mamanya Icha.
Sementara kedua orang tuaku hanya diam saja.
Tapi sepertinya orang tua kami tidak berkomentar negatif melihat kami berdua.
Icha dibawa pulang sama mamanya sementara papa dan mamaku lah sekarang yang menunggui sambil membesuk diriku.
“Kamu sih, anak cowok tapi lemah, lihat tuh sekarang kamu babak belur sendiri, ngerepotin orang tua.” begitulah kalimat pertama yang keluar dari mulut papaku.
“Eh, papa nggak boleh gitu, kita harus bersyukur ini Fiki dikasi perawatan di kamar VVIP gini.” kata mamaku.
“Ya udah sepantasnya, si Rudi itu tanggung jawab.”
Aku mencerna obrolan mereka sambil terbaring di kasur antara sadar dan setengah sadar.
Rupanya perawatan mewah ini karena pertanggung jawaban papanya Johan supaya Johan tidak dibawa ke pihak berwajib. Papaku tidak menuntut apapun dan juga sekarang papaku juga tidak memberi dukungan moral padaku malah ngatain aku merepotkan.
Mamaku juga diam saja, hanya melihatku, menanyakan keadaanku sekedarnya.
“Kamu nggak apa-apa?” kata Mamaku sambil melihat-lihat HPnya, ia selalu sibuk dengan gadgetnya.
Aku mengangguk.
Tidak lama kemudian mereka memanggil suster dan bicara-bicara mengenai perawatanku.
“Ini kami tinggal nggak apa-apa ya Sus, soalnya saya nggak kuat nginep di rumah sakit, takut masuk angin, saya ada kerjaan yang harus saya urus.” kata mamaku.
“Saya juga besok kerja, saya nggak bisa nginep, capek.” kata papaku.
“Oh, nggak apa-apa sih pak, bu, di sini suster jaga standby 24 jam dan di kamar VVIP setiap pasien selalu diinspeksi setiap 30 menit. Tapi memang lebih baik apabila ada keluarga pasien yang bisa tungguin.” kata si Suster.
“Wah, mbak… gimana ya?? Nggak bisa tuh… kita nggak ada keluarga lagi.”
“Ya udah pak, bu, kami di sini selalu standby koq.”
“Iya donk, harus standby, kan udah tugasnya toh.” kata papaku.
Si Suster cuma mengangguk sambil tersenyum.
“Fiki… papa dan mama harus pulang ya. Kamu kan udah gede, udah kamu tidur aja deh biar cepet sembuh.” kata papaku.
Papa dan mamaku sibuk, Cyntia juga tidak diperbolehkan menemaniku di sini takut dia sakit, dia kan anak kesayangan.
Memang sih aku mendapat perawatan terbaik, tapi entah kenapa rasanya hatiku sedih.
* * *
Obat yang disuntikkan padaku membuatku tertidur, saat aku terbangun jam sudah menunjukkan pukul 7:00 malam, aku menatap langit-langit, tiba-tiba perasaanku membuncah. Entah kenapa aku begitu sedih.
Tiba-tiba air mataku menetes dengan sendirinya.
Sepi…
Aku… aku kesepian…
Aku sudah selalu terbiasa sendiri
Tapi…
Belum pernah aku merasa seperti ini.
Aku butuh kehadiran seseorang, aku butuh pelukan.
Entah kenapa aku menangis sendiri tanpa bisa kutahan, belum pernah aku sesedih ini dalam hidupku.
* * *
Suster datang memeriksa keadaanku dan memberiku obat yang rutin harus kuminum. Suster melihatku yang menangis, “mas sabar ya, biar cepet sembuhnya.”
Aku tahu si suster hanya mencoba menghiburku tapi tidak cukup untuk menghapus rasa sedihku.
Hingga tiba-tiba muncul sosok di balik pintu. Bidadari berambut panjang, dengan pakaian tidurnya ia tersenyum manis kepadaku.
“I—Ichaa… kamu koq ke sini lagi.” kataku.
Aku segera menghapus air mataku.
Si gadis cantik bak bidadari itu segera ke samping tempat tidurku, diikuti oleh seorang wanita di belakangnya yaitu mamanya.
“Tante… Icha nya koq jadi ke sini lagi.” kataku yang merasa tidak enak.
“Dia nggak bisa tidur kalau mikirin kamu, gimana keadaan kamu?” kata mamanya Icha.
“Udah baikan koq.” balasku.
Mamanya Icha bingung melihat kamarku yang kosong.
“Koq ga ada yang temenin kamu sih?”
“Iya, aku kan nggak ada keluarga di Jakarta selain mama dan papa, mereka berdua sibuk. Adekku masih SMP dia nggak diijinkan menginap. Jadi ya aku sendiri aja nggak apa-apa.” kataku.
“Kalo gitu, kamu dijagain sama anak tante ya, mau kan?”
“Haaah??” aku terkejut. “Jangan tante, nanti Icha kecapean kalau nginep sini terus.” kataku.
“Anak tante ini anak yang pintar, cerdas dan kuat, tante mendidik dia jadi anak dewasa dan bertanggung jawab. Dia pasti bisa jagain kamu, ini juga kan tempatnya enak, besok pagi Icha tante jemput lagi.” kata mamanya Icha.
“Lagian kalau nggak dikasih si Icha rewel terus nyebut-nyebut nama kamu.” kata mamanya.
“Makasih lho, padahal aku baik-baik aja koq.” kataku.
“Ya udah tante tinggal ya. Icha kamu jagain Fiki yang benar lho, kalau nggak besok-besok ngapain nginep sini lagi.” kata mamanya.
Icha memberikan jempolnya, “pasti donk ma.”
Dan mamanya pun pulang, sekarang tinggal aku berdua dengan Icha.
Kami saling bertatapan, entah perasaan apa yang tergambar di dalam dadaku saat bertukar pandang sambil berpegangan tangan, seperti mimpi saja.
Rino nggak pernah jengukin aku, mama papaku sibuk, adikku juga nggak mungkin nungguin aku, tapi Tuhan mengirimkan bidadari cantik dari surga buat menjagaku.
“Icha mamanya cantik banget seperti dewi dari surga, awet muda, pantes anaknya juga cantiknya kayak bidadari” kataku.
“Aaaahhh Fiki bisa aja…” kata Icha.
“Kangen…”
“Aku juga…”
Tiba-tiba Icha naik ke kasurku, menarik selimut dan rebah di sampingku dengan kepalanya di bahuku. Ia merengkuh memeluk menghangatkan tubuhku. Belum pernah aku sedekat ini dengan lawan jenisku, merasakan kehangatan, keharuman dan kelembutan tubuh yang menempel begitu rapat denganku. Rasa nyaman, hangat, syahdu, teduh, walau dengan sedikit sensasi yang terasa erotis tapi masih dapat kami pendam.
Semalam suntuk aku tidur berpelukan dengan Icha di balik selimut. Rasanya seperti terbang ke alam mimpi. Luar biasanya keesokan paginya tubuhku terasa segar bugar, walau aku masih belum sembuh total. Tapi sekarang aku bisa mengangkat tubuhku untuk duduk di atas kasur. Jangan-jangan benar kalau ada yang bilang pelukan dengan energi positif itu bisa melepas oksitoksin dan meregenerasi sel-sel di tubuh lebih cepat.
“Eh, Fiki udah bisa duduk?” kata Icha.
“Asiik, Fiki udah mau sembuh donk.” kata Icha yang spontan memelukku.
Kedua tangannya mengalung di leherku, aku pun balas memeluk pinggang Icha, kutarik rapat tubuh gadis kecil itu ke pelukanku. Meresapi kehangatan yang terasa misterius masuk ke tubuhku.
Kemudian Icha menarik mundur wajahnya, sekarang kami berdua berpandangan jarak pandang seujung hembusan nafas.
“Kamu cantik banget… Fiki sayang Icha…”
“Icha… juga… sayang Fiki…”
Dan…
Terjadilah momen pertama yang tak pernah terlupakan dalam hidupku.
Kelembutan dan kehangatan yang begitu resap dan syahdu.
Baru kali ini kurasakan sentuhan yang menimbulkan kehangatan yang misterius, nyaman, tapi juga menimbulkan getaran-getaran di dalam tubuh, sungguh aneh.
Ciuman pertamaku.
Bersama bidadari impianku.
Semakin resap dan dalam pagutan lembut itu, semakin kami saling merangkul dengan buku-buku jari kami yang saling menggenggam sebagai simbol ikatan batin yang terjadi antara sepasang kekasih yang dipersatukan kepolosan cinta.
Sambil masih terpejam dan bibir yang masih bersatu, kubelai pipi Icha dan kurasakan cairan hangat mengalir setetes di pipi Icha. Aku pun menarik mundur wajahku. Kulihat wajah Icha begitu merah, pastilah wajahku juga, tapi kulihat Icha menangis.
“Ah, Icha kenapa??? Ma.. Maafin Fiki ya… Fiki lancang…”
Icha menangkap tanganku, kemudian ia menatapku sambil tersenyum sambil menyeka matanya.
“Nggak koq, Fiki nggak salah apa-apa. Justru Icha bahagia…” ucapnya. “Bahagiaaa banget rasanya.”
“Maaf, Fiki kirain Icha marah.”
“Fiki lucu banget.” kata Icha cekikikan. “Maaf ya… justru kan Icha yang ngambil first kissnya Fiki.”
“Cha, buatku nggak penting istilah first kiss, first love atau apapun itu. Yang penting cinta itu datangnya tulus dari hati.” kataku. “Aku akan lebih bahagia kalau Icha jadi yang pertama dan juga yang terakhir buatku.”
Icha tiba-tiba menangis haru.
Aku mengusap pipinya dan Icha tersenyum menahan tanganku agar tetap di pipinya yang putih kemerahan begitu lembut seperti kulit anak bayi.
Baru saja kami hendak berciuman lagi, eh tiba-tiba kami dikagetkan dengan pintu kamar yang mendadak dibuka. Muncul suster dan mamanya Icha yang hendak menjemput Icha. Kami pun terkejut dan langsung mundur malu apalagi dalam posisi Icha yang berada di atas kasurku.
“Naah yaa.. hayooo… ngapain tuh anak gadis sama anak lanang?” ledek mamanya.
“Nggak koq ma.. ini lho ma si Fiki udah bisa duduk.” kata Icha.
“Iya, puji syukur ya, Fiki cepet sembuhnya.” kata mamanya Icha.
“Cepet sembuh donk, biar bisa jadi Vika lagi.” kata Icha.
“Ih, Icha kamu koq suka banget sih sama Vika..”
“Ahahaha, abis lucu sih, soalnya hmm… ga tau deh… lucu aja.” kata Icha.
“Siapa tuh Vika?” tanya mamanya Icha.
“Wah panjang ceritanya ma.” kata Icha.
Kemudian ibu dan anak itu pun pergi karena Icha harus masuk sekolah sementara aku masih harus dirawat.
* * *
Siang itu mamaku saja yang datang, tapi tidak lama-lama. Seperti sebuah formalitas saja, hanya mengecek keadaanku, bertanya seadanya kemudian ia langsung buru-buru pamit pulang karena lelah banyak urusan dan lagi Cyntia sendirian di rumah tidak ada yang jagain. Papa hari ini sudah bilang kalau ia lembur di kantor.
* * *
Seperti biasa Icha selalu jadi bidadari yang mendampingiku setiap malam.
Terapi pelukan dari Icha lah yang membuatku recovery begitu cepat. Tidak ada hal erotis, hanya sepasang manusia yang berpelukan di balik selimut dengan tetap berpakaian lengkap. Suster yang menjaga sampai sudah terbiasa kalau inspeksi kamar dan melihat kami yang berpelukan.
* * *
Hari kelima selang di perutku sudah dilepas oleh dokter dan aku juga tidak perlu diinfus lagi. Bahkan aku sudah bisa makan bubur-buburan dan cream soup. Semula aku mengalami pendarahan di lambung karena luka organ dalam, akibat pukulan yang bertubi-tubi di tubuhku, tapi ajaibnya luka dalam ku sembuh dengan sangat cepat.
Hari itu Icha datang lebih cepat, sore hari ia sudah ada di kamarku.
“Fiki~~, gimana badannya? Udah nggak disedot selang lagi, nggak diinfus lagi.”
“Iya, udah enakan, harusnya aku udah bisa pulang nih, tapi kata dokter disuruh menginap satu malam lagi untuk observasi. Abis ini baru bisa rawat jalan di rumah.” kataku.
“Waah, syukurlah, nih Icha bawain makanan.”
Ternyata Icha membuatkan cream soup untukku.
“Cha… makasih ya, selama ini kamu selalu jagain dan merawat aku.” kataku.
Sungguh bagaikan mimpi aku tak pernah menyangka hal ini akan terjadi dalam hidupku.
“Icha kan udah bilang kalau Icha sayang Fiki.” balas Icha dengan suara lembutnya.
Aku menarik tubuh Icha ke pelukanku.
“Aku juga bersyukur dan bahagia, nggak nyangka banget bisa dipertemukan sama kamu.” kataku.
“Lho, justru aku yang bersyukur aku bisa lepas dari Johan tuh si laki-laki buaya penipu dapat kamu yang baik hati begini.” kata Icha.
Aku pun akhirnya makan sampai disuapin segala pula sama si Icha.