Aku mengerjapkan mata, mencoba menahan agar kaca-kaca tak luruh berubah menjadi aliran panjang di pipi. Di kananku, Arsi menekan shutter kamera beberapa kali, lalu mengembalikan benda itu ke dalam tas. Sejenak ia menatapku.
"Masih sanggup melanjutkan?"
Aku mengangguk. Di depan sana mobil Mas Zaki mulai keluar dari halaman. Arsi bersiap. Tak lama kami sudah meluncur di jalan dan mengikuti mobil suamiku.
Pantas saja semua panggilanku tak dijawab. Demikian pula pesan yang terkirim belum ada satu pun yang dibaca. Rupanya Mas Zaki sedang sibuk dengan perempuan lain.
Aku tak tahu, apakah masih penting mengikuti mereka saat ini. Bukankah sudah jelas bahwa Mas Zaki bersama perempuan itu, dan bayinya. Bayi mereka. Makhluk mungil yang aku inginkan lahir di tengah pernikahan kami, ternyata suamiku sudah mendapatkannya lebih dahulu. Dari perempuan lain.
Ternyata diam-diam suamiku mendua. Di belakang sikap manis dan romantisnya, Mas Zaki juga melakukan itu untuk perempuan lain. Apakah wanita itu istrinya yang kedua? Kapan mereka menikah? Mengapa aku bisa sepolos ini, dan tak melihat gelagat yang mencurigakan selama kami bersama?
Buliran bening akhirnya tak tertahan lagi. Pertahananku akhirnya tumbang. Arsi yang sedang menyetir dan fokus menatap ke depan, kini meraih tanganku. Ia menautkan jemari kami. Aku tahu ini salah. Tak sepatutnya kami bersentuhan, tapi aku bahkan tak punya tenaga untuk melepaskan tautan itu.
Mobil Mas Zaki kembali memasuki jalan tol arah Jakarta. Arsi masih mengikutinya dengan tetap menjaga jarak aman. Setelah satu jam, kami sudah masuk ke wilayah dekat kantor Mas Zaki. Apakah perempuan itu tinggal di dekat tempat kerja suamiku? Pertanyaan itu seketika terjawab, ketika mobil yang kami ikuti berbelok.
"Mobilnya masuk apartemen, Fri. Mau diikutin, atau sampai sini aja?"
Arsi mengurangi kecepatan dan menepikan kendaraannya. Masih sempat terlihat mobil Mas Zaki masuk ke pelataran apartemen yang tak jauh dari kantornya.
Pantas saja mas Zaki selalu pulang kerja tepat waktu. Hari libur pun ia tetap bersamaku. Rupanya perempuan itu mendapat jatah di hari dan jam kerja.
Lalu, bagaimana dengan pekerjaannya? Kantor mana yang membolehkan pegawainya kerja dengan santai. Saat ini sudah lewat dari jam makan siang, tapi Mas Zaki masih belum kembali ke tempat kerjanya.
"Fri?" Arsi membuyarkan lamunanku.
"Kita pergi aja."
"Ke mana?"
"Terserah," jawabku sambil melepaskan jemari kami yang saling bertautan.
"Ya, Tuhan," seru Arsi sambil mengusap wajahnya.
Lelaki itu kembali mempercepat laju kendaraannya.
"Karena kamu bipang terserah, jangan protes kalau aku bawa kemana pun."
Aku malas menanggapi. Hati dan pikiran ini masih meratapi luka yang baru saja dicipta. Mungkinkah aku salah menitipkan cinta?
Setahun lalu, aku meninggalkan Arsi karena Ayah menjodohkan aku dengan Mas Zaki yang tak lain adalah anak sahabatnya. Perjodohan itu adalah langkah mereka untuk menepati janjinya satu sama lain.
"Apa? Kenapa jadi gini, Sayang?" tanya Arsi saat aku menceritakan perjodohan itu dan meminta putus darinya. "Aku dah sering bilang mau ngelamar, tapi kamu nolak dengan alasan waktunya belum tepat. Sekarang tiba-tiba kamu setuju nikah dengan orang lain karena dijodohkan!"
Wajah dan mata Arsi memerah. Dengan gemetar ia meremas rambutnya.
"Tolong, mengertilah, Ar. Aku benar-benar minta maaf. Semua kulakukan demi ayah."
"Omong kosong! Kamu bisa menolak, Fri!"
"Please, Ar. Maafkan aku."
Akhirnya Arsi mengalah. Sejak hari itu aku tak pernah mendengar kabarnya lagi. Nomor w******p dan semua media sosialku diblokir Arsi. Ia seperti lenyap ditelan bumi. Hingga hari ini kami bertemu lagi dalam suasana yang sungguh tak terduga.
Mobil Arsi masuk ke tempat parkir sebuah gedung tinggi. Sepertinya ini apartemen, tapi terlihat lebih bagus dan lebih besar dari tempat perempuan tadi. Ah, kenapa juga aku harus mengingatnya?
Arsi membukakan pintu mobil untukku, lalu kami melangkah menuju lift. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Nama Mas Zaki tertera di layar. Sepertinya ia sudah membaca semua pesanku. Mungkin saat ini suamiku itu sudah di kantor.
Aku mengabaikan panggilannya dan memilih mematikan ponsel.
"Suamimu?" tanya Arsi saat kami sudah keluar dari lift.
Aku mengangguk. Menyaksikan tangan Arsi membuka pintu unit apartemennya.
Ia mempersilakan aku masuk. Sekali lagi aku tahu ini salah. Tak sepatutnya dua orang yang bukan mahram berduaan dalam satu rumah. Apalagi statusku yang sudah menikah dan menjadi istri orang lain. Namun, kemarahan dan luka membuatku tak peduli. Toh aku tak melakukan apapun di sini. Aku hanya butuh menjauh sejenak dari Mas Untuk beberapa saat, sebelum siap menghadapi semuanya dan membuat keputusan.
"Ada dua kamar tidur di sini. Istirahatlah. Kamu pasti lelah."
Aku mengangguk dan menuju kamar yang ditunjuk Arsi.
"Fri ...."
Aku seketika menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar. Menoleh ke arahnya yang kini menatapku dengan mata teduhnya.
"Aku tahu kamu belum siap bercerita. Apapun yang terjadi, aku akan siap bantu. Jangan sungkan."
"Makasih, Ar. Aku nggak tahu harus balas kebaikanmu ini dengan apa."
"Jangan dipikirkan."
Lelaki itu masuk ke dalam kamarnya. Kuputuskan untuk segera masuk juga. Tujuanku hanya satu saat ini. Tidur dan mencoba melupakan semua.
Entah berapa lama aku tertidur. Saat bangun, Arsi sudah menyiapkan makanan. Kami berdua makan tanpa banyak bicara. Sesekali aku lihat Arsi menatapku dengan pandangan sedih. Mungkin ia sedang mengasihani diriku.
"Apa yang ingin kami lakukan sekarang?"
"Entahlah. Mungkin sebaiknya aku pulang dulu."
"Aku antar. Kamu pasti kuat, Fri."
Pukul sepuluh malam mobil Arsi telah sampai di depan rumahku. Aku melarangnya turun.
"Fri, aku bisa bantu kamu mencari tahu semuanya. Termasuk tentang perempuan itu."
"Makasih, Ar. Aku belum memikirkannya. Aku turun, ya."
"Take care."
Aku tersenyum, lalu berpaling untuk membuka pintu mobil. Dari ujung mata aku bisa melihat Mas Zaki berdiri di depan pintu rumah dengan kilat yang mengerikan di matanya.
Tanpa mengucap salam, aku melangkah masuk dan berusaha menghindari tatapan Mas Zaki. Namun, lelaki itu mencekal lenganku.
"Dari mana saja kamu, nggak lihat ini jam berapa? Kenapa teleponku nggak dijawab?"
Aku tetap diam dan berusaha masuk, tapi Mas Zaki tetap menghalangi dengan tubuhnya.
"Wid, jawab! Kenapa kamu diam saja? Kamu marah? Oke, aku juga salah sudah mengabaikan semua pesan dan teleponmj. Aku sibuk tadi."
"Iya, aku tahu kamu sibuk dengan perempuan lain," ujarku lirih.
"Apa maksud kamu?"
"Udah, lah, Mas. Aku capek."
"Kamu boleh istirahat, tapi beri tahu aku dulu, siapa lelaki yang mengantarmu?"
Aku tertawa. Tawa yang bercampur tangis.
"Kamu tanya siapa lelaki itu? Aku akan jawab, Mas. Aku akan beri tahu siapa dia, setelah mendapatkan penjelasan tentang perempuan yang kamu bawa ke rumah Ibu hari ini."
***
Bersambung