Setelah keduanya menghilang di balik pintu, aku menyeberang jalan dan mulai memasuki pelataran parkir samping bakery. Sengaja kupilih sisi yang lain agar tak langsung terlihat oleh Mas Zaki. Masuk dari bagian samping yang difungsikan sebagai coffee shop, membuatku lebih mudah mengawasi bagian dalam bangunan itu.
Tak banyak pengunjung di sana, sehingga hanya sebagian meja yang terisi. Aku mengedarkan pandang sejenak, mencari sosok Mas Zaki dan perempuan yang dibimbingnya masuk ke tempat ini. Tepat saat mataku mencapai sisi kiri bakery, dua orang itu terlihat duduk di salah satu meja yang nyaris menempel dengan jendela.
Aku segera mengambil posisi duduk yang agak tersembunyi dari mereka. Saat ini Mas Zaki sedang berbicara serius dengan perempuan di depannya. Keduanya tampak tegang. Mereka seperti dua peserta debat terbuka yang saling ngotot mempertahankan argumen masing-masing. Bedanya, Mas Zaki dan perempuan itu menahan volume suara mereka, sehingga tidak semua pengunjung di tempat ini mendengarnya.
Seorang perempuan berseragam warna cokelat dengan logo tempat ini datang mendekat. Ia tersenyum kepadaku dan mengulurkan buku menu.
"Mau pesan apa, Kak?"
Aku tersenyum di balik masker. Seketika merasa masih berusia muda mendengar sapaan pelayan itu.
"Cinnamon roll yang green tea empat, dan cheese roll satu. Semuanya take away aja, Mbak."
"Baik, Kak. Ditunggu sejenak."
Bagaimanapun aku harus bersiap jika Mas Zaki dan perempuan itu beranjak dari sini. Aku akan menguntit mereka, tapi bagaimana caranya? Andai aku bawa motor, pasti lebih mudah.
Sejak menikah, Mas Zaki tak mengizinkan aku menyentuh kuda besi itu lagi. Jika ingin bepergian, ia akan mengantar atau aku harus memesan taksi online.
"Aku nggak mau yang pulang ke rumah ini hanya namamu, Wid," ujarnya ketika aku bertanya alasan dia melarang naik motor.
"Di atas kasur juga orang bisa mati, Mas. Nggak harus karena kecelakaan."
"Iya, tapi lebih menyakitkan melihat orang yang kau sayang mati dengan kondisi tubuh babak belur atau remuk, dibanding menyaksikan dia menghembuskan napas terakhir di tempat tidur."
Sejak itu aku tak lagi menyentuh motor kesayangan. Bahkan Mas Zaki meminta agar benda itu tetap tersimpan di rumah Ayah, atau dijual saja.
Dia pernah ingin mengajariku menyetir mobil. Namun, sampai kini aku belum mahir, dan tak bisa leluasa bepergian. Seperti saat ini, tak mungkin aku bisa dengan cepat mendapatkan taksi online kalau tiba-tiba Mas Zaki dan perempuan itu beranjak dari sini.
"Fri?"
Sebuah suara membuatku terperanjat. Seorang lelaki mengenakan hoodie cokelat tua berdiri di sampingku. Walau mengenakan masker, aku bisa langsung tahu siapa dia. Hanya satu lelaki di dunia ini yang memanggilku dengan sebutan Fri.
"Karena Fri adalah bagian dari namamu. Widia Afridia Sukma. Jadi, aku boleh panggil kamu Fri, dong," kilahnya saat aku bertanya kenapa memanggil dengan sebutan itu.
"Hai, dipanggil malah ngelamun lupa sama suaraku?"
Seketika aku menggeleng dan memberanikan diri menatap bola matanya. Mata yang dulu membuatku hanyut. Namun, haruskah kami bertemu di saat seperti ini?
"Makasih karena kamu nggak lupa."
Lelaki itu duduk di depanku, yang tentu saja membuat pandangan ke arah Mas Zaki sedikit terhalang.
"Ngapain kamu di sini?"
Lelaki itu tertawa.
"Ah, iya. Kita sudah lama tak jumpa, sehingga kamu belum tahu berita terbaru tentangku. Sejak seorang gadis bernama Afridia pergi hari itu, aku butuh hiburan. Jadi bikin mainan baru, deh."
"Mainan?"
"Ya. Bakery dan coffee shop ini kuanggap seperti mainan. Tempat aku menghilangkan jenuh dari dunia programming, dan berusaha ngelupain kamu."
Harusnya aku kasihan mendengar ucapannya, tapi apa daya. Saat ini aku bahkan lebih mengasihani diri sendiri.
"Kenapa milis bisnis kue dan kopi?"
Arsi tertawa. Tawa yang renyah dan mengundang orang lain untuk ikut tertawa, atau minimal tersenyum. Terbukti saat ini beberapa pengunjung menoleh ke arah meja kami. Kecuali dua orang di ujung sana yang sepertinya sedang bertengkar sekarang.
"Kamu nggak lupa kalau aku jago bikin kue, kan?"
Aku tersenyum dan mengangguk. Semua lingkaran pertemanan kami mengakui kehebatan Arsi dalam membuat kue. Bahkan Sepanjang kedekatan kami, Arsi selalu membuat sendiri kue ulang tahun untukku setiap tahunnya.
"Kamu hebat, Ar."
"Aku memang hebat. Banyak hal aku kuasai. Hanya satu yang aku nggak bisa. Memiliki kamu, Fri."
Aku kembali diam. Bukan saat yang tepat untuk menanggapi kalimat terakhir yang diucapkan Arsi. Saat ini bahkan pandanganku kembali fokus ke meja tempat Mas Zaki duduk. Sekarang perempuan di depannya seperti sedang menangis. Suamiku dengan cepat meraih tisu di meja dan memberikan pada lawan bicaranya.
"Hai, Fri! Kamu lihat apa, sih?"
"Eh, i-itu ... ng-nggak, kok. Bukan apa-apa. Udah berapa lama main di bisnis ini?"
"Hadeuh. Kamu kayaknya lagi banyak pikiran, ya? Tadi aku bilang kalau mulai mencipta mainan ini setelah kamu pergi. Berapa lama berarti?"
"Satu tahun?"
"Tepat, Sayang."
"Ar ...."
"Ups, maaf. Gimanapun aku memang masih sayang sama kamu. Sampai lupa kalau yang di depanku ini istri orang."
Pelayan berbaju cokelat menginterupsi kami. Ia membawakan pesananku.
"Bill-nya, Mbak?" tanyaku.
Arsi memberikan kode dengan tangannya, membuat pelayan itu justru berbalik meninggalkan kami.
"Kamu gratis kalau makan dan minum atau belanja di sini saat ada aku."
"Jangan gitu, Ar. Bisnis tetaplah bisnis. Jangan dicampur aduk dengan pertemanan."
"Siapa bilang kamu temanku?"
"Lalu?"
"Maunya jadi apa?"
Aku tahu ke mana arah bicaranya, sehingga malas menanggapi. Ujung mataku kemudian melihat pergerakan di meja Mas Zaki. Sepertinya mereka akan pergi. Sebuah ide yang bisa jadi akan membawa masalah baru, tiba-tiba muncul di kepalaku.
"Ar, kamu bisa antar aku?"
"Ke mana? Pulang?"
"Belum. Nanti aku kasih tahu."
Ujung mataku melihat Mas Zaki dan perempuan itu sudah bangkit dan berjalan menuju pintu.
"Dengan senang hati aku akan mengantarmu. Ke manapun. Ayo."
Arsi bangkit, dan aku mengikutinya. Untunglah lelaki ini mengajakku lewat pintu samping. Kami menuju tempat parkir. Sampai di dekat mobilnya, Arsi membukakan pintu untukku sebelum ia sendiri masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Jadi?"
"Tolong ikuti mobil itu," ujarku sambil menunjuk ke arah tempat Mas Zaki memarkir kendaraannya.
"Waa. Ceritanya lagi jadi detektif, nih? Pantesan dari tadi duduknya gelisah."
"Aduh, cepat, Ar. Mobil itu udah keluar parkiran."
"Siap, Nona."
Dengan sigap Arsi langsung menyusul mobil Mas Zaki. Untung saja lalu lintas tidak terlalu padat sehingga mudah bagi kami mengikuti kedua orang itu. Arsi mengatur jarak agar mobilnya tidak terlalu dekat dengan objek, tapi juga tak ketinggalan jejak.
"Emang dia siapa, Fri?"
"Nanti kamu juga tahu."
Lelaki di sampingku ini mengangguk. Sebenarnya kalau boleh meminta, aku tak ingin berjumpa dengannya lagi. Kehadiran Arsi sangat berbahaya, terutama untuk hatiku. Namun, sekarang aku justru meminta pertolongannya untuk menguntit suami sendiri.
Bagaimanapun, kami pernah menjalin hubungan untuk jangka waktu lama. Sejak kelas satu SMA, teman-teman di sekolah mengenal kami sebagai pasangan tak terpisahkan. Bahkan setelah lulus pun, aku dan Arsi memilih kampus yang sama, hanya beda jurusan.
Mobil Mas Zaki terus meluncur dan mulai masuk ke jalan tol. Arsi mengikutinya. Aku mengambil ponsel dan membuka aplikasi hijau. Berharap Mas Zaki membalas pesanku. Ternyata nihil. Tetap saja tampilan di layar belum berubah menjadi centang biru. Tega kamu, Mas, pikirku.
Seketika ada yang terasa panas menyeruak di mataku saat membayangkan suami yang tega berkhianat. Baru satu tahun pernikahan kami, dan kini ia bahkan sedang bersama perempuan lain.
"Fri? Kamu nangis?"
"Eh, ng-nggak, kok. Cuma sedikit ngantuk."
Arsi sepertinya tak percaya walau ia mengangguk-angguk. Aku tak peduli dan mengalihkan pandang ke luar jendela. Melihat berbagai kendaraan di samping kiri yang berjalan di tengah udara panas.
Saat mobil Mas Zaki dan Arsi sama-sama sudah keluar dari jalan tol, aku langsung tersadar. Kami sedang menuju arah rumah ibu mertua.
Apa maksudnya ini? Mas Zaki akan mengajak perempuan itu ke rumah orang tuanya? Apakah ibu dan Laras mengenal siapa dia?
Walau belum melihat dari dekat, aku yakin perempuan itu berbeda dengan yang ada di foto kemarin. Wanita yang sedang bersama Mas Zaki ini lebih tinggi. Bentuk wajahnya pun terlihat lebih oval.
Aku menegakkan tubuh saat mobil sudah mulai memasuki jalan arah ke rumah ibu. Arsi melambatkan mobil, lalu berhenti pada jarak yang tidak terlalu dekat. Dari sini kami bisa mengamati rumah itu.
Mas Zaki menghentikan mobil di halaman. Ia turun lebih dahulu dan membukakan pintu untuk perempuan itu. Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah.
"Kita tunggu?" Arsi bertanya lembut.
Aku mengangguk.
"Kamu nggak apa-apa, kan?"
"Tenang aja, aku baik-baik aja."
Arsi tersenyum dan mengacungkan dua jempol. Kini ia sedikit memutar tubuh, lalu mengambil tas ransel yang ada di kursi belakang dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah kamera mirorless. Sejenak ia mengganti lensanya.
"Kamu mau apa?"
"Mungkin suatu saat kamu butuh bukti."
Aku tak menanggapi ucapannya. Arsi mulai menyalakan kamera dan mengarahkannya ke rumah ibu. Cukup lama kami menunggu hingga pintu itu kembali terbuka.
Pertama kulihat sosok perempuan itu melangkah keluar. Di belakangnya tampak Laras menyusul, lalu Mas Zaki dan ibu yang menggendong bayi di tangannya.
***
Bersambung