Menguntit

1192 Kata
Mas Zaki mengambil ponselku. Ia memperbesar tampilan foto yang terpampang di layar dengan mimik wajah terlihat natural. Tak kulihat ekspresi yang dibuat-buat. Sedetik berikutnya Mas Zaki menggeleng. "Aku nggak kenal. Mungkin temannya Laras." "Mas beneran nggak kenal?" "Nggak, Sayang. Buat apa aku bohong?" Mata itu, bicara jujur. Tak kutemukan dusta di kedalamannya. Memangnya apa yang aku harapkan? Bahwa Mas Zaki mengenal dan bahkan punya hubungan dengan perempuan itu? Tidak. Aku tak akan pernah sanggup mendengarnya. Kurasakan lengan kekar Mas Zaki merengkuh bahuku, membawanya ke dalam dekapan. "Kenapa? Kamu curiga sama aku? Karena kamu nemu bubur bayi dan segala macamnya di rumah Ibu?" Aku tak menjawab. Ada yang perlahan mendesak dalam mataku dan terasa panas. Kenapa rasanya ingin menangis? Tidak Widia. Semuanya baik-baik saja. Mas Zaki tak mungkin berkhianat, walau ia tak pernah mengucapkan tiga kata itu, pikirku. "Sayang, jangan pernah bebani pikiran kamu dengan hal-hal yang nggak perlu. Aku pernah bilang, kalau suatu hari kamu tersakiti dalam pernikahan ini, pergilah. Asalkan kamu juga tahu, aku sangat ingin kita bukan sehidup semati. Melainkan sehidup sesurga." Butiran bening itu benar-benar tak mampu kutahan. Mengalir dan merayap di pipi, kemudian mengenai satu tangan Mas Zaki yang sedang membelai wajahku. "Hei, kamu nangis?" Ia memutar tubuhnya hingga berada di hadapanku. Setengah berlutut, Mas Zaki menangkup wajahku dengan dua tangannya. "Kamu sedih karena apa? Kalimatku yang menyentuh? Karena aku menyakitimu?" Air mataku semakin deras seiring tatapan luka di mata Mas Zaki. Seketika ia meraihku dan membenamkan di dadanya. "Menangislah, kalau itu bisa membuatmu lega." Perlahan ia mengubah posisi hingga kembali duduk di sofa, dengan aku di pangkuannya. Membelai rambut panjangku. "Maaf," lirihku. "Selalu, Sayang. Bahkan sebelum kamu minta maaf." *** Hangat yang menerpa wajah, membuatku terbangun. Cahaya matahari masuk dari jendela kamar yang telah tersibak tirainya. Subuh tadi aku kembali tidur setelah salat. Terlalu lelap sampai tidak mendengar Mas Zaki pulang dari masjid. Ya, suamiku itu hampir tak pernah salat subuh di rumah kecuali benar-benar terpaksa. "Kalau sanggup melangkah ke seluruh penjuru bumi demi mencari duniawi, kenapa aku berat melangkah ke masjid di subuh hari?" jawab Mas Zaki ketika aku bertanya alasannya selalu salat di masjid. Sekarang di mana dia? Aku melihat jam di meja. Pukul delapan. Oh, tidak. Pasti Mas Zaki sudah berangkat ke kantor dan aku tak menyiapkan perlengkapannya sama sekali. Istri macam apa aku ini? Bergegas aku bangkit untuk membersihkan diri, mengganti pakaian dan merapikan rambut. Saat melangkah keluar kamar, hening menyergapku. Hanya detak jarum jam yang terdengar. Rumah ini benar-benar sepi, sampai nanti mas Zaki pulang. Saat aku melihat meja makan, ada pemandangan yang menarik. Mas Zaki menyiapkan makanan, itu sudah biasa. Ia bahkan melakukannya sejak hari kedua pernikahan kami. Kali ini ada yang berbeda. Selain menu American Breakfast yang ia sajikan di meja, ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat kukenal, juga amplop panjang berwarna biru muda. Maaf aku nggak pamit sebelum berangkat ke kantor. Nggak tega mau bangunin, karena kayaknya kamu nyenyak banget. Makan, ya. Aku dah buatin sarapan favoritmu dan sedikit hadiah di amplop biru itu. Semoga kamu suka dan sudah bersiap saat aku pulang nanti. Kuraih amplop biru sambil berpikir dimana mas Zaki membeli benda ini? Sepertinya aku tak pernah melihat amplop warna biru di meja kerjanya. Aku membuka benda itu perlahan, lalu menarik isinya dari dalam. Ternyata tiket pertunjukan drama di Gedung Kesenian Jakarta untuk dua orang. Ya, Tuhan. Dia mengingatnya. Aku pernah bercerita ingin sekali melihat drama yang dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta. Ternyata kali ini Mas Zaki mewujudkannya. Bergegas aku mengambil ponsel dan menelepon lelaki yang penuh kejutan itu. Namun, hingga dering terakhir berhenti, ia tak kunjung menjawab. Aku mengulanginya hingga tiga kali dan hasilnya tetap sama. Mungkin Mas Zaki sedang rapat, pikirku. Akhirnya kuputuskan untuk mengirim pesan. Makasih hadiahnya. Aku suka banget. Jam tujuh nanti pasti aku udah siap menunggu dengan penampilan terbaik. Tak lupa aku menambahkan tanda love di belakang pesan itu. Sisi hatiku yang dalam berharap, ia akan membalasnya dengan emotikon yang sama. Hingga aku selesai makan, pesan itu tak juga dibacanya. Bahkan sampai aku tuntas membereskan banyak hal di rumah, tanda centang di sampingnya tak jua berganti menjadi biru. Aneh. Tak biasanya Mas Zaki seperti ini. Di tengah pikiran yang resah, aku kembali mengirim pesan. "Aku izin ke ke salon, ya." Sejak awal menikah, aku selalu izin padanya saat hendak keluar rumah. Biasanya aku akan menunggu hingga mendapat jawaban. Kali ini tidak. Karena tak yakin ia akan cepat membaca pesan itu, aku langsung pergi setelah bersiap. Sebelum memesan taksi online, aku menelepon Seva. Sahabatku sejak di bangku kuliah itu memiliki tempat perawatan kecantikan yang cabangnya sudah tersebar di banyak tempat. Di Jakarta bahkan ia sudah membuka enam cabang. Seva langsung menjawab di dering pertama. Suaranya terdengar renyah seperti biasa. Wanita itu tak berubah. "Hai, cantik. Udah lama nggak muncul. Gue lagi di Cilandak, nih." "Oke, aku ke sana sekarang, ya." "Serius? Perawatan atau mau ketemu gue doang?" Aku tertawa. "Sekalian, lah. Kalau mau perawatan doang, mending aku ke tempat kamu yang di Bintaro. Lebih deket dari rumah." Seva yang tertawa kali ini. "Oke. Gue tunggu, Widia Sayang." Bergegas aku membuka aplikasi online dan memesan taksi setelah memutuskan pembicaraan dengan Seva. Tak butuh waktu lama, sepuluh menit kemudian aku sudah berada di dalam mobil yang meluncur membelah lalu lintas Jakarta. Setelah berbasa-basi dengan driver, aku membuka aplikasi hijau. Tetap saja tanda centang di pesan yang kukirim untuk Mas Zaki belum berubah menjadi biru. Sesibuk itukah suamiku hari ini? Tak biasanya ia mengabaikan pesan dan teleponku. Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepala. Mungkin nanti aku mampir saja ke kantornya di jam makan siang. Tempat kerja Mas Zaki tak terlalu jauh dari lokasi bisnis milik Seva. Aku tersenyum sendiri membayangkan Mas Zaki yang terkejut melihatku di kantor. Senyumku semakin mengembang membayangkan makan siang kami yang pastinya romantis. Selama menikah, aku belum pernah memberi kejutan yang seperti ini. Semoga Mas Zaki senang. "Sudah sampai, Bu," ujar driver membuyarkan lamunanku. Setelah menyelesaikan pembayaran dan mengucap terima kasih, aku turun. Udara panas langsung menyergap. Untung saja gamis dan kerudung yang kupakai tidak berwarna gelap, sehingga udara panas tak terlalu terasa di tubuh. Selain itu aku juga memakai masker, sehingga sebagian wajah terlindungi dari matahari. Sambil melangkah menuju pelataran salon, aku menoleh ke belakang. Di seberang tempat usaha milik Seva itu, ada sebuah bakery sekaligus coffee shop. Terbit ide untuk mengajak Seva ke sana nanti. Baru saja aku hendak memalingkan muka kembali, sebuah mobil masuk ke pelataran bakery itu. Mengerjapkan mata, aku mencoba memastikan bahwa itu adalah memang kendaraan yang kukenal. Tak salah lagi, itu mobil Mas Zaki karena saat ini dia turun dan membuka pintu mobilnya. Yang membuatku miris, lelaki itu pun berjalan memutar dan membukakan pintu untuk penumpang di sebelah kiri yang ternyata seorang perempuan. Perlakuan Mas Zaki padanya persis seperti yang ia lakukan kepadaku bila kami bepergian. Suamiku merengkuh bahu perempuan itu, dan mereka berjalan ke arah pintu depan bakery. Seketika dunia terasa seperti berhenti berputar. Jantungku ikut berdetak lebih keras dan cepat. Gelombang amarah menggulung diriku hingga muncul keinginan melabrak keduanya. Sesaat aku menarik napas dalam-dalam. Tidak. Aku perempuan terhormat yang tak akan berbuat barbar dan memalukan diri sendiri. Sebaiknya kuikuti mereka diam-diam dan mencari tahu, apa hubungan perempuan itu dengan suamiku. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN