Aku diam sambil merapikan rambut yang berantakan. Mas Zaki mendekat lalu duduk di sampingku. Aroma khasnya yang menenangkan langsung menyergap hidungku.
"Kenapa? Mimpi buruk?"
Aku menggeleng.
"Kemarilah."
Ia merengkuh tubuhku dan membawa ke pelukannya. Mengusap rambutku berulang kali. Gerakannya yang lembut, dan detak jantungnya yang teratur ternyata menyalurkan rasa hangat dan nyaman ke seluruh tubuhku. Hingga rasa kantuk itu kembali datang.
Sesaat sebelum mataku benar-benar terpejam, ia berkata lirih.
"Aku berharap bisa membahagiakanmu, Wid. Suatu hari, jika aku menyakitimu, pergilah. Namun, aku tak akan pernah pergi, seberapa besar pun sakit yang akan kau berikan."
Suaranya terdengar sangat jauh, kemudian hilang saat aku benar-benar terlelap.
***
Aku tak pernah bertanya dengan siapa ia bertelepon malam itu. Juga tentang ucapan Mas Zaki yang menjadi pengantar tidurku setelahnya. Hari berikutnya ia mulai memperlakukan aku selayaknya seorang suami pada istri yang sangat dicinta. Memberiku bahagia lahir dan batin, walau tak pernah sekalipun kata cinta diucapkannya selama satu tahun pernikahan ini berjalan.
Hingga hari ini, Fina mengirimkan foto Laras, Ibu, dan perempuan yang menggendong bayi.
Aku tak pernah mengenal Fina dengan baik. Yang kutahu, ia adalah tetangga ibu mertua dan rumahnya cukup jauh. Kalau hari ini ia mengirimkan foto yang menjadi sedikit petunjuk atas segala keanehan di rumah itu, haruskah aku mempercayainya?
"Sayang, kita udah sampai. Dapat chat dari siapa, sih?"
Aku terperanjat dan mendapati Mas Zaki yang sedang menatap lembut. Pandangannya seperti malam itu, saat aku memanggilnya yang sedang menelepon seseorang.
"Eh, ng-nggak. Cuma teman yang ngasih tahu ada reuni."
Aku tak berbohong dengan kalimat itu. Memang benar ada pembicaraan tentang rencana reuni SMA yang dikabarkan Lidia, sahabatku.
"Terus, kenapa ngelamun dan seperti berpikir keras gitu? Ikut aja, Wid. Nanti aku antar."
"Masih lama, kok."
"Ya udah, nanti kamu bilang aja kapan tanggalnya. Sekarang kita turun dan makan."
"Mas laper?"
"Banget."
"Yah, di rumah nggak ada makanan, kan. Cuma snack itu," seruku sambil menunjuk kursi mobil bagian tengah.
"Aku lagi nggak mau makan nasi atau snack."
"Jadi, mau makan apa?"
"Makan kamu," jawabnya sambil turun lebih dahulu.
Lelaki itu berputar dan membukakan pintu. Mengulurkan tangannya langsung ke arah pinggangku. Ternyata ia menggendongku ala bridal dan mendorong pintu mobil dengan kakinya. Entah bagaimana lelaki itu membuka pintu rumah, di saat tangannya membawa tubuhku. Yang jelas, tak lama kemudian kami sudah sampai di kamar tidur.
Mas Zaki meletakan tubuhku perlahan di pembaringan. Bibirnya mendekat, tapi aku menahannya dengan tangan.
"Kenapa?"
"Aku belum mandi."
"Ya, Tuhan. Ngerusak suasana romantis aja, sih."
Aku tertawa, lalu bangkit dan meninggalkannya.
***
Aku membuka mata sambil menggeliat, tepat saat pintu kamar dibuka. Mas Zaki yang mengenakan stelan celana panjang dan t-shirt berbahan kaos warna biru muda mengulas senyum khasnya.
"Mandi, gih."
"Tadi udah," jawabku sambil kembali menggeliat malas. Mas Zaki mendekat dan duduk di tepi pembaringan. Ia mencubit pipiku dengan gemas.
"Itu pas baru pulang, kan? Yang sekarang mandi wajib."
"Seneng banget bikin orang mandi dua kali, sih!" seruku pura-pura marah sambil mencebikkan bibir.
Lelaki itu mengulurkan tangan dan mengusap pipiku dengan lembut.
"Karena aku mau punya anak dari rahim kamu, Sayang."
Andai kata sayang itu digantinya dengan kata cinta, pikirku.
"Ih, kok pipi kamu tiba-tiba merah? Segitunya sampai tersipu. Kayak pengantin baru." Mas Zaki mencubit dua pipiku dengan gemas.
"Apaan, sih?" Kudorong tubuhnya dengan dua tangan. "Udah, ah. Aku mau mandi. Habis itu kita makan di luar , ya? Pengen bebek bakar."
"Siap, Komandan."
Walau tak melihat ke wajahnya, aku tahu ia sedang tersenyum saat ini.
***
Selesai mandi, aku tak melihat Mas Zaki di kamar tidur. Bergegas aku memakai pakaian. Setelan katun celana panjang dan baju lengan pendek menjadi pilihan. Mengambil ponsel dari meja, selanjutnya aku berjalan keluar dan mencari sosok lelaki itu. Sepertinya ia di ruang makan. Terdengar suara sendok yang sedang diambil dari tempatnya.
"Wah, Mas main sulap, ya?"
"Sulap?"
"Tadi aku pengen bebek bakar. Ternyata habis mandi udah tersedia di meja makan."
"Berkat dunia yang semakin maju, Sayang. Layanan antar memudahkan segalanya."
Dua porsi bebek bakar lengkap dengan nasi dan lalapan, sudah terhidang di meja. Mas Zaki menatanya di atas piring dengan sangat cantik, membuat perutku semakin bertambah lapar.
"Doa dulu," serunya saat aku sudah hendak menyentuh bebek bakar yang menggiurkan itu.
"Iya, ih. Bawel." Aku mencebikkan bibir yang hanya dibalas senyum olehnya.
Kami kemudian makan sambil bercerita banyak hal. Lebih tepatnya Mas Zaki yang bercerita, sementara aku hanya mendengarkan. Sesekali menanggapi.
Selesai makan, aku mencuci piring, lalu menyusulnya yang sedang duduk di ruang keluarga. Suamiku ternyata sedang duduk sambil membaca majalah bisnis.
Perlahan aku meletakkan tubuh di sampingnya. Ia menoleh sejenak, lalu kembali menekuri bacaannya.
"Mas, Laras udah pulang, ya?" tanyaku hati-hati.
Mas Zaki meletakan majalah yang dipegangnya ke atas meja.
"Iya. Kenapa?
"Dia pulang sama siapa?"
Mas Zaki mengalihkan pandangannya dari majalah, beralih padaku.
"Kok, kamu nanya gitu?"
"Ada yang lihat dia datang sama perempuan berkerudung dan menggendong bayi."
Tubuh Mas Zaki membeku. Matanya pun tak berkedip. Detik berikutnya ia seperti orang yang yang baru bangun dari mimpi, tetapi langsung bisa menguasai keadaan.
"Kamu dapat info seperti itu dari siapa? Jangan mudah termakan gosip."
"Ada buktinya, Mas."
"Bukti apa?"
Aku membuka galeri di ponsel. Sengaja chat dengan Fina sudah kuhapus setelah menyimpan nomor perempuan itu dalam kontak handphone. Foto yang dikirimkannya masih kusimpan, dan kini kutunjukkan pada Mas Zaki.
"Ini," ujarku menunjukkan foto itu. "Mas kenal dia?"
***
Bersambung