Setahun lalu.
"Saya terima nikahnya Widia Afridia Sukma binti Rahadian dengan mas kawin perhiasan emas dua puluh lima gram dibayar tunai."
"Sah!"
"Alhamdulillah. Allahu Akbar!" ucap Ayah bersama semua yang hadir.
Aku langsung sujud di kamar pengantin, sebagai tanda syukur telah sah menjadi istri dari Zaki Indra Rahmadian. Selang beberapa menit kemudian, Ayah masuk membawa buku nikah.
"Tanda tangani ini dulu, Nak." Ayah menyerahkan buku nikah dengan tangan yang gemetar. Ada kristal di dua matanya yang susah payah ia tahan. Aku meraih buku itu dan menandatanganinya.
Mas Zaki yang ikut masuk dan berdiri di belakang Ayah, kini melangkah mendekat. Ia juga memegang buku nikah yang sepertinya sudah ditandatangani.
Lelaki itu kemudian memberikan punggung tangannya untuk kukecup. Kulit kami sama-sama terasa dingin. Untuk sesaat masih terpaku saat ia melepaskan tangannya dan menggapai kepalaku lalu mengucapkan sebaris doa. Ada getar di d**a saat ia kemudian mencium keningku. Tak lama.
"Terima kasih," bisiknya lirih.
Setelahnya ia diam dan hanya mengikuti ucapan pemandu acara, sampai kami dibawa ke ruang resepsi. Prosesi sungkem pada kedua orang tua, berfoto, dan menerima ucapan selamat dari undangan, dilakukan dengan khidmat.
Di pelaminan, kami tak banyak bicara. Mas Zaki lebih sering menatap ke satu titik di sudut ruang. Terkadang aku ikut mengarahkan pandang ke tempat yang ditatapnya. Namun, tak ada sesuatu yang aneh atau menarik. Akhirnya aku hanya sibuk menata debaran di d**a. Sungguh, duduk bersanding dengan lelaki yang belum lama kukenal, membuat hati dan jantung seperti berlompatan jatuh ke lantai.
Visual Mas Zaki yang tak kalah dengan idol Korea terlihat semakin memesona dalam balutan pakaian pengantin pria. Banyak teman-temanku yang hadir pun berbisik saat bersalaman.
"Suami lu ganteng banget, Wid."
"Ada satu lagi yang kayak gini, nggak? Cariin, dong."
"Yang di sebelah lu cool banget, sih. Gemes."
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan mereka. Entah Mas Zaki mendengar atau tidak gurauan teman-temanku itu. Yang jelas, wajahnya tetap terlihat datar dengan senyum yang hanya sesekali terlihat. Senyum yang tak mencapai matanya.
"Aku ke sana sebentar. Ada teman yang harus kutemui," bisik Mas Zaki lirih sambil menunjuk ke arah yang dipandangnya sejak awal acara.
Aku menatap punggungnya yang menjauh, sampai ia kemudian berhenti di dekat sebuah dekorasi bunga berbentuk seperti gapura. Mas Zaki tampak berbicara dengan seseorang. Sayang, aku tak bisa melihat sosok yang terhalang bunga-bunga itu. Ditambah lagi undangan yang hadir dan naik ke atas panggung pelaminan untuk memberi ucapan semakin banyak. Perhatianku terbelah.
Setelah lima menit, ia kembali. Kali ini wajahnya terlihat lebih rileks. Beberapa kali ia bahkan menggenggam tangan dan meremas jemariku. Kulitnya sudah terasa seperti matahari pukul sembilan. Hangat. Senyumnya pun lebih hidup, seperti tanaman bunga Telang yang baru diguyur hujan, hingga fotografer tak perlu mengarahkan saat kami berfoto.
"Capek, ya?" tanyanya lembut ketika kami sudah berada di kamar pengantin.
Aku mengangguk dan tersenyum. Ternyata menjadi ratu sehari sangatlah melelahkan. Berdiri dan bersalaman dengan banyak tamu berjam-jam membuat betis dan bahuku kaku.
Mas Zaki berdiri di belakangku yang sedang duduk di depan cermin. Tangannya membantu melepas berbagai atribut di kepala dan jilbab. Dengan lembut ia memijat bahuku. Debar itu kembali terasa seiring dingin yang menjalari punggung dan pipi.
Setelah beberapa menit, Mas Zaki merengkuh bahuku dan memberi isyarat agar berdiri. Aku patuh dan berbalik, hingga kami saling berhadapan. Sangat dekat, hingga napasnya terasa mengenai wajah.
"Kita salat dulu. Setelah itu istirahatlah."
Aku menatap lelaki berkulit eksotis itu. Sedikit mengabaikan hidung bangir dan bibirnya yang kemerahan, karena fokus pada matanya yang menatap tajam.
"Aku tak bisa melakukannya malam ini," ujarnya lembut seakan tahu apa yang kupikirkan.
"Karena kamu belum bisa menerima perjodohan ini?"
"Nggak akan ada ijab kabul dan resepsi tadi, kalau aku belum menerima perjodohan ini, Wid. Aku menerima semuanya, termasuk dirimu. Kita akan melangkah bersama, tapi beri aku waktu."
Gelap yang menyelimuti bumi saat itu berlalu seperti bukan dilalui oleh sepasang pengantin. Sama saja seperti malam-malamku sebelumnya. Bedanya, ada sosok asing yang berbaring di sisiku.
Butuh waktu lama untuk mataku bisa terpejam dengan baik. Tidur, tapi tidak nyenyak. Hingga sebuah suara lirih membangunku.
Aku mengerjapkan mata untuk menyesuaikan penglihatan dengan cahaya ruangan, lalu memandang ke sekeliling tanpa melakukan gerakan. Hingga kutangkap sosoknya sedang berdiri di dekat jendela dan menatap keluar. Memegang ponsel yang didekatkan di telinga, ia berdiri membelakangiku.
"Iya, maaf," ujarnya lirih.
Mungkin ia takut aku terbangun. Sejenak hening, sepertinya Mas Zaki sedang mendengarkan suara di ujung telepon.
"Belum."
"...."
"Entah kapan. Tidurlah."
"...."
"Tenanglah. Semua akan tetap sama."
Aku menyibak selimut, lalu duduk.
"Mas?"
Ia terkejut dan langsung menurunkan tangannya yang memegang ponsel, lalu berbalik.
"Wid? Sejak kapan kamu bangun?"
***