Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran Mas Dipta, seharusnya tidak perlu seperti ini. Aku sudah cukup bersabar selama ini menghadapi segala kelakuannya yang berlaku semaunya sendiri. Sepertinya dia tidak pernah bisa menghargai perasaan orang lain, tidak pernah peduli dengan perasaan orang-orang disekitarnya. Memang benar dia papa kandung Prilly, tapi, tidak bisa dia berbuat semau jidatnya sendiri seperti menggambil Prilly dariku. Dari lahir sampai sekarang aku yang mengurus Prilly dan memberikan semua yang Prilly butuhkan tanpa kekurangan. Tampa Mas Dipta pun aku sudah bisa memberikan penghidupan yang sangat layak untuk Prilly. Dia yang baru saja datang sekarang ingin mengambil Prilly dariku, apakah pria itu masih waras? “Ada apa ?” tanya mama yang ternyata sedari tadi memperhatikanku.

