"Tentu saja, boleh banget." jawabku cepat. Aku berdiri dan menyambutnya, saking senangnya, tak terasa sampai menangis, Friska juga sama. Begitu merindunya diriku akan kebersamaan seperti dulu lagi. Sesaat kami berpelukan, saling pandang dan tertawa dengan pipi yang masih basah. "Maafkan aku," ucapku kemudian. "Aku juga minta maaf," balas Friska kemudian. Kepingan jiwa itu kembali menyatu, tak bisa aku gambarkan rasa bahagiaku saat ini. Friska adalah sahabat terbaikku, seperti adikku. Lukanya adalah lukaku, apa yang dia rasakan saat ini, aku pernah mengalaminya juga. "Makasih bekalnya, mama sepertinya tau, aku rindu masakannya." "Mama kangen kamu," ucapku kemudian. "Prilly juga?" tanyanya. Aku mengangguk. "Dia mirip sekali dengan mas Dipta, aku baru menyadarinya." Friska tersenyum

