LUKA Bab 34

1502 Kata

"Tentu saja, boleh banget." jawabku cepat. Aku berdiri dan menyambutnya, saking senangnya, tak terasa sampai menangis, Friska juga sama. Begitu merindunya diriku akan kebersamaan seperti dulu lagi. Sesaat kami berpelukan, saling pandang dan tertawa dengan pipi yang masih basah. "Maafkan aku," ucapku kemudian. "Aku juga minta maaf," balas Friska kemudian. Kepingan jiwa itu kembali menyatu, tak bisa aku gambarkan rasa bahagiaku saat ini. Friska adalah sahabat terbaikku, seperti adikku. Lukanya adalah lukaku, apa yang dia rasakan saat ini, aku pernah mengalaminya juga. "Makasih bekalnya, mama sepertinya tau, aku rindu masakannya." "Mama kangen kamu," ucapku kemudian. "Prilly juga?" tanyanya. Aku mengangguk. "Dia mirip sekali dengan mas Dipta, aku baru menyadarinya." Friska tersenyum

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN