Sekilas kecupan hangat menyapa bibirku, membuat pipiku menghangat. Dadaku bergetar dan rasanya ah ... ini tak bisa aku gambarkan dengan kata-kata. "Bisakah kita lebih serius dari ini?" tanyaku padanya, masih dengan kening menyatu dan sisa debaran atas apa yang baru saja terjadi. "Tentu saja kita akan atur semua sebenarnya aku lebih suka kamu di rumah tak perlu bekerja, tapi aku cukup tau karaktermu. Tak mungkin mau berdiam diri dirumah," ucap Pak Ryan. "Kamu benar, aku paling tak bisa di rumah, akan sangat membosankan pastinya," ucapku. "Gimana, kalau ntar malam kita ajak Prilly keluar, jalan-jalan." Sebuah penawaran Pak Ryan utarakan. "Boleh, kemana?" Dengan semangat dan senyum terkembang aku meresponnya. "Prilly suka kemana? Jangan bilang ke mall belanja, itu mamanya pasti yang mi

