POV Pak Anggara Ketika aku ingin bercerita pada Gita dan Irfan, tiba-tiba Anggi menghubunginya. “Pah, Anggi telepon, tunggu sebentar,” ucap Irfan. “Iya, silakan,” jawabku. Kemudian, aku pun menunggu Irfan menerima telepon sambil mengatur kata-kata untuk mengawali cerita. Semoga saja Gita tidak kecewa dengan perbuatanku. Usai menerima telepon, Irfan pun kembali dan pamit ke rumah sakit. Itu artinya, ia takkan mendengarkan cerita itu sekarang. “Pah, Anggi minta ditemani, ibu dan ayahnya ingin bicara dengan papa, jadi mereka mau pulang ke sini dulu,” ucap Irfan. Aku pun mengangguk seraya menyetujui apa yang ia lakukan. Mungkin kedua orang tuanya juga berharap diceritakan sekarang juga. Aku menghela napas panjang, sedangkan Gita sudah bersiap mendengarkan penjelasan dariku. Tangan Gita b

