POV Anggi Kemudian, setelah kami turun dari mobil, pengendara yang mengikuti kami pun keluar dari mobilnya. Ya, dia Pak Alex, sungguh aku acungi jempol nyalinya untuk muncul di hadapan kami, sebab ia adalah buronan polisi, seharusnya Pak Alex takut. Langkah kaki papa semakin tak gentar ketika melihat bahwa Pak Alex yang mengikuti kami tadi. Sambil melipat kedua tangannya, ia pun menghampirinya. “Bagus sekali, kamu hebat, pemberani, apa sudah tak sabar masuk bui?” tanya papa dengan nada sindiran. Pak Alex pun menyambut dengan tawa lepas. “Bui? Kamu pikir bisa semudah itu memasukkan aku ke penjara! Hah!” tekan Pak Alex. Kemudian, eyang melerai perdebatan sengit mereka berdua. Aku sebagai wanita ada sedikit cemas, khawatir mereka nekat. “Sudahlah jangan bertengkar di sini!” lerai eyang d

