Badanku terperosok jatuh kedalam jurang.
Duniaku terasa menghitam.
Kepalaku berpusing terkena badai awan.
Semua kenyataan ini terasa mengerikan.
Kuyakinkan diri bahwa apa yang kulihat hanya imajinasi.
Jika aku terlelap lama dan sewaktu terbangun takkan terjadi apa-apa.
Namun kesadaranku mengatakan sebaliknya, dan aku nyaris menjadi gila karena logikaku rasanya tak bekerja.
Semua kenyataan ini terasa mengerikan.
Saat melihat pemuda yang kukenal nyaris hingga detik hidupku sekarang, berubah menjadi seekor Elang.
Elang raksasa berbulu kehijauan, sama persis seperti warna matanya.
Aku membeku saat mata Elang-Patt menatapku, ada medan magnet yang seolah menarik jiwaku masuk kedalam ingatannya. Aku tersentak saat suara-suara bermunculan dalam pikiranku.
“ Kumohon percayalah padaku...”
Makhluk itu berbulu dan bersayap, tidak lagi seperti manusia bertubuh indah yang selama ini kukenal.
Memiliki paruh alih-alih pengganti bibirnya yang panas dan menggoda.
Tapi dari dua bola mata hijau cemerlang itu aku masih mengetahuinya.
Dia tetap sosok Pattrick Blaze yang kukenal.
Pemuda tampan dan meskipun liar, selalu tahu bagaimana cara membuatku tertawa.
Pria yang akan melakukan segalanya demi menjaga orang-orang disekelilingnya.
Dia tetaplah si ksatria hitam itu.
“ Aku mempercayaimu" balasku penuh kepercayaan.
Elang-Patt berkaok riang, mungkin itu perwjudan ekspresi senangnya. Rupanya inilah cara binatang berkomunikasi? Melalui pikiran!
Sebuah kalimat masuk lagi kedalam pikiranku, tapi kali ini bukan suara berat khas Patt, melainkan nada menenangkan yang selalu kudapat dari....
“ Menyingkirlah Tish, ini akan menjadi pertarungan yang panjang. Dan kami bisa mati kalau sampai hal buruk terjadi padamu "
“ SIMON!!! “
Aku ternganga.
Sepasang iris abu-abu terindah yang biasa kulihat dari sosok manis Simon terpampang jelas dalam tubuh Elang bersayap putih itu. Ada jiwa Simon didalamnya.
Rasa sakit membetot hatiku lebih perih ketika mengetahui Simon harus bernasib serupa dengan Patt.
Apa sebetulnya mereka??
Kenapa mereka bisa menjadi seperti ini?
Menyerupai makhluk-makhluk dalam kisah novel dan film supernatural fiksi percintaan remaja yang tak pernah kugandrungi.
Otakku mau meledak akibat jutaan gelombang pertanyaan. Tapi saat ini aku harus menahan diri untuk semua itu. Sebab apapun mereka, bagaimanapun wujudnya, dimataku Patt dan Simon akan selalu sama. Apalagi sekarang mereka sedang bertarung mempertaruhkan nyawa untuk melawan sekelompok makhluk tak kalah mengerikan, yang entah kenapa begitu menginginkanku dan pastinya jahat sebab sudah membunuh Karen.
Aku berdiri menantang manghadap Patt, mata kami saling bertemu. Aku ingin me-'nunjukkan bahwa aku takkan takut padanya. “ Aku mengerti, takkan bertindak bodoh” lalu melanjutkan membuat kontak pada keduanya. “ Tapi berjanjilah agar tidak mati, karena kalian berhutang banyak padaku!"
Dan kedua elang berkaok bersamaan sambil menudukkan kepala sebanyak tiga kali, aku menangkapnya sebagai tanda mereka mengiyakan sekaligus tertawa.
Pekikan melengkik dari mulut Gus menyadarkan kami kembali. Pria itu mengamuk lalu menerjang Simon, namun dengan tenaga serta ukuran tubuh seekor elang dengan mudah Simon berhasil membanting Gus ketanah, menekan tubuhnya. Disaat bersamaan Leigh melancarkan serangan seakan mencoba membantu partnernya, tapi alih-alih mengenai Simon, bola-bola es miliknya malah menghantam tubuh Gus sebab Simon berhasil menghindar tepat pada waktunya dengan anggun.
Aku menjadi penonton yang melihat pertarungan mereka tersembunyi dengan aman dibalik dahan pepohonan raksasa, seakan sedang dibioskop. Bibirku harus kugigit rapat-rapat saat Patt dan Dex bergulat diatas tanah, bertubrukan, menindih, saling menancap-kan cakar ditubuh masing-masing lawan, atau usaha Dex menginggit sayap Patt yang berakhir dengan sobek besar diarea perut bawah macan jelek itu.
Dibanding gaya bertarung Patt yang liar, Simon jauh lebih berstrategi, mengingat dia harus melawan dua musuh. Setiap kali dia diserang bersamaan, Simon selalu bisa mengambil celah untuk menghindar, memakai waktu beberapa detik musuh saat menghimpun kekuatan, balik menyerang mengunakan sayap dan paruhnya. Tampaknya Simon tak ingin memakai cakar karena Leigh wanita. Demi Tuhan! Dia bahkan sempat peduli padahal sudah dihajar habis-habisan oleh perempuan itu.
Tapi disatu sisi aku lega, itu berarti Simon tak membiarkan insting hewannya menguasai dirinya bahkan disaat dia sedang tak berwujud sebagai manusia.
Aku tak tahu berapa lama waktu yang telah kami habiskan pada pertarungan ini, aku lupa memakai jam tangan, pandanganku juga masih samar-samar tertutupi gelapnya kabut hitam. Pikiranku melayang pada rumah, Dad dan Eliza pasti mencemaskanku karena menghilang mendadak.
Bagaimana dengan Orang Tua Simon atau Winona?
Apakah mereka sudah mengetahui sosok lain anak-anak mereka?
Atau selama ini Patt dan Simon menjalani hidup penuh kerahasiaan?
Isi kepalaku seakan mau pecah karena jutaan pertanyaan, kecemasan, dan rasa takut. Aku terlalu berkutat pada diri sendiri sampai-sampai tak menyandari kehadiran sosok yang mengendap-endap dibelakangku, kemudian dia melompat kepadaku, memojokkanku hingga ke sudut pepohonan pinus raksasa.
“ TISH!!" jerit Simon dan Patt bersamaan didalam pikiranku. Kedua elang itu tampak kaget sekaligus marah.
“ Kerja bagus, Gus!" teriak Leigh tampak puas seraya memegangi lengannya yang terluka. “ Ternyata sangat gampang mengalihkan perhatianmu burung t***l!" ejek Leigh pada Simon.
Dari sudut mataku kulihat Simon mengamuk, dia memakai sayapnya untuk membuat topan kecil kearah Leigh, namun wanita itu bisa mengatasinya dengan mudah dan memberikan Simon badai es hingga tubuh elangnya terperangkap dalam kubus es. Patt yang berupaya menolongku juga tertahan oleh tikaman Dex dari balik punggungnya.
Keadaan berubah, musuh menggunakan kelemahan mereka terhadapku untuk menyerang habis-habisan. Aku menjerit dan mulai menangis ketika melihat darah memuncar dari d**a kiri Simon, dan leher Patt.
“ Betapa bodohnya mereka, rela mati demi seorang gadis sepertimu. Ckckck...padahal bagaimanapun juga kamu juga tak bakal memilih salah satu dari mereka" kata Gus kejam, dihadapanku.
Pandanganku teralihkan padanya, susah payah aku berhasil berdiri meskipun tubuhku gemetar hebat. “ Dasar Iblis!!" jeritku mengamuk. Bayangan melihat tubuh dua orang yang sangat berharga bagiku terkapar ditanah cukup untuk membuatku nekad berlari dan menyeruduk makhluk merah dihadapanku.
Dia berhasil tersandung lalu terjatuh beberapa centi ketanah, tapi alih-alih marah Gus malah tertawa kejam. “ Tenagamu boleh juga manis" berdiri sambil membersihkan wajahnya dari lumpur. “ Kalau begitu aku takkan ragu juga, master menyuruhku untuk tak menyakitimu. Tapi ya sudahlah, toh dia sedang tak ada disini"
Gus mengeluarkan cambuk berdurinya siap melemparkannya kearahku, aku telah bersiap untuk menghindar setelah mampu memprediksi pergerakan benda itu dari pengamatanku selama pertarungannya dengan Simon. Tepat ketika itulah cahaya putih memancar diseluruh area hutan.
Tempat ini berubah dari bola hitam menjadi lautan sinar, menyedot kabut serta kegelapan.Angin dingin hilang digantikan hawa hangat, dapat kurasakan pancaran sinar matahari menembus kulitku, kedamaian aneh menyelimuti jiwaku.
Musuh kami berteriak kesakitan ketika tubuh mereka terkena paparan sinar matahari. Dalam kedipan mata kulihat ratusan panah meluncur dari berbagai penjuru menembus kedalam tempat kami, Patt dan Simon langsung terbang dari tempat mereka untuk melindungiku.
Nafasku tercekat ketika melihat tubuh Gus yang terkena panah pada kaki dan tangannya melepuh, suara jeritannya seperti lolongan binatang akan dipenggal. Diantara bulu putih dan hijau aku melihat Leigh yang sibuk membuat bentuk lingkaran ditanah seraya berbicara memakai sebuah bahasa yang tak kupahami, lalu ajaib muncullah api didalam bundaran tersebut. Dex melompat kedalamnya namun ketika Leigh akan melakukan hal yang sama punggungnya terkena panah, gadis itu memekik nyaring meminta pertolongan temannya. Tapi dengan kejamnya Dex hanya balas menyeringai dan sedetik kemudian tubuhnya menghilang dari permukaan.
Tubuhku merapat saat mendengar banyak suara derap kaki, awalnya kukira kuda tapi setelah semakin mendekat aku menyadari itu adalah kaki manusia.
“ Tenanglah Tish, itu bantuan untuk kita" tukas Simon.
‘ Bantuan?' pikirku dalam hati.
Belasan manusia dewasa dalam balutan baju serba perak muncul dari seluruh sisi hutan, mereka berlari sangat cepat kearah kami.
“ Tisha!!" jerit sebuah suara tegas yang tak asing ditelingaku.
Kedua elang sahabatku melepaskan perlindungan mereka dariku, saat tak ada bulu lagi dihadapanku kulihat seseorang berlari kearahku lalu mendekapku erat. “ Demi Tuhan! Syukurlah kamu selamat!"
Hal berikutnya yang terjadi membuatku tak kalah terkejut.
“ DAD" ujarku lemah.