PERTOLONGAN

1155 Kata
Badanku  terperosok  jatuh kedalam  jurang.     Duniaku  terasa menghitam.    Kepalaku  berpusing terkena  badai awan.    Semua  kenyataan  ini terasa  mengerikan.   Kuyakinkan  diri bahwa apa  yang kulihat hanya  imajinasi.    Jika  aku terlelap  lama dan sewaktu  terbangun takkan terjadi  apa-apa.  Namun  kesadaranku  mengatakan sebaliknya, dan  aku nyaris menjadi gila karena  logikaku rasanya tak bekerja.    Semua  kenyataan  ini terasa  mengerikan.  Saat  melihat  pemuda yang  kukenal nyaris  hingga detik hidupku  sekarang, berubah menjadi  seekor Elang.   Elang  raksasa  berbulu kehijauan, sama  persis seperti warna matanya.    Aku  membeku  saat mata  Elang-Patt menatapku, ada  medan magnet yang seolah menarik  jiwaku masuk kedalam ingatannya. Aku  tersentak saat suara-suara bermunculan  dalam pikiranku.      “ Kumohon  percayalah  padaku...”    Makhluk  itu berbulu  dan bersayap,  tidak lagi seperti  manusia bertubuh indah  yang selama ini kukenal.   Memiliki  paruh alih-alih  pengganti bibirnya  yang panas dan menggoda.   Tapi  dari dua  bola mata hijau  cemerlang itu aku  masih mengetahuinya.     Dia  tetap  sosok Pattrick  Blaze yang kukenal.     Pemuda  tampan dan  meskipun liar, selalu  tahu bagaimana cara membuatku  tertawa.      Pria  yang akan  melakukan segalanya  demi menjaga orang-orang  disekelilingnya.      Dia  tetaplah  si ksatria  hitam itu.      “ Aku  mempercayaimu"  balasku  penuh kepercayaan.      Elang-Patt  berkaok riang, mungkin  itu perwjudan ekspresi senangnya. Rupanya  inilah cara binatang berkomunikasi? Melalui  pikiran!      Sebuah  kalimat masuk  lagi kedalam pikiranku, tapi  kali ini bukan suara berat khas  Patt, melainkan nada menenangkan yang  selalu kudapat dari....      “ Menyingkirlah  Tish, ini akan  menjadi pertarungan  yang panjang. Dan kami  bisa mati kalau sampai hal  buruk terjadi padamu "      “ SIMON!!! “      Aku  ternganga.     Sepasang  iris abu-abu  terindah yang biasa  kulihat dari sosok manis  Simon terpampang jelas dalam  tubuh Elang bersayap putih itu. Ada  jiwa Simon didalamnya.     Rasa  sakit membetot  hatiku lebih perih  ketika mengetahui Simon  harus bernasib serupa dengan  Patt.       Apa  sebetulnya  mereka??    Kenapa  mereka bisa  menjadi seperti  ini?     Menyerupai  makhluk-makhluk  dalam kisah novel  dan film supernatural  fiksi percintaan remaja  yang tak pernah kugandrungi.    Otakku  mau meledak  akibat jutaan  gelombang pertanyaan. Tapi  saat ini aku harus menahan  diri untuk semua itu. Sebab apapun  mereka, bagaimanapun wujudnya, dimataku  Patt dan Simon akan selalu sama. Apalagi  sekarang mereka sedang bertarung mempertaruhkan  nyawa untuk melawan sekelompok makhluk tak kalah  mengerikan, yang entah kenapa begitu menginginkanku  dan pastinya jahat  sebab  sudah membunuh  Karen.        Aku  berdiri  menantang  manghadap Patt, mata  kami saling bertemu. Aku  ingin me-'nunjukkan bahwa aku  takkan takut padanya. “ Aku  mengerti, takkan  bertindak bodoh”  lalu  melanjutkan  membuat kontak  pada keduanya. “ Tapi  berjanjilah  agar tidak mati, karena  kalian berhutang  banyak padaku!"      Dan  kedua  elang berkaok  bersamaan sambil  menudukkan kepala sebanyak  tiga kali, aku menangkapnya sebagai  tanda mereka mengiyakan sekaligus tertawa.      Pekikan  melengkik  dari mulut  Gus menyadarkan  kami kembali. Pria  itu mengamuk lalu menerjang  Simon, namun dengan tenaga serta  ukuran tubuh seekor elang dengan mudah  Simon berhasil membanting Gus ketanah, menekan  tubuhnya. Disaat bersamaan Leigh melancarkan serangan  seakan mencoba membantu partnernya, tapi alih-alih mengenai  Simon, bola-bola es miliknya malah menghantam tubuh Gus sebab  Simon berhasil menghindar tepat pada waktunya dengan anggun.      Aku  menjadi  penonton yang  melihat pertarungan  mereka tersembunyi dengan  aman dibalik dahan pepohonan  raksasa, seakan sedang dibioskop. Bibirku  harus kugigit rapat-rapat saat Patt dan Dex  bergulat diatas tanah, bertubrukan, menindih, saling  menancap-kan cakar ditubuh masing-masing lawan, atau  usaha Dex menginggit sayap Patt yang berakhir dengan  sobek besar diarea perut bawah macan jelek itu.      Dibanding  gaya bertarung  Patt yang liar, Simon  jauh lebih berstrategi, mengingat  dia harus melawan dua musuh. Setiap  kali dia diserang bersamaan, Simon selalu  bisa mengambil celah untuk menghindar, memakai  waktu beberapa detik musuh saat menghimpun kekuatan,  balik menyerang mengunakan sayap dan paruhnya. Tampaknya  Simon tak ingin memakai cakar karena Leigh wanita. Demi Tuhan! Dia  bahkan sempat peduli padahal sudah dihajar habis-habisan oleh perempuan  itu.      Tapi  disatu  sisi aku  lega, itu berarti  Simon tak membiarkan  insting hewannya menguasai  dirinya bahkan disaat dia sedang  tak berwujud sebagai manusia.       Aku  tak tahu  berapa lama  waktu yang telah  kami habiskan pada  pertarungan ini, aku lupa  memakai jam tangan, pandanganku  juga masih samar-samar tertutupi  gelapnya kabut hitam. Pikiranku melayang  pada rumah, Dad dan Eliza pasti mencemaskanku  karena menghilang mendadak.       Bagaimana  dengan Orang  Tua Simon atau  Winona?     Apakah  mereka sudah  mengetahui sosok  lain anak-anak mereka?       Atau  selama  ini Patt  dan Simon menjalani  hidup penuh kerahasiaan?      Isi  kepalaku  seakan mau  pecah karena  jutaan pertanyaan, kecemasan, dan rasa  takut. Aku terlalu berkutat pada diri  sendiri sampai-sampai tak menyandari kehadiran  sosok yang mengendap-endap dibelakangku, kemudian  dia melompat kepadaku, memojokkanku hingga ke sudut  pepohonan pinus raksasa.      “ TISH!!"  jerit  Simon dan  Patt bersamaan  didalam pikiranku. Kedua  elang itu tampak kaget sekaligus  marah.      “ Kerja  bagus, Gus!" teriak  Leigh tampak puas seraya  memegangi lengannya yang terluka. “ Ternyata  sangat gampang mengalihkan perhatianmu burung  t***l!" ejek Leigh pada Simon.      Dari  sudut mataku  kulihat Simon mengamuk, dia  memakai sayapnya untuk membuat  topan kecil kearah Leigh, namun wanita  itu bisa mengatasinya dengan mudah dan memberikan  Simon badai es hingga tubuh elangnya terperangkap  dalam kubus es. Patt yang berupaya menolongku juga tertahan  oleh tikaman Dex dari balik punggungnya.       Keadaan  berubah, musuh  menggunakan kelemahan  mereka terhadapku untuk  menyerang habis-habisan. Aku  menjerit dan mulai menangis ketika  melihat darah memuncar dari d**a kiri  Simon, dan leher Patt.      “ Betapa  bodohnya mereka, rela  mati demi seorang gadis  sepertimu. Ckckck...padahal bagaimanapun  juga kamu juga tak bakal memilih salah  satu dari mereka" kata Gus kejam, dihadapanku.      Pandanganku  teralihkan padanya, susah  payah aku berhasil berdiri  meskipun tubuhku gemetar hebat. “ Dasar  Iblis!!" jeritku mengamuk. Bayangan melihat  tubuh dua orang yang sangat berharga bagiku  terkapar ditanah cukup untuk membuatku nekad berlari  dan menyeruduk makhluk merah dihadapanku.      Dia  berhasil  tersandung  lalu terjatuh  beberapa centi ketanah, tapi  alih-alih marah Gus malah tertawa  kejam. “ Tenagamu boleh juga manis" berdiri  sambil membersihkan wajahnya dari lumpur. “ Kalau  begitu aku takkan ragu juga, master menyuruhku  untuk tak menyakitimu. Tapi  ya sudahlah, toh dia sedang tak  ada disini"      Gus  mengeluarkan  cambuk berdurinya  siap melemparkannya  kearahku, aku telah bersiap  untuk menghindar setelah mampu  memprediksi pergerakan benda itu dari  pengamatanku selama pertarungannya dengan  Simon. Tepat ketika itulah cahaya putih memancar  diseluruh area hutan.      Tempat  ini berubah  dari bola hitam  menjadi lautan sinar, menyedot  kabut serta kegelapan.Angin dingin  hilang digantikan hawa hangat, dapat  kurasakan pancaran sinar matahari menembus  kulitku, kedamaian aneh menyelimuti jiwaku.      Musuh  kami berteriak  kesakitan ketika  tubuh mereka terkena  paparan sinar matahari. Dalam  kedipan mata kulihat ratusan panah  meluncur dari berbagai penjuru menembus  kedalam tempat kami, Patt dan Simon langsung  terbang dari tempat mereka untuk melindungiku.       Nafasku  tercekat ketika  melihat tubuh Gus  yang terkena panah pada  kaki dan tangannya melepuh, suara  jeritannya seperti lolongan binatang  akan dipenggal. Diantara bulu putih dan  hijau aku melihat Leigh yang sibuk membuat  bentuk lingkaran ditanah seraya berbicara memakai  sebuah bahasa yang tak kupahami, lalu ajaib muncullah  api didalam bundaran tersebut. Dex melompat kedalamnya namun  ketika Leigh akan melakukan hal yang sama punggungnya terkena  panah, gadis itu memekik nyaring meminta pertolongan temannya. Tapi  dengan kejamnya Dex hanya balas menyeringai dan sedetik kemudian tubuhnya  menghilang dari permukaan.      Tubuhku  merapat saat  mendengar banyak  suara derap kaki, awalnya  kukira kuda tapi setelah semakin  mendekat aku menyadari itu adalah kaki  manusia.      “ Tenanglah  Tish, itu bantuan  untuk kita"  tukas  Simon.     ‘ Bantuan?' pikirku  dalam hati.     Belasan  manusia dewasa  dalam balutan baju  serba perak muncul dari  seluruh sisi hutan, mereka  berlari sangat cepat kearah  kami.       “ Tisha!!"  jerit sebuah  suara tegas yang  tak asing ditelingaku.      Kedua  elang sahabatku  melepaskan perlindungan  mereka dariku, saat tak ada  bulu lagi dihadapanku kulihat  seseorang berlari kearahku lalu  mendekapku erat. “ Demi Tuhan! Syukurlah  kamu selamat!" Hal berikutnya yang terjadi membuatku tak kalah terkejut. “ DAD" ujarku lemah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN