KUTUKAN.

1326 Kata
    “ Kami  dikutuk Tish, diriku  dan Pattrick"      Itulah  kalimat yang  keluar dari mulut  Simon setelah tiga jam  kami berada disini.      Didalam  basement rahasia  rumah keluarga Tuddington ( demi  Tuhan! Nyaris seumur hidup kuhabiskan  bermain ditempat ini dan tak pernah tahu  kalau mereka memiliki ruang tersembunyi! )      Eliza  sudah selesai  membalut lukaku  sejak dua setengah jam  lalu, dia duduk diam disampingku, diatas  sofa beledu hitam didalam ruang yang dipenuhi  aneka senjata dari berbagai belahan dunia serta  zaman. Terlihat lucu dalam balutan baju ketat serba  perak. Beberapa kali berusaha membujukku memakan sup kentang  buatannya, dan hanya kujawab dengan gelengan.      Simon  dan Patt  berdiri mondar-mandir  tak jelas selama berjam-jam, menunggu Dave, Ayahku serta belasan  manusia dewasa berbaju perak ketat sama seperti milik Eliza, yang  tengah rapat didalam kantornya.       Aku bahkan  tak malu memandangi  mereka meskipun telah  terjadi insiden telanjang  akibat transformasi-menjadi-manusia-lagi.       Fisikku  sudah terlalu  lelah. Otakku ingin  beristirahat sejenak tapi  tak bisa. Dan kini, Simon mulai  mengatakan kejujuran seperti yang  telah dia janjikan sebelumnya.      Aku  duduk  tegak dan  memperhatikan  dia dengan seksama. Simon  berhadapan denganku sedangkan  Patt mengambil tempat disisi kiriku.       “ Masih  ingat kejadian  tujuh tahun lalu, perkemahan  musim panas hari dimana kamu  jatuh ke tebing dan koma selama  beberapa saat? Kejadiannya jauh lebih  menyeramkan dari yang diceritakan padamu. Kita  bertiga sedang mencari kayu bakar didalam hutan  saat seekor elang raksasa tiba-tiba muncul dan mulai  mengamuk, elang itulah yang menjadi penyebab kecelakaanmu  waktu itu tapi tidak berhenti disitu saja. Dia berhasil melukai  kami berdua cukup parah" Simon menarik nafas panjang, terasa begitu  berat untuk menceritakan ulang segalanya.      “ Elang  itu mengincar  Simon" lanjut Patt, menyadari  kondisi jiwa sahabatnya. “ Binatang  itu makhluk terkutuk sama seperti kami. Tuannya  memerintahkannya untuk mendapatkan Simon dan menjadikannya  seperti dirinya. Seorang Were-Eagle"      Hening  sesaat.      Mata  hijau Patt  berkilat dipenuhi  kebencian, tanpa sadar  aku mencengkram tangan Eliza  yang tanpa protes menerimanya.      “ Aku  pernah mendengarnya, manusia  separuh binatang. Shapeshifter?...” bisikku  lebih kepada  diri sendiri.      Simon  dan Patt  mengangguk bersamaan. “ Were-Eagle  hanya salah satu dari jenis ‘Makhluk  pengalih wujud’ atau lebih dikenal Shapeshifter. Kaum  kami dijuluki  makhluk Underworld  karena  hidup dalam  kegelapan dan  tidak mengenal cahaya"  ada kepahitan dalam suara  Patt saat mengungkapkan.      “ Tunggu  dulu, kenapa  binatang itu ingin mengincar  Simon? Apa alasannya? Dan kenapa  dia menyerang kita juga?" tuntutku. Mengajukan rentetan  pertanyaan yang sudah sejak tertumpuk dikepalaku.      Simon  menggelengkan  kepala. “ Binatang  itu hanya suruhan. Seperti  kata Patt tadi, Tuannyalah yang  membenciku. Lebih tepatnya memusuhi  Ayahku. David Tuddington, adalah pria  hebat yang memiliki rahasia besar sejak  lahir. Dad adalah pemimpin sebuah organisasi  bayangan bernama Silver  Shine, manusia  dunia bawah  mengenalnya sebagai  ksatria cahaya, pasukan  Tuhan pelindung kedamaian  manusia sejak enam abad lamanya"      Tampangku  pasti sedang  melongo sekarang.      “ Musuh  kami, dalang  dibalik penyeranganku  adalah Tuan Besar dari  kelompok kegelapan para makhluk  Underdark, Red  Hood. Mereka  adalah ‘kaki  tangan iblis’ dalam  wujud manusia, memakai  kekuatan hitamnya untuk  menebarkan hal jahat diatas  Bumi. Pemimpin mereka sangat membenci  keluargaku setelah sempat disegel oleh  Kakek buyutku,namun entah bagaimana caranya  para pengikut setianya berhasil membuka kunci  tersebut. Namanya Hermsstein, dialah  Iblis sesungguhnya  Tish"      Bulu  halusku  berdiri saat  mendengar nama  itu disebut.      “ Hermsstein  membalas dendam  pada kami melalui  diriku, dalam tragedi  tujuh tahun lalu aku berhasil  dirubah menjadi seekor Were-Eagle  karena gigitan makhluk terkutuk itu. Masalahnya  bukan hanya aku yang harus menanggung kutukan ini" Simon  melirik Patt penuh rasa bersalah.      Ulu  hatiku  terbetot  sangat sakit. “ Patt, dia  juga berubah akibat serangan  itu"       Patt  tersenyum  hampa padaku, sekarang  aku mengerti mengapa beberapa  tahun terakhir perlakuan Winona  terasa berbeda pada Simon. Wanita  itu pasti sudah tahu apa yang menimpa  putranya dan menyalahkan Simon atas segalanya.      Kugenggam  erat tangan  Patt, tubuhnya  belakangan ini selalu  merespon aneh tiap kali  kusentuh. “ Ini bukan salahmu"  kataku menatap Simon hangat.      “ Aku  juga sudah  mengatakan itu  padanya " sahut Patt, nyengir.      Simon  tersenyum  simpul, namun  Patt buru-buru  melanjutkan. “ Dan  karena penyesalan tak  berujung itulah dia bertindah  bodoh tiga tahun lalu. Dengan mendatangi  markas Red Hood demi mendapatkan obat penyembuh  untukku!" wajahnya dipenuhi emosi, tangannya mengepal.      “ Aku  hanya berusaha" potong  Simon. “ Aku tak ingin selamanya  kamu terjerumus menjadi makhluk abadi  seperti sekarang"      “ Kutebak  mereka tak  memberikannya" potongku  sebelum terjadi argumentasi  lagi.      Simon  menggeleng  pasrah. “ Hermsstein  hanya ingin memperalatku, obat  penyembuh itu tak semudah mungkin  didapat. Membutuhkan darah si Tuan, si  ‘Penyembuh’, dan semacam ritual melibatkan  sihir. Pada akhirnya kami berdua dijebak masuk  kedalam dunia mereka untuk sesaat, untungnya berkat  bantuan Dad dan organisasi kami bisa segera terlepas  dari mereka"      “ Jadi, makhluk  semacam vampire dan  sebangsanya itu benar-benar  ada?" tanyaku lirih lebih kepada  diri sendiri. “ Apa kalian tahu asal-muasal  kaum Underworld, mak-'sudku, ‘ayam sebelumnya adalah  telur’ juga bukan"      Simon  dan Patt  saling berpandangan, tampak  kesulitan menjelaskan. Eliza berdeham  dan perhatian kami segera teralih padanya. Selama  ini dia memilih diam dan memberi kesempatan pada kedua  sahabatku untuk ‘bertanggung jawab’.      “ Tuhan  tak pernah  mencipatakan sesuatu  yang buruk didunia ini  Tish, segala hal jahat bersumber  diluar Tuhan" kata Eliza simpel.      Aku  menyesap  ingatan akan  kalimat dari Alkitab  barusan kuat-kuat. “ Jadi  iblislah yang membuat semua  hal ini terjadi ?"      Eliza  mengangguk  penuh. “ Memanfaatkan  setiap titik kelemahan  manusia, dengan iming-iming  kekuatan dan hidup abadi, membuat  banyak makhluk fana lemah dan terjatuh  kedalam lembah dosa paling dalam"         Alisku  menyatu cepat, wajahku  mengeras, “ Per....sekutuan  dengan Iblis....”      Kondisi  sunyi sejenak, mereka  membiarkan aku berusaha  menyusun jutaan puzzle informasi  di dalam kepalaku hingga menjadi gambar  utuh.       “ Tapi  kenapa mereka  menginginkanku juga? Itu  kan inti penyerangan hari  ini. Aku mendengar langsung dari  mulut mereka" tanyaku kalem dengan  mata masih terpaku pada lantai kayu  basement.      _Aku  bisa merasakan  gelengan kepala Eliza, tatapan  prihatin Simon, serta erangan marah  Patt.      “ Maafkan  aku Tish, untuk  yang satu ini kami  masih belum mempunyai jawabannya. Tapi  kemungkinan bisa jadi ‘akulah’ alasannya, Hermsstein  sangat ingin menghancurkan semua yang kulindungi" Simon  menunduk, sangat sedih.      Kangguru  didalam perutku  melompat lemah. “ Oh, Tuhan, tidak. Bagaimana  mungkin kamu bisa menyalahkan diri sendiri seperti  ini. Jangan biarkan Iblis-iblis itu mempengaruhi otakmu  pada pemikiran ‘kesalahan berada dijalan kebenaran’" kataku  mengingatkan.    Aku  memajukan  posisi dudukku  hingga tanganku bisa  menggengam lengannya. Sensasi  kehangatan langsung menjalari badanku  saat kulit kami bersentuhan.      Simon  mengangkat  wajahnya, sepasang  mata abu-abunya melebar  dipenuhi keda-maian. “ Trims  Tish, kamu benar" senyum gembira  terpasang pada wajah Greek-Amerikanya  yang tampan.       Seakan  ditarik medan  magnet, otakku tak  berhenti berimajinasi  untuk mencium bibirnya  sekarang juga. Namun tangan  Patt yang mencengkram pahaku  menjadi pengingat keberadaan kami, dan  meski tak mau secara perlahan aku memundurkan  lagi tubuhku. Setitik kekecewaan terlihata dimata  Simon, tapi disisi lain aku merasa Patt kembali rileks.      “ Jadi, mmm, apa  yang kalian maksud  dengan obat-penyembuh-membutuhkan-si -penyembuh  itu? Semacam Dokterkah?" tanyaku berusaha tak terlihat  kaku.      Eliza  tampak berpikir. “ Nenekku  pernah bercerita, ditiap generasi  akan terlahir anak manusia yang memiliki  kekebalan terhadap segala jenis kekuatan supernatural. Gadis  suci dan tulus, ‘Si Penyembuh’, satu-satunya kunci terlepasnya  kutukan kaum Underworld, darah  mampu mengembalikan  makhluk terkutuk menjadi  manusia. Nenekku pernah bertemu  dengannya dulu sekali pada generasi  jauh sebelum aku lahir"      “ Jadi  kalau kita  bisa menemukan  orang ini, maka kutukan  Patt dan Simon bisa lenyap?" tanyaku  dengan senyum lebar.      Eliza  mengerutkan  dagu. “ Harusnya. Tapi  tak semudah itu Tish, keberadaan  para ‘Penyembuh’ sangat sulit dilacak, kebanyakan  dari mereka memilih bersembunyi dari dunia luar, ingin  hidup tenang tanpa mau diusik siapapun"      “ ‘Sulit’  bukan berarti ‘tak  bisa’.Kenapa tak mengerahkan  seluruh kemampuan orang-orang di  Organisasi? Kelompok ini sudah ada  selama berabad-abad aku yakin anggota  kalian juga bukan orang sembarangan" aku  berkata dipenuhi semangat.     Kesenangan  karena menemukan  obat untuk ‘penyakit’ kedua  sahabatku membuat sakit kepala  yang sejak tadi kuderita mendadak  lenyap.      Patt  tampak  geli. “ Hai  Tish, kalau memang  segampang itu sudah  sejak tujuh tahun lalu  organisasi menemukannya. ‘Si  Penyembuh’ telah berkelana ke  dunia bagian timur sejak empat puluh tahun  lalu, kami sudah mengejarnya namun hanya jejak  hidupnya yang kami dapat"      Harapanku  seperti menguar  diudara. Kurapatkan  tangan diatas pangkuan, berpikir  keras, lalu menengadahkan kembali dipenuhi  ide baru. “ Apa tidak bisa melacak jejaknya  dengan sihir? Aku melihatnya pada film supernatural  saat seorang penyihir mampu menemukan letak seseorang"      Patt  dan Simon  meledak oleh  tawa, Eliza juga  tak bisa menahan senyumnya.      “ Penyihir  hanya bisa melakukan  itu jika sudah tahu setidaknya  gambaran wujud fisik seseorang. Bagaimanapun  juga ahli mantra bukan GPS, Tish" jawab Simon  tenang      Aku  menundukkan  wajah, merasa  sangat malu dan  bodoh. Tepat pada saat  itu pintu basement terbuka, Dave  muncul dengan wajah bersinar secerah  matahari. “ Aku rasa kita tak perlu lagi  mencari ‘Si Penyembuh’, karena  kita telah  menemukannya!"    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN