“ Kami dikutuk Tish, diriku dan Pattrick"
Itulah kalimat yang keluar dari mulut Simon setelah tiga jam kami berada disini.
Didalam basement rahasia rumah keluarga Tuddington ( demi Tuhan! Nyaris seumur hidup kuhabiskan bermain ditempat ini dan tak pernah tahu kalau mereka memiliki ruang tersembunyi! )
Eliza sudah selesai membalut lukaku sejak dua setengah jam lalu, dia duduk diam disampingku, diatas sofa beledu hitam didalam ruang yang dipenuhi aneka senjata dari berbagai belahan dunia serta zaman. Terlihat lucu dalam balutan baju ketat serba perak. Beberapa kali berusaha membujukku memakan sup kentang buatannya, dan hanya kujawab dengan gelengan.
Simon dan Patt berdiri mondar-mandir tak jelas selama berjam-jam, menunggu Dave, Ayahku serta belasan manusia dewasa berbaju perak ketat sama seperti milik Eliza, yang tengah rapat didalam kantornya.
Aku bahkan tak malu memandangi mereka meskipun telah terjadi insiden telanjang akibat transformasi-menjadi-manusia-lagi.
Fisikku sudah terlalu lelah. Otakku ingin beristirahat sejenak tapi tak bisa. Dan kini, Simon mulai mengatakan kejujuran seperti yang telah dia janjikan sebelumnya.
Aku duduk tegak dan memperhatikan dia dengan seksama. Simon berhadapan denganku sedangkan Patt mengambil tempat disisi kiriku.
“ Masih ingat kejadian tujuh tahun lalu, perkemahan musim panas hari dimana kamu jatuh ke tebing dan koma selama beberapa saat? Kejadiannya jauh lebih menyeramkan dari yang diceritakan padamu. Kita bertiga sedang mencari kayu bakar didalam hutan saat seekor elang raksasa tiba-tiba muncul dan mulai mengamuk, elang itulah yang menjadi penyebab kecelakaanmu waktu itu tapi tidak berhenti disitu saja. Dia berhasil melukai kami berdua cukup parah" Simon menarik nafas panjang, terasa begitu berat untuk menceritakan ulang segalanya.
“ Elang itu mengincar Simon" lanjut Patt, menyadari kondisi jiwa sahabatnya. “ Binatang itu makhluk terkutuk sama seperti kami. Tuannya memerintahkannya untuk mendapatkan Simon dan menjadikannya seperti dirinya. Seorang Were-Eagle"
Hening sesaat.
Mata hijau Patt berkilat dipenuhi kebencian, tanpa sadar aku mencengkram tangan Eliza yang tanpa protes menerimanya.
“ Aku pernah mendengarnya, manusia separuh binatang. Shapeshifter?...” bisikku lebih kepada diri sendiri.
Simon dan Patt mengangguk bersamaan. “ Were-Eagle hanya salah satu dari jenis ‘Makhluk pengalih wujud’ atau lebih dikenal Shapeshifter. Kaum kami dijuluki makhluk Underworld karena hidup dalam kegelapan dan tidak mengenal cahaya" ada kepahitan dalam suara Patt saat mengungkapkan.
“ Tunggu dulu, kenapa binatang itu ingin mengincar Simon? Apa alasannya? Dan kenapa dia menyerang kita juga?" tuntutku. Mengajukan rentetan pertanyaan yang sudah sejak tertumpuk dikepalaku.
Simon menggelengkan kepala. “ Binatang itu hanya suruhan. Seperti kata Patt tadi, Tuannyalah yang membenciku. Lebih tepatnya memusuhi Ayahku. David Tuddington, adalah pria hebat yang memiliki rahasia besar sejak lahir. Dad adalah pemimpin sebuah organisasi bayangan bernama Silver Shine, manusia dunia bawah mengenalnya sebagai ksatria cahaya, pasukan Tuhan pelindung kedamaian manusia sejak enam abad lamanya"
Tampangku pasti sedang melongo sekarang.
“ Musuh kami, dalang dibalik penyeranganku adalah Tuan Besar dari kelompok kegelapan para makhluk Underdark, Red Hood. Mereka adalah ‘kaki tangan iblis’ dalam wujud manusia, memakai kekuatan hitamnya untuk menebarkan hal jahat diatas Bumi. Pemimpin mereka sangat membenci keluargaku setelah sempat disegel oleh Kakek buyutku,namun entah bagaimana caranya para pengikut setianya berhasil membuka kunci tersebut. Namanya Hermsstein, dialah Iblis sesungguhnya Tish"
Bulu halusku berdiri saat mendengar nama itu disebut.
“ Hermsstein membalas dendam pada kami melalui diriku, dalam tragedi tujuh tahun lalu aku berhasil dirubah menjadi seekor Were-Eagle karena gigitan makhluk terkutuk itu. Masalahnya bukan hanya aku yang harus menanggung kutukan ini" Simon melirik Patt penuh rasa bersalah.
Ulu hatiku terbetot sangat sakit. “ Patt, dia juga berubah akibat serangan itu"
Patt tersenyum hampa padaku, sekarang aku mengerti mengapa beberapa tahun terakhir perlakuan Winona terasa berbeda pada Simon. Wanita itu pasti sudah tahu apa yang menimpa putranya dan menyalahkan Simon atas segalanya.
Kugenggam erat tangan Patt, tubuhnya belakangan ini selalu merespon aneh tiap kali kusentuh. “ Ini bukan salahmu" kataku menatap Simon hangat.
“ Aku juga sudah mengatakan itu padanya " sahut Patt, nyengir.
Simon tersenyum simpul, namun Patt buru-buru melanjutkan. “ Dan karena penyesalan tak berujung itulah dia bertindah bodoh tiga tahun lalu. Dengan mendatangi markas Red Hood demi mendapatkan obat penyembuh untukku!" wajahnya dipenuhi emosi, tangannya mengepal.
“ Aku hanya berusaha" potong Simon. “ Aku tak ingin selamanya kamu terjerumus menjadi makhluk abadi seperti sekarang"
“ Kutebak mereka tak memberikannya" potongku sebelum terjadi argumentasi lagi.
Simon menggeleng pasrah. “ Hermsstein hanya ingin memperalatku, obat penyembuh itu tak semudah mungkin didapat. Membutuhkan darah si Tuan, si ‘Penyembuh’, dan semacam ritual melibatkan sihir. Pada akhirnya kami berdua dijebak masuk kedalam dunia mereka untuk sesaat, untungnya berkat bantuan Dad dan organisasi kami bisa segera terlepas dari mereka"
“ Jadi, makhluk semacam vampire dan sebangsanya itu benar-benar ada?" tanyaku lirih lebih kepada diri sendiri. “ Apa kalian tahu asal-muasal kaum Underworld, mak-'sudku, ‘ayam sebelumnya adalah telur’ juga bukan"
Simon dan Patt saling berpandangan, tampak kesulitan menjelaskan. Eliza berdeham dan perhatian kami segera teralih padanya. Selama ini dia memilih diam dan memberi kesempatan pada kedua sahabatku untuk ‘bertanggung jawab’.
“ Tuhan tak pernah mencipatakan sesuatu yang buruk didunia ini Tish, segala hal jahat bersumber diluar Tuhan" kata Eliza simpel.
Aku menyesap ingatan akan kalimat dari Alkitab barusan kuat-kuat. “ Jadi iblislah yang membuat semua hal ini terjadi ?"
Eliza mengangguk penuh. “ Memanfaatkan setiap titik kelemahan manusia, dengan iming-iming kekuatan dan hidup abadi, membuat banyak makhluk fana lemah dan terjatuh kedalam lembah dosa paling dalam"
Alisku menyatu cepat, wajahku mengeras, “ Per....sekutuan dengan Iblis....”
Kondisi sunyi sejenak, mereka membiarkan aku berusaha menyusun jutaan puzzle informasi di dalam kepalaku hingga menjadi gambar utuh.
“ Tapi kenapa mereka menginginkanku juga? Itu kan inti penyerangan hari ini. Aku mendengar langsung dari mulut mereka" tanyaku kalem dengan mata masih terpaku pada lantai kayu basement.
_Aku bisa merasakan gelengan kepala Eliza, tatapan prihatin Simon, serta erangan marah Patt.
“ Maafkan aku Tish, untuk yang satu ini kami masih belum mempunyai jawabannya. Tapi kemungkinan bisa jadi ‘akulah’ alasannya, Hermsstein sangat ingin menghancurkan semua yang kulindungi" Simon menunduk, sangat sedih.
Kangguru didalam perutku melompat lemah. “ Oh, Tuhan, tidak. Bagaimana mungkin kamu bisa menyalahkan diri sendiri seperti ini. Jangan biarkan Iblis-iblis itu mempengaruhi otakmu pada pemikiran ‘kesalahan berada dijalan kebenaran’" kataku mengingatkan.
Aku memajukan posisi dudukku hingga tanganku bisa menggengam lengannya. Sensasi kehangatan langsung menjalari badanku saat kulit kami bersentuhan.
Simon mengangkat wajahnya, sepasang mata abu-abunya melebar dipenuhi keda-maian. “ Trims Tish, kamu benar" senyum gembira terpasang pada wajah Greek-Amerikanya yang tampan.
Seakan ditarik medan magnet, otakku tak berhenti berimajinasi untuk mencium bibirnya sekarang juga. Namun tangan Patt yang mencengkram pahaku menjadi pengingat keberadaan kami, dan meski tak mau secara perlahan aku memundurkan lagi tubuhku. Setitik kekecewaan terlihata dimata Simon, tapi disisi lain aku merasa Patt kembali rileks.
“ Jadi, mmm, apa yang kalian maksud dengan obat-penyembuh-membutuhkan-si -penyembuh itu? Semacam Dokterkah?" tanyaku berusaha tak terlihat kaku.
Eliza tampak berpikir. “ Nenekku pernah bercerita, ditiap generasi akan terlahir anak manusia yang memiliki kekebalan terhadap segala jenis kekuatan supernatural. Gadis suci dan tulus, ‘Si Penyembuh’, satu-satunya kunci terlepasnya kutukan kaum Underworld, darah mampu mengembalikan makhluk terkutuk menjadi manusia. Nenekku pernah bertemu dengannya dulu sekali pada generasi jauh sebelum aku lahir"
“ Jadi kalau kita bisa menemukan orang ini, maka kutukan Patt dan Simon bisa lenyap?" tanyaku dengan senyum lebar.
Eliza mengerutkan dagu. “ Harusnya. Tapi tak semudah itu Tish, keberadaan para ‘Penyembuh’ sangat sulit dilacak, kebanyakan dari mereka memilih bersembunyi dari dunia luar, ingin hidup tenang tanpa mau diusik siapapun"
“ ‘Sulit’ bukan berarti ‘tak bisa’.Kenapa tak mengerahkan seluruh kemampuan orang-orang di Organisasi? Kelompok ini sudah ada selama berabad-abad aku yakin anggota kalian juga bukan orang sembarangan" aku berkata dipenuhi semangat.
Kesenangan karena menemukan obat untuk ‘penyakit’ kedua sahabatku membuat sakit kepala yang sejak tadi kuderita mendadak lenyap.
Patt tampak geli. “ Hai Tish, kalau memang segampang itu sudah sejak tujuh tahun lalu organisasi menemukannya. ‘Si Penyembuh’ telah berkelana ke dunia bagian timur sejak empat puluh tahun lalu, kami sudah mengejarnya namun hanya jejak hidupnya yang kami dapat"
Harapanku seperti menguar diudara. Kurapatkan tangan diatas pangkuan, berpikir keras, lalu menengadahkan kembali dipenuhi ide baru. “ Apa tidak bisa melacak jejaknya dengan sihir? Aku melihatnya pada film supernatural saat seorang penyihir mampu menemukan letak seseorang"
Patt dan Simon meledak oleh tawa, Eliza juga tak bisa menahan senyumnya.
“ Penyihir hanya bisa melakukan itu jika sudah tahu setidaknya gambaran wujud fisik seseorang. Bagaimanapun juga ahli mantra bukan GPS, Tish" jawab Simon tenang
Aku menundukkan wajah, merasa sangat malu dan bodoh. Tepat pada saat itu pintu basement terbuka, Dave muncul dengan wajah bersinar secerah matahari. “ Aku rasa kita tak perlu lagi mencari ‘Si Penyembuh’, karena kita telah menemukannya!"