Cahaya keemasan fajar mulai merayap masuk melalui dinding kaca villa, membiaskan warna jingga di atas lantai marmer yang dingin. Di dalam kamar utama, suasana begitu sunyi, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan dan napas yang teratur.
Sarah terbangun dengan perasaan berat yang menghimpit dadanya. Ia tidak bergerak, matanya menatap kosong ke arah hamparan gurun di luar sana. Mukena putih dan abaya hitamnya yang semalam dilepaskan paksa kini tergeletak di lantai, seperti kulit yang ditinggalkan pemiliknya. Ia merasakan berat sebuah lengan kekar melingkar posesif di pinggangnya, menarik punggungnya menempel erat pada d**a bidang yang hangat.
Maksimov masih tertidur, atau setidaknya ia tampak begitu. Wajahnya yang biasanya keras dan penuh ancaman kini terlihat lebih tenang dalam tidurnya, namun cengkeraman tangannya di perut Sarah tidak melonggar sedikit pun—seolah bahkan dalam mimpi, ia takut Sarah akan menguap seperti fatamorgana gurun.
"Jangan mencoba untuk bangkit tanpa izinku, Ptichka," bisik Maksimov tiba-tiba. Suaranya serak khas orang bangun tidur, namun penuh otoritas. Ia tidak membuka mata, hanya membenamkan wajahnya di ceruk leher Sarah, menghirup aroma tubuh istrinya yang kini bercampur dengan parfum mahalnya.
Sarah memejamkan mata, air mata dingin mengalir di sudut matanya. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, Maksimov. Kau sudah menjadikanku istrimu. Sekarang, tepati janjimu. Di mana ayahku?"
Maksimov perlahan membuka matanya. Kilat kelabu itu langsung tajam begitu bersentuhan dengan cahaya pagi. Ia melepaskan pelukannya, lalu bangkit duduk di tepi ranjang, membiarkan otot-otot punggungnya yang penuh luka parut terpapar sinar matahari.
"Ayahmu sudah berada di perbatasan Indonesia pagi ini. Dia aman di bawah pengawasan unit terbaikku," ucap Maksimov sambil meraih ponsel satelit di meja samping tempat tidur. Ia mengutak-atik layar sebentar lalu melemparkannya ke pangkuan Sarah.
Di layar itu, terlihat foto real-time ayahnya yang sedang duduk di dalam sebuah jet pribadi, tampak lelah namun utuh, dengan segelas teh di tangannya.
"Dia akan mendarat di Jakarta dalam enam jam. Tapi ingat, Sarah..."
Maksimov berbalik, menatap Sarah dengan tatapan yang mengingatkan gadis itu bahwa kebebasan ayahnya adalah rantai bagi dirinya sendiri. "Dia hanya akan tetap aman selama kau tetap berada di sisiku. Satu langkah salah darimu, dan jet itu tidak akan pernah menyentuh landasan."
Sarah meremas ponsel itu hingga buku jarinya memutih. "Kau sungguh iblis yang licik. Kau menggunakan ibadah untuk mengikatku, dan menggunakan ayahku untuk membungkamku."
Maksimov menyeringai, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. Ia berdiri, berjalan menuju lemari dan mengambil sebuah kotak perhiasan kecil. Ia kembali ke ranjang, lalu menarik tangan kanan Sarah. Di sana, cincin platina semalam masih melingkar, namun Maksimov kini memasangkan sebuah gelang emas putih tipis yang memiliki pengunci khusus.
"Ini bukan sekadar perhiasan, Sarah. Ini adalah tanda bahwa kau adalah milik sang Tsar. Di dalamnya ada pelacak yang terhubung langsung ke nadiku," Maksimov mengecup pergelangan tangan Sarah dengan lembut namun terasa mengancam.
"Sekarang, bersiaplah. Kita tidak bisa lama di Kazakhstan. Para serigala di Moskow mulai bertanya-tanya ke mana perginya pemimpin mereka."
Sarah menatap gelang itu. Ia menyadari satu hal: ia bukan lagi sekadar tawanan. Ia adalah permaisuri dari sebuah kekaisaran berdarah, dan perjuangannya yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Sarah bangkit dari ranjang dengan gerakan kaku, membalut tubuhnya kembali dengan abaya hitam yang semalam teronggok di lantai. Ia tidak memandang Maksimov. Baginya, setiap inci kulit pria itu yang terlihat adalah pengingat akan kekalahannya.
"Kau bilang kita akan ke Moskow," suara Sarah datar, mencoba menyembunyikan getaran di tenggorokannya. "Apa kau akan memperkenalkanku sebagai istrimu yang sah, atau sebagai tawanan yang baru saja kau beri label 'halal'?"
Maksimov, yang sedang mengenakan kemeja hitam barunya, berhenti sejenak. Ia mengancingkan manset pergelangan tangannya dengan tenang, lalu berbalik. "Di Moskow, tidak ada yang peduli pada label agamamu, Sarah. Mereka hanya peduli pada siapa yang memegang kendali. Dan saat ini, aku memegang kendalimu."
Ia melangkah mendekat, aroma sabun maskulin dan tembakau mahal menyengat indra Sarah. Maksimov meraih cadar hitam Sarah yang tergeletak di meja rias, lalu menyodorkannya.
"Pakai ini," perintahnya. "Aku tidak ingin ada mata lain yang melihat apa yang aku lihat semalam. Wajahmu adalah milikku. Hanya milikku."
Sarah menerima kain hitam itu dengan tangan gemetar. Ia memakainya kembali, merasakan perlindungan semu dari kain tipis itu.
Saat cadar itu menutupi wajahnya, ia merasa identitasnya sebagai Sarah yang bebas telah mati sepenuhnya. Kini yang tersisa hanyalah bayangan di balik kain.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang ritmis memecah ketegangan. Salah satu orang kepercayaan Maksimov, Viktor, masuk dengan wajah tegang. Ia tidak berani menatap Sarah, pandangannya tertuju lurus pada lantai di depan kaki Maksimov.
"Tsar, jet sudah siap. Namun, ada laporan dari intelijen. Klan Petrov telah mengendus keberadaan kita di Kazakhstan. Mereka tahu kita sedang tidak berada di Rusia," bisik Viktor dalam bahasa Rusia yang kini mulai dipahami Sarah sedikit demi sedikit.
Mata Maksimov menyipit, kilat berbahaya muncul di sana.
"Bagaimana mereka bisa tahu? Area ini seharusnya bersih dari radar."
"Mereka melacak sinyal dari ponsel satelit yang digunakan untuk menghubungi Indonesia pagi tadi," jawab Viktor lirih.
Maksimov menoleh tajam ke arah Sarah. Sarah terperangah. Ponsel yang tadi ia gunakan untuk memastikan ayahnya aman ternyata adalah bumerang yang membawa maut ke arah mereka.
"Jadi... kau memberikan ponsel itu padaku hanya untuk memancing mereka keluar?" tanya Sarah dengan nada tak percaya. "Kau menggunakanku lagi sebagai umpan?"
Maksimov tidak menjawab langsung.
Ia hanya meraih senjata api dari laci meja, menyelipkannya di pinggang belakangnya, lalu mencengkeram lengan Sarah dengan kuat.
"Rencana selalu berubah, Sarah. Jika Petrov ingin bermain di gurun, maka aku akan menunjukkan pada mereka bagaimana rasanya terkubur di bawah pasir ini," desis Maksimov. "Viktor, siapkan unit pengalih. Kita berangkat sekarang!"
Mereka berlari keluar menuju hanggar bawah tanah villa tersebut. Sarah merasa jantungnya hampir copot. Di tengah pelariannya, ia menyadari satu hal: Maksimov tidak akan pernah membiarkannya tenang. Hidupnya kini adalah rangkaian medan perang yang tiada habisnya, dan ia terikat pada pria yang justru menjadi pusat dari badai tersebut.
Deru mesin jet pribadi itu meredam suara badai pasir yang mulai mengamuk di luar landasan Kazakhstan. Di dalam kabin yang mewah namun kedap suara, ketegangan dari pengejaran tadi masih terasa di udara. Maksimov telah menanggalkan rompi antipeluru dan senjata apinya, menyisakan kemeja hitam yang kini beberapa kancing atasnya terbuka, memperlihatkan napasnya yang mulai tenang namun berat.
Sarah duduk mematung di sofa kulit yang luas, wajahnya masih tertutup cadar, namun tubuhnya gemetar hebat. Ia merasa seperti baru saja melewati pintu kematian, hanya untuk ditarik kembali ke dalam sangkar emas pria ini.
Maksimov melangkah mendekat. Ia tidak duduk di kursi seberang, melainkan berlutut di depan Sarah, memerangkap kaki gadis itu di antara lututnya. Ia meraih tangan Sarah—tangan yang masih memakai gelang pelacak—dan mencium punggung tangan itu dengan cara yang posesif.
"Kau aman, Sarah. Petrov tidak akan bisa menyentuhmu di ketinggian empat puluh ribu kaki," bisik Maksimov, suaranya rendah dan serak, menggetarkan saraf Sarah.
Sarah mendongak, matanya yang basah berkilat di balik kain hitam. "Aman? Aku tidak akan pernah aman selama aku bersamamu, Maksimov. Kau menggunakanku sebagai umpan!"
Maksimov tidak membantah. Ia justru meraih tali cadar Sarah di belakang kepala. Dengan satu gerakan lambat, ia melepas simpulnya. Kain hitam itu jatuh, memperlihatkan wajah Sarah yang pucat dan bibir yang bergetar.
"Aku menggunakanmu untuk memancing mereka agar aku bisa menghancurkan mereka selamanya," Maksimov menangkup wajah Sarah dengan kedua tangan besarnya. "Agar tidak ada lagi yang berani menatapmu selain aku. Agar kau tahu bahwa hanya aku pelindungmu."
Sentuhan Maksimov berubah dari protektif menjadi menuntut. Ia mencium kening Sarah, lalu turun ke hidung, dan akhirnya berhenti tepat di depan bibir Sarah. Gairah yang semalam masih menyisakan api kini berkobar kembali, dipicu oleh adrenalin pelarian tadi.
"Semalam kita terburu-buru oleh waktu dan ketakutanmu," gumam Maksimov, napasnya terasa hangat dan maskulin. "Tapi di sini, di atas awan, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada aku, suamimu, dan kau, istriku yang sah."
Maksimov mengangkat Sarah dengan mudah, membawanya menuju master suite di bagian belakang jet. Ia meletakkan Sarah di atas tempat tidur luas yang dikelilingi oleh kemewahan kayu mahoni dan cahaya redup kabin.
Di bawah cahaya remang jet yang terbang menembus awan, Maksimov mulai melepaskan lapisan demi lapisan abaya Sarah. Setiap inci kulit yang terekspos membuat tatapan Maksimov semakin gelap oleh obsesi. Sarah mencoba memejamkan mata, namun Maksimov mencengkeram dagunya dengan lembut namun tegas.
"Buka matamu, Sarah. Lihat siapa yang memilikimu," perintahnya.
Malam itu—atau mungkin pagi yang hilang di antara zona waktu—penyatuan mereka terjadi bukan lagi sebagai penculik dan tawanan, melainkan sebagai pasangan yang terikat sumpah. Maksimov menggauli Sarah dengan intensitas yang seolah ingin menanamkan identitasnya ke dalam jiwa Sarah. Setiap sentuhannya adalah klaim, setiap bisikannya adalah tanda kepemilikan.
Di sela-sela pergulatan gairah itu, Sarah merasakan sesuatu yang mengerikan: ketakutannya mulai bercampur dengan ketergantungan yang aneh. Di tengah kepasrahannya, ia menyadari bahwa Maksimov telah berhasil. Ia bukan hanya menguasai raganya melalui akad nikah, tapi ia mulai merasuki pikiran Sarah melalui cara yang paling intim dan tak terelakkan.
Saat jet itu akhirnya stabil di atas langit Rusia, Sarah terbaring lemas dalam pelukan Maksimov. Sang Tsar mencium bahu istrinya yang polos, menandai wilayahnya di bawah cahaya bintang yang menembus jendela kecil jet.