BAB 19: Malam di Gurun Kazakhstan

1481 Kata
​Mobil lapis baja itu melaju membelah hamparan gurun yang gelap, meninggalkan masjid tua yang menjadi saksi bisu atas akad yang paling sunyi itu. Di dalam kabin yang kedap suara, Sarah duduk menyudut, merapatkan mukena putihnya yang kini tampak kontras dengan bayangan Maksimov yang duduk tepat di hadapannya. ​Tidak ada kata-kata. Hanya suara deru mesin dan detak jantung Sarah yang berpacu liar. Maksimov menanggalkan topi dek dan mantelnya, menyisakan kemeja hitam yang kini kancing atasnya terbuka lebih rendah. Ia menatap Sarah dengan intensitas yang seolah bisa menembus kain abaya dan mukena itu. ​"Kita sampai," suara Maksimov rendah, hampir seperti geraman halus. ​Kendaraan berhenti di depan sebuah villa modern yang tersembunyi di balik bukit pasir—sebuah bangunan minimalis dari kaca dan beton yang tampak seperti fatamorgana di tengah antah-berantah. Tidak ada penjaga yang terlihat di luar, namun Sarah tahu, teknologi keamanan di sini jauh lebih mematikan daripada senapan mesin. ​Maksimov turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Sarah. Ia tidak menariknya kasar, namun tangan besarnya yang terjulur memberikan tekanan psikologis yang tak bisa ditolak. Sarah melangkah turun, kakinya sedikit gemetar saat menyentuh pasir yang masih menyimpan sisa panas matahari siang. ​Begitu mereka masuk, pintu baja di belakang mereka tertutup dengan suara thud yang final. Interior villa itu sangat mewah namun dingin. Lampu-lampu kuning temaram menyala otomatis, menyinari lantai marmer yang bersih. ​Maksimov berjalan menuju bar kecil, menuang air mineral ke dalam gelas kristal—ia tidak menyentuh alkohol malam ini, sebuah penghormatan kecil yang terasa ironis setelah ia "membeli" status mualafnya. Ia menyodorkan gelas itu pada Sarah. ​"Minumlah. Kau gemetar seperti mangsa yang terkepung," ucap Maksimov. ​Sarah menerima gelas itu dengan tangan yang masih tertutup kain mukena. Ia tidak meminumnya. "Kau melakukan ini semua... hanya agar aku tidak bisa menyebutmu penjahat lagi?" ​Maksimov mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatu botnya bersentuhan dengan ujung abaya Sarah. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar menyentuh pinggiran kain mukena Sarah, perlahan menariknya ke belakang hingga kain putih itu meluncur jatuh ke bahu, menyisakan cadar hitam yang masih menutupi wajah istrinya. ​"Aku melakukan ini agar kau tahu bahwa tidak ada tempat bagimu untuk lari, Sarah. Bahkan kepada Tuhanmu sekalipun," bisik Maksimov, matanya yang kelabu kini berkilat dengan gairah yang gelap dan posesif. "Kau menganggap hubungan kita haram? Sekarang aku sudah menghalalkannya. Kau ingin wali? Aku sudah membelinya. Sekarang... tidak ada lagi alasan." ​Maksimov meraih tali cadar di belakang kepala Sarah. Gerakannya sangat lambat, memberikan waktu bagi Sarah untuk merasakan setiap detik ketakutannya. ​"Malam ini, Sarah... aku ingin melihat wajah asli istriku. Aku ingin melihat apa yang selama ini kau sembunyikan dariku dengan begitu gigih." ​ Dengan satu tarikan lembut namun pasti, ikatan cadar itu terlepas. Kain hitam itu jatuh ke lantai, menumpuk di atas mukena putih, memperlihatkan wajah Sarah sepenuhnya untuk pertama kalinya sebagai seorang istri sah di bawah cahaya lampu villa yang redup. ​Cadar itu meluncur jatuh, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di antara mereka. Cahaya lampu temaram di villa itu menyentuh kulit wajah Sarah yang pucat, memperlihatkan rona merah yang muncul karena amarah dan rasa malu yang bercampur menjadi satu. Bibirnya bergetar, dan matanya yang besar kini basah oleh air mata yang tertahan di pelupuk. ​Maksimov mematung. Untuk pertama kalinya, sang Tsar yang dikenal tak memiliki celah itu tampak kehilangan kata-kata. Ia menatap wajah istrinya dengan intensitas yang hampir menyakitkan—mempelajari setiap lekuk hidung Sarah, garis rahangnya yang tegas namun rapuh, hingga tahi lalat kecil di sudut bibirnya yang selama ini tersembunyi. ​ "Cantik," bisik Maksimov, suaranya kini serak dan berat. "Jauh lebih cantik dari bayanganku selama ini, Ptichka." ​Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar dan dingin menyentuh pipi Sarah. Sarah tersentak, mencoba memalingkan wajah, namun Maksimov dengan cepat mencengkeram dagunya, memaksanya untuk tetap menatap mata kelabu yang penuh obsesi itu. ​ "Jangan berpaling dariku," desis Maksimov. "Aku sudah membayar mahal untuk momen ini. Aku sudah menukar agamaku, memberikan hartaku, dan menjamin nyawa ayahmu hanya untuk bisa menatap wajah ini tanpa ada kain yang menghalangi." ​ Sarah menatapnya dengan tajam, air matanya akhirnya luruh membasahi jemari Maksimov. "Kau tidak melihat kecantikan, Maksimov. Kau hanya melihat piala kemenanganmu. Kau masuk Islam bukan karena cinta pada Tuhan, tapi karena kau ingin 'menghalalkan' obsesimu yang sakit ini." ​ Maksimov menyeringai gelap. Ia tidak membantah. "Mungkin. Tapi sekarang, secara agama dan hukum, aku adalah pelindungmu. Aku adalah suamimu. Dan kau... kau tidak punya tempat lain untuk pulang." ​ Maksimov perlahan mendekatkan wajahnya, membiarkan napasnya yang hangat menerpa kulit wajah Sarah. Jantung Sarah berdegup begitu kencang hingga terasa sakit di dadanya. Ia merasa terjebak—di satu sisi, pria ini adalah suaminya yang sah melalui akad yang baru saja ia jalani, namun di sisi lain, pria ini adalah monster yang telah merenggut kebebasannya. ​ "Kau gemetar," gumam Maksimov, tangannya kini beralih ke tengkuk Sarah, menariknya perlahan agar tubuh mereka semakin merapat. "Apa yang kau takutkan, Sarah? Bukankah kau sudah berdoa agar suamimu adalah seorang Muslim? Aku sudah mewujudkannya." ​ "Kau bukan Muslim karena iman, Maksimov! Kau hanya menggunakan nama Tuhan sebagai alat!" teriak Sarah parau. ​ Maksimov tertawa kecil, suara yang terdengar mengerikan di kesunyian gurun. "Alat atau bukan, namaku sudah tercatat di buku nikahmu. Dan malam ini... aku tidak akan membiarkanmu tidur dalam sujudmu lagi. Malam ini, kau akan belajar bahwa di ranjang ini, hanya ada aku sebagai tuhan kecilmu." ​ Ia kemudian membungkuk, mengangkat tubuh Sarah dengan satu gerakan kuat. Sarah memukul d**a Maksimov, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun. Ia membawa Sarah menuju kamar utama yang dindingnya terbuat dari kaca besar, memperlihatkan hamparan gurun pasir yang luas dan langit bertabur bintang di luar sana. ​ Maksimov meletakkan Sarah di atas ranjang king-size yang empuk. Ia berdiri di tepi ranjang, perlahan membuka kancing kemejanya satu per satu, memperlihatkan tubuhnya yang penuh luka parut—saksi bisu dari kehidupan gelap yang ia jalani sebelum bertemu Sarah. ​ "Selamat datang di malam pertamamu sebagai Nyonya Volkov," ucap Maksimov dengan nada yang dingin namun penuh gairah. ​ ​Udara di dalam kamar itu terasa semakin berat, seolah oksigen terserap habis oleh kehadiran Maksimov yang kini berdiri angkuh di tepi ranjang. Kemeja hitamnya sudah terlepas, menampakkan tubuh atletis yang dipenuhi rajah tato klan dan bekas luka peluru—sebuah peta kekerasan yang kontras dengan kesucian mukena yang masih tersampir di bahu Sarah. ​ Sarah merangkak mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang yang dingin. Wajahnya yang kini terbuka sepenuhnya tampak sangat rapuh di bawah sorotan lampu redup. Ia menatap tangan Maksimov yang mulai melepas sabuk kulitnya dengan suara klik logam yang memekakkan telinga di kesunyian itu. ​ "Tunggu!" suara Sarah pecah, serak karena tangis yang tertahan. ​ Maksimov menghentikan gerakannya. Ia sedikit memiringkan kepala, menatap Sarah dengan tatapan predator yang sedang mengamati mangsanya melakukan perlawanan terakhir. "Kau ingin menunda yang sudah sah secara agama, Sarah? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa menolak suami adalah dosa?" ​Sarah mengepalkan tangannya di atas seprai sutra. "Kau bicara soal dosa setelah kau mempermainkan syahadat hanya untuk satu malam ini? Kau pikir Tuhan bisa kau suap dengan emas dan kekuasaanmu?" ​ Maksimov merangkak naik ke atas ranjang, gerakannya lambat namun pasti seperti seekor macan tutul. Ia memerangkap tubuh Sarah di antara kedua lengannya yang kekar, memaksanya untuk menatap mata kelabu yang kini menggelap oleh gairah yang tak tertahankan. ​ "Aku tidak peduli pada Tuhanmu, Sarah. Aku hanya peduli padamu," bisik Maksimov tepat di depan bibir Sarah. "Aku melakukan apa yang kau minta. Aku menjadi 'halal' bagimu. Sekarang, penuhi bagianmu dalam kontrak ini." ​ Sarah memejamkan mata rapat-rapat saat napas hangat Maksimov menerpa kulit wajahnya yang sensitif. "Jika kau benar-benar suamiku... jika kau benar-benar mualaf... maka kau tahu bahwa seorang istri memiliki hak untuk dimuliakan, bukan diperlakukan seperti rampasan perang." ​ Maksimov terdiam sejenak. Ia menarik jari telunjuknya, membelai garis rahang Sarah dengan lembut namun menekan. "Aku akan memuliakanmu dengan cara yang tidak akan pernah dilakukan pria lain. Aku akan memberikan dunia padamu, Sarah. Tapi malam ini, aku ingin kau menyerah padaku. Bukan karena takut, tapi karena kau tahu bahwa tidak ada pria lain yang akan mencintaimu segila aku." ​ Maksimov meraih pinggiran abaya Sarah, perlahan mulai menanggalkan lapisan pelindung terakhir gadis itu. Sarah gemetar hebat, namun kali ini ia tidak memukul. Ia hanya bisa terisak dalam diam, merasakan sentuhan tangan Maksimov yang kini mulai menjelajahi kulit bahunya yang halus. ​ Di luar jendela kaca yang besar, gurun Kazakhstan membentang luas dalam kegelapan yang abadi. Bintang-bintang menjadi saksi bisu atas sebuah penyatuan yang lahir dari paksaan, obsesi, dan sebuah sumpah yang diucapkan di depan Tuhan namun didorong oleh kegelapan manusia. ​ Maksimov mencium ceruk leher Sarah, sebuah ciuman yang posesif dan panjang. "Kau milikku sekarang, Sarah. Selamanya milik klan Volkov. Selamanya milikku." ​ Malam itu, di tengah kesunyian gurun yang beku, Sarah menyadari bahwa sujudnya di masjid tadi adalah akhir dari kebebasannya, dan awal dari hidupnya sebagai ratu di dalam sangkar emas sang Tsar yang paling ditakuti dunia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN