Malam di pegunungan Alpen tidak pernah terasa sesunyi ini. Setelah badai baku tembak di pelabuhan mereda di layar monitor, Maksimov membawa Sarah kembali ke ruang kerja pribadinya—sebuah ruangan luas yang didominasi kayu mahoni gelap dan aroma cerutu yang pekat.
Di atas meja kerja besar itu, sebuah dokumen tebal dengan segel lilin merah klan Volkov sudah menanti. Maksimov melepaskan mantel taktisnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan tato-tato kuno yang melilit otot lengannya.
"Duduk, Sarah," perintah Maksimov, suaranya kini tenang namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
Sarah duduk di kursi kulit di hadapannya. Ia masih mengenakan abaya dan cadarnya, namun bahunya tampak layu. Sumpah yang ia ucapkan di ruang kendali tadi terasa seperti batu besar yang menyumbat tenggorokannya.
Maksimov menggeser dokumen itu ke depan Sarah. "Ini adalah kontrak pengabdianmu. Di duniaku, kata-kata tidak cukup. Darah dan tinta adalah yang utama."
Sarah menatap kertas-kertas itu. Isinya mengerikan—pernyataan bahwa ia melepaskan hak kewarganegaraannya, identitasnya, dan secara hukum menjadi properti di bawah perlindungan klan Volkov. Di sana juga tertulis bahwa keselamatan ayahnya bergantung sepenuhnya pada "perilaku baik" Sarah di samping Maksimov.
"Kau ingin aku menandatangani kematian jiwaku sendiri?" bisik Sarah, suaranya bergetar di balik kain cadar.
Maksimov berdiri, berjalan memutari meja hingga ia berdiri tepat di belakang kursi Sarah. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Sarah, meremasnya pelan namun posesif.
"Aku ingin kau menandatangani keabadianmu bersamaku. Dengan ini, tidak ada satu pun klan di dunia ini, termasuk Petrov, yang berani menyentuh sehelai rambutmu tanpa berurusan denganku."
Maksimov menunduk, bibirnya nyaris menyentuh kain cadar di dekat telinga Sarah. "Tanda tangani, dan aku akan mengizinkanmu bicara dengan ayahmu melalui sambungan satelit selama lima menit. Hanya lima menit untuk memastikan dia masih bernapas."
Tawaran itu adalah racun yang manis. Sarah tahu Maksimov sedang mempermainkan naluri alaminya sebagai seorang anak. Dengan tangan yang gemetar hebat, Sarah meraih pena bulu dengan tinta hitam di atas meja.
Setiap goresan pena itu di atas kertas terasa seperti sayatan di hatinya. Saat ia membubuhkan tanda tangannya—Sarah—ia merasa seolah-olah cahaya yang tadi ia cari dalam sujudnya kini meredup, tertutup oleh bayangan raksasa Maksimov yang menaunginya.
Maksimov mengambil dokumen itu dengan senyum kemenangan yang keji. Ia menarik laci meja dan mengeluarkan sebuah ponsel khusus, lalu menekan beberapa digit sebelum memberikannya kepada Sarah.
"Ingat," bisik Maksimov sambil mengusap kepala Sarah yang tertutup kain, "setiap kata yang kau ucapkan akan aku rekam. Jangan mencoba menjadi pahlawan."
Sarah menyambar ponsel itu. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara serak yang sangat ia kenali di ujung telepon. "Halo? Ayah... ini Sarah..."
Suara tangis Sarah pecah saat mendengar suara ayahnya yang parau di telepon. Lima menit berlalu seperti kedipan mata. Begitu sambungan terputus, Maksimov langsung merenggut ponsel itu dari tangan Sarah, memutus satu-satunya jembatan emosional yang tersisa.
Sarah mendongak, matanya merah dan penuh amarah di balik cadar. "Kau sudah mendapatkan tanda tanganku! Kau sudah mendapatkan sumpahku,
! Apa lagi yang kau inginkan, Maksimov? Kau ingin tubuhku? Kau ingin jiwaku?"
Maksimov meletakkan ponsel itu di meja, lalu berjalan mendekat. Ia berlutut di depan kursi Sarah, menyamai tinggi duduk gadis itu. Tangannya yang besar merayap naik, membelai kain abaya di bahu Sarah dengan kelembutan yang mengerikan.
"Aku menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar kontrak kertas ini, Sarah," bisik Maksimov, suaranya terdengar tulus namun penuh kegelapan. "Aku tahu kau. Kau lebih takut pada Tuhanmu daripada padaku. Kau tidak akan pernah membiarkanku menyentuhmu selama kau menganggapku 'haram' bagi duniamu."
Sarah membeku. "Apa maksudmu?"
Maksimov menyeringai tipis. Ia bangkit dan berjalan menuju rak buku besarnya, mengambil sebuah kitab kecil bersampul hijau yang tampak sangat kontras dengan koleksi buku taktik militernya. Itu adalah Al-Qur'an terjemahan Rusia yang diam-diam ia pelajari sejak ia mulai mengurung Sarah.
"Jika pernikahan yang sah adalah satu-satunya cara agar kau berhenti menatapku seolah aku adalah iblis yang akan membakarmu," Maksimov meletakkan kitab itu di depan Sarah, "maka aku akan masuk ke duniamu. Aku akan bersyahadat malam ini juga."
Sarah terperangah. Jantungnya berdegup kencang, antara rasa syukur yang aneh dan ketakutan yang mendalam. "Kau... kau tidak bisa melakukan itu hanya untuk memilikiku! Islam bukan permainan, Maksimov!"
"Bagiku, segalanya adalah permainan kekuasaan, Sarah," desis Maksimov. Ia menarik tangan Sarah, memaksa telapak tangan gadis itu menyentuh dadanya yang bidang. "Tapi jika aku harus menyebut nama Tuhanmu untuk menjadikanmu istriku yang sah di mata hukum dan agamamu, maka aku akan melakukannya. Aku tidak peduli pada surga atau neraka, aku hanya peduli pada kenyataan bahwa setelah malam ini, kau tidak punya alasan lagi untuk menghindar dariku."
Maksimov kemudian memanggil seorang pria tua berjenggot putih yang ternyata sudah ia "jemput" secara paksa dan dibawa ke kastel tersebut—seorang imam yang tampak gemetar ketakutan di bawah penjagaan tentara Volkov.
"Lakukan sekarang," perintah Maksimov pada pria tua itu dalam bahasa Rusia yang tegas.
Di bawah cahaya lampu temaram ruang kerja itu, dengan Sarah yang menyaksikan dengan perasaan hancur sekaligus tak percaya,
Maksimov mengucapkan kalimat syahadat dengan pelafalan yang kaku namun mantap. Ia tidak melakukannya dengan air mata taubat, melainkan dengan tatapan mata yang terus mengunci pandangan Sarah—seolah ia sedang memberi tahu dunia bahwa ia baru saja membeli "kunci" untuk membuka gerbang terakhir pertahanan Sarah.
"Sekarang," Maksimov berdiri tegak setelah prosesi singkat itu selesai, menatap Sarah yang masih berselimut abaya hitam. "Panggilkan saksi. Malam ini juga, kita akan melangsungkan akad. Kau adalah milikku, Sarah... sah di mata dunia, dan sah di mata Tuhanmu."
Jet pribadi itu mendarat di sebuah landasan pacu darurat di gurun Kazakhstan. Tidak ada protokol, tidak ada cahaya yang mencolok. Maksimov turun dengan topi dek yang menutupi wajahnya, bergerak seperti bayangan. Dunia mengenal namanya sebagai "Tsar", namun hampir tidak ada yang pernah melihat wajah aslinya. Ia adalah hantu yang mengendalikan jaringan hitam dari balik tirai.
Sarah dipaksa turun, tubuhnya dibalut abaya hitam dan mukena putih yang kini terasa seperti kain kafan bagi kebebasannya. Mereka dibawa ke sebuah masjid kecil yang terbuat dari tanah liat di pinggiran desa terpencil.
Di dalam, hanya ada seorang Imam tua yang buta dan dua saksi bisu—keduanya adalah orang kepercayaan Maksimov yang telah "dibersihkan" identitasnya. Sang Imam tidak tahu siapa pria yang duduk di depannya; ia hanya tahu pria ini adalah seorang mualaf asing yang ingin meminang seorang gadis pengungsi.
"Siapa yang akan menjadi wali bagi gadis ini?" tanya Imam itu dengan suara serak, tangannya meraba-raba sajadah.
Maksimov melirik Sarah yang tertunduk di sampingnya. "Ayahnya dalam bahaya maut dan tidak bisa hadir. Gunakan hakmu sebagai Wali Hakim, Imam. Aku memberikan mahar yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun: keselamatan nyawa ayahnya dan seluruh harta yang dibutuhkan desa ini untuk seratus tahun ke depan."
Sarah tersentak di balik cadarnya. Maksimov tidak hanya membeli dirinya, dia membeli seluruh desa ini hanya untuk satu malam pernikahan.
Prosesi dimulai. Di bawah temaram lampu minyak, Maksimov mengucapkan syahadat. Suaranya rendah, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun. Ia tidak butuh hidayah; ia hanya butuh legalitas untuk menyentuh Sarah tanpa hambatan moral.
Lalu, tangan Maksimov menjabat tangan keriput sang Imam.
"Aku terima nikahnya Sarah binti..." Maksimov menyebut nama ayah Sarah dengan nada yang hampir seperti klaim kepemilikan. "...dengan mahar perlindungan mutlak bagi keluarganya."
"Sah?"
"Sah," jawab dua saksi itu serempak.
Saat doa penutup dibacakan, Sarah merasa jiwanya melayang pergi. Ia telah resmi menjadi istri dari pria yang identitasnya bahkan tidak diketahui oleh dunia. Maksimov tetaplah misteri, namun sekarang dia adalah misteri yang memiliki hak penuh atas tubuh dan napas Sarah.
Maksimov berdiri, tidak membiarkan Sarah berlama-lama bersujud di masjid itu. Ia menarik Sarah berdiri, jemarinya yang kuat melingkar di pergelangan tangan Sarah yang terbungkus kain.
"Identitasku tetap rahasia bagi dunia, Sarah," bisik Maksimov, bibirnya nyaris menyentuh kain mukena di telinga Sarah. "Tapi mulai malam ini, tidak akan ada rahasia lagi di antara kita. Aku adalah suamimu, dan kau adalah satu-satunya orang di dunia ini yang akan melihat wajah asli sang Tsar di balik kegelapan."
Ia menuntun Sarah keluar menuju mobil lapis baja yang sudah menunggu di kegelapan gurun. Mereka tidak kembali ke Rusia; Maksimov telah menyiapkan sebuah villa tersembunyi di tengah gurun Kazakhstan, tempat di mana tidak ada radar yang bisa melacak, dan tidak ada suara teriakan yang bisa terdengar.