bc

Benih Terakhir Bos Sombong

book_age18+
271
IKUTI
3.8K
BACA
one-night stand
HE
arrogant
boss
drama
bxg
office/work place
assistant
like
intro-logo
Uraian

Dijebak teman sendiri, semua kisah rumit Evelyn bermula dari teman bangsatnya. Dia sama sekali tidak menyangka bila pria yang mengambil mahkota kewanitaannya adalah bos baru di tempatnya bekerja. Edward, seorang CEO yang terkenal arogan adalah laki-laki yang memberikan benihnya kepada Evelyn, padahal dirinya sudah bertunangan dengan gadis lain. Niatnya untuk melakukan pesta bujang ternyata berbuntut panjang. Edward tak mau mengakui benih yang Evelyn kandung ketika Evelyn menuntut pertanggungjawaban. Namun, suatu keadaan medis yang buruk yang menimpa Edward membuatnya kembali memburu Evelyn setelah gadis itu pergi jauh membawa benihnya. Akankah mereka bertemu kembali? Lalu bagaimana dengan si buah hati, akankah hidup atau mati?

chap-preview
Pratinjau gratis
1 Semalam 50 juta
Bab 1 Berdentum keras musik di sebuah klub malam, tempat di mana muda-mudi memanjakan diri menghabiskan uang sendiri ataupun orang tua mereka. “Siapkan kamarnya.” Perintah seorang laki-laki berusia 30 tahun dengan perawakan tinggi 170cm, berat badan sekitar 65 kilo gram, dan mempunyai wajah yang bisa dibilang ketampanannya di atas rata-rata. Edward Harris, pewaris dari sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang ekspor bahan baku karet, atau penyedia karet mentah. “Siap Bos, malam ini sudah saya siapkan gadis perawan ting-ting, Anda bisa puas petik mangga.” Boby menjawabnya dengan penuh penghormatan sampai membungkukkan badan. “Bagus, kepala gua udah berat, gua tunggu di kamar gua.” Edward berjalan sambil memijat keningnya, kepalanya terasa berat akibat banyaknya minuman keras yang dikonsumsi barusan. Langkah sempoyongannya terhenti di depan kamar 102. Dia menatapnya lalu mengucek mata beberapa kali. “Benar ini, 102.” Edward masuk dengan langkah gontai dan dia ambruk begitu saja di atas kasur. Tak lama, dua orang gadis datang dan masuk ke kamar yang sama dengan bantuan resepsionis. Tidak ada yang berani menolak permintaan seorang Edward Hariss. Hotel itu miliknya, sepenuhnya miliknya, dia bisa sepuas hati menggunakan kamar yang mana saja dia suka termasuk saat ‘memetik mangga.’ “Ini bayaranmu.” Boby memberikan segepok uang dalam amplop kepada wanita muda yang tersenyum senang menerima uang tersebut. “Makasih Bos Boby, kapan-kapan calling me lagi ya,” ucap si gadis dengan bahagia. Siapa yang tak bahagia jika dia menerima bayaran 50 juta untuk semalam saja? “Hem.” Boby hanya berdehem dan berbalik badan meninggalkan lorong yang sepi seolah tak bertuan tersebut. **** Pagi harinya. “Akh!” Mendesis seorang gadis merasakan nyeri pada daerah sensitifnya. Dia meringis memeganginya menahan rasa sakit yang luar biasa yang belum pernah dialaminya selama ini. “Kenapa sakit banget? Apa gua haid? Duh pala gua berat banget,” gumam Evelyn. Evelyn, gadis yang mandiri yang mempunyai usaha kuliner di usianya yang terbilang muda. Umurnya memang masih 23 tahun namun Evelyn sudah menghidupi dirinya sendiri sejak 16 tahun. Dia terlampau mandiri untuk seorang gadis remaja pasa masanya. Perawakan mungil dengan rambut panjang hitam sepinggang membuat Evelyn begitu menawan. Kulitnya putih bersih dengan wajah yang tak melebar tapi juga tak begitu runcing. Evelyn, dia mempunyai kecantikannya sendiri. Berdiri di depan sebuah cermin, Evelyn memegangi selimut yang menutupi tubuhnya. Sejenak dia terdiam mencoba mengingat kejadian semalam. Samar-samar, ingatakan akan sesuatu yang memuaskan dan membuatnya melambung tinggi ke awan muncul. Samar-samar juga Evelyn mengingat adegan yang begitu manis, perlakuan yang begitu lembut yang memberikan kenikmatan. Manik matanya menyapu seprai putih pada ranjang yang begitu empuk tersebut. Ranjang yang menjadi saksi akan lepasnya sesuatu berharga miliknya yang selama ini dijaga. “Gua di kamar mana ini?” gumam Evelyn. Dia lalu melihat tanda dan beberapa menu serta nomor kamar. Lalu dia ingat dengan sahabatnya, Ariana. “Kenapa gua sendiri? Mana Ariana?” gumam Evelyn. Dipungutnya baju yang berhamburan di lantai dan dia kembali menatap pantulan polos dirinya. Matanya terbelalak saat mendapati banyak tanda merah di sekujur tubuh, terutama leher. “Astaga! Gua... ngapain gua semalam? Gua nggak ngimpi?” Evelyn terkejut bukan main. Itu tandanya dia sama sekali tidak bermimpi. Dia benar-benar melakukan adegan yang nggak seharusnya dilakukan. **** Berdiri Evelyn di depan pintu rumah sahabatnya, Ariana. Dia mengetuknya berkali-kali dan Ariana keluar dalam keadaan kacau. Aroma alkohol masih begitu kental mewarnai perbincangan mereka. “Lyn, dari mana lo? Ngapain jam segini udah ke sini? Masih pusing banget kepala gua. Semalem lo ke mana? Gua cariin lo nggak ada lo ninggalin gua?” omel Ariana sambil berjalan menuju ke dapur dan mengambil minuman dingin. “Seriusan Ari, bukannya lo yang ninggalin gua dan masukin gua ke kamar. Bilang sama gua, lo jual gua berapa?” bercampur aduk emosi Evelyn saat mengatakannya. Dia menuduh Ariana karena memang mereka hanya berdua semalam, selain Ariana maka siapa lagi? “Hah jual? Gila lo ya. Semalem inget nggak lo, gua ke toilet dan pas gua balik lo udah nggak ada. Gua telfon lo tapi lo nggak aktif. Seenaknya aja lo nuduh gua Lyn.” Ariana menatap tajam Evelyn yang juga tak kalah sinis menatapnya. “Lo itu yang ke mana?” sentak Ariana emosi karena dituduh menjual sahabat sendiri. Ariana memijat keningnya. “Eh bentar deh, lo bilang apa tadi. Gua jual lo? Tunggu, tunggu, apa lo melakukan itu sama cowok? Siapa cowok itu Lyn?” “Gua nggak tau Ari, tapi pas gua bangun, sakit banget. Lo liat badan gua!” Evelyn membuka syal di lehernya. “Sebentar,” Ariana mengambil kacamata dan melihat jejak kemerahan seperti tanda kepemilikan di leher sahabatnya. Dia bahkan menyentuh dan menggaruknya memastikan itu bukan alergi. “Ini beneran bukan alergi?” “Bukan Ari, nggak ada bentol, nggak ada gatel. Terus siapa yang gituin gua semalem? Ah sial! Gua mau rayain kerjaan baru gua tapi malah kayak gini. Gimana kalau dia penyakitan? Dan itu... itu yang pertama kali buat gua malah gua lakuin sama orang yang ga jelas.” Evelyn menangis. Baru di titik itu dia menangis menyadari satu miliknya yang paling berharga lenyap begitu saja. “Terus lo mau gimana? Lapor polisi?” tanya Ariana. Evelyn menggeleng. “Nggak. Bokap gua bisa ngamuk berat. Bisa-bisa gua dicoret dari KK. Nggak, ngelakuin itu sekali nggak mungkin hamil ‘kan?” “Nggak tau juga gua. Tapi gua aman aja sih sama cowok gua beberapa bulan gua lupa ga pake pengaman,” aku Ariana. “Oke, gua cuman perlu nemuin orang itu dan gua bakal ngasih dia pelajaran.” Evelyn berusaha tegar dan tak mau berlarut dalam penyesalan meski dia sendiri terendap dalam kebingungan. *** Satu hari setelahnya. Di sebuah perusahaan yang bergerak dalam industri pengolahan dan ekspor karet mentah, Evelyn melangkahkan kaki dengan mantap. Hari itu adalah hari di mana dia pertama kali bekerja, dia sangat senang menyambut semuanya dan mencoba melupakan kejadian di malam Minggu tersebut. Semuanya berjalan lancar. Evelyn menduduki bagian admin. Pekerjaan yang tidak begitu sulit baginya dan juga bayaran yang lumayan. Tiba saat jam makan siang, Evelyn yang hendak menuju ke kantin itu berpapasan dengan seorang laki-laki yang tinggi dan gagah. Satu hal yang langsung membuat Evelyn mematung adalah aroma parfum yang melekat dalam ingatan. “Aroma parfum ini, gua kenal banget. Gua tau banget ini. Tapi... yang pakai parfum ini bukan cuman satu orang doang Evelyn. Gimana kalau lo salah nuduh orang? Lo bisa malu,” batin Evelyn yang mulai gamang.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hati Yang Tersakiti

read
8.5K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.7K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.5K
bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
1.7K
bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.1K
bc

Mantan Sugar Baby

read
8.4K
bc

I Love You Dad

read
297.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook