Prolog
"Kamu adalah seseorang yang ingin ku dekap erat kehadiran nya serapuh apa pun jiwa yang kau punya"
***
Aku menatap sosok perempuan di hadapan ku dengan tatapan tidak percaya. Sorot yang ia tunjukkan di hadapan ku seolah tidak bisa terbantahkan lagi. Ia sedang rapuh serapuh-rapuh nya, namun adakah satu kesempatan kecil untuk ku supaya bisa menarik nya keluar dari kungkungan yang mengurung nya selama ini?
Aku mencoba menggenggam tangan nya dengan erat, menyalurkan semua kekuatan yang ku punya untuk mengusir segala keputus asaan yang ia punya. Ku tatap mata nya yang menyorotkan kesenduan itu dengan tatapan sayang ku. Namun sorot itu masih sama, masih menunjukkan keresahan tak menentu dan keputus asaan yang dalam.
"Clara, gue mohon jangan begini. Kita sudah berjalan sejauh ini, dan elo sudah hampir lepas dari pengaruh Vanessa. Tapi kenapa sekarang elo memutuskan untuk mundur? Apakah perjuangan gue ke elo belum cukup membuktikan bahwa elo memang pantas bahagia? Bahwa elo memang pantas untuk hidup? Ayolah, Clara. Jangan membuat gue nggak semangat seperti ini. Padahal baru kemarin elo tersenyum cerah di hadapan gue dan berkata bahwa dengan gue, segala nya akan baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang elo berubah seperti ini? Tolonglah Clara. Jangan mundur. Demi diri elo sendiri, demi gue, dan demi apa yang kita perjuangkan," ucap ku dengan pandangan memohon kepada Clara —gadis di hadapan ku. Aku menggenggam tangan nya semakin erat, mencoba memberitahu nya bahwa apa yang ku katakan serius, namun sesaat kemudian ia menepis tangan ku dan memalingkan wajah nya dari hadapan ku. Hati ku mencelos melihat sorot mata nya yang semakin putus asa. Terlebih lagi, sikap nya yang barusan seolah menolak ku secara tidak langsung untuk terus memperjuangkan apa yang selama ini kita perjuangkan.
"Elo pikir setelah kita memperjuangkan semua nya, Vanessa bakal hilang begitu saja dari diri gue, An? Enggak, An. Dia masih ada dan terus mengawasi gue, bahkan apa yang dia katakan ada benar nya juga. Semalaman gue merenung tentang apa yang terjadi di hidup gue dan pada akhirnya gue sampai pada satu kesimpulan. Vanessa benar. Nggak seharusnya gue ada di dunia ini. Nggak seharusnya gue mengusik hidup elo dan masuk ke kehidupan elo sejak awal. Harusnya gue sadar diri, An, kalau gue memang serendah itu. Hidup gue memang sudah serendah ini. Pada akhirnya akhir dari hidup gue adalah jalan menuju Mortem Obire —tempat dimana jiwa-jiwa putus asa berkumpul. Nyata nya, gue memang seputus asa ini, An. Sejak awal seharusnya kita nggak perlu berjuang sampai seperti ini karena nanti nya juga gue akan tetap pergi ke sana. Keputus asaan gue sudah terlalu parah. Elo juga menyadari nya kan? Nggak sepantas nya gue ada di sini bersama dengan elo dan memperjuangkan hal yang sia-sia," jelas Clara panjang lebar dengan suara nya yang bergetar. Bisa ku rasakan bahwa ia mati-matian menahan semua gejolak putus asa nya yang ingin menyeruak keluar dari dalam relung hati nya.
Aku terdiam mendengar semua penjelasan nya. Rasa sakit itu juga ikut menyerang ku, mengetahui bahwa gadis yang ku sayangi kembali menelan pil pahit atas hidup nya. Aku mencoba berjalan ke depan wajah nya dan mengangkat wajah nya supaya ia mau melihat ku. Sambil menggeleng pelan, aku menatap nya masih dengan tatapan memohon ku.
"Clara, elo bicara seperti ini karena terkena pengaruh Vanessa. Gue mohon sadarlah Clara. Kita sudah membangun semua nya sejauh ini dan sejauh itu pula kita sudah menanam keyakinan bahwa elo bisa terus hidup dan nanti nya jiwa elo akan berbaur dengan mereka di Talfathar. Sadarlah Clara. Gue yakin elo lebih kuat dari ini. Clara yang gue kenal bukanlah orang yang mudah menyerah seperti ini. Gue tahu Ayudia masih ada dalam jiwa elo dan Vanessa belum sepenuh nya berkuasa atas diri elo. Gue mohon dengan sangat jangan berhenti sampai di sini, Clara. Elo bisa melewati ini semua. Gue tahu elo bisa. Selama ada gue, elo akan baik-baik saja," ucap ku sambil menatap Clara dengan sisa-sisa keyakinan yang mulai tertutup dengan kesedihan atas perubahan sikap Clara. Lama aku menunggu respon dari nya, namun mata itu kembali melihat ku dengan tatapan hampa. Detik itu juga, aku merasakan sakit yang lebih buruk daripada sebelum nya. Clara menghela nafas kemudian menatap ku dengan tatapan sendu nya, tatapan yang paling ku benci dari nya karena aku harus mengetahui bahwa ia sedang dalam titik terendah dalam hidup nya.
"Maafkan gue harus menghancurkan semua ekspektasi elo, An. Tapi inilah gue yang sebenarnya. Vanessa benar. Gue memang pengecut yang selama ini selalu bersembunyi di balik dekapan manja elo. Seharus nya gue sadar diri siapa gue dan apa arti gue di kehidupan elo. Maafkan gue, An. Tapi keputusan gue sudah bulat. Gue akan ke Mortem Obire dan menyerahkan jiwa gue ke sana. Lebih baik elo melupakan saja semua yang pernah kita lakukan. Tepat nya, lupakan saja gue dalam hidup elo. Anggap saja selama ini kita tidak pernah bersua atau pun berinteraksi. Gue nggak tahu apakah ini pertemuan terakhir dengan elo, tapi gue harap nanti nya elo akan bahagia meskipun nggak ada lagi sosok Clara di hidup elo, An. Jaga diri baik-baik. Bagaimana pun, gue tetap sayang sama elo, tapi rasa sayang ini nggak cukup besar untuk menutupi rasa putus asa gue. Gue pamit undur diri dari hadapan elo, An. Gue harap elo selalu baik-baik saja," ujar Clara, kemudian ia melangkah pergi meninggalkan ku yang masih terpaku atas apa yang ia katakan.
Lidah ku kelu. Mulut ku seolah membisu dan tidak bisa menjawab apa pun yang keluar dari mulut Clara. Hati ku terlalu sakit rasa nya menerima semua kenyataan ini dalam sekejap. Aku menatap kepergian Clara yang sudah menjauh dengan sejuta tatapan penyesalan. Ingin rasa nya ku peluk diri nya seperti biasa dan memberi nya kekuatan lebih, namun kaki ku serasa lemas dan tak bisa mengejar nya kali ini.
"An, aku masih ada dalam jiwa Clara, namun karena Vanessa berhasil mempengaruhi nya, kamu mungkin tidak bisa merasakan dengan jelas kehadiran ku. Bantulah aku untuk bisa mendekap Clara kembali, An. Hanya kamu yang bisa melepaskan Clara dari Vanessa. Kekuatan cinta jauh lebih besar daripada apa pun di dunia ini. Cepatlah bergegas An. Waktu kita tidak banyak untuk menolong Clara,"
Itu suara Ayudia. Tidak salah lagi. Dia masih ada dalam jiwa Clara. Aku menatap jalanan yang tadi di lalui oleh Clara. Sambil mengepalkan tangan, aku mencoba menguatkan diri ku dan menanamkan satu keyakinan yang tadinya terkubur dalam diri ku.
Akan ku selamatkan Clara. Hidup atau mati, dia adalah belahan jiwa yang tanpa nya, aku tidak bisa mengerti apa itu arti cinta dalam hidup ku.