Malam sudah semakin larut. Jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tetapi sepasang mataku ini belum juga bisa terpejam. Sementara dapat kudengar dengkuran halus dari Adi yang sudah tertidur sejak tadi di sampingku. Kuhela napas lalu mengembuskannya perlahan. Ternyata tidur seranjang dengan Adi membuat pikiranku justru berkelana ke mana-mana. Khawatir Adi akan meminta haknya itu yang paling kupikirkan saat ini. Akhirnya kuputuskan untuk berwudu. Salat malam lebih baik, pikirku. "Kamu belum tidur?" suara Adi mengagetkanku yang baru saja menyelesaikan salat. "Belum ngantuk," jawabku sembari melepas mukena lalu memakai kerudungku dan menoleh padanya yang saat ini tengah duduk bersandar pada kepala ranjang. "Sini." Adi menepuk sisi kanannya. Memintaku duduk di sana. Mas

