US 01
Letta menatap alat di hadapannya sejak satu jam yang lalu yang membuat tubuhnya membeku dan nafasnya terasa sesak ketika sebuah kata pregnant tertulis dalam alat tersebut membuat Letta akhirnya ter duduk di ubin kamar mandi yang dingin membuatnya hanya bisa menundukkan kepalanya di atas lutut sambil memeluk kedua lututnya dengan erat, untuk beberapa saat dalam posisi tersebut Letta mulai merutuki atas semua kesalahan dan juga kecerobohan yang dia buat dalam waktu beberapa jam membuat Letta akhirnya tertarik pada kejadian beberapa minggu yang lalu di mana awal semuanya dimulai.
Tiga minggu yang lalu
Letta harus menghadiri acara ulang tahun perusahaan tempatnya bekerja yaitu di sebuah perusahaan maskapai penerbangan nomor satu berbagai negara dan beruntungnya Letta bisa menjadi salah satu pegawai di perusahaan besar tersebut tentu saja dengan semua kerja keras yang sudah dia persiapkan dari awal untuk masuk ke dalam perusahaan tersebut yang akhirnya membuat Letta menjadi seorang pramugari dan menjadi bagian dari JV.Airlines.
Letta menatap kearah cermin besar di hadapannya melihat Apakah penampilannya sudah layak untuk pergi ke acara mewah yang tentunya akan di datangi orang-orang besar membuat Letta tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri Untuk itulah Letta menyibukkan dirinya selma hampir dua jam hanya untuk memilih gaun untuk dia kenakan
" Apa aku pakai gaun ini saja. " gumamnya sambil terus memutar badannya ke kiri dan ke kanan meneliti setiap inci tubuhnya agar tidak memiliki kekurangan, sampai akhirnya suara seseorang membuat Letta hanya bisa memejamkan matanya dan menyabarkan dirinya
" Kau tidak pantas menggunakan gaun seperti itu lebih baik kau pinjamkan saja padaku, Kebetulan malam ini aku akan bertemu dengan Robert. " ucap seorang wanita yang sebaya dengannya sambil memperhatikan ke arah Letta dengan bersandar ke daun pintu membuat Letta hanya menatap ke arahnya sekilas lewat pantulan cermin
" Kau pakai gaun yang lain saja Miti aku akan memakai ini untuk pergi ke ulang tahun perusahaan tempatku bekerja. "jawab Letta membuat seorang wanita yang sebaya dengannya tersebut yang bernama Miti kini berjalan mendekat setelah itu berhenti tepat di belakang Letta
" Tetap saja gaun itu tidak akan cocok denganmu, harusnya kau Pergi dengan mobil mewah untuk dipasangkan dengan gaun ini bukan, Sayang sekali Kalau gaun ini hanya akan mengendarai sebuah taksi lebih baik kau pinjamkan kepadaku saja. "ucap Miti sambil memperhatikan Letta dari atas sampai bawah membuat Letta tidak menghiraukannya dan memilih untuk segera berjalan kearah Sisi tempat tidur mengambil tas tangannya untuk segera pergi ke acara ulang tahun perusahaan tempatnya bekerja tersebut, hal seperti ini sudah sangat biasa bagi Letta ketika Miti mulai memaksakan kehendaknya atas semua barang-barang yang dia miliki Dan untuk malam ini sepertinya Letta tidak ingin mengalah membuat Letta harus sedikit menutup telinganya untuk meredam teriakan dari Miti dari arah kamarnya.
namun Letta masih belum bisa bernafas lega ketika harus kembali menghadapi Jenny Ibu dari miti yang merupakan bibinya sendiri
“ Kau akan pergi kemana dengan pakaian bagus seperti itu? "Tanya Jenny dengan tatapan sinisnya seperti Tatapan yang miti berikan padanya sebelumnya
" Aku ada acara di tempat kerja, jadi mungkin malam ini aku akan pulang terlambat." jawab Letta sambil memasang heels pada kakinya mengabaikan Tatapan mencemooh yang Jenny berikan
“Sekalian saja jangan pulang karena di rumah ini tidak ada yang mengharapkan kepulanganmu. "ucap Jenny membuat Letta lagi-lagi harus menuli kan pendengarannya tersebut
" Aku pergi.” ucap Letta akhirnya ketika taksi online yang sebelumnya dia pesan sudah sampai di pekarangan rumah sederhana milik Jenny membuat Jenny bersikap sama seperti yang Miti lakukan kepada nya yaitu merutuki nya dengan berteriak membuat Letta langsung masuk ke dalam taksi dengan sedikit menutup pintu taksi dengan keras
“Maaf tapi bisakah Anda jalan sekarang. " ucap Letta pada si sopir taksi membuat sopir taksi tersebut hanya mengangguk, Letta kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela dengan sedikit membuka jendela tersebut membuat angin malam masuk ke dalam ruangan mobil tersebut setidaknya udara malam ini bisa sedikit mengurangi rasa sesak yang setiap harinya Letta rasakan Letta kemudian menarik nafas panjang nya setelah itu menghembuskannya perlahan mencoba untuk memberikan kekuatan pada dirinya sendiri karena hanya inilah satu-satunya jalan yang bisa dia tempuh meskipun dirinya saat ini sudah bisa dibilang mampu untuk hidup mandiri namun Letta tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan bibi dan juga sepupunya tersebut yang saat ini bisa dibilang bergantung padanya karena hanya dia yang menjadi tulang punggung untuk mereka, Anggap saja Letta membalas Budi atas semua kebaikan yang bibinya itu berikan karena sudah mau menampungnya di rumah sederhana tersebut sampai dirinya saat ini berumur 25 tahun.
“ Aku memang terlalu baik hati.” gumam Letta dengan semua pikiran yang kini memenuhi isi kepalanya.
akhirnya taksi yang Letta tumpangi berhenti di sebuah hotel berbintang lima membuat Letta langsung membayar taksi tersebut sebelum akhirnya keluar dan langsung menuju ballroom hotel tersebut di mana semua orang sudah berkumpul dengan pakaian mewah dan perhiasan berkilau yang mereka kenakan membuat Letta menatap kearah dirinya sendiri dengan pakaian sederhana dan hanya kalung peninggalan ibunya yang dia kenakan membuat Letta hanya bisa membuang nafas kasarnya sampai sebuah rangkulan pada bahunya membuat Letta tersadar menatap kearah seorang wanita dengan senyum lebar menatap kearahnya
" Kau baru datang?" Tanya wanita dengan gigi gingsul yang menjadi ciri khasnya, dia adalah Mia salah satu sahabat yang selalu mendukungnya selama ini
" Iya Taksi online ku terlambat datang Jadi aku baru datang. " jawab Letta membuat Mia langsung menariknya ke salah satu meja kosong yang berada jauh di belakang sana
“ Kau belum terlalu terlambat Lihatlah Apa kau tidak lihat para Bos tampan yang kini sedang bercengkerama itu. "ucap Mia membuat Letta mengalihkan pandangannya kepada sekumpulan laki-laki yang tengah bercengkerama, entah apa yang mereka bicarakan namun Letta yakin umur mereka rata-rata antara 30-40 tahun mungkin dan diantara salah satu laki-laki itu adalah Bos dari tempat Letta bekerja dia adalah Marco Jovanka CEO dari JV.Airlines membuat Letta menyipitkan matanya menatap ke arah kumpulan laki-laki tersebut yang membuat Mia bahkan terus membuka mulutnya saking terpesonanya pada mereka
“ Tutup mulutmu jika kau tidak ingin air liur mu itu menetes."ucap Letta membuat Mia yang langsung berdecak dengan kesal, Letta kemudian kembali menatap kearah laki-laki tersebut memperhatikan Marco yang menurut kabar burung adalah seorang bos yang dingin dan juga tidak berperasaan tersebut kepada para bawahannya meskipun Letta selama ini tidak pernah sekalipun bertegur sapa dengannya ataupun bertatapan langsung tapi menatapnya dari jarak sejauh ini pun Aura dingin sangat terasa membuat Letta langsung menggelengkan kepalanya Letta berdoa semoga saja dia tidak pernah berhadapan langsung dengan bosnya tersebut.
Namun apalah daya takdir berkata lain ketika semakin malam pesta tersebut semakin meriah musik yang awalnya mengalun dengan lembut kini berubah menjadi hingar-bingar seperti sebuah klub malam membuat para tamu ikut berbaur di lantai dansa untuk menggerakkan badan mereka, lampu Pun sudah berubah menjadi lampu yang redup mengikuti suasana saat ini Begitu pun dengan Letta yang terlihat mengkhawatirkan sahabatnya tersebut
“Mia sudah lah kau sudah terlalu banyak minum. " ucap Letta sambil mengambil alih minuman yang sedari tadi Mia teguk
“Ayolah Letta, ini malam yang jarang sekali kita temui, kapan lagi coba kita bisa meminum minuman Mahal seperti ini Apa kau tidak bisa merasakan bagaimana minuman ini mengalir dengan begitu nikmatnya kerongkonganku ini, harga memang tidak pernah bohong. "ucap Mia membuat Letta hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang tersebut yang sepertinya sudah dalam keadaan mabuk
" Sudahlah bukankah kau sudah menghabiskan beberapa gelas, sudah cukup lebih baik kita segera pulang lagi pula ini sudah larut malam. ” ucap Letta membuat Mia malah menarik tangan yang sedari tadi Letta cengkeram
"Ayolah Letta kau jangan terlalu bersikap wajar seperti itu lebih baik kau juga menikmati minuman ini satu gelas saja." Bujuk Mia membuat Letta langsung menjauhkan gelas yang Mia sodorkan padanya
“ Tidak tidak kau tahu bukan bahwa aku tidak kuat minum. " tolak Letta membuat Mia Malah semakin memaksanya
"Satu gelas saja Letta."Paksa Mia kembali
" Tidak ada bedanya satu gelas ataupun setengah gelas aku tidak kuat minum kau tahu itu.“ ucap Letta Namun sepertinya tidak ada bantahan yang ingin Mia dengar ketika Mia dengan cepat langsung memberikan dengan paksa minuman tersebut dan langsung mendekatkannya pada bibir Letta membuat Letta akhirnya meminum minuman tersebut dan tentu saja efeknya akan langsung terasa beberapa menit setelahnya ketika Letta mulai merasa jika kepalanya berat
“ Apa Aku bilang aku ini tidak kuat minum." ucap Letta sambil memijat pangkal hidungnya yang mulai terasa berdenyut
" Kita bisa memanggil taksi online kembali untuk pulang, kau tidak usah pulang kerumah kau pulang saja ke apartemenku Bagaimana."ucap Mia membuat Letta akhirnya menyetujui rencananya tersebut karena jika dia pulang dengan keadaan mabuk itu sama saja dia akan menjadi cemoohan bagi bibi dan juga sepupunya tersebut
“Baiklah kalau begitu kau panggil taksi online nya dan aku harus ke toilet terlebih dahulu aku harus mendinginkan wajahku ini agar mabuk ku ini Hilang Dan semoga saja berhasil. " Ucap Letta membuat Mia yang kini hanya menyandarkan wajahnya pada meja mengangkat ibu jarinya tanda setuju.
sedangkan Letta mulai melangkahkan kakinya yang terkadang sedikit terhuyung karena kepalanya yang mulai berputar untuk mencari toilet berharap jika mabuknya bisa hilang hanya dengan mencuci mukanya saja, namun Di tengah perjalanan saat Letta tidak kunjung menemukan letak toilet Letta malah tersesat di salah satu lorong hotel tersebut membuat Letta menatap ke arah kiri dan kanannya Sampai akhirnya Letta merasa jika badannya terlempar ke arah belakang ketika dirinya bertabrakan dengan seseorang yang kini menatapnya dengan tatapan tajam.