Wajah mereka terlalu dekat hingga Vanya bisa mencium napas Avel yang berbau mentol. Jantungnya berdegup cepat menatap mata yang selalu ia rindukan. Sesak memenuhi rongga dadanya. Vanya hendak menangis karena ia merasa sakit melihat prianya. Sakit hati yang tidak tahu lagi bagaimana bentuknya. Avel tertegun saat melihat setitik air mata jatuh dari mata musuhnya. Ia mengernyit bingung. Siapa wanita ini? Kenapa dia menangis? Dengan perlahan, ibu jarinya menghapus air mata Vanya. Saat itulah, Avel merasakan plastik di wajah cantik itu. Avel semakin curiga hingga ia menarik silikon yang berada di wajah itu. Vanya segera menendang perut Avel dengan kakinya yang masih kuat saat Avel lengah karena tertegun melihat wajahnya. Pria itu bahkan tidak berkata apa pun. Ia hanya terdiam dengan keadaan t

