“Katakan siapa pemimpinmu?” Vanya bertanya kepada pria yang sudah babak belur dan terikat di kursi di sebuah gudang tua. Dirinya mengenakan topi serta masker hitam yang menutupi hampir seluruh wajah, kecuali matanya.
Pria itu—Robert—satu-satunya yang tertangkap saat pencurian emas batangan di British Bank kemarin. Elyn berhasil menangkapnya dan membuat pria itu tidak bisa berkutik sama sekali. Ia membawanya kepada Vanya untuk diinterogasi. Sayangnya, sudah dua hari Robert hanya diam karena memegang teguh kesetiaannya. Vanya salut akan kesetiaan itu. Namun, ia tidak bisa terus memaksanya membuka mulut yang selalu berujung tanpa hasil. Dirinya harus bertindak.
Vanya duduk di hadapan Robert yang wajahnya sudah penuh dengan darah. “Ambilkan aku tang, E. Dia masih saja tidak bersuara,” pinta Vanya kepada Elyn yang juga mengenakan masker dan ikut mengawasi sedari tadi.
“Baik.”
Elyn segera menjalankan perintah ketuanya tanpa membantah. Mereka sangat membutuhkan informasi tentang The Wolf Clan yang sudah mereka incar selama tiga tahun terakhir. Tak lama, Elyn kembali dengan tang di tangannya. Ia memberikannya kepada Vanya, membuat Robert mulai merasa takut meski tetap tidak mau membuka suara.
“Aku ingin kita bermain!” Vanya menyeringai. Ia menatap lawan di depannya dengan tenang. “Jika kau menjawab satu pertanyaanku, maka satu kukumu akan selamat. Tapi, jika kau gagal menjawab pertanyaanku, maka kukumu akan terbang.”
Elyn bergidik ngeri. Bulu kuduknya berdiri membayangkan kuku itu terlepas dari jari-jari Robert.
Robert sendiri sudah pucat. Keringat dingin bercucuran di wajahnya. Namun, ia tetap bertahan untuk diam. Wanita macam apa mereka ini? pikirnya.
“Pertanyaan pertama.” Vanya memutar tang kecil di antara jemarinya dengan lihai. “Siapa kau?”
“The Wolf Clan,” sahutnya singkat.
Vanya berdecak malas. “Maafkan aku. Seharusnya aku tidak menanyakan pertanyaan bodoh yang jelas-jelas jawabannya ada di lenganmu.” Vanya melirik lengan Robert yang bergambar tato serigala.
“Baiklah. Aku ganti pertanyaanku. Apa yang kalian inginkan dari mencuri emas-emas itu?”
Robert menatap Vanya benci. “Kesenangan.”
Vanya menaikkan sebelah alisnya karena tidak puas. “Kau tahu bukan itu yang kumaksud.” Vanya menggerakkan tang ke jemari kelingking Robert. “Bagaimana dengan kuku kelingkingmu dulu?”
Robert kembali pucat seolah-olah darahnya tersedot paksa. Ia memejamkan matanya erat-erat. “Argh!” teriaknya.
Darah mengucur begitu saja dari kelingkingnya saat kukunya tercabut paksa. Sakitnya sangat tak tertahankan. Perih, menyiksa, bahkan Robert lebih memilih untuk langsung mati saja daripada disiksa seperti ini.
“Kau tahu, setiap pertanyaanku sebenarnya sangat berguna untuk pekerjaanku. Aku bisa naik jabatan dengan cepat.” Vanya mendengus malas. “Pria tua bangka itu selalu memaksaku mengerjakan laporan-laporan yang menyangkut kalian. Jadi….” Vanya menatap Robert tajam. “Bisakah kau membantuku menyelesaikan laporanku?”
“Jalang hina! Sampai mati aku tidak akan membuka mulutku.” Ia tertawa terbahak-bahak.
Vanya hanya memandanginya datar. “Sudah tertawanya? Pertanyaanku belum habis, Robert. Masih ada 9 kukumu lagi dan 19 pertanyaan yang tersisa.” Ia menatap Robert sinis. “Jika kuku tanganmu tak cukup, maka akan kumanfaatkan kuku kakimu!”
“Argh.” Robert memberontak dari kursinya saat ia mendengar ucapan kejam Vanya. “Kau, jalang sialan! Mati saja kau!”
Vanya tersenyum miring. “Aku akan mati dan menyusulmu ke neraka setelah aku membalaskan dendam kematian teman-temanku pada pemimpinmu!”
“Cih!” Robert meludah darah. “Kau tidak akan mampu melawan pemimpin kami yang hebat!”
“Well, let's see, then. Ah, aku lupa. Saatnya untuk pertanyaan kedua.” Vanya kembali duduk. “Apa sebenarnya tujuan organisasi kalian?”
***
“Belum ada kabar dari Robert?” tanya Avel kepada Afrez yang seharusnya bertanggung jawab atas pencurian emas batangan kemarin.
Afrez menggeleng pelan. “Belum. Aku akan menemukannya segera mungkin.”
Avel mengangguk. “Pergilah dan temui Azzar. Dia akan membantumu.”
“Hmm.” Afrez segera pergi meninggalkan Avel yang termenung karena Robert belum juga ditemukan. Avel yakin bukan polisi yang menangkapnya. Karena jika polisi bertindak, sudah dipastikan Robert ada dalam penjara saat ini. Namun, meski Avel memiliki banyak relasi, ia tidak bisa menemukan keberadaan Robert di penjara mana pun.
“Tuan, ada kiriman untuk Anda,” ujar seorang pria muda, asisten Avel yang selalu bersiaga di rumah besar miliknya.
Kediaman Avel dijaga sangat ketat. Ada beberapa lapis pengaman jika ingin memasuki kediaman mewah itu mengingat banyak musuh yang mengincarnya.
“Kiriman?” Avel menaikkan sebelah alisnya.
Denny mengangguk dan menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Avel. “Saya belum membukanya karena surat ini.” Denny memberikan surat dengan kertas berwarna hitam itu kepada Avel.
Avel membaca surat itu dengan saksama yang berisi:
Berikan kotak ini pada pemimpinmu dan jangan membukanya atau kau akan menyesal.
Avel menatap Denny sinis. “Apa kau takut dengan ancaman surat ini, Denny?”
Denny menggeleng mantap. “Tidak, Tuan. Hanya saja….” Denny menahan kata-katanya dan membalikkan surat itu, membuat Avel menyipit tajam saat melihat tulisan παιχνίδι persis seperti pesan yang beberapa hari lalu diterimanya di kantor. Lengkap dengan tulisan RYFE di bawah pesan itu.
“Paichnídi?” Avel mengeja pelan kata itu yang bermakna permainan dalam bahasa Yunani. Ia menyeringai. “Mereka telah salah memilih lawan bermain sepertinya.”
Avel membuka kotak itu yang berisi sepuluh kuku dan sebuah kertas yang berisi pesan:
Aku bosan karena tidak menemukan lawan yang seimbang. Jadi, aku memutuskan mengirimkan hadiah ini kepada kalian. Cantik, bukan, kuku-kukunya? Aku menghiasnya sepenuh hatiku.
Avel menggenggam erat kertas itu. Ia tidak akan bertindak bodoh dengan datang memenuhi undangan secara tidak langsung itu. Siapa yang telah berani-berani mengusiknya seperti ini? Dilihat dari isi suratnya, sepertinya yang mengincar mereka adalah seorang wanita. Ia tidak tahu wanita keji mana yang mampu melakukan hal ini. Namun, yang pasti ia akan mati di tangan Avel.
Terlihat dari suratnya pula bahwa Robert belum membuka identitas dirinya kepada mereka yang tengah mengincar Avel dan itu menjadi utang besar Avel kepada Robert. Avel bukanlah orang yang tidak tahu balas budi karena dirinya masih memiliki hati. Tidak seperti wanita gila yang sudah mencabut kuku-kuku anak buahnya.
***
Vanya menembak Robert tepat di tengah dahi pria itu. Emosinya naik-turun mengingat Robert masih tidak mau membuka suaranya, bahkan setelah kuku di jarinya lepas semua.
“Sepertinya, emosimu sedang tidak stabil.”
Yuki bersandar di dinding belakang dekat pintu masuk gedung tua itu. Tidak hanya Yuki, Frysca pun berada di sana. Elyn sendiri sedang berjaga-jaga di sekitar luar ruangan tidak ada yang mengikuti mereka.
“Kenapa kalian di sini? Bahaya jika ada yang melihat kita!” Vanya menatap Yuki dan Frysca bergantian.
Yuki terkekeh. “Tenanglah. Aku sudah memastikan tempat ini aman sebelumnya.”
Frysca mengangguk membenarkan. Frysca bukan orang yang banyak bicara. Namun, sekali dirinya bicara, akan ada nyawa melayang. Pembawaannya lembut mematikan. Tenang seperti air, tetapi juga bergelombang hingga mampu menimbulkan tsunami sekaligus. Dirinyalah yang paling berbahaya di antara mereka bertiga walaupun mereka sama-sama suka membunuh.
Vanya menghela napas pelan. “Aku lelah. Kalian bereskan ini. Jangan sampai meninggalkan jejak!”
Ketiga teman sekaligus partnernya itu mengangguk. Mereka segera membersihkan mayat Robert.
Sementara, Vanya menyalakan bluetooth headset di telinganya agar tersambung dengan seseorang di sana. “Misi gagal!” Vanya segera mematikan sambungan bluetooth headset tanpa menunggu respons si pendengar.
***
Vanya singgah di sebuah kafe untuk memuaskan dahaganya. Namun, bukannya lega, tenggorokannya terasa semakin kering saja saat melihat keluarga bahagia itu juga berada di tempat yang sama dengannya.
Kenapa dirinya selalu berada dalam keadaan yang tidak beruntung? Vanya menatap nanar putranya yang tersenyum senang. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk putranya, tetapi kakinya bahkan tidak mampu lagi melangkah seolah-olah memiliki perekat tak kasatmata. Ia melihat dengan jelas bagaimana putranya bahagia berada di pangkuan wanita lain yang merupakan ibu tirinya.
Vanya memilih duduk di pojok agar tak terlihat. Wajah kejamnya berubah lembut saat melihat putranya. Dirinya yang seorang ketua agen paling ditakuti kini menjadi manusia lemah yang bahkan tampaknya membunuh semut saja tak mampu. Dan penyebab itu semua adalah putranya yang membuat dirinya lemah seperti ini.
“Mama harap kau selalu bahagia, Sayang. Selalu.” Vanya meneteskan air matanya haru sekaligus sedih. “Maafkan Mama yang telah menelantarkanmu. Maaf. Kau berhak menolak Mama karena ini akan selalu menjadi hukumanku.”