5. KOMPROMI

1303 Kata
Permainan DJ di sebuah klub ternama yang hanya mampu didatangi pengusaha-pengusaha kaya raya dan juga orang dalam mampu memekakkan telinga siapa pun. Namun, mereka yang sudah terbiasa tentu menikmati bunyi musik yang berdentum-dentum sambil berjoget di lantai. Berbaur dengan kebanyakan orang. Beda halnya dengan Frysca dan Elyn yang saat ini sedang menikmati minuman rendah alkohol karena mereka sedang bekerja. Frysca dan Elyn ingin melihat secara langsung siapa yang sudah berani meracuni seorang menteri yang berkedudukan tinggi di negara itu. Mereka memata-matai seluruh klub dengan wajah tertutup topeng silikon agar tidak dikenal. Frysca dan Elyn berpura-pura menjadi teman yang baru saja mengenal satu sama lain—tentunya dengan nama samaran. Frysca menyamar sebagai Lyza, sedangkan Elyn menyamar sebagai Mona. “Hai, cantik,” sapa seorang pemuda kepada Elyn. Pemuda itu bernama Zaffra Kongsrevan. Seorang pengusaha di bidang properti. Tingginya 180 cm. Bukan perokok, tetapi ia seorang alkoholik. Elyn tersenyum manis. Ia mengulurkan tangannya. “Mona.” Zaffra menyambut uluran tangan Elyn kemudian mengecup punggung tangannya sekilas. “Namamu secantik dirimu. Aku Zaffra.” Ia duduk di depan meja bartender, lebih tepatnya di sebelah Elyn. “Kau tidak turun?” Elyn menatap lantai dansa yang sudah penuh dengan orang-orang yang bergoyang, lalu kembali menatap Zaffra. Ia menggeleng. “Penuh. Terlalu ramai di sana.” Pria tampan berhidung mancung yang sepertinya adalah keturunan Arab itu terkekeh pelan. “Wow, kalau begitu kau salah tempat, honey. Kau bisa mengunjungi hotel kalau ingin ketenangan.” Elyn tertawa anggun. “Aku sudah sering ke sana dan ingin menikmati malam di sini.” Wanita itu mengedipkan sebelah matanya menggoda yang langsung ditangkap Zaffra. “Arah jam empat. Pria tinggi yang sedang memasuki ruangan VVIP.” Suara Frysca tiba-tiba terdengar di bluetooth headset di telinga Elyn. “Kalau kau mau, kita bisa menghabiskan malam yang mengesankan. Bagaimana?” tanya Zaffra. Elyn tersenyum sambil terus memperhatikan gerak-gerik pria tinggi itu. Dirinya pun melihat Frysca yang mengikuti pria itu. Elyn menyesap minumannya, lalu berpura-pura menumpahkannya ke pangkuan sehingga membasahi gaun ketat yang ia pakai. “Aw!” pekiknya pura-pura terkejut. Zaffra segera merogoh sapu tangan di saku jasnya. Ia hendak mengelap baju Elyn, tetapi Elyn menahannya. “Tidak usah. Aku akan ke toilet dan kembali lagi nanti.” Ia tersenyum sangat cantik. Zaffra mengangguk. “Jangan lama-lama” *** Selalu saja seperti ini. Kembali diam dan hanya menyendiri di sudut ruangan yang gelap. Menutup semua jendela apartemen, lalu termenung dalam waktu yang lama. Kenapa penyesalan itu begitu menyesakkan d**a? Tidak pantaskah dirinya mendapatkan kesempatan kedua? Bukankah semua orang berhak mendapatkannya? Lantas, kenapa dirinya tidak? Vanya mengabaikan semua panggilan telepon, pesan, e-mail, dan notifikasi jejaring sosial lainnya. Ia hanya duduk merenungi segala kesalahan fatal yang dulu nyaris merenggut nyawa anaknya yang tak bersalah. Seorang bayi kecil tanpa dosa. Vanya lagi-lagi merasa terpukul akan penyesalan dirinya sendiri. Walaupun ia seorang pemimpin agen, tapi ia hanyalah manusia biasa yang bisa merasa terpuruk sangat dalam sewaktu-waktu. Pertemuan kemarin di kafe benar-benar menampar dirinya dan menyiksanya setiap detik. Tidak hanya itu, bahkan ia tidak boleh bertemu dengan putranya sendiri. Kenapa hidup sekejam ini? Vanya tahu ia hanyalah manusia yang penuh dosa. Namun, apa kehidupan tidak bisa memberinya secuil pun kebahagiaan setelah penderitaan yang dialaminya ketika dirinya hampir gila kalau saja seorang pria paruh baya tidak mengajaknya? Pria itu—komandan tertinggi bernama Benedith Johran Reasnouve—melatih Vanya dengan tangannya sendiri tanpa ampun sehingga Vanya tak kenal rasa sakit. Tembakan, tusukan, bahkan sabitan pedang yang dilayangkan sang komandan kepadanya sama sekali tidak terasa. Namun, kenapa hanya karena sebuah penyesalan dirinya nyaris mati? Vanya hanya menginginkan satu hal. Ia ingin pengakuan bahwa dirinya adalah ibu kandung Laxy Vaulo Myllano. Entah diakui atau tidak, Vanya tidak peduli. Ia hanya berharap putranya tahu bahwa dirinya adalah ibu kandungnya. Vanya melempar vas bunga ke arah pintu. Ia terluka. Ia meringkuk seperti janin dalam luka yang dibuatnya sendiri. “Kau jahat, Avel!” Ia membenamkan wajahnya ke kedua lututnya. “Kau jahat! Kau membuatku mati perlahan!” teriaknya dengan suara yang teredam. “Aku hanya ingin kau merasakan sakit yang kurasakan dulu, Vanya,” gumam suara serak itu. “Aku ingin kau tahu rasanya dibuang.” Avel berjalan mendekat. Ia tahu tempat tinggal Vanya karena kemarin dirinya mengikuti wanita itu. Avel melihat Vanya di kafe, tetapi ia pura-pura tidak tahu karena Laxy dan Halley sedang bersamanya. Sejak kemarin, dirinya terus mengikuti Vanya yang tidak keluar dari apartemen, membuat Avel khawatir hingga dirinya nekat masuk dengan keahliannya membobol pintu. Vanya melempar vas bunga tepat saat pintu itu terbuka. “Tidakkah kau puas, hah?” Ia menengadah menatap pria yang paling dibencinya. “Pergi dari sini sekarang! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!” Ia mundur hingga membentur dinding karena Avel terus maju mendekati Vanya yang masih meringkuk. “Hentikan, Avel. Kumohon hentikan hukumanmu.” “Aku akan berhenti menghukummu, Vanya.” Avel memilih untuk berkompromi. “Tapi, dengan satu syarat.” Ia menatap Vanya tajam yang kini balik memandanginya sendu. Air mata itu mampu membuat Avel luluh seketika. Hatinya terasa sakit melihat wanitanya dalam keadaan seperti itu. “Kau harus tinggal di kediamanku.” Vanya mendongak, menatapnya tidak percaya. “A … apa maksudmu?” Apa Avel gila? Setelah semua yang terjadi, ia menginginkan Vanya tinggal di kediamannya? Bagaimana bisa dirinya tinggal di kediaman Avel sementara pria itu sudah beristri? Apa ini hukuman lainnya lagi? Tidak. Vanya bukan wanita yang mudah dipermainkan seperti ini. Dirinya bukanlah sebuah alat permainan yang bisa rusak dan akhirnya tak dibutuhkan lagi. “Jangan berpikiran buruk padaku. Kau bisa menemui anak kita kapan pun dan bahkan kau bisa menemaninya setiap hari jika memang itu yang kauinginkan. Hanya saja, kau harus tinggal bersamaku!” Melihat Vanya yang diam, Avel kembali berkata, “Kalau kau menerima syaratku, kau bisa menghubungiku.” Pria itu beranjak pergi dari kamar Vanya dan meninggalkan wanita itu yang termenung kembali dalam kegelapan. *** Frysca dan Elyn menyimpan pistol serta senjata di balik gaun yang mereka kenakan. Keduanya sudah bersiaga. “Dengan hitunganku.” Elyn berujar yang direspons Frysca dengan anggukan, lalu  menyiapkan senjatanya. “Satu ... dua ... tiga!” Keduanya masuk, membuat keempat orang yang berjaga itu memandangi Frysca dan Elyn dengan tatapan aneh. Sementara, seorang pria yang mereka ketahui namanya dari alat canggih milik mereka, Fern Vicskohard, mendekat. “Wah … wah ... ada wanita cantik di sini.. Datang tanpa diundang.” Ia menyeringai lebar. Azzar yang sedang memangku seorang p*****r menatap dua wanita itu sambil menaikkan sebelah alisnya. “Bagaimana kalian bisa masuk?” Frysca dan Elyn menatap satu sama lain karena tidak menyangka ada dua pria berbadan tinggi di dalam. Mungkin keduanya bisa berakting sekarang. “Maaf, kami salah masuk ruangan,” ucap Elyn. Keduanya hendak beranjak, tetapi Fern terlebih dahulu menghadang mereka di ambang pintu. “Apa kalian tahu, yang masuk kemari tidak bisa keluar tanpa menuntaskan pekerjaannya?” Fern memiringkan kepalanya, lalu menatap Azzar. “Bagaimana, Azzar? Apa kita harus mengganti para p*****r itu dengan dua wanita ini? Sepertinya, mereka lebih menyenangkan.” Elyn maju mendekat ke Fern. “Aku tidak akan rugi jika bermain denganmu, tampan.” Ia mengedipkan sebelah matanya, membuat Fern terkekeh pelan dan merangkul erat pinggang Elyn. “Kau sangat nakal. Aku jadi ingin menghunjammu berkali-kali.” “Lakukan!” Elyn tersenyum miring, membuat Fern semakin tersenyum lebar. Ditatapnya Azzar yang sudah melepaskan wanita itu dari pangkuannya. “Sepertinya, aku lebih baik menggunakan satu ruangan lagi dan kau…” Fern menatap Frysca dari ujung rambut hingga ujung kaki. “bisa bermain dengan si cantik yang satunya.” Fern kembali merangkul erat pinggang Elyn dan mengajaknya keluar dari sana. Elyn sendiri sempat mendengar gumaman Frysca bahwa mereka akan bertemu di belakang dalam satu jam. Dengan cepat, Elyn membuang senjatanya ke dalam tong sampah yang tersedia di depan ruangan tanpa diketahui Fern. Ia menghela napas panjang saat Fern mengajaknya masuk ke sebuah ruangan VVIP. Kini, dirinya benar-benar berada dalam masalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN