6. ANCAMAN

1385 Kata
Frysca menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya pelan. Ia berbalik menatap Azzar yang masih bergeming. Ia tidak pernah berada di situasi seperti ini. Bahkan, dirinya masih perawan karena memang hidupnya hanya berputar pada  pekerjaan dan misi saja. Frysca tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting seperti saat ini. Hanya karena ia sudah tahu kedua wajah yang meracuni menteri itu, sudah cukup baginya. Dirinya berbalik dan hendak melangkah keluar pintu. Namun, entah sejak kapan Azzar sudah berdiri di belakangnya dan mengendus leher jenjang putih miliknya, membuat Frysca merasakan sesuatu aneh. “Apa kau tidak mendengar apa yang dikatakan temanku, hm?” Azzar menarik garis di sepanjang leher Frysca dengan telunjuknya. “Tidak akan ada yang boleh keluar dari sini sebelum kita bermain.” Dengan cepat, Azzar menggerakkan tangannya mengusir dua wanita yang tadinya hendak melayaninya dan Fern. Wanita itu menatap Frysca dengan sinis karena berani-beraninya merebut tangkapan emas mereka malam ini. Pintu kembali tertutup rapat. Azzar jadi lebih leluasa bermain dengan Frysca. Suara musik yang berdentum, sekarang sama sekali tak terdengar di sini. Keduanya bisa berbicara dengan bebas. “Apa yang bisa kaulakukan untukku?” Azzar duduk santai di sofa dengan kaki kanan menopang pada kaki kirinya. Ia menatap Frysca intens. “Kau tidak ingin berbicara, hm? Apa kau bisu?” Frysca mengangguk mengiakan karena itu lebih mudah untuknya. “Sayang sekali. Padahal, kau sangat cantik.” Azzar menipiskan bibirnya kemudian beranjak mendekati Frysca. Ia mulai meraba-raba tubuh Frysca hingga menemukan sesuatu yang mengganjal di bagian paha Frysca. Tanpa sempat disadari Azzar, Frysca menaiki tubuh tegap Azzar dan duduk di bahunya hendak mematahkan leher Azzar. Namun, Azzar dengan cepat membanting Frysca ke atas ranjang. “Well, kau lebih dari cantik! Sayangnya, aku tak membawa senjata.”Ia memperhatikan gerakan Frysca yang cepat. Frysca kembali melangkah maju dan mengeluarkan pisau lipat yang sebelumnya sempat teraba oleh Azzar. Ia menatap Azzar waspada sebelum menyerangnya.  Azzar berpura-pura lengah untuk melihat sejauh mana kemampuan wanita di depannya ini. Frysca yang melihat kesempatan itu segera berlari mendekat dan tanpa Azzar sangka Frysca meluncur ke bawah melewati kedua kakinya dan menyerangnya dari belakang. Ia menusukkan pisau lipatnya ke jantung Azzar. Namun, sayangnya, meleset karena pria itu menghindar cepat hingga bahunya yang terkena tusukan pisau Frysca. Wajah Azzar tanpa ekspresi kesakitan, Tusukan kecil itu bukanlah apa-apa untuknya. Dengan cepat, ia membalas Frysca. Ia meninju perut gadis itu hingga Frysca terbatuk-batuk mengeluarkan darah. “Kau menipuku banyak, Sayang.” Azzar mendekati Frysca yang masih terbatuk-batuk. Ia tahu salah satu tulang rusuknya patah. “Pertama, kalian mengincarku dan Fern. Bukan karena kalian salah masuk ruangan. Kedua, kau tidak bisu karena kau baru saja batuk dan mengeluarkan suaramu. Ketiga, kau menggunakan topeng.” Azzar memperlihatkan topeng silikon yang sempat diambilnya tanpa Frysca sadari, membuat Frysca membelalak sesaat. “Dan keempat, aku jatuh cinta padamu.” Frysca menatap Azzar bengis. Ia kembali menyerang Azzar membabi buta karena rasa sakit di paru-parunya yang membuatnya tidak bisa memikirkan rencana apa pun selain menyerangnya begitu saja. Bagaimanapun, ia harus membunuh Azzar karena identitasnya yang sudah terbongkar. Azzar tidak membiarkan Frysca kembali memukulnya. Ia menahan pukulan Frysca. “Kau lebih cantik tanpa topengmu.” Frysca tidak memedulikan ocehan itu dan terus menyerang Azzar tanpa ampun. Ia menendang bagian bawah sensitif Azzar, membuat pria itu mengaduh. Kesempatan itu Frysca gunakan untuk kabur karena Elyn sudah menunggunya di belakang. “Aku akan menemukanmu lagi, cantik.” Azzar menatap topeng silikon Frysca. *** “Kau sudah bisa mengambil cuti, Vanya.” Jayden berujar setelah mereka selesai mengadakan rapat. “Ambillah cuti panjangmu dan kembalilah dengan semangat barumu. Aku melihat kau selalu melamun beberapa hari terakhir.” Vanya mengangguk dan hanya tersenyum. “Terima kasih, Pak. Akan saya manfaatkan cuti saya sebaik mungkin.” “Ya, berliburlah ke luar negeri,” Jayden meninggalkan ruang rapat. Vanya menghela napas pelan. Ia merapikan barang-barangnya, lalu memilih pulang ke apartemen karena ada yang harus diambilnya sebelum kembali ke markas siang ini. Pikirannya masih kacau karena tawaran Avel. Apakah ia harus menerimanya? Lalu, bagaimana dengan model itu? Vanya tidak ingin menghancurkan rumah tangga orang lain dengan kehadirannya. Namun, ia juga ingin sekali melihat putranya. Ia ingin memeluknya, memberinya kasih sayang, bermain bersamanya, dan mendengar celotehan cadelnya. Ia berharap bisa merasakan itu semua. Sesampainya di apartemen, ia melihat Avel duduk di ranjangnya. Vanya tidak lagi bertanya dari mana Avel mengetahui kode apartemennya. Avel sudah pasti tahu Vanya menggunakan tanggal lahir putranya. Avel bersandar santai di kepala ranjang single yang hanya muat untuk dirinya. Vanya tidak ingin hidup mewah karena pekerjaannya sebagai jurnalis. Walau gajinya sebagai pemimpin pasukan khusus bahkan mampu membeli rumah besar nan mewah, tetapi Vanya memilih hidup sederhana. Lagi pula, ia tidak mau penyamarannya terbongkar. “Tiga hari aku menunggu keputusanmu.” Avel memperhatikan gerak-gerik Vanya yang melepaskan tas kerjanya. “Tapi, kau sepertinya tidak berniat bertemu dengan anakku.” “Anakku juga, Avel.” Vanya berjalan menuju lemari. Setelah mengambil baju yang akan dikenakannya, Vanya menatap Avel. “Apa kau akan terus di sini? Aku akan mengganti bajuku.” Avel menaikkan sebelah alisnya. “Kau lupa aku sudah melihat setiap detail tubuhmu, Vanya.” Vanya mendengus malas. Ia membuka baju di depan Avel tanpa peduli Avel melihatnya. Lagi pula, mereka juga sudah pernah melakukannya walaupun hanya sekali. Vanya berhenti melepaskan bajunya saat tangan Avel menelusuri punggungnya, membuat sensasi tersendiri bagi Vanya. “Kenapa punggungmu penuh luka, Vanya? Ini bekas tusukan, bukan?” Matanya menyipit tajam menatap setiap luka di punggung Vanya. Vanya  tertegun. Ia menepis tangan Avel keras, lalu bergegas mengganti pakaiannya. “Aku pernah diculik dan disiksa,” ujar Vanya sekenanya karena ia tidak mungkin mengatakan kepada Avel bahwa dirinya seorang agen terlatih. “Apa? Bagaimana bisa?” tanya Avel seolah-olah menahan amarah. “Apa pedulimu, Avel?” Vanya bertanya sinis. “Bukankah itu yang kauinginkan? Bukankah kau ingin aku menderita, hm? Bukankah ka….” Ucapan Vanya terhenti saat Avel mencium bibirnya sekilas. Vanya tertegun. “A … apa yang kaulakukan?” Avel menarik napas dalam-dalam. Ia menatap Vanya tajam. “Bereskan barangmu dan ikut aku sekarang!” “Tidak, Avel. Aku tidak bisa,” tolak Vanya, membuat gigi Avel bergemeletuk. “Sekarang, Vanya! Atau kau tidak akan pernah kubiarkan melihat Laxy seumur hidupmu!” Avel terpaksa mengancam Vanya. Ia tahu hanya Laxy yang mampu membuat Vanya menurut kepadanya. Wanita ini masih sama, pikir Avel. Masih keras kepala seperti dulu. “Kutunggu kau di tempat parkir.” *** Vanya sudah siap dengan kopernya yang tidak terlalu besar karena baju yang dibawanya tidak banyak. Ia tidak berhenti memaki Avel sejak tadi karena ancaman Avel. Vanya lebih memilih berhadapan dengan Halley daripada tidak bisa melihat Laxy. Ia tidak mau kehilangan Laxy lagi seumur hidupnya. Vanya tidak akan sanggup bertahan hidup jika itu sampai terjadi. Ia memasang bluetooth headset di telinganya dan menghubungi Elyn. “Aku akan terlambat karena ada urusan mendadak. Jangan menghubungiku sampai aku menghubungi kalian.” “Baik, V.” Elyn menjawab singkat. “Dan….” Vanya tampak ragu sebelum melirik Avel yang sedang berdiri di samping mobil untuk memastikan bahwa Avel tidak mendengarnya. “Ambil flashdisk yang kutinggalkan di bawah bantal apartemenku karena aku akan pindah.” “Pindah? Ke mana?” “Akan kuberitahu saat kita bertemu. Kumatikan!” Vanya segera mematikan sambungan bluetooth headset-nya karena Avel sudah mencurigai dirinya yang terlalu lama. Vanya segera menyusul langkah Avel memasuki mobilnya. Avel menoleh dan menatap Vanya yang sedari tadi menatap ke luar jendela. Ia tahu wanita itu sedang marah karena ancamannya. Namun, Avel tidak peduli. Ia merasa Vanya memang harus dijaga atau dia akan kembali terluka lagi. Avel tidak tahu apa saja yang Vanya lewati selama beberapa tahun ini. Yang pasti, ia akan selalu melindungi Vanya mulai sekarang. “Aku tidak akan membawamu ke kediaman yang sama dengan istriku karena aku tidak ingin rumahku hancur karena istriku mengamuk melihatku membawa wanita lain.” Istriku? Vanya tersenyum getir. “Lebih baik kau tidak usah mengajakku sama sekali,” jawabnya masih dengan menatap ke luar jendela. “Apa kau tidak ingin melihat anak kita lagi?” “Jangan pernah membawa-bawa dirinya di tengah urusanku dan kau, Avel. Jangan pernah mengancamku seperti ini lagi.” Vanya memperingatkan. Avel melirik Vanya sekilas. “Kau tidak berhak mengaturku, Vanya.” “Ya, aku tahu. Lagi pula, aku bukan siapa-siapamu,” gumamnya nyaris tak terdengar, tetapi sayang Avel mendengarnya. “Kau ibu kandung anakku, Vanya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN