7. MISI

1224 Kata
Avel memberhentikan mobilnya di kediaman yang biasa ia gunakan untuk bersantai. Ia akan membiarkan Vanya tinggal di sini karena tempat ini juga dijaga dengan sangat ketat untuk melindungi wanitanya. Avel juga tidak akan membiarkan Vanya kabur lagi darinya. Tidak akan. “Tinggallah di sini. Aku akan membawa Laxy kemari untuk menemanimu.” Mendengar nama Laxy membuat hati Vanya bersorak gembira karena akhirnya ia bisa memeluk Laxy. Vanya bisa bermain dengannya, bahkan mungkin bisa membawa Laxy berjalan-jalan. “Ayo.” Avel membuka pintu mobil Vanya. Vanya keluar. Ia menatap rumah besar serta megah itu dengan kagum. Jika rumah tempatnya tinggal saja sebesar ini, bagaimana rumah di kediaman Halley? Vanya menggelengkan kepalanya takjub. Berapa banyak sebenarnya harta kekayaan Avel? Vanya tak habis pikir. Sejak dulu saat SMA, Avel memang sudah menjadi rebutan para siswi. Banyak yang iri kepada Vanya. Namun, Vanya tidak memedulikannya walaupun beberapa kali ia diperingatkan untuk menjauhi Avel. Ia bahkan pernah dirundung dan Avel selalu datang untuk menyelamatkannya. Vanya menatap punggung tegap Avel—yang berjalan di depannya—dengan banyak pemikiran positif hingga negatif tentang pria itu. Ia tidak pernah bisa menebak jalan pikiran Avel karena memang Avel terlalu sulit ditebak. Tanpa Vanya sadari, dirinya sudah berada di depan pintu sebuah kamar. “Ini kamar kita.” Avel membuka lebar pintu kamarnya. Vanya mengernyit tak mengerti. “Pardon?” “Ini kamar kita, Vanya!” Avel menegaskan. “Bukankah kita masih berstatus suami-istri? Atau perlu kuingatkan lagi, hm?” “Aku tidak mau sekamar denganmu!” Vanya menatap Avel marah. “Kau pikir bisa seenaknya saja memperlakukanku, hah?” Avel menaikkan sebelah alisnya. Ia menatap Vanya tanpa ekspresi. “Berapa kali kukatakan, tidak ada yang boleh mengaturku!” Vanya terdiam saat Avel membentaknya. “Masuk!” Avel menarik lengan Vanya hingga mau tak mau Vanya masuk daripada harus diancam lagi dengan memisahkan dirinya dan Laxy. Tak lama, seseorang mengetuk pintu kamar dan Avel segera membukanya. Tampak Avel berbicara dengan pelayan laki-laki yang mengenakan seragam hitam putih. Pelayan itu hanya mengangguk kemudian beranjak pergi. Avel membawa masuk koper milik Vanya yang diantarkan pelayan itu. “Kapan aku bisa bertemu Laxy?” Vanya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Kamar itu sangat luas dengan desain interior yang harganya mungkin bisa sampai jutaan dolar. “Nanti akan kubawa kemari.” Avel bergumam sambil mengetikkan sesuatu di iPhone-nya, kemudian menyerahkan iPhone terbaru itu kepada Vanya. “Ponsel ini milikmu sekarang. Hanya ada satu nama yang bisa kauhubungi saat kau memerlukan sesuatu.” Vanya menerimanya dan melihat kontak nama yang hanya ada satu nama. Avellar M. Tidak tahu harus berterima kasih ataukah tertawa hingga akhirnya Vanya memilih diam. “Selama tinggal di sini, kau harus mengikuti aturanku, Vanya. Tidak boleh keluar tanpa pengawalan. Jangan melakukan sesuatu yang akan membuatmu terluka dan jangan pernah mencoba kabur!” “Aku tidak ingin dikawal saat bekerja,” sahut Vanya enteng. Avel yang sedari tadi duduk di tepi ranjang menatap Vanya tajam. “Kau tidak akan bekerja lagi.” “Tidak! Kau tidak berhak mengatur hidupku, Avel. Ingat, kita bukan siapa-siapa lagi sejak beberapa tahun silam! Kau pergi tanpa kata dan sekarang seenaknya kau mengatur hidupku? Tidak. Aku tidak bisa. Lebih baik aku pergi dari rumah ini.” Avel dengan sigap menahan langkah Vanya. Ia menarik lengan Vanya, membuat wanita itu limbung dan berakhir jatuh di atas tubuh Avel di ranjang. Vanya hendak menarik diri, tetapi Avel dengan cepat menahan pinggangnya. Avel meletakkan lengannya di bawah kepalanya sebagai bantal. Ia menatap Vanya intens. “Kenapa kau begitu keras kepala, Selvanya?” Ia terus menatap Vanya tanpa peduli wajah Vanya yang memerah karena posisi mereka. “Apa begitu berat kau tinggal bersamaku, hm?” Vanya menyerah memberontak. Jantungnya berdetak dengan sangat keras karena posisi ini—posisi dirinya terbaring di atas Avel—terlalu intim. “Kau sudah memiliki istri, Avel.” “Dan kau istri pertamaku, Vanya.” Avel membalikkan posisi mereka hingga dalam sekejap Vanya sudah berada di bawahnya. “Kau akan tetap menjadi yang pertama sampai kapan pun.” Avel mengecup lembut bibir Vanya. Bibir yang selama ini ia rindukan. Bibir yang selalu menjadi candunya. Perlahan, ia melumat bibir Vanya saat melihat tak ada penolakan dari wanitanya itu. Vanya sendiri masih tertegun saat Avel mencumbunya. Tidak tahu harus menolak atau menerimanya. Sebagian hatinya menjerit senang dan sebagian lagi berteriak sakit mengingat Avel kini menjadi milik orang lain. “Hen ... tikan…” Suara Vanya serak nyaris seperti akan menangis. “Aku tidak bisa melanjutkannya,” sambungnya kembali saat tangan Avel mulai bergerak masuk ke balis blusnya. Avel menarik napas dan mengembuskannya perlahan. “Baiklah. Aku tidak akan memaksa.” Ia beranjak dari atas tubuh Vanya dan berjalan ke kamar mandi membersihkan dirinya. Vanya terduduk dengan cepat. Ia mengusap wajahnya kasar dan menghela napas perlahan. Setelah debaran jantungnya tenang, ia bangkit dan mulai menyusun pakaian dari koper ke walk-in closet. *** “Dia mengenalku.” Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Frysca. Yuki dan Elyn harus mencerna baik-baik maksudnya karena tahu bahwa Frysca tidak akan mau repot-repot menjelaskannya panjang lebar. Elyn yang langsung menangkap maksud Frysca melebarkan matanya. “Bagaimana bisa?” Frysca menggeleng pelan karena ia pun tidak tahu. Ia tidak sadar saat topengnya tercabut. “Lebih baik kau tidak usah berkeliaran dulu untuk beberapa hari karena pasti pria itu akan mencarimu.” Yuki memberi saran. Elyn mengangguk. “Y benar. Sebaiknya kau tidak usah keluar dulu dari markas kita. Tunggulah di sini hingga keadaannya aman. Apalagi mereka anggota The Wolf Clan.” Frysca menatap Elyn tajam, “Bagaimana kau bisa kabur?” Elyn tersenyum lebar. “Aku mengoleskan obat tidur di badanku dan dia menjilatnya dengan sangat seksi.” Frysca dan Yuki memutar kedua bola matanya malas saat mendengar ucapan menjijikkan Elyn. Pintu markas terbuka dan menampilkan sosok Vanya di sana dengan wajah datarnya. “Apa kau sudah mengambil flashdisk yang kuperintahkan?” Elyn mengangguk. “Sudah, Ketua.” Vanya mengangguk kemudian berjalan melewati mereka bertiga menuju sebuah komputer. “Di mana flashdisk yang kau ambil, E?” Elyn segera memberikan flashdisk yang berisi data-data para menteri itu kepada Vanya. Tanpa menoleh, Vanya mengambil flashdisk dari tangan Elyn, lalu memasukkannya ke lubang USB. Terbukalah data-data para menteri yang kemudian Vanya perlihatkan kepada anggotanya. Gambar seorang pria tua berambut putih muncul di layar komputer. “Jim Freschard. Tidak lagi memiliki istri, tetapi memiliki anak perempuan yang sedang kuliah di Cambridge bernama Olena Freschard. Dia adalah kesayangan Jim.” Vanya menatap tiga anggota temannya dengan serius. “Jim menghubungiku untuk melindungi putrinya yang sedang dalam bahaya karena seseorang mengincar posisi Jim dengan mengancam putranya.” Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. “Aku dan Yuki yang akan melakukan tugas ini mengingat kalian berdua sudah melalui hal berat kemarin. Dan kau, Frysca…,” Vanya menatap Frysca dengan ekspresi datar. “jangan pernah meninggalkan markas ini sebelum keadaan aman.” Frysca mengangguk. Vanya kembali menatap Yuki. “Aku akan menghubungimu nanti karena sekarang aku harus pulang.” Vanya memang kabur dari rumah Avel mengingat dirinya harus menginformasikan misi ini kepada rekannya. Walau penjagaan di rumah Avel sangatlah ketat, tetapi bagi Vanya itu bukanlah apa-apa. Vanya hendak pergi sebelum Elyn mencegah langkahnya. “Kau pindah ke mana?” “Aku tidak bisa mengatakan apa pun sekarang, E. Maafkan aku. Tapi, aku berjanji akan memberitahumu nanti.” Vanya keluar meninggalkan ketiga temannya yang termenung karena tahu bahwa kondisi Vanya tidak baik-baik saja saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN