Vanya tertegun saat melihat Avel masuk sambil menggandeng Laxy. Ia melangkah mendekat, sedangkan Laxy menatap Vanya bingung.
“Siapa Aunty ini, Daddy?” tanyanya dengan suara cadel.
Langkah Vanya terhenti. Dirinya tercenung karena putranya bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Ditatapnya Avel dalam diam. Ia penasaran dengan jawaban Avel.
“Dia Mommy-nya Laxy.” Avel menjawab lembut.
“Mommy Laxy bukan dia, Daddy.” Laxy menggeleng dan bersembunyi dibalik punggung Avel.
Jantungnya berdenyut nyeri seolah-olah diremas dengan tangan tak kasatmata. Vanya menangis. Putranya menolaknya. Perlahan, Vanya kembali mundur dengan air mata yang tak bisa dibendung lagi. Ia menggeleng pelan dan menatap Avel sedih.
Apa ini karmanya karena dia ingin membunuh anaknya sendiri kala itu? Beginikah rasanya ditolak? Dibenci?
Tatapan Vanya menyiratkan kesedihan mendalam. Apa Avel sama sekali tidak pernah mengenalkan dirinya kepada putranya? Vanya menarik napas dalam-dalam dan berbalik. Ia berjalan menjauh karena tidak sanggup melihat penolakan dari putranya lagi. Rasa sakit sebuah penolakan lebih perih daripada ditinggalkan.
Avel memanggil Vanya, tetapi tak dihiraukan. Ia berjongkok menyejajarkan badannya dengan Laxy. “Boy, dia Mommy kandungmu. Mommy yang telah melahirkanmu ke dunia. Mommy selalu membawamu di dalam perut hingga kau keluar dengan selamat dan hidup sampai saat ini.” Avel mencoba menjelaskannya secara perlahan. “Hanya saja ... Daddy dan Mommy terpisah karena jarak yang sangat jauh.”
Laxy menatap ayahnya bingung. “Bagaimana dengan Mommy Halley?”
“Mommy Halley itu Mommy tirimu, son.” Avel menyingkirkan anak rambut Laxy yang terjulur ke dahi. “Mommy Halley hanya merawatmu selama ini. Tapi, Mommy kandungmu ... dia selalu membawamu ke mana-mana saat kau masih berada di perutnya.” Avel menghela napas pelan. “Mommy pasti sangat sedih karena penolakanmu. Dia meminta pada Daddy untuk bertemu denganmu, bertemu putra kecilnya yang selama ini tidak pernah dia lihat.”
Laxy menunduk dengan perasaan bersalah. “Maaf, Dad. Laxy salah sama Mommy. Laxy sudah buat Mommy sedih.”
Avel tersenyum. “Jangan minta maaf pada Daddy, son. Minta maaflah langsung pada Mommy-mu.”
“Apa Mommy akan marah?”
“Tidak. Dia tidak akan marah padamu karena dia sangat mencintaimu.” Avel berdiri dan mengulurkan tangannya yang lalu disambut Laxy. “Ayo, kita temui Mommy.”
Laxy mengangguk antusias. “Ayo, Dad.”
***
Vanya menatap air mancur di depannya dengan hampa. Penolakan itu terasa menyakitkan baginya. Mungkin inilah yang dulu Laxy rasakan ketika dirinya menolak Laxy sebagai putranya. Ketika dirinya bahkan mencoba membunuh Laxy berulang kali, bahkan saat ia masih berupa janin. Ia semakin terisak sambil memukul dadanya yang terasa sesak.
“Ampuni aku, Tuhan.” Vanya tak tahu harus bagaimana lagi selain mengakui dosanya.
Dirinya menengadah menatap langit yang tampak mendung. Ia menahan laju air matanya. Namun, sia-sia saja karena seberapa pun ia mencoba, tetesan bening keluar dari kedua sudut matanya.
“Vanya.”
Panggilan Avel dari belakang punggungnya, membuat Vanya mengusap air matanya. Dirinya menarik napas dalam-dalam. “Tidak sekarang, Avel. Aku ingin sendiri.” ujar Vanya serak tanpa mau berbalik dan terus menatap air mancur itu.
Hening.
Vanya berpikir bahwa Avel mungkin sudah pergi. Ia kembali menghela napas pelan. Ia sungguh ingin sendiri saat ini.
“Mommy.”
Suara anak kecil itu membuat Vanya terkejut sekaligus menoleh ke belakang, ke arah Avel dan Laxy masih berdiri di sana.
Laxy berusaha melepaskan genggamannya dari tangan Avel. Ia berlari ke Vanya, lalu memeluk Vanya erat. “Mommy. Mommy.”
Vanya tertegun. Ia menatap Avel bingung. Namun, Avel hanya tersenyum kemudian berbalik meninggalkan keduanya. Vanya melepaskan pelukannya. Ia menatap putranya haru.
“Laxy minta maaf sama Mommy.” Laxy bahkan menangis melihat Vanya yang juga menangis karenanya. “Daddy bilang, Mommy ibu kandung Laxy. Laxy sudah jahat sama Mommy.”
Vanya mendekap erat putranya. “Laxy tidak jahat sama Mommy. Mommy yang jahat sama Laxy karena sudah ninggalin Laxy. Maafkan Mommy, ya, Sayang. Maaf kalau Mommy baru bisa menemui Laxy sekarang,” bisiknya parau.
***
“Mommy, pelukan Mommy dengan Mommy Halley beda,” gumam Laxy yang sedang berada dalam dekapan Vanya.
Keduanya kini duduk di taman mansion milik Avel sambil menatap air mancur. Vanya memangku Laxy dan memeluk putranya dari belakang. “Beda gimana, Sayang?” tanya Vanya bingung.
“Beda.” Ia mendongak menatap Vanya. “Mommy lebih hangat.” Laxy menggenggam jemari lentik Vanya yang berada di perutnya. “Kalau Mommy Halley tidak senyaman Mommy.” Ia menyandarkan kepalanya di perut Vanya.
“Sayang.” Vanya terharu akan ucapan putranya. “Mommy minta maaf karena sudah meninggalkanmu.” Ia bahkan menyesal tidak bisa memberikan ASI pertamanya kepada Laxy.
“Laxy tahu.” Pria kecil itu mengangguk. “Mommy sibuk, kan? Makanya, tidak bertemu Laxy.”
“Hmm.” Vanya terus menahan rasa bersalahnya. “Maaf.”
“Apa sekarang kita tinggal bersama?” Laxy kembali mendongak menatap mamanya. “Apa Daddy, Mommy, sama Laxy tinggal bersama di sini seperti Daddy, Mommy Halley, dan Laxy di sana?”
Vanya ingin menjawab ya, tetapi, tidak bisa karena Avel yang akan memutuskan semuanya. Vanya tidak ingin mengambil keputusan sendiri.
“Saat ini, mungkin belum.” Vanya mengelus rambut halus dan lembut Laxy. Namun, pandangannya kosong menatap air mancur. “Tapi, Mommy janji kita akan tinggal bersama-sama suatu saat nanti..”
“Kenapa? Apa Mommy mau jauh dari Laxy lagi?”
Vanya menggeleng. Ia menatap Laxy serius. “Dengar, kalau Laxy tinggal sama Mommy, bagaimana dengan Mommy Halley? Dia pasti kesepian tanpa Laxy.”
Laxy menggeleng. “Mommy Halley jarang bertemu Laxy di rumah. Laxy sering sama Duva yang jaga Laxy, yang sering main sama Laxy.” Putranya menunduk sedih. “Laxy mau main-main sama Mommy kayak teman-teman Laxy yang lain. Mommy Halley akan ada di rumah kalau Daddy juga di rumah.”
Vanya memejamkan matanya erat mendengar keluh kesah putranya. Ia akan membicarakan masalah ini dengan Avel nanti malam.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita bermain sekarang?”
Laxy membelalak dan menatap Vanya tidak percaya. “Mommy mau main sama Laxy?”
Vanya menipiskan bibirnya dan mengangguk. “Tentu saja. Siapa yang tidak mau main dengan putra tampan Mommy, hm?”
“Yey! Ayo, Mom. Ayo, kita main.”
***
Avel yang sedari tadi menatap keduanya hanya bisa diam, tak ingin menjadi pengganggu. Ia tidak tega melihat Vanya terlalu lama menderita karena hukuman yang diberikannya. Tawa Laxy membuatnya tanpa sadar tersenyum. Jika sejak dulu Laxy bisa tertawa seperti ini, maka sejak dulu pula Avel akan berusaha meyakinkan Vanya untuk tetap menerima putra mereka tanpa perlu Avel membawanya jauh dan membuat keduanya terpisah.
Avel merogoh ponselnya yang bergetar di saku celana panjangnya. Panggilan dari Azzar membuatnya mengernyit. Ia segera mengangkat telepon itu.
“Kau di mana?”
“Di rumah. Ada apa?”
“Aku ke sana sekarang.”
“Hmm.”
Avel menutup teleponnya. Ia beranjak ke taman menemui Vanya dan Laxy yang sedang bermain kejar-kejaran.
“Daddy, sini. Ikut Laxy dan Mommy main.” Laxy berteriak sambil tertawa karena Vanya menangkapnya, lalu menggelitikinya.
Avel tersenyum kemudian menggeleng pelan. “Kau sama Mommy saja, ya? Daddy ada pekerjaan dan akan menjemputmu nanti.”
Laxy terdiam. Begitu pun dengan Vanya.
“Laxy mau tidur sama Mommy,” ujarnya kepada Avel dengan tatapan memohon. “Boleh, ya, Dad?”
Pandangan mata Avel berserobok dengan Vanya yang sekilas juga menatapnya penuh harap. Lalu, ia kembali menatap Laxy. “Boleh, boy. Tapi, ingat, harus minum s**u sebelum tidur atau Daddy tidak akan mengizinkanmu tidur dengan Mommy lagi.”
Selalu dengan ancaman. Namun, anehnya, ancamannya juga selalu berhasil menaklukkan siapa pun.
“Okay, Daddy.” Laxy berujar riang.
“Tuan, mereka sudah sampai.” Suara Denny membuat ketiga orang itu menatapnya.
Avel mengangguk. Ia beranjak mengikuti langkah Denny tanpa mengatakan apa pun kepada Vanya.
***
Avel menatap kedua temannya dengan tajam. “Apa kau sudah menemukan wanita itu?” tanyanya pada Azzar.
Azzar menggeleng pelan. Ia memang tidak pernah bertemu lagi dengan wanita yang sudah membuat dirinya jatuh cinta. Tidak pernah Azzar sefrustrasi ini dalam mencari orang. Wanita itu benar-benar di luar dugaannya. Azzar bahkan sudah menyebarkan anak buahnya ke penjuru negeri. Namun, dirinya tidak menemukan petunjuk apa pun yang terkait tentang Frysca.
“Tidak. Dia menghilang begitu saja. Aku masih mencarinya.”
“Bagaimana denganmu?” Avel menatap Fern.
Fern menggeleng. “Aku bahkan tidak tahu wajah aslinya karena bisa dipastikan dia juga memakai topeng seperti temannya.”
“Aku tidak mau tahu! Cari mereka sampai dapat dan bawa ke hadapanku.”
Azzar dan Fern mengangguk. Kemudian, Azzar mengeluarkan kertas hitam yang didapatnya dari depan rumahnya. Ia mengulurkannya ke Avel.
Avel membuka kertas itu yang bertuliskan αρχή. “Archi?” gumam Avel. Ia menatap kedua temannya dengan tatapan yang menuntut penjelasan.
Azzar mengangguk. “Artinya dimulai.” Ia melangkah pelan dan duduk di sofa ruang kerja Avel. “Kau tahu kata pertama yang dulu kau dapatkan di kantormu?”
“Pembunuh?”
Azzar mengangguk. “Dan kata kedua permainan. Lalu, seseorang mengirimimu potongan kuku-kuku Robert. Aku pun mendapatkan kertas ini dengan tulisan archi beserta kepala Robert di dalamnya. Apa kau tahu artinya?”
Mata Fern menyipit. “Permainan pembunuhan dimulai?”
“Exactly!” Azzar menatap Avel serius. “Ada orang yang benar-benar mengincar kita, Avel, dan petunjuknya ada di bawah kertas itu.”
Avel kembali membuka kertas itu. Ia mendapati tulisan RYFE di sana. “Pertanyaannya adalah siapa gerangan RYFE ini?”