9. CHIP

1423 Kata
Vanya sedang berada di kantin Universitas Cambridge untuk menemui Olena Freschard. Tentunya, mereka mengenakan topeng karet untuk menyamarkan wajah mereka. Tidak hanya Vanya, Yuki pun ikut andil. Keduanya menikmati sajian kantin. “Aku jadi ingin merasakan perkuliahan,” gumam Yuki sambil menatap beberapa mahasiswa yang lalu-lalang berjalan di depan mereka. “Tapi, sayang karena kita sudah lebih dulu dilatih dan dipekerjakan.” Vanya hanya diam hingga akhirnya ia mengingat sesuatu. Ia menatap Yuki tajam. “Apa yang kaulakukan pada keluarga bahagia itu?” Yuki mengernyit bingung. “Keluarga bahagia? Memang apa yang kulakukan?” Vanya berdecak malas. “Kau mengganggu Avel dan istrinya saat di mal waktu itu, bukan? Apa saja yang sudah kaulakukan?” “Ah, itu….” Yuki mengingatnya kemudian menatap Vanya jenaka. “tidak banyak. Aku hanya mencoba membuat w************n itu cemburu.” Ia mengangkat bahunya tak acuh. “Cemburu? Maksudmu, kau menggoda Avel?” Mata Vanya terbelalak. Yuki mengangguk. “Ya. Aku juga sudah menyimpan nomor pria hot itu.” Yuki menyipit. “Jangan bilang kau cemburu?” “Cih!” Vanya berdecih. “Aku sama sekali tidak cemburu..” “Sayang sekali. Padahal, aku berniat mempertemukanmu dengan putranya. Kau mungkin juga bisa mendekatinya lagi dan menyingkirkan w************n itu.” “Kaulah yang murahan, Y. Kau yang menggoda suami orang saat itu!” sindir Vanya tegas membuat Yuki bungkam seketika. “Apa kalian yang dikirim Papa untuk menjagaku?” tanya seorang wanita berambut pirang, bermata hijau tiba-tiba. Yuki dan Vanya menoleh menatap perempuan itu. “Kau Olena?” “Hmm.” Ia tersenyum. “Aku Olena Freschard.” Ia mengulurkan tangannya. Yuki membalas uluran tangan Olena dan tersenyum. “Aku Yuki dan ini Vanya.” Mereka saling berjabat tangan saling memperkenalkan diri hingga Vanya membuka suaranya serius saat melihat Oleh sudah duduk di sebelahnya. “Dengarkan aku baik-baik. Simpan alat ini di sebuah benda yang selalu kaubawa dan tak pernah kautinggalkan.” Vanya memberikan sebuah chip, alat pelacak berukuran mini. “Letakkan di tasmu atau tempelkan di kerah bajumu. Ini akan membantu kami untuk menemukanmu jika kau berada dalam bahaya.” Olena menatap alat kecil berwarna hitam itu dengan kagum. Ia menatap Vanya dan mengangguk. “Aku akan meletakkannya di tasku.” “Dengar, Olena. Aku yakin kau sudah tahu dari papamu bahwa sekarang kau sedang diincar. Jangan pernah keluar sendirian tanpa izin orangtuamu. Jangan pernah pergi ke tempat sepi karena aku yakin jika saat ini pun mereka bisa melihatmu.” Olena merasakan jantungnya berdegup kencang. “Sebenarnya, siapa yang mengincarku?” Vanya menggeleng. Begitu pun dengan Yuki. “Kami belum tahu.” Yuki menyahut. “Kami sedang menyelidikinya.” “Apakah Papa baik-baik saja?” tanyanya cemas. Vanya tersenyum dan mengangguk. “Papamu akan baik-baik saja.” Olena tersenyum lebar. Ia mengucapkan terima kasih kepada Yuki dan Vanya, lalu kembali masuk ke kelas, mengikuti jadwal mata kuliah selanjutnya. “Ke mana kita?” tanya Yuki setelah urusan mereka selesai. Vanya menggerakkan otot lehernya yang terasa kaku. “Tentu saja bermain.” Ia menyeringai kejam. “Mereka yang meminta dikejar. Maka, kita akan mengejar mereka.” Keduanya beranjak untuk menangkap dua orang berbaju hitam yang sedari tadi memata-matai mereka. *** Halley berjalan dengan cepat menuju ruang kerja Avel. Ia tidak peduli sama sekali tentang larangan Avel yang tidak memperbolehkannya masuk ke sana. Halley kesal karena Avel tidak pulang setelah beberapa malam. “Dari mana saja kau?” teriak Halley saat melihat Avel sedang berbicara dengan Denny di kediaman rumah yang Halley tempati. “Bisakah kau keluar? Aku sedang sibuk!” Avel menjawab malas. “Kau! Aku ini istrimu, Avel! Kau tidak bisa seenaknya memperlakukanku seperti ini!” Avel menghela napas pelan. Ia menyuruh Denny keluar, lalu.menutup pintu rapat-rapat. Ia menatap Halley lembut. “Ada apa, hm? Kenapa kau marah-marah seperti ini? Siapa yang melakukan ini padamu?” Halley terisak hingga Avel memeluknya, membiarkan istrinya menangis dalam dekapannya. “Aku takut kau menjauhiku dan meninggalkanku.” Ia menggenggam kuat kemeja Avel. “Ke mana saja kau dua malam ini, Avel? Kau tidak mengabariku.” “Maaf. Ada pekerjaan yang tak bisa kutinggalkan.” Halley melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah keras itu dengan jemari lentiknya. “Aku egois, ya? Aku hanya takut kau pergi, Avel. Maafkan aku.” Halley mencium Avel dan langsung dibalas pria itu. Beberapa sesaat kemudian, Halley melepaskan ciumannya. “Aku menginginkanmu.” Avel terdiam. Ia mengangguk dan kembali melumat bibir Halley dengan dominasinya. Halley membalasnya. Dengan cepat, tangannya bergerak membuka satu per satu kemeja Avel. Pun gaun Halley yang terkoyak karena Avel merobeknya. Hanya tinggal pakaian dalamnya yang masih melekat. Ciuman itu terus berlanjut. Halley melepaskan celana panjang Avel, menyisakan celana dalamnya. Namun, tak lama, keduanya sama-sama telanjang dan melakukan penyatuan erotis. Lenguhan-lenguhan serta bunyi decapan memenuhi ruangan kerja Avel. *** Vanya melajukan mobilnya dengan cepat, mengejar para mata-mata yang sudah mengawasi mereka sejak lama. “120 km per jam, V.” Suara robot bernama Scaff dalam mobil Vanya memperingatkan Vanya untuk memelankan laju mobilnya. Namun, Vanya tidak akan melakukannya. Ia akan kehilangan mereka jika mengurangi kecepatan. “Maaf, Scaff. Aku tidak bisa kehilangan mereka.” Vanya kembali menginjak gasnya menambah kecepatan. Yuki mengenakan kacamatanya. Ia menatap mobil para mata-mata itu berbelok ke sebuah lorong kecil. “Berhati-hatilah, V. Mereka sangat berbahaya karena mereka terhubung pada mafia Oklahoma.” Scaff memperingatkan Vanya. “Mereka berdua memiliki persenjataan lengkap dan kalian berdua hanya membawa pisau lipat. Sangat tidak lucu.” “Hei, sejak kapan robot ini berani menghina?” Yuki memukul pelan dasbor. Panel itu sejak tadi menampilkan analisis-analisis data berupa hologram yang mencatat, merekam, bahkan memuat seluruh data yang diperlukan oleh para agen. “Sejak aku diciptakan Dokter Krand.” Yuki mendengus malas. Ia kembali memfokuskan penglihatannya kepada para mata-mata itu. “Pengalihan otomatis.” Mobil itu kembali berbicara, tetapi kali ini suara perempuan. “Hei apa-apaan ini?” teriak Vanya saat kemudi dialihkan secara otomatis. “Maaf, V. Aku tidak bisa mengorbankan keselamatan kalian. Tiga puluh meter ke depan ada banyak orang yang menunggu kalian.” Vanya menekan tombol untuk pengalih kemudi manual, tetapi gagal karena Scaff tidak membiarkannya. “Ayolah, Scaff. Atau aku akan melompat dari mobil ini.” Pintu mobil langsung terkunci otomatis. “Mati saja kau, Scaff!” teriak Vanya frustrasi, sedangkan Yuki hanya menghela napas panjang. “Aku akan mati jika aku rusak, V.” Suara alarm tanda bahaya di mobil mereka berbunyi. “Olena dalam bahaya. Dia diculik tiga orang laki-laki. Mereka membawanya menuju sebuah gedung rumah sakit lama.” “Pengalihan manual.” “Sialan kau, Scaff,” maki Vanya sekali lagi. Scaff sungguh tidak konsisten. Ia kembali menjalankan mobilnya—saat dialihkan ke pengaturan manual—dengan sangat kencang menuju rumah sakit tua. Sampai di sana, Vanya segera keluar dari mobil, diikuti dengan Yuki. Keduanya masih mengenakan topeng. Vanya memakai gaun yang membentuk lekuk tubuhnya sepanjang betis. Gaun itu tanpa lengan dan berwarna merah gelap, tetapi terbelah hingga pahanya. Di sanalah, ia menyimpan pisau lipatnya. Vanya masuk melalui jalur depan. Sementara, Yuki masuk melalui jalur belakang. Keduanya berpencar agar lebih mudah menemukan Olena. Tempat itu tampak berdebu karena ditinggalkan bertahun-tahun lamanya. Rumah sakit itu pernah menjadi tempat malapraktik yang membangkitkan kemarahan keluarga pasien dan membuat mereka membakarnya habis. Suara rintihan Olena bisa ia dengar dengan jelas. Ia langsung bergerak ke lantai dua arah suara Olena berasal. Vanya menduga bahwa mulut Olena tengah dibekap. “Wah, wah, ada tamu tak diundang ternyata.” Seorang pria yang muncul dari belakangnya membuat Vanya langsung menyerangnya. Pria itu pun membalas serangan Vanya. Tidak puas hanya dengan tangannya saja, Vanya melayangkan kakinya hingga mengenai muka pria berbadan besar itu. Suara benda bergerak, kaca pecah, dan suara-suara pertarungan keduanya ternyata membuat dua orang yang sedari tadi menyekap Olena turut melihat orang yang mengganggu kesenangan mereka. Vanya harus mengingat tiga orang pria yang sedang mengurungnya di tengah-tengah. Sesaat kemudian, Vanya mendengar Yuki berbicara melalui bluetooth headset-nya. “Aku akan menyelamatkan Olena dulu dan menyuruh Scaff membawanya. Setelahnya, aku akan membantumu.” “Tidak perlu. Ini bukan hal yang sulit. Bawa saja dia ke tempat yang aman,” bisiknya agar tidak terdengar oleh tiga pria itu mengingat penjagaan mereka terhadap Olena melonggar. “Baiklah.” Yuki percaya akan kemampuan pemimpin mereka. “Well, cantik. Aku tidak percaya kau datang sendirian kemari,” ujar salah satunya yang berkepala botak. Vanya hanya diam, tetapi tetap terus waspada. “Aku akan menikmati tubuhnya lebih dulu setelah aku mengalahkannya.” Bodoh! Jika pria botak itu berkata seperti itu, maka itu artinya mereka akan melawan Vanya satu per satu dan itu cukup menguntungkan Vanya. Ini akan menjadi semakin mudah baginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN