“Kau siap, son?” Sore ini, Avel mengajak Laxy jalan-jalan karena dirinya sedang berlibur atau Avel memang meliburkan diri. Laxy mengangguk antusias sambil tersenyum lebar saat tiba-tiba saja ayahnya mengajaknya berjalan-jalan ke mal membelikan beberapa baju dan juga mainan. “Siap, Daddy,” ucapnya gembira. Avel mengacak rambut Laxy. Ia menggandeng erat tangan mungil itu seolah-olah Laxylah satu-satunya alasan ia masih bertahan hidup. Dirinya juga tidak pernah menyerah untuk mencari Vanya walaupun sangat sulit karena wanita itu seperti kembali menghilang tanpa jejak. Keduanya berjalan beriringan keluar hingga langkah keduanya terhenti menatap Donna yang datang lagi, tiap hari tanpa bosan dan lelah. “Wah, hendak ke mana dua pangeran tampan ini?” Laxy melipat tangan di depan dadanya dan m

