Langit sudah menggelap, dan ini adalah malam pertama Alvin berada di kota perantauan. Mungkin terasa aneh dan rasanya agak sunyi, jauh dari orangtua dan juga orang-orang desa yang Alvin kenal. Tidak ada yang bisa Alvin ajak bermain gaple sebagaimana yang sering ia lakukan ketika sedang berada di desanya semasa belum masuk pesantren dulu. Mengingat masa kecilnya dulu, Alvin pun menghela napasnya panjang. Gara-gara ingin melupakan semua kenangannya bersama Tita yang selingkuh dengan Sarip, Alvin pun harus mengasingkan diri dan menjalani kesehariannya di kota orang. Mungkin akan terasa sedikit berat, tapi apa boleh buat? Daripada tetap diam di kampung, tapi Alvin akan terus terbayang-bayang dengan perlakuan Tita yang sudah menorehkan luka di hatinya yang terdalam.
Membayangkan wajah lugu perempuan itu saja, Alvin hanya mampu menghela napasnya berat. Keluguan yang menghiasi wajahnya bahkan tak sebanding dengan sikap serta pola pikir yang perempuan itu miliki.
"Gak usah banyak ngelamun, tempo hari temen kosan gue ngelamun mulu besoknya jadi gila. Lo mau jadi gila juga?" lontar sebuah suara yang tentu saja membuat Alvin menoleh cepat ke arah belakangnya yang ternyata si pemilik suara tersebut adalah Anton.
Mendapati temannya datang mendekat dan mendudukkan diri di sebelahnya yang saat ini sedang ngaso di teras bawah yang sengaja disediakan pemilik gedung kos untuk para penghuni kos duduk menongkrong, Alvin pun melihat Anton meletakkan dua gelas kopi panas di atas lantai tepat di hadapan mereka. Tidak lupa, sepiring goreng pisang hangat pun ia sertakan juga agar mereka bisa makan camilan berminyak tersebut secara bersama-sama.
"Daripada galau, mending makan pisang goreng aja. Manis loh, Vin. Kayak yang bikin...." ungkap Anton terkikik sendiri. Membuat Alvin sontak menoleh dan menaikkan sebelah alisnya sembari bertanya.
"Loh, emangnya lo tau, Ton, siapa yang bikin pisang goreng ini?"
"Tau lah. Masa enggak. Ini aja gue dibikinin khusus sama dia. Tau gak? Dia itu janda, tapi masih hebring. Janda muda gitu, baru seminggu kawin udah ditinggal lakinya," celoteh Anton seakan tahu betul dengan kehidupan seseorang yang tengah dibahasnya saat ini.
"Suaminya meninggal?" tanya Alvin lagi turut penasaran.
"Bukan. Tapi lakinya kabur sama pelakor yang udah godain dia sejak awal dia nikah. Gila emang tu cowok! Gak pernah bersyukur. Padahal, bininya cakep bin seksi. Tapi tetep aja kegoda sama pelakor," tukas Anton mendengkus. Entah kenapa, seakan-akan Anton sedang menyayangkan perihal nasib malang yang sudah menimpa sang janda.
"Namanya siapa?"
"Deswita. Cuman anak kosan sini sering manggil dia Neng Wita. Maklum, janda muda masih bening. Siapa sih yang gak kesengsem sama tuh cewek," ujar Anton terkekeh. Merasa kalau dia pun memang sudah kesengsem pada perempuan berstatus janda tersebut.
Alvin hanya manggut-manggut tatkala mendengar penuturan dari temannya. Alvin bahkan melihat bahwa Anton sepertinya ada ketertarikan pada sosok yang sedang dibicarakannya ini. Tapi apapun itu, toh, bukan urusan Alvin juga. Kedatangannya ke ibu kota sini kan untuk mencari pengalaman hidup dan juga kerjaan, bukan mencari janda yang akan dia taksir juga seperti apa yang sedang Anton bincangkan pada saat ini.
"Ayo, Vin, cicipin dong pisgornya! Dijamin lo bakal ketagihan deh," titah Anton mencolek bahu Alvin. Mengharuskan pemuda itu lantas mengangguk dan kemudian mencomot satu pisang goreng yang masih hangat saat disentuhnya.
"Legit gini anjir! Pisang gorengnya aja selegit ini, apa kabar sama yang bikin. Ini mah fix, gue mesti nyoba...." celetuk Anton ngaco. Membuat Alvin melirik ke arahnya dan hanya mampu menatap horor ketika mendapati temannya haha hihi sendiri bak orang yang sedang kehilangan akal sehatnya.
***
Sehabis menikmati kopi berikut pisang goreng yang Anton suguhkan pada Alvin, kini mereka pun sudah kembali naik ke lantai dua. Lorong lantai di mana kamar Anton berada. Semakin larut, udara pun semakin dingin terasa. Walau biasanya ibu kota terkenal dengan udara panasnya meskipun di malam hari, tapi malam ini, sepertinya cuacanya sedang tidak mendukung untuk menguarkan hawa panas. Untuk itu, Anton pun mengajak Alvin memasuki kamar kosnya saja dan melanjutkan perbincangan mereka sambil rebahan santai di kasur busa yang Anton gelar di lantai.
"Oh iya, Vin, rencananya lo mau nyari kerja apaan di sini? Maksud gue, apa sebelumnya lo udah punya pengalaman kerja atau perdana? Soalnya, kebanyakan di sini harus udah ada pengalaman gitu untuk syarat lamaran kerja di mana pun tempatnya. Nah gue tanya, lo sendiri gimana? Udah punya pengalaman apa nih dalam bidang pekerjaan?" tanya Anton mencari tahu. Namun rupanya, Alvin malah jadi garuk-garuk kepala karena sejujurnya, ia tidak punya pengalaman apapun mengingat ia yang memang baru lulus sekolah beberapa waktu yang lalu.
"Aduh, Ton. Ini masalahnya. Gue bahkan belum ada pengalaman kerja apapun sewaktu di kampung. Jangankan kerja banting tulang, nyuci piring aja jarang. Semua yang ngerjain kerjaan rumah Ambu, terus yang kerja cari nafkah ya Abah. Gue tugasnya cuma belajar doang waktu itu. Makanya, boro-boro ada pengalaman kerja, ikut nyangkul di sawah aja gue gak pernah," ungkap Alvin meringis kaku. Membuat Anton lantas menatapnya datar di sela dirinya yang kemudian menghela napas panjang.
"Buset deh. Udah kayak anak gedongan aja lo gak pernah nyoba kerja apapun. Ya terus gimana dong? Lo mau kerja apa di kota segede ini kalo lo aja gak pernah punya pengalaman secuil pun. Kecuali, lo mau jadi gigolo, mungkin gue bisa tawarin ke tante-tante girang yang biasa mangkal di diskotek," celetuk Anton mengejutkan. Dalam sekejap, Alvin pun memelotot horor selepas mendengar perkataan Anton yang superduper mengerikan tersebut.
"Gigolo? Maksud lo, cowok-cowok muda yang harus ngelayanin tante-tante gitu?" pekik Alvin memastikan. Lalu selanjutnya, ia pun menelan ludahnya kasar seiring dengan anggukan yang Anton berikan.
"Iya. Itu lo tau! Dan biasanya, kalo lo berhasil puasin satu tante dalam semalem, itu duitnya bisa nebelin kantong celana lo, Vin! Selain dapet duit, lo juga dapet kenikmatan loh! Ya walaupun harus sama tante-tante yang mukanya pasti kurang enak dipandang juga sih kalo pas hadap-hadapan. Tapi ya better lah, maksud gue, untuk seukuran lo yang gak punya pengalaman kerja apapun, gue rasa lo cocok dan bakal kewajahan tuh kalo jadi berondongnya tante girang!" tutur Anton terkekeh. Namun dengan cepat, hal itu pun spontan ditampik oleh Alvin.
"Amit-amit, Ton! Boro-boro jadi berondong tante girang, gituan aja gue belum pernah," ungkap Alvin berterus terang. Sampai di detik berikutnya, Anton yang semula sedang rebahan santai pun harus terlonjak kaget di kala ia mendengarkan pengakuan Alvin mengenai dirinya yang ternyata belum pernah keluar masuk lobang.
"Seriusan, Vin?" pekik Anton membelalak.
"Apanya?" tatap Alvin agak lemot.
"Ya itu. Sampe sekarang lo bahkan masih perjaka?" ujar Anton memastikan. Yang dengan cepat dan polosnya, diangguki oleh Alvin tanpa ditutup-tutupi.
"Anjir, Vin! Lo ngumpet di goa mana sih? Yakali hari gini masih perjaka. Lo tau gak? Salah satu penghuni di kosan sini kan ada tuh ya yang masih anak sekolahan, anak ingusan 17 tahun aja dia udah gonta-ganti pasangan. Nah elo? Aduh, Vin, Vin... Pantesan aja si Tita selingkuh bahkan sampe kegep lagi gituan sama temen lo sendiri, orang lo nya polos gini! Iyalah, si Tita pasti milih temen lo itu dibanding elo yang gak bisa muasin dia. Dan gue yakin, si Tita jauh lebih kekinian dibanding lo yang polosnya kebangetan," cerocos Anton tak habis pikir.
Mendengar itu, tentu Alvin pun hanya tercenung dan membisu. Apa yang dikatakan Anton sangatlah menohok hatinya. Selama ini, Alvin memang belum pernah melakukan hal semacam itu. Tapi memangnya kenapa? Alvin kan selama ini pesantren, masa iya di pesantren dia ada aktivitas begituan. Mustahil lah! Dan sekeluarnya ia dari pesantren, belum tentu juga Alvin jadi belok. Maksudnya, mana mungkin Alvin berani melakukan hal tersebut, yang ada, nanti Alvin malah dicap jadi pemuda rusak lagi sama orang sekampung. Terlebih oleh abah dan ambunya, mereka pasti akan kecewa apabila Alvin sampai berani melakukan hal di luar batasan sejenis itu.
"Ya gimana, Ton. Gue kan bukan kalangan anak bebas pergaulan semacam lo yang tinggal jauh dari rumah. Ya maksudnya, mana bisa gue ngelakuin hal semacam itu sementara gue aja gak berani nyakitin orangtua gue yang selama ini susah payah nyekolahin gue. Jadi ya maklum lah, gue kan--"
"Ya, ya, ya, gue ngerti. Tapi di sini, lo harus maklumin juga. Kadang, banyak hal yang terjadi yang bahkan gak terduga sama sekali. Lo mesti kuat mental, atau lo bakal kebawa arus lambat laun nanti. Ya pandai-pandai aja lo nahan diri, terutama syahwat, di sini kita ngekos campur-campur. Ada cowok sama cewek. Kadang bisa papasan di lorong atau bahkan bisa juga ketemuan di WC umum. Malah ni ya, gue pernah pergokin ada sesama penghuni kos yang lagi gituan di dalam WC. Lo tau gak? Mereka seakan-akan udah ahli gitu. Main cepat dan pas keluar dari WC, seolah-olah mereka keliatan biasa aja. Gak ada tuh raut-raut cemas karena takut ketauan. Makanya, gue kasih tau aja dari sekarang, kalo lo mau tinggal di sini bareng gue, ya mohon maaf aja... Lo harus siapin mental lo bener-bener, Vin. Atau kayak yang gue bilang tadi, bisa jadi lo malah kena imbasnya," urai Anton menggedikan bahu.
Alvin tidak tahu, apakah ia akan bisa menjaga dirinya ketika nanti ia mulai menjalani kesehariannya di gedung kos ini. Mendengar dari informasi yang Anton berikan, kok, mendadak Alvin jadi merinding disko. Apa mungkin jika nanti ia sendiri malah terbawa arus pergaulan yang bebas juga?
"Ya udah, sekarang udah malem, mending tidur aja lah yok! Gue juga ngantuk, besok ada kerjaan yang harus gue urus. Gue harap, lo bisa nyenyak tidur di kamar pas-pasan ini. Maklum, namanya juga kamar kos. Ya gak akan senyaman kamar sendiri di rumah sendiri. Tapi apapun itu, gue harap sih lo betah ya hidup bareng gue di perantauan," ujar Anton lalu menguap. Kemudian, ia pun bersiap membenahi kasur yang akan ia tempati untuk tidurnya. Sementara itu, Alvin hanya mengangguk sekilas dan membiarkan Anton tidur duluan selagi dirinya yang ingin merenungkan nasibnya kelak terlebih dahulu.
***
Keesokan harinya, Alvin harus terbangun gara-gara mendengar suara berisik yang membelai telinganya. Padahal, ia baru bisa tidur menjelang subuh tadi, tapi tanpa bisa dicegah, matanya harus terbuka secara serempak bersamaan dengan ia yang mendapati Anton yang sedang sibuk mondar-mandir di sekitar kamar tersebut.
Mula-mula, Alvin pun hanya menguap. Lalu setelah sempat mengucek matanya yang beler, ia lantas memutuskan untuk beranjak dari pembaringannya.
"Aduh, di mana sih gue naro ikat pinggangnya? Gini nih, kalo udah lupa pasti susah ingat. Kelamaan gak nganu ni otak jadi susah banget diajak kompromi. Gara-gara si Dea nih, gue jadi harus puasa mulu meski gue kepengin," gerutu pria itu di tengah kegiatannya berjalan ke sana kemari seolah sedang mencari sesuatu yang harus segera ia temukan.
"Nyari apaan sih, Ton? Pagi-pagi udah rusuh aja lo. Gue lagi tidur pun jadi kebangun gara-gara denger lo gedebak gedebuk ke sana kemari," lontar Alvin memprotes. Namun tak berminat beranjak lebih lanjut selain hanya duduk bersila di atas kasur tipis yang dihuninya.
"Gue nyari ikat pinggang. Gak tau di mana gue nyimpennya terakhir kali. Udah lama juga rasanya gue gak pake ikat pinggang. Alhasil, pas mau make, gue malah kesulitan buat nemuin tu benda," sahut Anton mendecak seiring dengan kepalanya yang celingukan ke sana kemari.
"Ya elah, Ton. Kirain nyari berlian. Ya udah sih, pake aja tuh ikat pinggang gue! Sewajib itu apa lo harus pake ikat pinggang? Celana lo kebesaran?"
"Bukan lah! Bukan perkara celana kebesaran. Tapi pagi ini gue ada pertemuan mendadak sama orang-orang penting. Maklum, kerjaan gue kan borongan sana sini, urusannya sama orang proyek semua rata-rata. Dan pagi ini, gue ada pertemuan sama kepala proyek yang bakal kerja sama bareng gue. Makanya, gue mau keliatan rapi aja gitu, biar gak dikira urakan," terang Anton terkekeh.
"Hebat juga lo! Ya udah, pake aja dulu punya gue. Lagian, gue juga gak akan make dulu tu ikat pinggang. Daripada lo nyari ke mana-mana gak keruan, tapi tetep aja gak ketemu...." delik Alvin mendengkus sesaat.
"Bener nih gue boleh pake ikat pinggang lo?" tanya Anton menatap ke arah Alvin.
"Ya pake aja! Cuma ikat pinggang doang kan? Udah kayak apaan aja," sahut Alvin mengibaskan sebelah tangannya santai.
"Sip deh! Sekalian doain gue ya, Vin. Semoga gue bisa dapet uang muka dari kepala proyeknya. Lumayan, bisa buat perpanjang bayar kos sama jajan lah entar...." ucap Anton terkekeh.
"Aamiin. Ya udah, kelar kan urusan ikat pinggang? Gue mau tidur lagi nih. Masih ngantuk. Menjelang subuh baru bisa tidur gue. Eh lagi nyenyak-nyenyaknya malah kebangun gara-gara lo berisik!" ungkap Alvin mendengkus.
Mendengar itu, Anton pun lantas tercengir lebar. "Ya maaf, Vin. Mana gue tau kalo menjelang subuh lo baru bisa tidur. Tapi wajar sih, dulu pun pertama kali gue tiba di perantauan, gue malah gak bisa tidur sama sekali. Lo mah mending masih bisa tidur meskipun menjelang subuh, lah gue? Bablas semalaman gak bisa tidur!" seloroh Anton menceritakan sedikit pengalamannya.
Namun boro-boro Alvin mau menyahut, yang ada, dia malah sudah berguling lagi meringkuk di kasur dan mulai memejamkan kedua matanya berniat melanjutkan tidurnya kembali yang sempat terjeda oleh kebisingan yang diciptakan temannya tadi.