4. Niat Ingin Membuktikan

1636 Kata
Tiga hari mengenal setiap sudut ibu kota rasanya sudah lebih dari cukup bagi Alvin. Ya, setelah memutuskan untuk hidup di perantauan dan jauh lagi dari orangtua, kini Alvin merasa siap menjalani hari-harinya. Anton yang sangat dipercaya oleh Alvin pun telah mengenalkan Alvin pada sejumlah teman sepermainannya yang berada di setiap sudut daerah di seantero ibu kota. Bukan hanya dikenalkan dengan teman-temannya yang memiliki karakter berbeda-beda, tapi Alvin pun dikenalkan juga dengan sejumlah tempat yang sering Anton kunjungi demi melepas penat pasca menuntaskan segala pekerjaannya. Alvin bahkan langsung bisa berbaur meskipun ia hanya baru tiga hari mengenal semuanya. Tidak sulit memang bagi Alvin menyesuaikan diri. Sebab, Alvin bukan orang yang tertutup dan susah diajak bergaul. Walaupun ia berasal dari pelosok desa, tapi Alvin sangat berpotensi untuk hidup di kota sebesar ini. Dan ketika jarum jam sudah menunjuk ke angka pukul 8 pagi, hari ini pun Anton kembali membangunkan Alvin seperti di hari-hari sebelumnya. Bedanya, jika tiga hari sebelumnya Anton membangunkan Alvin di jam yang tak menentu, justru pagi ini ia pun wajib membuat Alvin terbangun sebelum jam 9 pagi dilaluinya. Cukup sudah penjelajahannya. Kini sudah saatnya Anton mengajak Alvin untuk bertemu dengan seseorang yang bisa mempekerjakan Alvin di tempatnya. "Vin, woy! Bangun! Mau sampe kapan lo mendengkur kayak gitu. Gak butuh duit banyak lo? Inget sama mantan lo yang doyan cowok bergelimang harta. Apa lo masih mau diinjak-injak harga diri lo sama cewek sejenis itu!" Sekiranya, seperti itulah cara Anton membangunkan Alvin di pagi ini. Hingga tanpa membutuhkan waktu yang lama, cowok yang semula sedang meringkuk di dalam balutan selimut itu pun seketika menggeliat dan sedikit mengeluarkan erangan dari mulutnya. "Jam berapa ini?" tanya Alvin sebelum benar-benar membuka kedua matanya. Melirik ke arah jam dinding, Anton pun menyahut, "Delapan teng!" Dalam sekejap, Alvin pun segera menarik diri dari posisi nyamannya. Sejenak, ia pun mengucek kedua matanya di tengah mulutnya yang menguap lebar. "Tutup atuh euy! Bau naga hih," ejek Anton bergidik. Sementara itu, Alvin pun hanya cengengesan gak jelas sembari mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V. "Sori, disengaja. Hehehe." Sambil terkekeh, cowok itu pun lantas beranjak cepat dari atas kasurnya. Membuat Anton hanya menggelengkan kepalanya di tengah lidahnya yang berdecak-decak. "Buruan mandi! Atau kita bakalan terlambat buat ketemu sama calon bos lo nanti!" seru Anton memberitahu. Kemudian, Alvin pun lekas mengangguk dan langsung bergegas menuju ke kamar mandi umum setelah menyambar handuk yang tergantung di paku. "Selagi gue mandi, tolong seduhin s**u ya!" pinta Alvin nyengir lebar. Seketika, menyebabkan Anton mendengkus kesal tapi ujung-ujungnya ia bersedia juga untuk menyeduhkan segelas s**u yang diminta pemuda tersebut. Sementara Alvin yang sudah bergegas ke luar, Anton pun mulai menyeduhkan s**u kental manis untuk si Alvin yang ternyata masih doyan nyusu. Mulanya, Anton sempat menertawakan Alvin ketika cowok itu meminta diseduhkan segelas s**u saja dibandingkan kopi. Anton pun tak sungkan mengejek karena minuman yang Alvin pilih mirip sekali dengan minuman kesukaan dari adiknya yang masih duduk di bangku SD. Ya, bagi Anton Alvin itu seperti adiknya. Sifatnya yang terkadang masih lugu dan suka sesuatu bak anak kecil membuat Anton merasa bahwa dirinya harus memberikan sedikit pelajaran yang harus Alvin pahami. Usianya memang masih di garis dua puluhan, tapi jika ingin merantau di ibu kota demi mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan banyak uang, Alvin tidak bisa terus menjadi dirinya yang sekarang. Setidaknya, Anton harus sedikit mengubah kebiasaan Alvin yang suka minum s**u. Meskipun Alvin tidak suka kopi, tapi paling tidak ia harus mulai meninggalkan kebiasaannya yang suka nyusu di gelas menjadi nyusu di tempat lain. Mengingat hal seperti itu, mendadak Anton pun jadi rindu pada Linda. Sosok wanita bertubuh sintal, yang sudah cukup lama tak dijumpainya di tempat kerjanya tersebut. Ah ya, Anton pun mempunyai ide. Minggu depan, ketika Alvin sudah mendapatkan gaji mingguannya, Anton akan meminta traktir pada anak itu sekaligus mengenalkan Alvin juga kepada Linda. Dengan begitu, Anton pun akan sedikit membuat Alvin perlahan-lahan melangkah keluar dari zona nyamannya. *** Alvin sudah selesai mandi. Rambutnya bahkan masih basah karena pagi ini ia baru dikeramas lagi setelah dua hari kemarin memilih untuk tidak berkeramas. Alvin memang begitu, ia hanya akan membersihkan rambutnya dalam jangka waktu tiga hari cukup sekali. Entahlah alasannya apa, yang jelas, Alvin tidak akan mengubah kebiasaannya meskipun ia sudah memutuskan untuk menjalani kehidupannya di kota perantauan. Meninggalkan soal sedikit kebiasaan Alvin tentang berkeramas, kini cowok itu pun bersiap melangkah menuju ke luar kamar mandi. Tapi sebelum ia menyentuh daun pintunya, dari arah luar seseorang sudah mengetuk pintu tersebut sebanyak tiga kali. "Duh, siapa ya di dalam? Buruan dong! Udah di ujung nih," seru sebuah suara. Setelah didengar-dengar, Alvin tahu betul jika suara itu merupakan suara seorang perempuan. Lalu seakan tidak ingin membuat si pengetuk itu menunggu terlalu lama, Alvin pun segera mendorong pintu tersebut hingga kini tercipta celah yang diserobot langsung oleh si pengetuk barusan. Kemudian, sesuatu telah Alvin lihat tanpa sengaja. Seakan tidak memiliki rasa malu, perempuan itu lantas menaikkan rok yang dipakainya dan mulai berjongkok demi mengeluarkan sejumlah cairan yang sudah mendesak minta dibuang dari dalam kantung kemihnya. Melihat pemandangan itu, Alvin pun segera menutup matanya sambil merapalkan sebuah doa. Seolah ia tidak mau berkelanjutan melihat apa yang sudah sempat dilihatnya dalam ketidaksengajaan, Alvin pun buru-buru ngacir meninggalkan kamar mandi umum tersebut. Sementara itu, si perempuan yang tak punya malu itu pun malah terlihat biasa-biasa saja walaupun sesaat lalu b****g mulusnya telah dilihat oleh si cowok yang baru saja lari kocar-kacir tersebut. Dalam ayunan langkahnya, Alvin terus saja merapalkan doa yang ia ketahui mampu menjadi mantra ampuh untuk menghindarkannya dari marabahaya dan fitnah perempuan. Hingga saat dirinya tiba di kamar Anton, barulah ia menghela napas lega yang seketika membuat Anton menolehkan pandangannya sekaligus menatap Alvin dengan sorot herannya. "Kenapa lo?" tanya Anton dengan sebelah alis yang dinaikkan. Sigap, Alvin pun beringsut mendekat ke arah Anton seraya berkata, "Cewek di sini pada gak punya urat malu emang ya?" Untuk sesaat, Anton pun hanya memandang Alvin dengan kerutan bingung di dahinya. Sadar akan kebingungan di wajah Anton, kemudian Alvin pun menceritakan peristiwa singkat yang sempat dialaminya. Tentang seorang perempuan yang menerobos masuk di detik pertama Alvin membuka pintu kamar mandi, sampai ke bagian di mana si perempuan itu mulai menaikkan rok dan menurunkan celana dalamnya yang kemudian segera berjongkok. Alvin pun berterus terang bahwa dia sempat melihat b****g mulus si perempuan meski tak berlangsung lama. Lalu selepas mendengar cerita yang Alvin lontarkan, mendadak Anton pun tertawa membahana hingga tubuhnya sampai terjengkang ke atas kasur saking kencangnya ia tertawa. Tentu saja Alvin merasa aneh juga kesal. Bukannya memberi respon atas ceritanya, Anton justru malah tertawa seakan-akan dia baru saja mendengarkan lawakan yang supermenggelikan. "Kunaon sih, kalakah nyengseurikeun? Emangna urang ges ngalawak sampe ka maneh seuseurian sorangan jiga nu gelo. Ebel siah! Kaduhung nyarita ka maneh. Apal kieu mah mening genggem we ku sorangan. Pikasebeleun!" gerutu Alvin yang kembali mengeluarkan bahasa daerahnya. Artinya, 'Kenapa sih, malah ngetawain? Emangnya gue udah ngelawak sampe lo ketawa sendiri kayak orang gila. Dasar gendeng! Kapok deh cerita sama lo. Tau gini mending pendem aja sama sendiri. Menyebalkan!' Lalu setelah itu, Alvin pun kembali berdiri dan mulai menyambar kemejanya ya g tergantung guna dikenakannya. Walau Anton masih belum juga berhenti tertawa, tapi Alvin berusaha untuk mengabaikan tawa menyebalkannya itu. Entah kenapa, sepertinya ada yang salah di indekos ini. Buktinya, perempuan tadi saja membuat Alvin tak habis pikir. Lagipula, kenapa dia main asal terobos saja? Apa bahkan dia tidak bisa menunggu barang sebentar saja sampai Alvin benar-benar ke luar dari sana. Bukan malah langsung menurunkan celana dalam dan berjongkok di sana tanpa adanya rasa malu sama sekali. Astaga! Alvin mendecak kesal. Kenapa pula bayangan si perempuan tadi terus berkelebatan di dalam pikirannya. Membuat Alvin merasa berdosa karena tanpa sadar dia sudah menggunakan indra penglihatannya untuk melihat hal yang terlarang. Walaupun konteksnya tidak sengaja, tapi tetap saja, Alvin merasa malu karena sudah sempat melihat bagian b****g perempuan itu yang semestinya tidak Alvin lihat. Untuk itu, tercetuslah sebuah ide di kepala Alvin. Sebelum berangkat ke tempat kerja yang Anton katakan, Alvin pun akan menemui si perempuan tadi terlebih dahulu guna meminta maaf kepadanya. Paling tidak, Alvin tidak akan terus membayangkan hal tersebut jika dirinya sudah meminta maaf pada si perempuan. Sebab, Alvin paling tidak bisa melihat sesuatu yang sudah jelas ada larangannya. Malah, ketika Alvin melihat Tita yang sedang telanjang bulat bersama si Sarip pun, Alvin langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Beruntung Alvin tidak sempat melihat keseluruhan yang ada pada Tita. Mengingat dulu posisinya Tita cukup terhalang oleh Sarip, maka Alvin tidak sempat melihat banyak bagian tubuh Tita. Dan kemudian, pada saat Alvin teringat akan Tita yang sudah terang-terangan mengkhianatinya. Dalam sekejap, suasana hati Alvin pun kembali memburuk. Hanya karena pengkhianatan yang telah Tita berikan kepadanya, kini Alvin pun harus berupaya keras untuk mendapatkan banyak uang demi membalaskan dendamnya nanti. Ya, Alvin mempunyai keinginan untuk membalas perlakuan Tita yang sudah mencampakkannya demi Sarip yang lebih memiliki segalanya. Maka, itulah alasan Alvin memutuskan untuk tinggal di perantauan saja. Daripada ia harus tetap tinggal di desa dan terus terbayang-bayang oleh pengkhianatan mantab kekasihnya itu, akan lebih baik jika Alvin berkelana saja jauh dari kampung halamannya. Selain dari ia yang ingin menghindari Tita, Alvin pun bertekad untuk mengumpulkan banyak uang dan tentu akan memamerkannya pula kepada Tita ketika ia pulang ke desanya nanti. Ya, Alvin pikir mungkin yang diinginkan oleh Tita adalah harta yang bergelimang. Itulah sebabnya dia sampai tega dan berani berselingkuh dengan Sarip yang jelas-jelas kekayaannya sangat terpampang dan apalah daya Alvin yang hanya orang tak punya. "Lihat saja, Tita! Aku datang ke sini diiringi dengan kemauan. Lalu aku akan kembali setelah aku mendapatkan banyak uang untuk membuktikan sama kamu bahwa aku juga akan bisa mendapatkan harta yang lebih banyak daripada si Sarip. Ayo kita saling menunjukkan! Rasa sakitku gak akan hilang selama aku belum melihat kamu bertekuk lutut di kakiku!" desisnya penuh tekad. Matanya bahkan berkilatan penuh dendam yang seakan sulit untuk dilenyapkan dalam sekali kedipan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN