5. Berusaha Mencari Pekerjaan

1395 Kata
"Jadi, ini pemuda bernama Alvin yang pernah kamu ceritakan tempo hari?" Mengangguk, Anton lantas menjawab. "Iya, Madam. Ini Alvin yang pernah saya ceritakan sama Madam. Bagaimana? Menurut Madam, Alvin good looking kan? Saya rasa, Alvin memenuhi salah satu kriteria yang Madam cari," tukas cowok itu terkekeh pelan. Seperti yang Anton janjikan, hari ini ia memang benar-benar mengajak Alvin menemui calon atasannya tepat di lokasi yang akan dipakai untuk tempatnya mencari uang. Dan kebetulan, wanita yang mengelola tempat tersebut pun sedang ada di lokasi. Dengan begitu, Anton pun tidak perlu mendatangi rumahnya kalau-kalau wanita itu sedang tidak ada di tempat kerjanya di waktu yang masih siang seperti ini. Hingga beberapa saat yang lalu, Anton pun sudah sempat bertukar kalimat di tengah perbincangannya dengan si pemilik tempat kerja tersebut. Mendecak, wanita bertubuh sintal itu pun lantas mengamati penampilan Alvin dari bawah hingga atas. Menurut penilaian sekilasnya, pemuda itu memang memiliki kriteria yang diinginkan. Selain wajah yang harus tampan dan enak dipandang, si pelamar kerja pun harus memiliki tubuh jangkung dan berisi. Tentu Alvin mempunyai keduanya. Namun meskipun begitu, tetap saja pemuda itu masih kelihatan sisi keluguannya. Membuat Julia merasa ragu hingga dia harus terus meneliti penampilannya sebelum nanti dirinya mengambil keputusan. Sementara itu, Alvin sendiri justru malah sedang fokus memperhatikan keadaan sekitar yang baru kali ini dilihatnya. Jujur saja, di desanya bahkan tidak ada tempat sebagus itu. Mentok-mentok, hanya warung kopi milik Mang Hadi saja yang lumayan memiliki ciri unik tersendiri. Tapi tetap saja, dibandingkan dengan tempat yang sekarang dipijaknya, warung kopi Mang Hadi sudah tentu tidak ada apa-apanya. Lalu, setelah cukup puas mengamati dari berbagai sisi, Julia pun akhirnya kembali bersuara. "Untuk penampilan sih oke, tapi saya gak tahu dia bisa masuk kriteria saya yang kedua apa enggak. Kamu gak lupa kan soal pengalaman yang harus dikuasai kalo orang itu mau kerja di tempat saya. Kalo cuma modal good looking doang, itu sih kurang! Keahlian juga harus punya dong!" tutur si wanita bersidekap. Sejenak, Anton pun menyikut lengan Alvin hingga pemuda itu menoleh. "Apa?" lontar Alvin berbisik. Dia memandang Anton dengan sorot penuh tanyanya. Membuat Anton berdecak, dan rasanya ia ingin sekali menjitak kepala Alvin sampai menimbulkan sebuah benjolan. "Buruan kenalin diri! Malah bengong aja kayak orang bloon. Ini di depan kamu ada ibu bos, buruan jabat tangan!" ujar Anton mengomando. Agak gemas juga karena melihat Alvin yang hanya sibuk melongo saat ditanyai oleh calon bosnya tersebut. Seketika, perhatian Alvin pun teralihkan kepada wanita paruh baya di hadapannya. Untuk sesaat, Alvin sempat tercenung kala mendapati gaya berpakaiannya yang terbilang seksi dan mencetak tubuh. Tidak sampai di situ, bahkan riasan wajahnya pun sangat menor dan jika Alvin perhatikan, riasan seberlebihan itu seperti Alvin temukan pada wajah seorang biduan yang akan menyanyi di acara hajatan pernikahan. Tapi kemudian, setelah puas menyamakan penampilan wanita di hadapannya berikut biduan yang ada di desanya, ia pun lekas mengangguk santun sembari tersenyum dan mulai mengulurkan tangan. "Kenalin, Bu. Nama saya Alvin. Lengkapnya Alvin Sanusi. Baru datang dari desa yang ingin merantau di kota sebesar ini," ucapnya memperkenalkan diri. Membuat wanita di hadapannya sedikit tertegun, lantas terus menatap dalam hingga membuat Alvin mendadak salah tingkah. Dalam beberapa saat, Alvin merasa risih ketika dirinya terus ditatap sebegitunya oleh wanita paruh baya di hadapannya. Pasalnya, baru kali ini ia mendapat tatapan seintens itu. Terakhir kali Alvin ditatap hanya dilakukan oleh salah satu gurunya di sekolah. Itu pun bukan jenis tatapan seperti ini. Melainkan hanya tatapan bangga yang ia sorotkan saat Alvin meraih nilai paling tinggi dari seluruh murid didik satu angkatan dengannya. Tapi kini, Alvin justru malah mendapatkan tatapan yang berbeda. Membuat Alvin merasa gelisah. Bahkan, ia pun tidak jarang melirikkan pandangannya ke arah Anton yang justru hanya diberi kode agar Alvin tidak banyak bertingkah. Anton tahu, Alvin sedang tidak enak diam akibat dipandang intens oleh Madam Julia. Tapi, itulah resikonya jika Alvin sendiri sedang dinilai dari segi penampilan oleh wanita itu. "Jadi, kamu berminat buat kerja di tempat saya?" lontar Julia menaikkan sebelah alisnya. Kontan, Alvin pun lekas mengangguk di tengah senyumannya yang samar. "I-iya, Bu. Itu pun kalau saya memang diterima untuk kerja di sini. Tapi, jujur saja ... Saya masih belum punya pengalaman apapun dalam berbagai bidang. Maklum, saya kan baru datang dari desa. Dan selama di desa, saya juga sibuk sekolah. Belum tahu dunia kerja seperti apa," cetus cowok itu menjelaskan. Bagi Alvin, lebih baik berkata jujur apa adanya dibanding menyembunyikan fakta tapi hanya akan berujung sebuah petaka. Ya, tidak masalah jika dirinya dianggap terlalu jujur. Yang jelas, Alvin tidak ingin memulai sesuatu dengan secuil kebohongan. "Kamu sudah tahu jenis pekerjaan di tempat saya ini seperti apa?" lontar Julia bertanya lagi. Refleks, Alvin pun melirik ke arah Anton. "Gue harus jawab apa?" bisik Alvin kebingungan. Jujur saja, ia bahkan sangat awam dengan tempat di mana ia berada sekarang. Maka, boro-boro dirinya tahu jenis pekerjaan apa yang akan ia lakoni, tempatnya saja baru pertama kali ini ia datangi, kok. Menggedikkan bahu, Anton pun tak mau memberitahu. Lalu di sela itu, Julia pun berdeham. Menyebabkan Alvin terkesiap, dan dengan cepat ia pun menolehkan lagi pandangannya ke arah si wanita. "Saya sedang berbicara dengan kamu! Tapi kenapa kamu malah sibuk bisik-bisik sama teman kamu itu. Memangnya, yang mau merekrut kamu untuk kerja di sini itu teman kamu? Atau saya, hem?" tutur Julia mengomeli. Secepat kilat, Alvin pun meringis kaku menunjukkan wajah serba salahnya. "Ya sudah begini saja. Saya akan memberikan masa percobaan untuk kamu selama satu minggu. Jika kinerja kamu jelek, maka saya tidak akan memberikanmu tempat di bar saya ini. Tapi seandainya cara kerjamu bagus bahkan bisa menarik perhatian saya, maka tanpa pikir panjang saya akan menetapkan kamu menjadi karyawan tetap di bar ini. Bagaimana? Kamu setuju?" urai Julia mengutarakan kesepakatan. Dengan sigap, Alvin pun menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ia sangat setuju dengan kesepakatan yang dibuat Julia. Maka setelah keduanya sama-sama setuju, Julia pun mengulurkan tangan kanannya ke arah Alvin. "Mulai nanti malam, saya tunggu kamu di bar ini. Waktu buka pukul 9 malam, tapi satu jam sebelum itu kamu sudah harus ada di sini untuk bersiap-siap. Dan satu hal lagi, jangan panggil saya ibu! Karena saya bukanlah ibu kamu. Seperti teman kamu yang sudah mengenal saya dengan baik, kamu bisa memanggil saya dengan sebutan Madam. Ya, panggil saya Madam Julia. Mengerti?" tandas wanita itu tegas. Spontan, Alvin pun hanya perlu mengangguk lagi di sela tangannya yang mulai bersalaman dengan tangan Julia yang semula terulur di hadapannya. *** Setelah meninggalkan bar milik Julia, kini Anton pun mengajak Alvin untuk mampir ke kedai langganannya. Berhubung tidak lama lagi waktu makan siang telah tiba, maka mereka perlu mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum pulang ke indekos. Dan selagi menunggu pesanan diantarkan, Anton pun menepuk bahu Alvin seraya berkata, "Gue harap lo bakal bisa kerja di bar Madam Julia. Setau gue, di sana banyak tip yang bisa lo dapet, Vin. Coba deh nanti malem! Gue yakin, lo pasti bakal betah kerja di sana." Mendengar soal tip yang Anton sebutkan, Alvin lantas menoleh dan bertanya, "Tip apaan? Gue gak ngerti deh maksud dari omongan lo barusan. Lagipula, gue juga belum tau nanti gue kerja apaan di sana. Kira-kira, gue bakal bisa apa enggak ya?" Cowok itu mendecak sembari menggaruk kepalanya. "Kerjaannya sih gampang. Dulu juga gue pernah nongkrong di sana. Lo cuma tinggal melayani para tamu yang minta disediakan minuman aja. Gak susah kok! Cuman, menurut gue sih lo harus sedikit tahan syahwat juga. Soalnya, di sana banyak pemandangan terbuka yang bisa-bisa bikin lo kelojotan setelah ngeliatnya!" ujar Anton terkekeh. Seketika, Alvin pun mengernyitkan dahinya menatap tak paham. "Maksud dari pemandangan terbuka apaan? Kok rasanya ambigu banget di pendengaran gue." "Halah! Nanti juga lo paham sendiri. Yang jelas, lo mesti tahan diri buat gak ngumpat. Soalnya sepengalaman gue, di barnya Madam Julia, selalu banyak pemandangan yang bikin manusia polos sejenis lo harus sering nyebut dan usap muka. Tapi itu permulaan aja! Ke depannya juga lo bakalan terbiasa kok," cetus Anton begitu yakin. Akan tetapi, Alvin sendiri justru malah masih tidak mudeng dengan perkataan yang Anton utarakan sejak tadi. Hingga ketika pesanan sudah tiba di meja, Alvin pun lebih memilih mulai menyantap pesanannya ketimbang memikirkan kalimat ambigu yang sudah Anton katakan berulang kali. Tidak peduli dengan sejumlah ucapan aneh yang temannya itu katakan, yang penting sekarang Alvin perlu mengisi perut keroncongannya terlebih dahulu. Dengan begitu, setelah perutnya terisi penuh hingga mengenyangkan, mungkin ia bisa kembali berpikir dengan isi kepala yang jernih ketika suatu saat Anton mengucapkan kalimat ambigunya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN