"Baiklah, akan kuberi kau waktu untuk berpikir. Jika berkenan, maka hubungi saja nomor yang tertera di kartu ini. Aku akan menunggumu, Tampan. Kapan pun kau siap, kutunggu kau sampai menghubungiku," tukas Laila menyodorkan secarik kartu nama ke hadapan Alvin. Lalu setelah memastikan bahwa pemuda itu tidak sampai jatuh pingsan di tengah tubuhnya yang ambruk, Laila pun mulai melenggang gemulai meninggalkan si pemuda. Membiarkan Alvin agar ia memikirkan terlebih dahulu akan keputusannya.
Pemuda itu menghela napas. Sesekali, ia pun mengacak rambutnya di sela langkahnya yang ia ayunkan. Ya, sudah beberapa menit berlalu dari sejak ia ditinggal pergi oleh wanita tua yang seksi itu. Sungguh! Alvin tidak bisa berpikir jernih. Di satu sisi, ia sangat membutuhkan uang dan tempat tinggal--agar setidaknya, Alvin tidak menumpang terlalu lama di indekos yang Anton huni--. Tapi di sisi lain, Alvin pun tidak mungkin menerima tawaran gila yang tante-tante itu berikan. Apa yang akan orang-orang di desanya pikirkan jika mereka tahu Alvin menjadi berondong dari wanita tua seksi itu? Lalu, bagaimana reaksi kedua orangtuanya andai kata mereka tahu akan tabiat putranya di kota sebesar ini. Demi Tuhan! Alvin dilanda dilema. Ia merasa seperti sedang memakan buah simalakama. Maju kena, mundur pun pasti kena.
"'Harus gimana dong gue sekarang? Mana kerjaan gak punya, pas mau mulai kerja juga malah diusir yang punyanya. Ayolah, beri jalan keluarnya Ya Tuhan!'" keluh Alvin mendesah berat. Dia sungguh bingung harus mencari pekerjaan ke mana lagi mengingat di kali pertama dirinya bekerja saja ia malah sudah langsung didepak oleh pemilik tempat kerjanya.
Masih dinaungi oleh langit malam, Alvin terus melangkahkan kedua kakinya menelusuri jalanan yang lumayan sepi. Membuat ia lantas mendecak kesal karena pada kenyataannya, ia pun tidak bisa mendapatkan kendaraan apapun saja yang bisa ditumpanginya.
"Jalanan ke indekos si Anton masih jauh. Dari tadi pun gue gak nemu taksi atau ojek. Mau pesan ojol pun gue gak ada aplikasinya. Mirisnya, untuk mengunduh aplikasinya saja gue gak punya kota. Astaga, Tuhan! Semerana inikah hidup hamba?" erang Alvin meradang. Lalu ia mengepalkan tangannya kuat dan meninju udara tanpa pikir panjang.
Entah kenapa nasib sial harus menimpa Alvin seperti ini. Padahal, dulu ia sempat memiliki harapan bahwa dirinya akan meraih kesuksesan di masa yang akan datang. Tentunya bersama dengan Tita sang pujaan hati. Sayang, jauh sebelum Alvin meniti karirnya, Tita justru sudah lebih dulu meninggalkannya. Memilih Sarip yang lebih punya banyak harta dan mencampakkan Alvin yang begitu tersiksa pasca menyaksikan betapa kejamnya Tita dan Sarip di hari itu.
Lagi, Alvin merasa menjadi manusia paling malang tatkala ia mengingat kembali peristiwa itu. Peristiwa menjijikan yang dalam sekejap telah memporak-porandakan kehidupannya. Peristiwa buruk yang mengharuskan dirinya meninggalkan kampung halamannya demi meraih masa depan yang gemilang di kota besar ini. Tapi bahkan setibanya di ibu kota, alih-alih ia mendapat titik terang untuk meraih kesuksesan, yang ada Alvin malah kian dirundung dengan kemalangan.
Perhatian Alvin telah teralih kepada ponsel yang berdenting. Disertai helaan napas panjangnya, ia lantas merogoh benda itu yang bersemayam dari dalam saku celananya. Kemudian, ia pun lekas memeriksa perihal ada pemberitahuan apakah yang membuat ponselnya berdenting seperti barusan.
Mengingat kuotanya hanya tinggal seuprit, Alvin sigap membuka satu notifikasi yang ia dapat. Kemudian, ketika ia berhasil membukanya di sela jaringan yang sedikit buruk, tahu-tahu matanya pun harus membelalak setelah menemukan sebuah potret yang sangat menusuk hatinya.
Entah kemalangan apa lagi yang sekarang ia dapat. Sungguh! Rasanya Alvin ingin menenggelamkan dirinya saja ke sungai sss agar ditelan anakonda. Bagaimana bisa Tita dan Sarip hendak melangsungkan pertunangan? Apa bahkan mereka tidak pernah memikirkan sesakit apa Alvin ketika mengetahuinya. Dan sialnya! Seseorang dari pertemanan sosial media Alvin justru malah menandai nama akun sosmed-nya hingga kini Alvin harus tahu soal itu.
"Ya Tuhan! Kenapa hamba harus dipecundangi lagi seperti ini. Apakah tidak cukup sampai Tita dan Sarip selingkuh saja hamba mengetahuinya. Kenapa harus sampai diberitahu soal pertunangannya juga?" teriak Alvin seperti orang gila. Bersamaan dengan itu, sebuah tekad yang kuat pun telah muncul dari dalam dirinya.
"Lihat saja! Kalian sekarang nyakitin hati gue, nanti suatu saat gue yang akan membalas perlakuan jahat kalian berdua. Jarum jam gak akan muter ke kiri kan? Lihat aja! Gue abisin juga lo Sarip! Tita!'" desisnya mengucap dendam. Minimal, Alvin harus punya tekad yang kuat agar kelak dia bisa membuktikan pada mantan kekasih dan sahabatnya bahwa ia tak sehina serta tak selemah yang mereka pikir.
Lalu setelah itu, Alvin pun menekan 11 digit angka melalui ponselnya mendial rentetan nomor yang tertera di kartu nama yang ia dapatkan tadi.
***
Bak seorang majikan yang dikawal sopir pribadi, Alvin telah dipersilakan untuk keluar dari mobil sedan yang sedari tadi ditumpanginya. Pada akhirnya, ia pun menyerah dengan keadaan. Tidak peduli jika nanti dirinya dicap buruk oleh orang-orang desa bahkan orangtuanya ketika mereka tahu, yang jelas, Alvin hanya ingin mendapatkan banyak uang demi membalaskan dendamnya terhadap dua manusia yang sudah ia masukkan ke dalam daftar hitamnya.
Seperti tekadnya semula, Alvin ingin membuktikan pada Tita bahwa dia pun bisa memperlihatkan harta bendanya seperti yang Sarip lakukan selama ini. Bukankah miris jika seorang wanita menginginkan laki-laki hanya dilihat dari segi hartanya saja? Tapi hal itu memang sedang nge-trend tampaknya. Buktinya Tita, dia tega mencampakkan Alvin yang mempunyai cinta tulus hanya demi mendapatkan harta yang bergelimang dari seorang Sarip. Ironisnya, Tita bahkan rela menyerahkan kehormatannya bahkan di saat dirinya belum dipinang oleh lelaki itu.
"Mari, Tuan!" seru sang sopir mempersilakan. Menghela si pemuda agar mengikuti arah jalan yang akan ditunjukkannya.
Alvin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Matanya begitu terpukau melihat seisi ruangan yang didekorasi sedemikian rupanya. Wow! Alvin takjub dengan semua benda mahal nan antik yang kini tertata di sepanjang jalan yang ia lalui. Rasanya, Alvin seperti sedang berjalan di karpet merah saja. Mengikuti gerak langkah pak sopir yang entah kapan ia akan menghentikan ayunan langkahnya.
Alvin tidak berhenti berdecak kagum. Matanya berbinar tak keruan ketika ia disuguhi oleh pemandangan indah di ruangan yang kini telah dipijaknya. Lalu setibanya ia di titik pusat ruangan utama, sopir yang menuntunnya untuk masuk pun memberi komando supaya Alvin menunggu. Sementara itu, ia akan bergegas memasuki ruangan lainnya guna memanggil seseorang yang akan ditemui oleh Alvin.
Selagi menunggu pak sopir kembali, Alvin pun kembali mengamati seisi ruangan. Pernak pernik yang menghiasinya sangatlah menakjubkan. Alvin terka, untuk mendekorasi bagian luarnya saja pasti membutuhkan biaya yang fantastik. Apalagi saat mendekor bagian dalamnya? Wah! Alvin tidak bisa menghitung lagi saking banyaknya nominal uang yang mengelilingi kepalanya sekarang. Jika hendak dibandingkan, rumah megah ini bisa dikatakan seperti sebuah istana kerajaan dalam versi modern. Semua yang menghiasi ruangannya terkategori sangatlah mahal dan tak bisa dijangkau oleh uang recehan. Membayangkan seberapa banyaknya uang yang dikeluarkan demi membangun rumah rasa istana ini, Alvin rasanya ingin meninggoy. Ya, rumah sarip saja bahkan masih kalah. Jika di desanya rumah Sarip adalah ukuran jenis rumah yang paling besar, maka rumah megah milik wanita tua seksi ini bisa menjadi dua atau bahkan tiga kali lipat dari ukuran rumah besarnya si Sarip. Membuat Alvin semakin takjub, bersamaan dengan sopir tadi yang kembali muncul dan meminta Alvin untuk menemui majikannya secara pribadi.
"Maksudnya, saya disuruh langsung masuk ke dalam ruangan Bu Laila, Pak?"
"Tante Lila. Seperti itulah beliau ingin disebut," ralat pak sopir memberitahu. Seketika, menyebabkan Alvin meringis kaku di sela tangannya yang menggaruk-garuk bagian tengkuknya.
"Sudah! Lebih baik kamu penuhi saja keinginannya. Bukankah ini sudah menjadi pilihanmu? Kamu sendiri yang menghubungi Nyonya, maka kamu sendiri juga yang harus menuntaskan keputusanmu itu. Sudah sana! Jangan membuat Nyonya menunggu. Atau kau akan mendapat sedikit hukuman yang tak bisa kau bayangkan sebelumnya," tukas pak sopir itu setengah menakuti. Dalam sekejap, membuat Alvin lantas menelan ludahnya dengan susah payah dan sigap mengangguk serta mulai mengayunkan langkahnya.
Mendadak, jantungnya berdebar kencang tak keruan. Bukan sejenis orang yang hendak menemui pujaan hati setelah sekian lama tak berjumpa, melainkan debaran jantung ini seperti seseorang yang akan memasuki sarang buaya dan membuat dirinya sendiri sebagai santapan hewan berjenis predator yang sedang haus akan belaian.