9. Dihampiri Tante-Tante

1308 Kata
Pasca diusir oleh pemilik bar yang tak lain adalah Madam Julia, kini Alvin pun tampak terlunta-lunta di jalanan. Ia bisa saja langsung pulang ke indekosnya Anton, tapi dengan membawa kabar buruk seperti ini, rasanya Alvin harus berpikir dua kali. Ya, ia tidak mungkin pulang ke sana sambil mengatakan bahwa belum genap satu hari ia bekerja di bar milik Madam Julia, ia justru sudah diusir setelah sempat melakukan kesalahan yang tak disangkanya akan terjadi. Katakanlah hal tersebut bisa terjadi karena Fery telah memberinya minuman yang bahkan di sepanjang kehidupannya saja, Alvin tidak pernah meminumnya secuil pun. Tapi malam ini, dia justru malah tergoda oleh sesuatu yang malah menyesatkan dirinya. Alvin menghela napas. Menyeret langkahnya gontai di bawah langit tak berbintang. Alvin sadar, ini terjadi karena keteledorannya. Meskipun Fery yang memberi minuman itu, tapi seharusnya Alvin tolak saja daripada akhirnya setragis ini. Kontan, pemuda itu pun hanya bisa mendengkus gusar di sela tangannya yang mengacak rambutnya kasar. "Bodoh! Seharusnya gue gak tergiur sama tawaran si Fery. Tau bakalan jadi kacau kayak gini, mending tadi gue tolak aja tawarannya. Aarghtt! Mana Madam Juli kayak yang jijik gitu lihat gue. Terus, sekarang gue mesti ke mana atuh euy?" gerutunya di tengah langkah. Sesekali, ia pun menendang kerikil kecil yang berserakan di pinggir jalan. Embusan angin telah menerpa kulit lengannya yang tak tertutupi kain. Bergidik, Alvin pun berdecak. "Kenapa juga gue harus lupa gak pake jaket. Udah tau jam kerjanya malam, eh gue malah lupain hal yang bisa menghangatkan tubuh gue. Geus lah, sial aing siang!" umpatnya gemas sendiri. Lalu, ia pun menghentikan langkahnya sembari berkacak pinggang dan menengadahkan wajahnya menghadap langit malam. "Kieu-kieu teuing nasib urang teh euy. Geus mah diselingkuhan ku si Tita jeung si Sarap, terus merantau ka kota gede malah beuki ancur. Ieu lamun si Tita apal urang ketiban sial jiga kieu, meureun bakal mupuas urang si eta! Komo si Sarip mah euy. Ancur geus lah ancur!!!" racaunya berbahasa daerah dalam arti, 'Gini-gini amat sih nasib gue. Udah diselingkuhi sama si Tita dan si Sarap, terus merantau ke kota besar pun malah makin hancur. Ini kalo si Tita tau gue ketiban sial kayak gini, mungkin dia bakal nyukurin gue. Hancur dah hancur!!!' Setidaknya, seperti itulah maksud dari racauan Alvin barusan. Membuat ia yang terus menengadahkan wajahnya ke atas langit, lantas mengembuskan napasnya secara perlahan. "Terus sekarang gue mesti gimana? Cari kerjaan tanpa berpengalaman rasanya susah banget. Tau gini, mending gue gak nekat pergi ke ibu kota deh. Tapi kalo gak pergi, gue mau ngapain di sana? Dipecundangi sama pasangan laknat itu? Haish!!" Alvin menegakkan kembali kepalanya. Kemudian, ia pun membuang lagi napasnya begitu lelah. Sungguh! Ia sangat buntu saat ini. Seakan-akan Alvin tidak memiliki titik terang untuk masalahnya yang sedang menggandrungi. Lalu, sampai ketika pemuda itu memutuskan untuk mulai menyeret langkahnya lagi, tanpa diduga, sebuah mobil tengah melintas sekaligus menghentikannya tepat di jarak satu meter di hadapan Alvin. Melihat mobil sedan berwarna merah menyala itu berhenti dengan posisi menyerong tak jauh dari tempatnya menghentikan lagi langkahnya, dalam sekejap, Alvin pun menatap heran. Heran atas keberadaan mobil asing yang tiba-tiba saja mengadang langkahnya. Lalu, rasa heran yang menerpa Alvin pun tidak sampai di situ. Di samping mobil itu berhenti, seseorang bahkan telah melangkah keluar dari sana. Ya, Alvin mendapati seorang wanita dengan dress di atas paha berwarna merah menyala yang dikenakannya. Sontak, melihat penampilan yang superseksi di depannya sekarang, Alvin pun langsung melongo dengan mulut yang terbuka dan mata yang memelotot. Selagi Alvin masih memperlihatkan wajah bodohnya, wanita seksi itu melangkah gemulai mendekati posisi Alvin yang masih berdiri cengo. Memamerkan senyuman sensual di bibir bergincu merah cabainya, wanita itu lantas berkata, "Hai, Tampan. Jika malam ini kamu sedang diterpa kesulitan. Maka aku adalah jawaban dari kesulitanmu itu. Jika kamu mengizinkan, biarkan aku membantumu untuk keluar dari masalahmu...." Alvin menelan ludah susah payah. Di sela wanita itu berucap, dia bahkan merapatkan jaraknya sembari menelusuri sisi wajah Alvin menggunakan jari telunjuknya. Sungguh! Alvin semakin tidak bisa berkutik. Alih-alih menyahut, dia bahkan hanya mampu menatap si wanita dengan sorot tergiurnya. "Aku tau, kau ini baru saja dipecat oleh atasanmu kan? Ayolah, Tampan. Aku bisa membantumu jika kau mau. Tidak sulit. Kau hanya perlu melayaniku saja, maka aku akan memberikanmu sejumlah harta yang kau inginkan. Bagaimana? Apa kau berkenan?" lontar wanita berambut merah marun itu semakin merapatkan tubuhnya di tubuh depan Alvin. Membuat si pemilik tubuh lantas mendadak bergemetar dan rasanya ia ingin meluruhkan kedua kakinya saja saking tak kuasanya ia menopang lagi beban tubuhnya. Wanita ini terlihat beberapa tahun lebih tua dari usia Alvin sendiri. Tapi dilihat dari bentuk tubuh dan kekencangan kulit yang sama sekali tidak menunjukkan sisi keriput sama sekali, wanita ini pun tampak seperti perempuan seksi pada umumnya. Entah apa yang diinginkannya dari Alvin, yang jelas, Alvin merasa bahwa saat ini wanita itu sedang mencoba merayu dirinya agar Alvin mau memenuhi keinginannya tersebut. "Bagaimana, Tampan? Apakah kau bersedia untuk melayaniku?" tanyanya dengan nada mendesah. Membuat Alvin bergidik apalagi ketika si wanita sempat menyorongkan mulutnya tepat ke belakang telinga Alvin, membuat ia belingsatan, terlebih saat sesuatu seakan tengah mendesak dari bagian bawahnya sana. 'Aduh euy, kunaon ieu si jalu? Tataraeun teterejel kieu.' Pemuda itu membatin. Merasa janggal atas perilaku juniornya yang mendadak menyembul ketika si wanita seksi ini terus memberikan sentuhan-sentuhan sensualnya di kulit Alvin. "Jika kau mau, maka sekarang kita bisa langsung pergi. Dan ya, aku akan memberimu tempat tinggal. Kau seorang perantau bukan? Itu artinya, kau belum memiliki tempat tinggal. Ayolah, Tampan. Jangan terlalu banyak berpikir," cetus wanita itu membujuk. Kali ini jari telunjuknya sedang asyik menelusuri sisi leher si pemuda. Menumbuhkan gejolak gairah yang belum pernah Alvin rasakan di waktu-waktu sebelumnya. Pemuda itu tidak bisa hanya diam saja. Sesulit apapun ia menggerakkan lidahnya, ia tetap harus berbicara. Tapi, apa yang perlu ia katakan? Tadi, wanita itu sempat menawarkan sebuah tempat tinggal bukan? Lalu, bagaimana bisa Alvin menolaknya. "Se-sebelumnya, sa-saya ingin bertanya terlebih dahulu. Se-sebenarnya, a-anda siapa? Dan, ke-kenapa tiba-tiba anda menghampiri saya seperti ini? Ju-jujur, ke-kedatangan anda ini cukup membuat saya kaget sekaligus takut," cicit Alvin terbata-bata. Untuk sesaat, wanita itu pun membelalakkan matanya seraya memekik. "Apa kau bilang? Takut?" Lalu, ia pun tertawa renyah di sela Alvin yang hanya menatapnya sambil mengerjap. "Astaga ... Rupanya si Tampan ini sedang takut kepadaku. Baiklah, mungkin aku terlalu agresif. Maaf, Tampan. Akan kuperkenalkan siapa diriku...." ujarnya berdeham. Kemudian, ia pun sedikit merenggangkan jarak tubuhnya yang semula menempel. Seketika, Alvin pun bernapas lega. Setidaknya, ia bisa mengatur napasnya terlebih dahulu setelah wanita seksi itu menjauhkan tubuhnya dari dirinya. "Mula-mula, perkenalkan ... Namaku Laila. Orang biasa memanggilku Tante Lila. Ya, usiaku memang sudah tua. Tapi jangan heran! Setua apapun aku, penampilan harus selalu terlihat menarik bukan? Dan ya, aku sangat suka dengan penampilanku yang seperti ini. Tidak sedikit kaum pria yang mengajakku berkencan. Tapi kau tau? Aku mulai bosan dengan para pria agresif itu. Sepertinya, aku membutuhkan suasana baru. Itulah sebabnya aku mendekatimu, Tampan. Di bar tadi, aku sempat mendengar bahwa kau adalah pemuda yang baru datang dari desa. Dan kupikir, kamu adalah pemuda yang cocok untuk kujadikan sebagai pendamping. Tidak! Bukan pendamping dalam artian kau harus menikahiku, melainkan ... Aku hanya ingin menjadikanmu sebagai selirku. Selir yang akan memuaskanku, dan selir yang akan membuat malam-malamku kian menggelora. Untuk itu, jika kau berminat ... Maka aku akan membayarmu sebanyak yang kau minta. Nominalnya sesuai yang kau inginkan. Tapiii, sebelum itu...." jeda wanita bernama Laila itu kembali merapatkan jaraknya. "Kau harus melayaniku terlebih dahulu sampai aku merasa puas," lanjutnya berdesah dengan menelusuri ujung telunjuknya ke permukaan bibir si pemuda. Mendengar itu, sontak Alvin pun termangu. Dia memang masih begitu polos, tapi bukan berarti Alvin tidak mengerti akan kalimat yang sedari tadi wanita itu lontarkan. Hingga di tengah dirinya yang masih terngiang-ngiang akan penawaran yang wanita itu ajukan, tanpa diduga, kaki Alvin pun benar-benar ambruk hingga kini ia jatuh terduduk dengan posisi menghadap ke arah sepasang paha si wanita yang terpampang mulus tanpa penghalang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN