Fery hampir tidak percaya jika reaksinya akan separah ini. Ya, setelah menenggak segelas beer yang ia berikan tadi, kini Alvin telah berkeliaran di lantai dansa. Berbaur dengan lautan manusia yang sedang asyik beradu tari ala-alanya. Fery menepuk dahi kala melihat Alvin yang juga ikut menari dalam gaya asalnya. Sungguh, ini salah Fery. Tidak semestinya ia memberikan campuran obat ke dalam beer yang disodorkannya tadi. Niat hati ingin merangsang keberanian si pemuda, yang ada justru malah pemuda itu kini telah mempermalukan dirinya sendiri di dalam kondisi yang tak sadar.
"Wuhuuu!" seru Alvin menggila. Membuat sejumlah wanita berpakaian seksi yang ada di sekitarnya saling berpandangan bingung dan bertanya-tanya. Dibanding terkesima, mereka malah menatap Alvin aneh. Membuat Fery semakin menyesal karena kini Alvin pun sedang berulah di antara sekumpulan wanita itu.
"Ayo, Manis! Kenapa kalian malah pada diam, huh? Bukankah seharusnya kita bersenang-senang. Ayo cepat! Selagi musik masih menggema, maka kita habiskan malam ini dengan kemeriahan yang suka cita!" racaunya sambil sesekali cegukan. Kemudian, para wanita di sekitarnya pun saling berjengit aneh serta bergidik ngeri.
"Iuh! Lo emang ganteng, tapi lo norak. Gue jijik!" seru salah satu di antara mereka. Lantas, ia pun langsung menarik ketiga temannya untuk mencari titik lain guna melanjutkan bersenang-senangnya.
Sementara itu, merasa tidak ingin jika Alvin membuat kekacauan dalam kondisinya yang seperti sekarang, dengan cepat Fery pun menghampirinya sekaligus menarik tangannya. Terkesiap kaget, sambil cegukan Alvin pun menoleh ke arah Fery.
"Apaan sih, Fer? Kenapa lo tarik-tarik gue kayak gini. Gue masih mau joget-joget nih!" erang Alvin memberontak. Namun tanpa mau mendengarkan protesan Alvin, Fery pun tetap saja menarik tangan pemuda itu dan menyeretnya guna menjauhi lantai dansa tersebut.
"Lepasin gue, Fer!" seru Alvin tak mau diseret. Kemudian di tengah Fery yang hendak membawa pemuda itu kembali ke balik meja bar, tiba-tiba ia pun dihampiri oleh seorang wanita berambut sebahu.
"Fer!" panggilnya lantang. Seketika, Fery pun menoleh ke arah suara yang sontak membuat langkahnya terhenti berikut seretannya juga atas Alvin. Namun meski begitu, Fery bahkan tidak melepaskan cengkeraman kuatnya di pergelangan tangan Alvin.
"Nesa?" gumam Fery menyunggingkan senyum.
"Kok tumben keliaran di sini. Biasanya juga lo selalu stay di balik meja bar. Lagi ngapain?" tanya cewek bergaun hitam sepaha itu. Di mata Fery, Nesa adalah wanita paling seksi nan menggairahkan yang pernah ia temui di bar milik Madam Julia ini.
"Iya nih, gue lagi mantau anak magang. Baru beberapa jam masuk kerja, udah bikin ulah aja. Bisa mampus dia kalo ketauan sama yang punya Bar. By the way, ke sini sama siapa?" ujar Fery basa-basi. Namun selagi Nesa mengarahkan pandangannya kepada si pemuda yang Fery cekal tangannya, mata Fery justru jelalatan ke bagian belahan dadanya yang terekspos nyata.
"Gue ke sini bareng Gia. Tapi gak tau tuh dia ke mana. Kayaknya lagi patroli cari yang bisa diajak nge-room deh. Oh iya, yang lo maksud anak magang ... Ini?" tunjuk Nesa ke arah Alvin. Dilihatnya, pemuda itu malah sedang sibuk joget-joget tanpa mempedulikan keadaan sekitar.
Fery mengangguk. Tapi matanya tetap terfokus pada satu titik. Membuat ia harus menelan ludah susah payah karena hanya dengan melihat belahan itu saja, sesuatu di bawah sana telah menyembul keras seakan terangsang oleh objek yang dilihatnya.
"Wow, mukanya oke punya, Fer. Tapi sayang, kayaknya dia noob ya? Maksud gue, dia pemain baru kan di dunia malam ini. Dia datang dari mana sih?"
"Gunung kembar."
"Hah? Apa?" pekik Nesa ketika mendengar jawaban ngaco dari Fery. Secepat kilat, cowok itu pun langsung memejamkan matanya untuk sesaat. Lalu, kini ia pun kembali menarik pandangannya dari objek menggairahkan yang berhasil membuat pikirannya bertraveling ke mana-mana.
"Dari desa. Maksud gue, dari daerah pegunungan. Lo tau sendiri kan kalo desa itu didominasi sama gunung-gunung," ujar Fery meluruskan. Sigap, Nesa pun manggut-manggut tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun.
"Ya udah, Nes. Kalo gitu, gue mau bawa dulu ini anak ke belakang ya. Lo have fun ya di sini! Sori, gak bisa nemenin lo ngobrol untuk beberapa saat," tukas Fery berpamitan. Kemudian, sebelum Nesa mengiyakan kalimatnya, Fery pun sudah lebih dulu berlalu meninggalkan cewek seksi tersebut.
***
Selagi Andi bisa mengatasi para pelanggan di meja bar, Fery justru sedang mencari cara untuk menyadarkan Alvin yang masih meracau tanpa henti. Malah, sudah beberapa kali pemuda itu hendak melarikan diri seandainya Fery tidak cepat tanggap membawanya kembali ke tempat semula. Sungguh! Rasanya Fery ingin menghajarnya saja saking jengkelnya kepada Alvin. Tapi mau bagaimana? Toh Alvin seperti itu juga gara-gara ulahnya.
"Gue mesti apa? Seingat gue, dulu kata si Andi gue juga pernah kayak gini. Tapi dia bilang, gak ada cara lain yang bisa bikin gue berhenti ngeracau selain dengan membuat gue tidur sama cewek. Ya. Gue inget betul si Andi pernah bilang kalo setelah gue diajak nge-room sama si Adis, gue bahkan langsung bisa diatasi. Malah, gue baru bisa sadar saat pagi telah tiba. Tapi si Alvin, masa iya gue juga harus bikin dia tidur sama cewek sih? Masalahnya, gue sama si Alvin beda. Kasusnya dulu gue udah sering main sama cewek, sedangkan anak ini? Anjirlah! Pemuda desa polos kayak dia mana pernah gituan sama cewek. Duh, gue jadi bingung sendiri...." tutur Fery mengetuk-ketuk dagunya menggunakan ujung jari. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja bahu Fery ditepuk oleh seseorang.
Sontak, cowok itu terperanjat. Lalu dengan sigap, ia pun menoleh ke arah sumber tepukan dan berlanjut dengan kedua matanya yang membulat sempurna. "Ma-Madam!" pekik Fery syok. Tidak menyangka bahwa Madam Juli akan datang menghampirinya di saat ia yang masih belum bisa mengatasi si pemuda desa itu.
"Sedang apa kamu di sini? Dan anak magang itu, kenapa dia?" tanya Madam Julia mengernyit heran. Menatap Fery juga Alvin secara bergantian.
Fery menggaruk pelipisnya. Tidak tahu harus menjawab apa pada Madam Julia. Dia juga tidak mungkin berkata jujur bahwa Alvin bisa seperti itu karena dirinya yang sudah memberikan segelas beer dicampuri obat penghilang rasa malu. Untuk itu, Fery pun terpaksa memberikan jawaban yang tidak jujur kepada atasannya itu.
"Kayaknya dia habis minum minuman banyak, Madam. Maklum, dia kan dari desa. Belum paham sama minum-minuman alkohol yang ada di depan. Kayaknya, dia nyoba cicipin deh. Tapi gak tau juga sih. Soalnya, saya nemuin dia udah keliaran aja di lantai dansa...." ujar Fery menghela napas. Seketika, membuat Madam Juli berdecak sembari geleng-geleng kepala.
"Entah kenapa si Anton itu mengajak pemuda kampung ini kerja di bar saya. Kalau tau dia akan berbuat ulah seperti ini, tidak semestinya saya beri dia kesempatan untuk magang! Merepotkan."
Fery menelan ludah kasar. Mendengar Madam Juli berkata seperti itu, rasanya Fery semakin menyesal saja. Seharusnya, ia tidak berbohong. Tapi jika jujur pun Fery takut malah dirinya yang kena omel. Alhasil, bagaikan memakan buah simalakama, serba salah telah mendera diri cowok itu.
"Ambil air seember!" titah Madam Juli tiba-tiba. Sontak, Fery pun menoleh cepat sembari menatap kaget.
"A-air? Tapi, untuk apa, Madam?"
"Kau ini hanya pegawaiku. Lakukan perintahku atau kau akan kupotong gaji bulan depan. Paham kau?" sentak Madam Juli membalas garang. Sigap, Fery pun menggelengkan kepalanya. Tanpa mau banyak bertanya lagi, ia pun buru-buru melakukan perintah atasannya ketimbang ia kena marah lagi dari sang atasan.
Lantas, setelah Fery membawa seember air dari dalam toilet khusus pegawai, tanpa diduga Madam Juli pun mengangkat ember itu dan menyiramkan air tersebut ke tubuh Alvin. Dalam sekejap, Alvin yang semula sedang meracau sembari diiringi dengan cegukan berkali-kali pun langsung terperanjat didera keterkejutan.
Bahkan sebelum Alvin benar-benar berhasil mengumpulkan nyawanya yang seakan tertarik kembali oleh siraman air barusan, Madam Julia lantas berkata, "Kau tidak perlu melanjutkan magangmu di sini. Sebelum aku bertambah kesal, maka pergilah kau dari sini! Dasar pemuda kampung tak berguna.
Fery membelalak. Begitupun dengan Alvin yang baru sadar akan kegilaannya. Fery baru tahu kalau ternyata ada cara lain yang bisa membuat Alvin sadar dari kehilangan akalnya. Jika tahu sejak lama, maka sudah Fery siram saja pemuda itu tanpa perlu menunggu dihampiri Madam Juli. Namun nahas, kini Alvin harus diusir oleh pemilik bar itu hanya karena ulah Fery yang mencekoki Alvin dengan beer yang dicampuri obat.
Setelah mengutarakan keputusannya, Madam Julia pun bergegas pergi dari sana. Menyisakan Alvin yang tercenung kaget di samping Fery yang sedang mengusap wajahnya penuh sesal.