Tepat di sudut meja bar yang cukup jauh dari meja pemesanan, Fery menyodorkan segelas beer ke hadapan Alvin. Mumpung Andi yang merupakan partner kerjanya sudah datang dan bisa sedikit menangani para pelanggan yang belum membludak, Fery pun hendak melakukan sesuatu pada Alvin. Bagi dia, Alvin memang perlu sedikit diberi pembelajaran mengenai dunia malam. Maka untuk mengawalinya, ia pun menyodorkan segelas berisi beer ke hadapan pemuda desa itu.
"Ini apa?" tanya Alvin menatap gelas di hadapannya berikut Fery secara bergantian.
Sejenak, Fery pun menghela napas sembari mengusap rambutnya ke atas. "Ini minuman lah, Vin. Masa lo gak tau!"
"Iya gue tau ini minuman. Tapi maksudnya, kenapa lo kasih ke gue?" ujar Alvin menatap heran. Pasalnya, dia tidak meminta pada Fery untuk disajikan segelas minuman itu kan? Tapi, kenapa justru teman kerjanya itu malah menyodorkan gelas berisi beer itu kepadanya.
"Vin, sebelum ke sini dan minta kerjaan sama Madam Juli, lo udah tau kan resiko serta jenis pekerjaan lo itu apa?"
"Justru itu! Gue gak tau apapun. Gue sih dapet arahan sebelumnya, katanya gue kerja di sebuah bar dimulai jam 9 malam sampe dini hari. Tapi jujur sih, gue gak tau kalo kerjaannya kayak gini."
"Lah, terus lo pikir lo bakal kerja kayak gimana? Ngarepnya jadi sejenis kayak seorang kasa di minimarket gitu?" lontar Fery menatap aneh.
Alvin terkekeh pelan. Sejenak ia pun menggaruk tengkuknya sembari meringis kaku. "Ya gitu. Gue pikir gue cuma bakal jadi pelayan biasa doang. Sejenis di kafe-kafe makan gitu," ujarnya menggedikkan bahu. Kali ini, Fery pun menepuk dahi saking tak menyangkanya bahwa Alvin ternyata sepolos ini.
"Astaga, Vin! Ya kalo lo mau jadi pelayan kafe makanan, ngapain lo datang ke sini dan minta kerjaan sama Madam Juli? Lo kan bisa ajuin lamaran ke kafe biasa. Dengan gitu, lo gak perlu masuk sini dan terjun di dunia malam yang keras ini. Dan ya, gue tau lo dari desa. Maka itu sebabnya gue tanya dulu. Soalnya, Vin ... Kalo lo beneran mau lanjut kerja di bar kayak gini, mau gak mau lo juga harus terlibat sama beberapa hal yang melekat di bar ini. Ibaratnya, lo udah telanjur kecebur yang sekalian berenang aja! Daripada udah masuk air lo jadi buntu ke sana sini kan?" tukas Fery memberi pencerahan. Membuat Alvin lantas manggut-manggut seakan dia baru saja mendapatkan sebuah ilmu baru.
Pemuda itu terdiam. Apa yang dikatakan Fery ada benarnya juga. Lagipula, salahnya sendiri karena tidak tanya-tanya terlebih dahulu pada Anton. Andai saja Alvin lebih aktif bertanya pada temannya itu, mungkin sekarang ia tidak perlu kebingungan karena tersesat di dunia malam yang baru digelutinya. Tapi seperti kata Fery, Alvin sudah telanjur kecebur. Maka sebaiknya ia gunakan saja momen itu untuk melanjutkan ke sesi berenang hingga menemukan titik yang dituju. Mungkin dengan cara itu Alvin bisa sedikit menuai pengalaman baru bukan? Setidaknya, Alvin sudah memantapkan diri ingin merantau guna meraih kesuksesan di kota besar ini. Maka tidak ada salahnya jika ia mulai mencoba turun ke dunia malam.
"Gimana? Lo udah pikirin semuanya matang-matang?" lontar Fery lagi menatap serius. Seketika, mendorong Alvin untuk lekas memberikan jawaban yang sekiranya bisa membuat Fery cukup puas.
"Lo bener! Kayaknya, gue emang harus mulai ambil keputusan. Untuk itu, gue meyakinkan diri bahwa gue merasa mantap buat lanjut kerja di sini."
"Yakin?"
"Ya! Gue yakin. Paling enggak, gue bisa sedikit cari pengalaman juga kan di tempat ini. Minimal, biar gue bisa terhindar dari hal-hal yang bisa aja membodohi gue. Seperti kemarin, gue abis dikhianatin sama cewek yang tadinya fix mau gue nikahin. Tapi tanpa gue duga, dia malah selingkuh sama sohib gue sendiri. Sakit rasanya. Apalagi gue tangkap basah dia lagi gituan sama tu cowok. Dah lah, gue gak bisa lagi lanjutin cerita itu ujungnya kayak apa!" tandas Alvin malah curcol.
Sontak, membuat Fery terkekeh geli karena ternyata Alvin ini adalah korban dari diselingkuhi. "Jadi, lo datang ke kota sebesar ini atas tujuan apa sebenarnya?"
"Gue mau cari duit yang banyak. Abis itu, gue mau tunjukin sama cewek pengkhianat itu kalo gue bukan Alvin yang lemah. Gue bukan cowok yang bisa dia perdaya dengan cara diselingkuhi kayak gitu. Katakanlah gue buta pengalaman, tapi mudah-mudahan, setelah gue ada di sini ... Gue jadi punya banyak pengetahuan soal apapun yang gue kepengin ketahui. Paling enggak, gue pengin jadi orang yang gak mudah buat diinjak-injak. Harga diri atuh euy!" tutur Alvin menepuk-nepuk dadanya.
Fery manggut-manggut mendengar hal itu. Sungguh, dia tidak menyangka jika Alvin adalah pemuda yang baru saja diselingkuhi pasangannya. Pantas saja dia nekat pergi ke kota besar nan keras ini. Ternyata ia memiliki sebuah tujuan demi membalaskan rasa sakit hatinya terhadap si cewek tukang selingkuh itu.
"Oke gue paham. Dan menurut gue, keputusan yang lo ambil ini udah paling bener! Dengan begitu, gue akan bantu lo agar lo bisa berbaur sama tempat kerja lo ini. Tapi sebelum melangkah lebih jauh lagi, minimal lo harus coba buat minum segelas beer ini. Ya, anggap aja sebagai permulaan. Ibaratnya lo mau dagang sesuatu, sebelum mempromokan dagangan lo ke orang-orang, lo harus cicipin atau cobain dulu jenis dagangan lo kan? Setelah lo rasa enak atau nyaman, baru deh lo masuk ke tahap mempromokan dagangan lo! Gak beda jauh sama kerja di tempat kayak gini. Sebelum lo jelajahi seisi tempat kerja lo, mau gak mau lo juga harus cicipin dulu barang dagangannya. Setelah itu, lo bakal paham seperti apa dunia malam yang pengin lo jelajahi kedalamannya ini. Paham?" celetuk Fery memberikan pengetahuan.
Namun meski begitu, tetap saja Alvin merasa ragu. "Apa perlu?"
"Maksud lo?"
"Ya itu. Apa gue bener-bener diperlukan buat minum minuman keras itu? Tapi, gue belum pernah minum minuman kayak gitu. Apa gak akan ada efek sampingnya?" tanya Alvin menatap segan. Dia hanya mendengar selentingan kabar tentang dampak meminum minuman alkohol seperti itu. Selain membuat kecanduan, dia pun akan kehilangan akal jika meminum minuman tersebut dalam jumlah banyak. Tapi Alvin berpikir kembali, Fery hanya menyodorkan segelas saja bukan? Isinya pun tidak full satu gelas. Bisa dikatakan bahwa cairan itu hanya mengisi setengah dari gelas tersebut. Tidak banyak dan Alvin yakin bahwa jika Alvin meminumnya dalam takaran sedikit begitu, dia pun tidak akan sampai mabuk apalagi sampai kehilangan akal.
Maka sebelum Fery memberikan jawaban atas pertanyaan yang semula Alvin ajukan, tanpa disangka Alvin pun mengambil jalan nekat. Pepatah mengatakan, jika tidak dicoba sampai kapan pun tidak akan diketahui hasilnya seperti apa. Maka demi menyongsong kehidupannya di masa yang akan datang, Alvin bahkan rela menenggak isi gelas tersebut hingga kini membuatnya memejamkan mata dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Lalu sementara itu, Fery yang tak menyangka bahwa Alvin akan menenggak minuman itu dalam satu kali tegukan pun hanya mampu menepuk dahi tanpa sempat memberi tahu pemuda itu efek yang akan didapatnya seperti apa.
"Minuman apaan ini!" seru Alvin bergidik. "Kok kecut banget, Fer?" lanjutnya bertanya. Raut wajahnya pun terlihat tidak nyaman. Seperti seseorang yang baru saja meminum perasan air lemon tanpa dicampur air atau gula terlebih dahulu. Sekiranya, seperti itulah yang Alvin rasakan. Kemudian, Fery pun melihat Alvin mulai memegang bagian tenggorokannya.
"Panas." Pemuda itu tak henti bergidik. Membuat Fery hanya bisa memijit keningnya saja karena Alvin sudah telanjur meminum cairan itu tanpa mengikuti arahan yang belum sempat Fery utarakan.
Seharusnya Fery tidak menyertakan obat penghilang rasa malu itu. Minimal, setidaknya biarkan saja Alvin menenggak minumannya saja tanpa dicampuri oleh obat. Tapi kini, nasi sudah telanjur menjadi bubur. Tidak ada yang bisa Fery lakukan selain menyaksikan reaksi yang akan Alvin dapat setelah beberapa saat obat itu akan bereaksi di dalam diri pemuda itu.
"Fer, kok mendadak gue kayak lagi muter-muter gini sih. Tuh kan tuh kan, berasa kunang-kunang banget pandangan gue. Sebenernya, lo kasih campuran apa di dalam airnya? Kok gue jadi pusing." Pemuda itu terus meracau. Membuat Fery merasa menyesal karena ternyata ia sedikit mencampurkan obat hilang kendali di dalam minuman yang Alvin sudah tenggak sampai tandas.
Tapi siapa yang tahu jika Alvin akan langsung meminumnya? Fery pikir dia akan bertanya dulu cara meminumnya seperti apa. Tapi yang terjadi, pemuda polos itu malah meminum cairannya layaknya ia sedang meminum segelas air putih saja.
"Mampus! Sebentar lagi, si Alvin pasti bakalan ngeracau ngalor ngidul!" desis Fery menepuk jidat lagi. Merasa ngeri ketika membayangkan bahwa pemuda itu akan mulai beraksi dalam hitungan detik yang diperkirakannya.