bc

That Devil is My CEO

book_age16+
1.6K
IKUTI
9.1K
BACA
billionaire
CEO
tragedy
heavy
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Gabriel Wallance, kata orang dia misterius, dingin, dan berkharisma. Beberapa mengatakan dia mirip seperti iblis yang tak kenal belas kasih. Namun, bagi Lynne tidak demikian.

Lynne Steffanie Dawn, gadis cantik yang terpaksa berhubungan dengan Gabriel semenjak kejadian konyol yang menimpanya di hari pertama datang ke Wallance Group.

Pada awalnya, Lynne berpikir Gabriel adalah pria yang dingin dan tidak peka. Namun, lama-kelamaan Gabriel mengubah sosoknya. Dari orang yang dingin dan kejam, menjadi malaikat yang baik hati. Lalu, entah bagaimana gadis itu justru jatuh cinta pada Gabriel dalam hitungan hari. Lelaki itu membuat perasaannya naik-turun seperti roller coaster. Ia mengubah hidup Lynne sepenuhnya.

Lantas, bagaimana kalau Gabriel ternyata menyimpan sebuah rahasia yang berkaitan dengan Lynne?

chap-preview
Pratinjau gratis
1
"Wallance adalah perusahaan dengan tingkat keuntungan tertinggi tahun ini. Banyak pihak sama sekali tidak bisa berkutik di bawah kekuasaannya. Ketiga anaknya yang sempurna membuat keluarga tersebut tampak paling bersinar di tahun 2018 ini. Kal—” ‘Clek.’ "Daniel Wallance adalah satu dari lelaki tertampan yang sekarang menjadi idaman di—" ‘Clek.’ "Siapa yang tak kenal anak sulung Wallance? Daniel—" ‘Clek.’ "Wall—" Lynne membanting remote televisinya dengan wajah yang tertekuk karena semua channel terus menampilkan dan mengagung-agungkan seorang Daniel Wallance. Lelaki bermata biru itu merupakan anak sulung dari tiga bersaudara Wallance. Hanya Daniel yang selalu unjuk gigi di depan publik. Melakukan segala sesuatu di depan media, hingga rasanya Lynne jengah melihat wajahnya di televisi. Sedangkan publik sendiri tidak pernah tahu bagaimana paras adik-adik Daniel. Saudaranya bernama Gabriel dan satu lagi adalah seorang wanita yang sama sekali tak diketahui identitasnya. Hanya itu yang Lynne tahu karena informasi mengenai keluarga itu begitu tertutup. Lucu. Media tidak tahu bagaimana paras dari kedua saudara Daniel yang lain, tapi bisa memuji semua keluarga Wallance dengan begitu agungnya seolah wajah mereka sudah menyerupai dewa dan dewi Yunani. "Kenapa kau membanting remote-nya?" Margo, room mate Lynne yang baru saja datang mengambil remote yang Lynne banting tadi dan duduk di sampingnya. Wanita itu mengusap rambutnya lembut menggunakan handuk agar segera kering. "Semua channel menampilkan wajah Daniel Wallance. Aku muak," gerutu Lynne sembari menyandarkan tubuh. Ia menaikan kaki ke atas tembok sembari berbaring miring. Tak butuh waktu lama, Lynne sudah asik sendiri dengan ponselnya dan melupakan semua kekesalan yang baru saja ia luapkan pada remote TV karena seorang Daniel Wallance. "Oh c'mon, Lynne. Wajar saja kalau Daniel di tampilkan setiap hari di TV. Dia punya wajah rupawan yang sangat cukup untuk menjadi pemandangan di pagi, siang, sore, dan malam hari," sahut Margo dengan senyumnya yang jahil. Wanita berambut blonde itu menggeser tubuh Lynne agar tidak menghalangi posisinya dengan tenaga yang lumayan kuat. Tubuh Lynne hampir menghantam lantai, tetapi untungnya, refleks wanita itu cukup baik.   "What the hell, Ar!" gerutu Lynne. "Apa kau berusaha membuat hidungku patah?" Margo tertawa saat melihat Lynne hampir saja jatuh dari posisinya. Kenndrick—pacarnya—belakangan ini mengajarkan Margo tentang bela diri, dan tenaganya entah bagaimana bisa menjadi begitu kuat. "Sebenci-bencinya dengan Daniel, kau sudah melamar ke perusahaannya, Lynne. Apa kau lupa kalau besok kau ada wawancara di Wallance?” tanya Margo sambil menaik-turunkan alisnya seraya menatap Lynne menggoda. Tatapan yang menyebalkan menurut Lynne. Lynne mendengkus sejenak, lalu berdiri dan menepuk pundak Margo keras hingga membuat wanita berambut blonde itu meringis kesakitan. "Demi pengobatan Judith. Hanya itu," balas Lynne kesal. "Lagi pula, daripada Daniel Wallance, aku lebih tertarik kepada adiknya." "Apa? Maksudmu, si Gabriel Wallance yang super misterius itu?" Margo mengernyit. "Wow, itu mengejutkan. Aku tak menyangka seleramu sedemikian anehnya. Ini pertama kalinya kau suka dengan seseorang setelah bertahun-tahun, Lynne.” "Apa maksudmu? Aku hanya menganggumi Gabriel. Uhm, maksudku dari yang kutahu, dia itu misterius. Jadi kupikir dia tampak menarik dan menyenangkan." "Hell, no! Lelaki yang misterius dan kaku itu sama sekali tidak menyenangkan, Lynne. Kau tidak berpengalaman. Percayalah padaku kalau kau akan menyesal jika menjalin hubungan dengan lelaki macam itu." Lynne hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala ketika mendengarkan ucapan Margo. "Yah, terserah saja. Aku hanya mengagumi Gabriel, meskipun aku tak tahu bagaimana rupanya." "Aku tahu kau menganguminya karena mendengar rumor kalau dia tampan. Admit it, Lynne. Kau tak mungkin menyukainya kalau dia jelek, ‘kan?" Lynne melempar bantalan sofa ke arah Margo sebelum menggeleng. "Kau salah. Aku mengangguminya karena kudengar dialah yang paling kompeten di perusahaan. Aku menyukai lelaki pekerja keras. Kau tahu bukan? Tampang hanya bonus.” Margo memutar bola matanya kesal. "Ya, ya, ya. Cukup sudah membahas keluarga Wallance karena mereka sama sekali tak terjangkau oleh manusia seperti kita." Lynne meringis, membenarkan ucapan Margo yang terasa masuk akal. "By the way, aku belum melihat Robert hari ini. Ke mana dia?" "Astaga, kau masih dekat dengan tetangga gila itu?" tanya Margo dengan nada agak tinggi. "Sudah berapa kali kubilang. Jangan dekat-dekat dengannya, Lynne. Wajahnya mungkin tampan, tapi mungkin saja otaknya itu penuh ide gila seperti psikopat atau mungkin … dia benar-benar gila?" Lynne tertawa melihat kehisterisan Margo. Robert memang sering bertingkah gila. Dia pernah bermain truth or dare bersama Lynne dan berakhir dengan mencium Margo. Lynne saat itu tak menyangka kalau Robert seberani itu, da sejak saat itulah Margo menjadi histeris atas segala yang berhubungan dengan Robert. Meski sesungguhnya dia adalah orang baik yang sering membantu Lynne ketika kesusahan. "Robert lelaki baik, Ar. Hanya saja dia sering kelewatan ketika bercanda," bela Lynne. Margo menggeleng. "Aku tidak peduli. Yang pasti jangan bawa dia masuk ke dalam saat aku ada di rumah!" Lynne hanya tertawa-tawa sembari mengangguk karena Margo tampak sangat ketakutan. "Baiklah, baiklah. Aku mengerti."   *****   "Aduh, adikku manis sekali. Apa kau tidak lelah bersembunyi seperti tikus?" Nada mengejek itu keluar dari seorang lelaki tampan yang saat ini tengah berdiri di dekat pintu sembari terkekeh sinis. "Keluarlah, Daniel. Aku tidak memanggilmu kemari," balas lelaki satu lagi. Lelaki dingin itu menyandarkan kepalanya ke kursi saat suara gelak tawa saudaranya malah semakin menjadi-jadi. "Mengusirku, Gabriel?" Daniel menarik turunkan alisnya sembari menghela napas. "Kau tahu, keluarga kita tidak akan tinggal diam saat rumor gay-mu itu semakin merajalela. Karena itu, aku sebagai kakak yang baik hati datang kemari. Mengajak adikku yang penakut ini untuk keluar dari persembunyian setelah sekian lama.” Daniel menarik napas sebelum melanjutkan, "Kau tidak mau jadi sepertiku? Aku muncul di TV setiap hari, di semua channel dan setiap jam. Aku rasa, segenap manusia di seluruh belahan bumi ini mengenalku sebagai Daniel Wallance yang tampan nan berani." Gabriel diam dan tidak berniat untuk menggubris ketika mendengar celotehan Daniel yang menyebalkan. Entah kenapa, kakaknya itu sangat suka membuat emosi Gabriel naik. Dia kekanak-kanakan, dan Gabriel berharap Daniel bisa segera menemukan tambatan hati agar sifatnya bisa berubah menjadi dewasa. "Aku tidak peduli. Aku tidak mau tersenyum di depan kamera setiap harinya seperti orang bodoh," sindir Gabriel datar. Lelaki itu membuka berkas-berkasnya dan berusaha membuat Daniel merasa terabaikan. Namun, di sisi lain, Gabriel baru ingat kalau Daniel bukanlah orang yang mudah menyerah. "Bodoh sekali. Aku tersenyum karena aku tampan, bukan karena aku bertingkah seperti orang bodoh." Daniel mendekat dan menepuk-nepuk tangan Gabriel kuat. "Keluarlah dari sarangmu. Kalau rumor tentangmu semakin merajalela, apa kau mau dijodohkan?” tanya Daniel lagi.  “Pilihan ada di tanganmu. Menampilkan diri di depan khalayak umum sebagai Gabriel Wallance, atau membiarkan gosip itu semakin menjadi-jadi dan membuat keluarga kita mengamuk? Kau tahu, gosip gay bukanlah hal yang enak untuk didengar oleh para tetua.” "Aku tidak gay," balas Gabriel dengan rahang yang mengeras. "Tapi kau tidak pernah menyentuh wanita," sahut Daniel lagi. "Jangankan menyentuh. Kau bahkan tidak pernah melirik mereka lagi." "Kau tahu aku punya masa lalu yang buruk, Niel." "Tapi masa lalu hanyalah masa lalu, bukan? Apa yang harus kau takutkan?" "Jangan berpura-pura kalau semua itu mudah. Aku tahu kau juga terluka." Gabriel menghela napasnya. "Meski yang kualami terasa lebih menyakitkan dan meninggalkan bekas yang tak bisa hilang.” Daniel tampak terdiam sejenak sebelum kemudian dia kembali bergumam, "Tapi kau sudah dirawat oleh psikiater, Riel." "Itu tak cukup!" sengit Gabriel saat Daniel terus-menerus membantah ucapannya. "Luka yang tertinggal dalam diriku begitu membekas. Rasanya aku tetap mati meskipun nyatanya sekarang aku hidup dan bernapas dengan baik." Gabriel mengeluarkan isi hatinya sambil menatap Daniel sengit. Lucu karena seseorang seperti Daniel-lah yang berbicara dengan enteng. Seolah semua hal yang mereka alami adalah sesuatu yang tak berarti. "Kalau begitu, pergi ke psikiater lagi. Cek kondisimu juga. Pastikan kalau kau tidak gay karena aku tidak akan tahan kalau kau memang mengidap kelainan seksual itu," saran Daniel. Gabriel mengembuskan napas kesal sembari memijat keningnya pelan. Percuma saja beradu mulut dengan Daniel. Lelaki itu selalu punya cara aneh untuk membantah perkataannya. Daniel memang selalu menang dalam setiap perdebatan, tapi bukan berarti Gabriel mau-mau saja menuruti saran lelaki itu. Gabriel masih sangat waras untuk memercayai dirinya sendiri dibandingkan percaya dengan sahabat sekaligus saudara gilanya, Daniel. "Ya sudah. Aku ada meeting sebentar lagi. Aku harap, kau segera memeriksakan dirimu ke psikiater.” "Pergi saja," balas Gabriel tak acuh. "Sekalian periksakan saraf di mulutmu itu, Riel. Aku bingung, bagaimana bisa mulutmu itu tahan dengan kesendirian tanpa sedikit pun ciuman selama ini," ejek Daniel. "s**t! Go to hell, Daniel!" geram Gabriel sembari melempar kertasnya ke arah Daniel. "Hell? Oh, that's where we came from, brother. Me and you, I mean."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook