40

1528 Kata

"Judith," ucap Lynne dengan suara parau. Wanita itu masih berada di sana, terbaring lemah tak berdaya dengan wajah yang sepucat kapas. Tangannya dingin, seperti biasa. Kedua mata cantiknya tertutup rapat, entah kapan akan membuka lagi. Sudah lebih dari tiga tahun, tetapi adiknya itu masih setia di sana. Rambutnya yang awalnya hanya sebahu, sekarang sudah nyaris menyentuh pinggang. Suara monitor sebagai penanda detak jantung terdengar memilukan bagi Lynne. Hanya dengan alat itu, ia bisa merasakan kalau Judith masih ada di sampingnya dengan jantung yang berdetak, sampai sekarang. "Hari ini aku kembali ke rumah itu lagi," bisik Lynne pelan, mengabaikan kehadiran Gabriel. Suaranya bergetar seperti menahan tangis.   Lynne sudah terbiasa dengan sikap mereka, meski terkadang masih terasa sesak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN