9

1322 Kata
Lynne melirik ke arah Gabriel yang tertidur lelap setelah mengucapkan serangkaian kalimat yang sukses membuatnya terbawa perasaan untuk kedua kalinya hari ini. Lalu sekarang, Lynne-lah yang menyetir karena Gabriel menolak mati-matian idenya mengenai sopir pengganti. Kelihatannya, Gabriel tidak suka berinteraksi dengan orang lain jika tidak terpaksa ataupun tidak menguntungkan. Mungkin karena alasan itu juga dia jarang muncul di media. Tidak seperti Daniel. Lynne mencebikkan bibir sembari menghela napas pelan saat sadar bahwa jantungnya masih berdebar-debar.  Tampaknya, ia harus mengontrol perasaannya sesegera mungkin agar tidak mudah terjatuh ke dalam pesona Gabriel. Hanya dengan beberapa kata, Lynne dibuat luluh lantak oleh seorang Gabriel Wallance. Oh Tuhan, ini tidak benar. Sungguh, Lynne tidak pernah satu kali pun bersikap seperti ini selama hidupnya. Ia tidak mengerti apa itu cinta, tetapi ia mengerti tentang berdebar-debar dan perasaan senang ketika bersama seseorang. Margo pernah bercerita tentang pengalamannya, dan waktu itu Lynne berpikir Margo kekanak-kanakan karena merasa senang saat berada di samping Kennrick. Akan tetapi, Lynne sekarang sadar. Perasaan itu memang ada, dan perasaan itu sama sekali tidak kekanak-kanakan. "Dasar jahat," gumam Lynne pelan sembari curi-curi pandang ke arah atasannya. "Kau tidak menyukaiku, tapi kenapa kau buat aku menyukaimu?" Setelah mengucapkan kalimat yang membuatnya tampak menyedihkan. Lynne tersenyum bodoh. Ia sungguh sial karena jatuh cinta dengan lelaki yang tak tergapai seperti Gabriel.   ******   “Mr. Wallance, kita sudah sampai." Lynne menyentuh kemeja Gabriel pelan untuk membangunkan lelaki itu, tetapi Gabriel sama sekali tak bereaksi. Sebenarnya, Lynne sangat ingin memegang wajah Gabriel dan menciumnya agar lelaki itu bangun. Sayangnya—ah, tunggu dulu. Apa yang sedang Lynne pikirkan? Apa otaknya sudah benar-benar tercemar dengan film Fifty Shades of Grey? Atau sisi jalang Lynne sudah muncul ke permukaan setelah terpendam selama 24 tahun? Entahlah. Lynne tidak mengerti dengan dirinya sendiri. "Mr. Wallance," panggil Lynne satu kali lagi. Ia mengambil tindakan lebih berani untuk menguncang tangan Gabriel, tetapi Gabriel sama sekali tidak terpengaruh. Atau jangan-jangan, Gabriel pingsan? "Mr. Wallance! Mr. Wallance!" Lynne berteriak kencang setelah menyadari bahwa pemikirannya masuk akal. Gabriel memang tampak pucat dan tadi ia juga bilang kalau ia pusing. Astaga ... bagaimana ini? Haruskah Lynne memanggil ambulans? Bagaimana kalau Gabriel mati? "Mr. Wallance!" Lynne mulai panik saat Gabriel masih bergeming seolah suara Lynne yang cempreng nan besar ini tidak terdengar sama sekali. "Mr. Wallance, jangan mati ... kumohon." Lynne menarik tangan Gabriel dan menghela napas lega saat merasakan denyut nadi di sana. Syukurlah, Gabriel masih hidup. Tapi kemudian, Lynne sadar kalau suhu tubuh Gabriel tidak normal. Tampaknya lelaki itu demam. "Badannya panas sekali," gumam Lynne ketika memegang dahi Gabriel.  "Mr. Wallance, kau sakit. Kita harus ke rumah sakit atau kau mau tinggal di apartemenmu saja?" tanya Lynne lagi dengan suara keras. Tapi kali ini, ia berbicara tepat di depan telinga Gabriel. "Ck. Kenapa berisik sekali?" Suara bariton berat milik Gabriel itu berhasil membuat Lynne terkesiap. Lelaki itu mengucek matanya sembari menatap Lynne bingung, seakan meminta pertanggungjawaban karena sudah membangunkannya. "K—kau tidur seperti orang mati, Mr. Wallance. Aku cemas setengah mati." Lynne menggaruk tengkuknya canggung. "Tubuhmu panas. Kau demam." "Benarkah?" Gabriel memegang dahinya sendiri lalu menghela napas pelan. "Oh sial. Kita bahkan belum mendapatkan baju pestamu." "Apa kita harus ... pergi ke sana?" tanya Lynne ragu. "Ke pesta anniversary kedua orangtuaku?" Gabriel melempar pertanyaan balik yang di jawab dengan anggukan oleh Lynne. "Ya, tentu saja. Aku tidak bisa membuat mereka kecewa." "Tapi ... kau sedang sakit." Gabriel tampak terkejut mendengar pernyataan Lynne. Namun, Lynne hanya bisa melihat ekspresi langka itu beberapa detik saja, karena Gabriel kembali memasang ekspresi datar. "Terima kasih atas perhatianmu, Ms. Dawn, tapi kita harus ke sana malam ini." Gabriel kukuh dengan jawabannya. Ia membuka pintu mobil dan berusaha untuk berdiri sampai rasa pusing itu kembali menyerang, membuat Gabriel kehilangan keseimbangan dan terjatuh di tanah. "Mr. Wallance!" pekik Lynne terkejut. Ia keluar dari mobil dan langsung membantu Gabriel.   "Sudahlah. Aku bisa sendiri," tolak Gabriel seraya melepaskan rangkulan tangan Lynne. Lynne berdecak kesal. Ia kembali merangkul tubuh Gabriel dan menarik napas panjang. Setelah menyiapkan mental dan tenaga, Lynne akhirnya berhasil berdiri sembari menopang tubuh Gabriel yang sangat lemas. "Lantai berapa, Mr. Wallance?" tanya Lynne pada Gabriel saat mereka berdua memasuki lift. Gabriel terlihat tak bertenaga. Ia bahkan kesulitan untuk membuka mata dan menjaga kesadaran. Lynne ragu mereka berdua bisa ke pesta malam ini. Lebih tepatnya, Lynne tidak tega melihat Gabriel yang terlalu memaksakan diri. "Lima belas." Lynne menekan tombol lift dan tidak lama kemudian mereka sudah sampai di lantai lima belas. Gabriel menyebutkan password untuk membuka pintu sebelum Lynne bertanya. Syukurlah dia tidak perlu berdiri lama-lama sambil menopang tubuh Gabriel. Terdengar bunyi klik, pintu berhasil dibuka. Batin Lynne bersorak senang karena mengetahui password apartement Gabriel. Semoga saja akal sehat selalu menuntunnya agar tidak menelusup ke tempat lelaki ini. "Baringkan aku di ranjang," perintah Gabriel yang membuat Lynne kembali sadar dari lamunan kotornya. Lynne mengangguk menuruti setiap perkataan Gabriel. Setelah sampai di ranjang, Lynne kembali memeriksa suhu tubuh atasannya dengan termometer yang terletak di laci samping ranjang. Tentu saja Gabriel yang memberitahu Lynne di mana letak benda itu. "Astaga, 39 derajat!" pekik Lynne terkejut. Ia memandang Gabriel kasihan dan mendapati bahwa baju lelaki itu basah oleh keringat. Ia harus segera melepas setelan itu jika tidak ingin masuk angin. "Uhm ... Mr. Wallance, pakaianmu basah." panggil Lynne pelan. "Apa kau tidak mau mengganti baju? Kau bisa sakit jika terus-menerus menggunakan baju ini." "Hmm," balas Gabriel dalam tidurnya.  Lynne mencibir pelan. Ia yakin Gabriel tidak mendengar perkataannya karena lelaki itu sudah berkelana di alam mimpi.  "Mr. Wallance ... apa harus aku yang melepaskan bajumu?" tanya Lynne lagi. "Kau benar-benar akan sakit jika terus memakai kemeja ini." "Hmm." Lynne menghela napas pelan. Batinnya sedang berperang hebat. Di satu sisi, ia ingin melepaskan baju Gabriel dan menggantinya dengan yang baru agar Gabriel tidak sakit, tetapi di sisi lain Lynne malu membuka baju laki-laki apa lagi orang itu adalah Gabriel. Lynne takut ia akan terbayang-bayang pada tubuh lelaki ini nantinya. "Mr. Wallance. Kuganti bajumu, ya?" tanya Lynne lagi. Gabriel tidak merespons. Lynne hanya bisa mendengar dengkuran halus dari sana. Setelah mengalami perang batin yang lama, Lynne berdiri, mengambil sepotong baju dan celana pendek dari lemari besar yang memuat banyak kemeja. Lynne pikir, Gabriel butuh pakaian santai untuk tidur. "Baiklah, Lynne. Kau bisa melakukan ini," gumam Lynne menyemangati dirinya sendiri. Ia mengulurkan tangan dan membuka kancing baju Gabriel yang pertama dengan mata setengah tertutup. Berhasil! Lynne berhasil membuka satu kancing baju Gabriel. Selanjutnya, wanita itu hendak membuka kancing kedua, tetapi tangannya tergelincir hingga tak sengaja menyentuh d**a Gabriel. "Erh ...," erang Gabriel dalam tidurnya, membuat Lynne meringis pelan. Ia harus ekstra hati-hati. Lynne kembali melaksanakan pekerjaannya dengan lebih baik setelah itu. Sesudah melepaskan seluruh kancing baju, Lynne harus menanggalkan kemeja Gabriel agar terlepas dari tubuhnya. "Mr. Wallance, maafkan aku karena sudah membuka bajumu tanpa izin," ucap Lynne sebelum membuka kemeja Gabriel seluruhnya. Wanita itu membulatkan mata saat menyaksikan pemandangan gratis dari perut six pack yang tampak basah karena keringat. Baru pertama kali dalam hidup Lynne, melihat otot lelaki yang tampak sangat ... seksi. "Sadarkan dirimu, Lynne," gumam Lynne lagi. Ia cepat-cepat memasangkan baju ke tubuh Gabriel karena takut berbuat hal bodoh. Setelah selesai dengan bagian atas tubuh Gabriel, Lynne baru sadar kalau ia juga harus melepaskan celana bosnya ini. "Astaga. Melepaskan bajunya saja aku hampir kehilangan akal. Bagaimana bisa aku melepaskan celananya?" Lynne menggerutu sembari melirik celana boxer yang ia pegang dengan penuh keraguan. Wanita itu mendekatkan tangannya pada celana Gabriel perlahan. Entah kenapa, ia merasa seperti sedang berbuat kejahatan di sini. Lynne berhasil membuka kancing dan ritsleting Gabriel, tugasnya hampir selesai. Ia tinggal menarik celana itu hingga terlepas. Tapi masalahnya, melepaskan celana Gabriel tanpa membuatnya terbangun bukanlah tindakan mudah. "Maafkan aku, Mr. Wallance. Kumohon jangan pecat aku," gumam Lynne lagi. Ia berdiri di depan ranjang dengan tubuh yang mencondong ke depan. Kedua tangan Lynne memegang celana Gabriel, dan saat ia sudah siap untuk melakukan tugasnya, suara bariton milik Gabriel kembali terdengar. "Kaupikir, apa yang sedang kaulakukan, Ms. Dawn?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN