"Kau gila!" Daniel menarik kerah Gabriel keras. Tatapan matanya penuh kemarahan, kebencian, serta emosi yang tak dapat dibendung. Jika sebelumnya semua orang selalu melihat Daniel, maka kali ini ia benar-benar kehilangan akalnya. "Kendalikan dirimu, Gabriel! Kau masih mencintainya? Bahkan setelah semua yang terjadi?" "Apa masalahmu?" Gabriel berusaha menepis tangan Daniel dan bertanya baik-baik, meski ia tahu, kakaknya itu sudah mengetahui segalanya. Ia kembali ke kantor sesaat setelah mengantar Lynne dan Daniel sudah berada di sana, menatap Gabriel penuh kemarahan. "Jangan berpura-pura bodoh! Aku tahu kenapa kau menjadikan dia sekretarismu." Nada Daniel sangat rendah, tetapi menusuk. Aura yang ia keluarkan juga tak jauh berbeda dari Gabriel ketika sedang marah. Sebenarnya kedua kakak b

