16

846 Kata
Lynne keluar dengan kaki yang lemas. Semuanya berjalan begitu cepat. Otaknya bahkan tidak bisa berpikir dengan jelas setelah nenek Gabriel mendeklarasikan tentang pernikahan. What the hell! Lynne memang menyukai Gabriel, tetapi jenjang pernikahan bukanlah main-main. Sejak dulu, Lynne selalu menganggap pernikahan adalah hal yang suci dan perlu keyakinan besar untuk melaksanakannya. Pasangan yang saling mencintai dan berjanji akan selalu bersama sehidup sematilah yang berhak melakukannya. Tapi dia dan Gabriel? Yang benar saja? "A—aku ...." Lynne memegang lengan Gabriel karena kakinya terasa lemas. "Aku rasa ini kelewatan, Gab. Perjanjian kita hanya sebatas tunangan, tidak sampai pernikahan." "Aku tahu," ucap Gabriel. Ia memegang tangan Lynne dan membantunya berdiri. "Tapi ini sudah di luar batas kuasaku, Lynne. Tetuaku memang selalu begitu. Mereka melakukan apa yang dianggap benar dan semua itu selalu terwujud bagaimanapun caranya." “Tapi mereka tadinya tak suka padaku dan menentangku … lantas kenapa tiba-tiba memintaku menikah denganmu?” Lynne bertanya bingung. “Itu karena mereka tahu, tidak ada harapan menikah untukku di kemudian hari. Sepertinya mereka memanfaatkan kesempatan ini dan hendak memasrahkan diriku padamu. Soal perkataan tajam dan rasa tidak suka mereka … kuharap kau tidak ambil hati. Tetuahku memang kasar.” "Jadi maksudmu, pada akhirnya kita berdua benar-benar akan menikah?" Lynne tidak fokus mendengar perkataan Gabriel. Demi Tuhan, ia baru sehari bersama Gabriel, tetapi entah bagaimana Lynne merasa sudah mengenal lelaki ini bertahun-tahun. "Kurasa," gumam Gabriel tak yakin. Ia menggaruk tengkuknya pelan. "Aku minta maaf karena sudah menyeretmu ke dalam sandiwara ini terlalu dalam, tetapi aku berjanji, aku akan membayarmu lebih banyak jika para tetuaku memutuskan untuk menggelar acara pernikahan." Lynne tertegun di tempatnya. Saat ini, mereka sedang membahas puncak tertinggi sebuah hubungan. Pernikahan. Tapi Gabriel malah membahas perihal uang? What the hell! Jujur saja, Lynne sangat tersinggung dengan sikap Gabriel. Namun, batinnya langsung berteriak ketika ia hendak protes. Lynne sangat membutuhkan uang. Bekerja dengan Gabriel adalah suatu anugerah tak ternilai karena Lynne punya mata pencarian yang tetap dan gaji yang besar. Sudah banyak sekali pengalaman dari pekerjaan yang Lynne tekuni, tetapi baru kali ini ia menemukan pekerjaan yang nyaman dengan imbalan besar seperti sekarang. Sejak dulu, Lynne menginginkan Judith dirawat di rumah sakit yang pengobatannya jauh lebih baik, tetapi uangnya tak pernah cukup. Lynne sadar bahwa usahanya tidak pernah berhasil. Karena itu, ia nekat mendaftarkan diri untuk bekerja di Wallance. Merelakan dirinya sendiri demi kesembuhan Judith bukanlah hal yang sulit bagi Lynne. Ia pernah bekerja 24 jam tanpa istirahat demi perawatan Judith dan ia rela melakukan apa saja asal Judith bisa bangun. Tuhan, ia hanya punya Judith di dunia ini. Ia tidak bisa kehilangan adiknya. Tidak bisa. "Baiklah," balas Lynne pasrah. Gabriel tersenyum. "Kalau begitu, mari kita naik ke atas. Aku yakin pestanya sudah dimulai."   ******   Hall yang awalnya hanya diisi beberapa orang, sekarang sudah penuh dengan manusia hingga terasa sesak. Mereka berdua memilih untuk menepi di dekat bar karena Gabriel benci berdekatan dengan orang lain. Sedangkan Lynne? Ia hanya bisa mengikuti atasannya. Lagu lembut diputar, membuat banyak orang berdansa dengan pasangan masing-masing. Lynne mengamati mereka dengan lekat. Ia merasa sedang berada di negeri dongeng. Semua ini terlalu sulit untuk diterima dalam satu hari. "Riel!" Suara teriakan itu membuat Lynne menoleh. Di sana, ia mendapati seorang wanita dengan balutan gaun hitam seksi tengah berlarian. Pencahayaan yang minim membuat Lynne kesulitan melihat wajah wanita itu. "Angel!" Gabriel berdiri dan memeluk wanita itu. Mereka berdua berpelukan cukup lama, lalu dia menuntun wanita itu berjalan ke arah Lynne dan ketika mereka sampai, Lynne tidak bisa menahan keterkejutannya. "D—dokter Angeline?" Lynne bergumam. Meski sekarang penampilannya jauh lebih cantik, tetapi Lynne tahu kalau wanita ini adalah dokter Angeline. Dokter yang merawat Judith setahun yang lalu. Dokter yang baru saja bertemu dengannya tadi sore. "Huh? Lynne?" Angel membelalak. "Kita bertemu lagi! Kau bersama siapa?" "Kalian berdua saling kenal?" tanya Gabriel bingung. "Bagaimana bisa?" "Adiknya adalah pasienku dulu." Angeline menjawab. Ia memandangi Gabriel dan Lynne bergantian dengan tatapan bingung. "Tunggu dulu. Kau bilang kau akan membawa tunanganmu hari ini. Jadi, tunanganmu ...." "Ya, Lynne adalah tunanganku." Gabriel merangkul tubuh Lynne erat. "Aku senang kalian berdua sudah saling mengenal." "Ini gila!" Angel menutup mulutnya terkejut. "Bagaimana bisa? Kau dan Lynne? Astaga, dunia ini begitu sempit." Lynne bingung melihat sisi lain dari dokter Angeline. Ia bukanlah orang yang seceria ini dengan orang yang tak dekat dengannya, tetapi saat bersama dengan Gabriel, dia menjadi pribadi yang berbeda.  Tanpa sadar, Lynne tersenyum melihat hubungan kekeluargaan yang terasa hangat. Lynne sudah lama sekali tak merasakannya. Ia bahkan tidak mengingat sedikit pun kenangan dengan papa dan mamanya. Lynne hanya memiliki video dan foto yang diambil saat ia dan Judith masih kecil. "Aku tak tahu," ucap Gabriel mengendikkan bahunya. "Bukankah ini seperti takdir?" "Kau benar." Angel mengangguk lalu ia melirik ke arah dance floor. "Apa kalian tidak mau berdansa? Semua pasangan melakukannya. Lihat Daniel," kata Angel lagi. Lynne dan Gabriel sontak ikut melirik Daniel yang sudah berdansa dengan wanita tadi. Ternyata ia bisa mengatasi masalah yang Gabriel sebabkan, atau mungkin, Daniel bisa mengatasinya dengan begitu baik. Gabriel tersenyum. Ia melirik ke arah Lynne dan tiba-tiba saja menyodorkan tangannya. "Shall we dance, Princess?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN