"Dengan Ridho-Nya izinkan aku menjadi pelipur laramu"
- Rif'an Aufa Fatahillah -
Sejak saat pertemuan itu aku tak lagi mendapat kabar apapun tentangnya. Semua karena aku yang sedang dilanda kesibukan pekerjaanku. Pekerjaanku berhasil menyita waktu dan pikiranku hingga aku sedikit melupakannya.
Jujur dalam hatiku, Aku masih merasa penasaran dengan sosoknya. Sosoknya yang berhasil mencuri perhatianku dengan sajak buatannya. Dan baru pertama kali ini aku mendapati sosok wanita yang berbeda. Sosok wanita yang tak pernah aku jumpai. Dan aku merasa jika dia adalah takdirku.
Entah karena alasan apakah hatiku merasa yakin jika dia adalah takdirku. Bayangannya selalu terlihat jelas di dalam fikiranku. Suaranya yang memperingatiku saat itu berhasil menembus Atma puing kalbuku. Aku terus saja terngiang-ngiang pada suaranya. Aku terus saja memikirkannya. Bagiku memikirkannya saja membuatku melupakan segalanya.
Ria Santika Dewi itulah namanya. Sebuah nama yang memiliki makna yang kuat seperti sosoknya. Mengingatnya membuatku tersenyum sendiri hingga semua rekanku merasa jika diriku sedang dilanda kasmaran. Ah aku memang merasa jika diriku tengah dilanda kasmaran. Dan hal itu jelas ku rasakan.
Dan sekarang aku sedang merindukannya. Ingin sekali menemuinya secara langsung. Melihat paras wajahnya yang cantik. Mendengarkan celotehan marahnya dan membaca sajak buatannya lagi. Aku merindukan segalanya tentangnya. Ingin sekali aku pergi dan menemuinya akan tetapi aku tak mungkin melakukannya. Aku merasa jika hal itu tak seharusnya ku lakukan. Dia putri seorang kyai besar masa aku menemuinya?Dan alasan apa yang ku ucapkan saat berhadapan dengan kyai Hambali? Masa aku harus mengarang alasanku? Tak mungkin hal itu ku lakukan.
Aku mencoba berfikir tentang cara untuk menemuinya. Aku berjalan mondar-mandir di depan pintu kamarku. Abah dan umikku melihat tingkahku yang aneh. Dan umik langsung menegurku
"Le kamu itu ngapain toh? Kok jalan mondar-mandir terus. Ada hal yang kamu pikirkan ya?" Tegur umik sambil menebak hal yang sedang ku lakukan
Aku berhenti dan melihat mata umik "Mboten mik,"
Aku mencoba menutupinya karena aku tak mungkin menceritakan hal ini pada Abah dan umikku.
"Le... " Panggil umik yang memintaku untuk mengatakannya
Aku ingin menjawab panggilan umik namun suara Abah menyahutinya.
"Uwis toh le jangan ditutupi dari Abah dan umik. Ceritakan saja pada Abah dan umikmu tentang hal yang kau resahkan." Sahut Abah berbicara padaku sebelum ku jelaskan pada umik
"Baiklah kalo Abah dan umik ingin tau. Rif'an akan menceritakannya." Ujarku sembari berjalan mendekati mereka berdua yang duduk di meja makan. Aku ikut duduk di samping Abah
Ku lihat pancaran mata Abah dan umik. Ku hembuskan nafasku pelan sebelum mengatakannya. Setelah aku merasa lega, aku mulai mengatakannya "Abah Umik Rif'an ingin sekali menemui putri kyai Hambali. Tapi Rif'an tak mungkin melakukan hal itu. Karena Rif'an tak memiliki alasan untuk menemui putrinya."
"Itulah hal yang Rif'an pikirkan." Imbuhku
"Le kenapa kamu ingin menemui putri kyai Hambali? Kamu ada urusan gitu ya le?" Balas umikku menebak-nebak
Duh umik pakai tanya urusanku. Bisa gawat kalo umik tau jika aku menyukai putri kyai Hambali tersebut! Batinku dalam hati.
Tak seharusnya aku mengatakan hal jujur seperti ini! Batinku lagi merutuki hal yang ku ucapkan.
"Kamu suka ya sama putrinya kyai Hambali?" Tebak Abah dengan mudah tentang hal yang ku rasakan dan pikirkan
Aku hanya bisa tertegun mendengar tebakan dari perkataan Abah. Aku tak membalasnya dan aku hanya bisa diam serta terus merutuki ucapanku.
Haduh bagaimana bisa Abah tau! Jeritku dalam hati
"Iya kan Le? Kamu suka kan sama putrinya kyai Hambali?" Tanya Abah memancingku sekali lagi
"Tidak Bah." Elakku yang berusaha untuk memalingkan wajahku dari pandangan Abah
"Sudah tak usah mengelak lagi le, wajah merahmu sudah menunjukkannua. Abah dan umik juga sudah bisa tau hal itu." Cecar Abah dengan tenang
Aku hanya bisa diam tertunduk di depan Abah dan umik. Entah hal apa lagi yang harus ku jawab. Aku sudah merasa sangat malu sekali.
Abah memegang bahuku dan menatapku dengan lekat, "Le jika kau menyukainya dan kau ingin menemuinya maka mintalah izin pada kyai Hambali untuk melamarnya. Lamarlah dia secepatnya Le." Saran Abah kepadaku
"Ha Abah hal itu tak mungkin aku lakukan." Tolakku pada saran yang Abah berikan
"Kenapa tidak? Apa hal itu salah untukmu Le?" Tanya Abah
"Tentu saja hal itu salah Abah, Rif'an tak mungkin langsung melamarnya. Rif'an juga perlu waktu untuk mengenalnya juga bah." Terangku pada Abah
"Le seorang wanita itu lebih menyukai hal yang pasti. Mereka menyukai kepastian bukan ta'aruf. Kamu ta'aruf boleh saja tapi ingat Le sebuah buah yang segar dan manis pada sebuah batang pohon kalo tak cepat diambil maka bisa saja diambil orang lain." Abah mengatakan hal itu dengan serius
"Kamu mau merasakan hal itu Le?" Tanya Abah yang ku balas dengan anggukan. Abah meneruskan perkataannya lagi "Kalo ga mau cepat minta izin pada kyai Hambali. Untuk urusan selanjutnya tinggal kamu pasrahkan sama yang maha kuasa."
"Ingat Le umur kamu juga sudah cukup untuk menikah jadi Itu saja saran dari Abah." Imbuh Abah mengakhiri nasehatnya
"Iya Le lebih baik kamu cepat meminta izin untuk melamarnya. Kamu lebih baik mendekatinya dengan sebuah ikatan yang sah daripada mengajaknya ta'aruf. Proses ta'aruf itu bisa kamu lakukan saat setelah kamu menikah dengannya. Hal itu lebih baik karena itu bisa menjadi ladang ibadahmu." Umik ikut memberiku nasehat yang serupa dengan Abah.
Aku terdiam mendengarnya. Aku mencoba memikirkan nasehat Abah dan umik. Semua yang dikatakan memang ada benarnya. Seorang laki-laki yang baik adalah seseorang yang mengajak wanitanya pada sebuah ibadah bukan ke arah kemaksiatan.
"Baiklah Rif'an akan meminta izin pada kyai Hambali untuk melamarnya." Ucapku yang sudah mengambil keputusan dengan bulat
Semua keputusanku telah ku ambil dengan tekad yang kuat. Dan aku yakin jika langkah inilah yang tepat untuk ku lakukan.
"Alhamdulillah Le semoga niatanmu untuk melamarnya dimudahkan oleh Allah yang maha kuasa ya le." Umik mendoakanku dalam penuturannya
"Abah doakan kamu pasti bisa Le." Sahut Abah yang ikut memberikanku doa
"Hatur nuwun Abah Umik sudah mendoakan Rif'an. Semoga semua bisa lancar."
"Aaminn.."
Aku percaya takdir, maut, rezeki dan jodoh berada di tangan Tuhan. Hanya Tuhan yang maha kuasalah yang mengetahuinya. Dan kita sebagai makhluk-Nya hanya bisa meminta yang terbaik pada-Nya. Pasrahkan diri, berdoa, ikhtiar dan bertawakal adalah hal yang bisa dilakukan seorang hamba-Nya. Semua telah menjadi landasan dalam hidupku.
Aku tau jika tak mudah mendapatkannya namun aku yakin jika dia menjadi takdirku maka atas Ridho-Nya semua jalan akan terbentang dengan lebar.
*****
Hari ini adalah waktu untukku bertemu dengannya. ku persiapkan diriku untuk bertemu dengannya sebaik mungkin. Hari ini aku akan meminta izin pada kyai hambali untuk melamarnya. Aku telah bersiap untuk pergi. Sebelum pergi aku meminta restu dan doa pada abah dan umik. Setelah mendapat restu dari abah dan umik aku langsung bergegas pergi. Ku lajukan mobilku untuk berjalan pergi. Pergi ke tempat tujuanku yaitu rumah kyai Hambali.
Tiga jam kemudian aku telah sampai di kediaman rumah kyai Hambali. Aku keluar dari mobil. Aku terdiam sejenak sembari menghirup udara pondok pesantren. Udara yang sangat sejuk nan rindang. Saat aku tengah terdiam kyai Hambali melihatku. Ia menghampiriku dan memanggilku. Tepat di depanku ku kecup kedua tangan kyai Hambali. Menanyakan kabar beliau sambil berjalan masuk ke rumah ndalem kyai hambali.
Di ruang tamu Kyai hambali bertanya padaku tentang tujuan kedatanganku. Beliau mengira jika diriku ada acara di pondoknya. Tentu aku menjawabnya tidak. Ku katakan tentang tujuanku yang datang ke rumahnya yaitu ingin melamar putrinya. Beliau merasa kaget mendengar tujuan kedatanganku. Aku menyakinkan beliau lagi tentang tujuan kedatanganku.
Beliau percaya padaku dan respon yang ku lihat yaitu ia merasa sangat senang. Guratan senyum di bibirnya terlihat jelas. Ia mengambil ponselnya dan menelfon seseorang. Seseorang tersebut tak lain pasti putrinya. Setelah selesai menelfon beliau mengatakan untuk menunggu kedatangan putrinya. Tentu aku mau menunggunya. Hal apapun akan ku lakukan asal aku bisa bertemu dengannya.
Kami menunggu kedatangan putrinya selama dua jam. Dua jam kemudian ada suara sebuah mobil tampak terdengar di depan. Aku yakin jika mobil itu milik putrinya. Dan tebakanku benar. Beberapa menit kemudian Putrinya masuk ke ndalem. Dia salim kepada kyai hambali. Kemudian ia menoleh dan melihatku, ia merasa kaget. Dia memberiku kode kepadaku 'Kenapa kau datang kemari' . Belum sempat ku jawab Kyai Hambali memintanya untuk duduk.
Tanpa basa-basi ia bertanya padaku tentang alasan kedatanganku. Ku katakan padanya tentang alasan kedatanganku yang ingin melamarnya. Respon yang ku dapatkan darinya yaitu ia menghantamkan tangannya ke meja. Aku merasa biasa saja. Dia terus mengelak tentang tujuanku. Ia menolakku dengan mentah-mentah. Akan tetapi semua bisa ku atasi dengan mudah. Aku mencoba terus untuk menyerang perdebatannya. Aku menjawabnya dengan halus hingga membuatnya bungkam mendengarkan perkataanku.
Ku rasa dia telah kalah telak hingga tak bisa membalas perkataanku. Setelah itu dia pergi dan mengatakan padaku jika dia masih butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Kyai Hambali merasa marah padanya namun ia tetap tak menghiraukan panggilan kyai hambali. Aku tau jika dia masih belum menerima ajakanku untuk menikah. Bagi wanita semua tak akan mudah untuk mengambil langkah ke jenjang serius. Dan aku mengerti jika dia masih belum yakin terhadapku.
Kyai Hambali memintaku untuk bersabar dan datang kembali nanti jika dia bisa membujuk putrinya. Aku mengerti hal itu. Aku mengangguk dan berpamitan pada kyai hambali untuk pulang. Kyai Hambali memberiku pesan untuk sabar dan terus berdoa. Kyai hambali juga mengatakan jika beliau akan cepat mengabariku. Tentu aku merasa senang dengan perhatian kyai hambali yang ia berikan padaku. Aku yakin jika apa yang dikatakan oleh kyai hambali akan menjadi sebuah jalan untukku tak menyerah. Dan aku yakin jika semua akan ada jalannya. Termasuk jalan untukku mendekatinya.
Setelah berpamitan aku pergi dari pesantren. Melajukan mobilku untuk pulang. Aku sudah berusaha sebaik mungkin hari ini dan kini aku hanya bisa pasrah pada keputusannya. Aku juga pasrah pada takdir sang maha kuasa.
****
Beberapa hari ini aku menunggu keputusannya. Aku merasa bimbang sekaligus takut. Aku takut mendapat penolakan lagi. Aku berjalan mondar-mandir lagi sembari memegang ponselku. Berharap ada telfon dari kyai hambali.
''Le kamu kenapa lagi atuh?'' Tegur Umik dari belakang
''Menunggu telfon dari kyai hambali bu. Udah seminggu ini Rif'an belum mendapatkan jawaban darinya.'' Jawabku menceritakan keresahan yang ku rasakan
''Le sabar atuh.'' Balas Umik
''Sabar gimana lagi atuh umik. Rif'an takut ditolak lagi atuh. Apa jangan-jangan dia nikah sama yang lain ya mik.'' Ucapku berasumsi buruk tentangnya
''Hust jangan suudzon gitu, gak baik atuh Le.'' Umik menasehatiku untuk tak bersuudzon
''Tapi kan umik..'' Ujarku yang dipotong oleh perkataan umik lagi ''Hust udah tunggu aja toh Le, Umik yakin kalo habis ini kyai hambali akan menelfonmu.''
''Njeh umik..''
''Ya udah umik angkat jemuran dulu.'' Pamit umik ku balas dengan anggukan kepalaku
Tuhan sampai kapan aku harus menunggu jawaban darinya?
Apa aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkannya?
Beri aku petunjukmu Tuhan..
Akankah Rif'an mendapatkan jawaban dari Ria?
Nantikan di chapter selanjutnya~^^