"Mari kita berjalan bersama hingga kita temukan surga dan Ridho-Nya"
- Rif'an Aufa Fatahillah -
Aku duduk di sofa sembari memandangi ponselku. Berharap ada telfon dari kyai Hambali.
Ayolah ponselku cepat berdering!! Gerutuku dalam hati
Ku rebahkan diriku di kursi. Memejamkan mataku sebentar untuk menenangkan diriku. Beberapa detik kemudian ponselku berdering dengan kencang. Aku langsung membuka mataku dan melihat ponselku.
Kyai Hambali memanggil...
Nama kyai Hambali berada di layar ponselku. Aku senang tak main mendapati telfon dari beliau. Tanpa menunggu waktu ku terima telfon dari kyai Hambali.
"Assalamualaikum Le.." Salam Kyai Hambali
"Waalaikumsalam Abah yai.."
"Le kamu apa kabar? Keluarga kamu sehat kan?" Tanya kyai Hambali
"Njeh Abah yai Alhamdulillah keluarga Kulo sehat wal afiyat. Abah yai pripun?" Tanyaku balik
"Alhamdulillah sehat le."
"Le kamu bisa datang ke rumah hari ini?" Imbuhnya menanyakan padaku apakah aku bisa datang kesana
"Njeh Abah yai saget. Tapi ada apa njih Abah yai?" Tanyaku dengan sedikit curiga
"Sudah datang saja ke rumah. Nanti kamu akan tau Le." Jawab beliau yang tak ingin memberitahukan padaku
"Njeh Abah yai ngapunten."
"Ya wis Le ku tunggu ya, aku tutup dulu ya."
"Njeh Abah yai."
Setelah itu panggilan kyai Hambali selesai. Aku segera beranjak dari dudukku dan pergi ke kamarku. Bersiap untuk pergi ke rumah kyai Hambali. Aku bersiap dengan secepat mungkin. Aku tak ingin telat dan mengecewakan beliau.
Setelah selesai bersiap ku ambil jaket dan kunci mobilku. Ku ambil tas kecilku dan keluar dari kamar. Umik berpas-pasan denganku.
"Lho Le kamu mau kemana? Kok rapi banget gini atuh?" Tanya umik terkejut melihat penampilan yang sudah rapi
"Rif'an diutus kyai Hambali untuk pergi ke rumahnya sekarang umik. Mungkin Rif'an akan mendapatkan jawaban dari putrinya. Rif'an mohon doa dan restu jenengan nggeh mik." Ku ambil tangan umikku dan mengecupnya. Meminta restu dan doa pada umik adalah kedua hal yang tak pernah ku lupakan. Sebelum pergi aku selalu melakukannya.
Umik mengusap kepalaku dan menyunggingkan senyumnya padaku, "Semoga lancar ya Le dan semoga umik bisa dapat mantu hihi."
"Njeh mik doakan Rif'an njih."
"Ya wis Ndang berangkat Le."
"Salam Ten Abah Njeh mik." Pesanku pada umik
"Iya Le."
Setelah selesai berpamitan umik mengantarku ke depan rumah. Ku masukkan tasku kemudian masuk ke dalam mobil. Aku mulai menyalakan mobil. Sebelum berangkat ku lambaikan tangan pada umik. Segera saja ku lajukan mobilku untuk pergi ke rumah kyai Hambali.
Lancarkan dan permudah urusan hamba ya Robb..
Hanya kepada-Mu lah hamba berdoa dan berserah diri..
*****
Tiga jam kemudian setelah melewati jalanan kini aku telah sampai di pesantren kyai Hambali. Sebelum aku keluar dari mobil ku lafalkan doa dan sholawat. Setelah aku merasa tenang dan yakin aku keluar dari mobil.
Ada beberapa santri menyalamiku dan aku membalas dengan senyuman. Setelah itu aku berjalan ke rumah ndalem. Saat aku sampai di rumah ndalem ku liat kyai Hambali yang sedang duduk di kursi depan. Aku menunduk dan salim pada tangan beliau.
"Assalamualaikum,Ngapunten kyai nembe datang." Tuturku dengan lembut
"Iya tak apa Le, Sekarang kamu pergilah ke taman belakang. Putri saya ingin mengajakmu bicara dan dia sudah menunggumu disana Le." Ujar Kyai Hambali memberiku perintah untuk pergi ke taman belakang beliau
Ku anggukkan kepalaku, "Njeh pak yai, saya izin pergi dulu njih Abah yai."
"Silahkan Le."
Setelah mendapatkan izin untuk pergi segera saja ku langkahkan kakiku ke taman belakang rumah kyai Hambali. Aku tak berhenti bersholawat dan melafalkan doa dalam hatiku. Baru pertama kalinya aku merasa gugup. Ku coba untuk meredamnya.
Ayo Rif'an kau pasti bisa!! Seruku dalam hati
Aku masuk ke dalam taman rumah kyai Hambali. Sebuah taman dengan rumah kaca yang sangat indah. Berwarna-warni bunga bermekaran. Warnanya sangat indah seindah pemandangan hari ini. Semerbak wangi bunga ku rasakan. Saat ku tengah terpana dengan pemandangan taman ku liat seorang gadis yang sedang menyiram tanaman.
"Kau sudah sampai ternyata ya." Ujarnya yang menyadari kedatanganku
Aku tak sadar jika dia berada di depanku. Akan tetapi dia menyadari kedatanganku. Bagaimana mungkin bisa dia merasakan kedatanganku?
"Iya saya baru saja datang dan bagaimana anda tau jika saya baru datang? Sedangkan anda sedang membelakangiku?" Tanyaku
"Seorang manusia bisa mengetahuinya dari suara tapak kakimu. Meski aku tak melihatmu tapi aku masih bisa mendengar suaramu." Jawabnya dengan tepat, membuatku kagum terhadap kepekaannya.
"Anda sungguh luar biasa Ning." Pujiku pada kepekaannya
"Aku hanya manusia biasa. Jadi anda mau duduk apa berdiri saja?" Tanyanya
"Duduk Ning."
"Panggil aku Ria jangan Ning." Perintahnya
"Injih.."
"Ya sudah ikut aku pergi ke dalam."
"Injih.."
Aku berjalan mengikutinya dari belakang. Ia membawaku masuk ke dalam ruangan. Sebuah ruangan yang memiliki satir penyekat di tengah ruangan tersebut. Dia duduk di sebelah kanan sedangkan aku duduk di sebelah kiri. Aku masih saja tak bisa melihatnya namun tak apa. Cukup mendengarkan suaranya saja sudah membuatku tenang.
"Aku akan langsung bertanya to the point jadi tak usah basa-basi lagi.'' Ucapnya memulai percakapan di antara kami berdua
"Njih silahkan anda bertanya pada saya." Ku persilahkan padanya untuk bertanya padaku
"Apa kau yakin denganku? Dan hal apa yang membuatmu yakin terhadapku?" Tanyanya secara to the point kepadaku
"Aku telah yakin pada anda sejak pertama kali. Entah karena alasan apa diri ini sudah yakin tentang anda. Setiap saya sholat saya selalu mendapati anda. Dan mungkin ini petunjuk dari yang maha kuasa." Tuturku
"Okey aku terima jawabanmu. Satu pertanyaan lain alasan apa yang membuatmu ingin menikahiku?" Tanyanya sekali lagi
"Tiada alasan terbaik seorang adam mengajak menikah seorang hawa selain beribadah kepada Allah. Dan itulah alasan saya." Jawabku dengan percaya diri
Setelah ku jawab pertanyaan. Dia mulai diam, suasana diantara kami menjadi sunyi. Aku merasa tak tenang. Aku merasa jika diriku harus mencairkan suasana sunyi ini.
"Bolehkah saya bertanya pada anda juga?" Aku meminta izin padanya untuk bertanya
"Silahkan, tanyakan saja."
"Maaf jika pertanyaanku terdengar tak sopan. Sejujurnya apa anda siap menikah?" Tanyaku dengan lirih
"Sejujurnya saya siap saja akan tetapi saya masih belum bisa mempercayai seorang laki-laki." Balasnya
"Kenapa?"
"Karena saya memiliki trauma tentang pernikahan. Dulu saya pernah sangat mencintai seorang laki-laki. Kemudian hati saya dipatahkan olehnya. Dia mencintai wanita yang lain. Aku mengetahui hal itu saat h-1 khitbahku." Jelasnya menceritakan masa lalunya
Aku terenyuh mendengar kisah masa lalunya. Karena hal inikah alasan dia yang menolakku mentah-mentah?
Aku tau bagaimana rasanya diselingkuhi oleh orang yang kita cintai. Rasanya pasti sangat sakit sekali. Apalagi ketika kita mengetahui seseorang yang kita cintai tak mencintai kita. Sungguh luar biasa sakitnya.
"Saat itu pak lek pergi ke luar kota. Aku tak pernah menceritakan hal ini pada siapapun kecuali umikku." Ia melanjutkan ceritanya lagi, aku semakin merasa tak enak hati melihatnya sedih seperti ini.
"Untuk melupakan kesedihanku, aku mulai menyibukkan diri untuk mengurus butikku. Mas Firhan mengetahui masalahku dan ia memberiku bisnis butiknya. Dan syukurlah aku bisa melupakannya." Tuturnya sekali lagi
"Maafkan aku jika aku pernah menolakmu mentah-mentah. Aku bukan bermaksud menyakitimu." Ia meminta maaf padaku
"Tak apa Ning, hal itu sangat wajar dilakukan jika saya menjadi diri anda. Dan saya paham dengan perasaan anda." Jawabku
"Kita sebagai manusia memang tak seharusnya berharap pada seorang hamba. Karena berharap kepada seorang hamba akan membuat sakit hati." Imbuhku
"Iya saya mengerti hal itu. Terima kasih sudah mengerti dan memaafkan ku." Balasnya
"Bolehkah saya bertanya sekali lagi pada anda?" Tanyaku meminta izin untuk bertanya kepadanya sekali lagi. Aku bertanya karena ada hal yang harus ku pastikan padanya. Pastikan apakah aku masih memiliki harapan dan kesempatan untuk menyembuhkan lukanya?
"Silahkan saja." Ia mempersilahkanku
"Apa saya masih memiliki kesempatan untuk menyembuhkan luka anda?" Tanyaku secara terus terang
"Maksud kamu?"
"Maksud saya, apa anda mau memberikan kesempatan kepada saya untuk membuat Anda bahagia? Bolehkah saya menjadi pelipur laramu Ning?" Aku bertanya padanya
"Ya, kau memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu. Aku ingin kau mengenali diriku dan setelah itu kau bisa memutuskan mau melanjutkan khitbah denganku apa tidak." Jawabnya yang membuatku senang tak main.
"Benarkah itu? Saya boleh?" Tanyaku yang masih tak percaya
"Iya, setiap manusia berhak memiliki kesempatan itu. Dan aku izinkan engkau." Balasnya
"Terima kasih banyak telah mengizinkanku."
"Sama-sama."
Hari ini menjadi saksi untukku memulai kisah pelabuhan cintaku dengannya. Dan aku berharap aku bisa mengenalinya lebih dalam lagi hingga aku bisa mengikatnya pada sebuah ikatan yang sah di mata Tuhan Yang Maha Esa.
*****
Ria Pov
Aku mulai membuka hati untuknya. Memberinya kesempatan untuk mengenal lebih dalam lagi tentangku. Lebih tepatnya saling mengenal satu sama lain. Kata pak lekku tidak ada salahnya aku mengenalnya. Pak Lek juga berkata padaku jika tidak semua laki-laki itu b******k dan masih ada pula laki-laki yang baik. Aku memahami perkataan pak lek dan mencoba untuk membuka hati. Dan kini aku bertekad untuk Ta'aruf dengannya.
Sebulan kami telah menjalani proses Ta'aruf. Aku mengenalnya dengan cukup baik. Ia sering datang ke butikku. Membantuku melakukan pekerjaan di butik. Dan ia juga sering datang ke rumah. Bercanda tawa dengan pak lek, bu lekku dan keempat saudaraku. Dari hal yang ku amati darinya selama ini, Aku mulai luluh dengan sikapnya. Tampak terpancar jelas ketulusannya untukku. Dan entah kenapa hati ini mulai yakin terhadapnya.
Tepat di malam hari, Aku berbicara dengan pak lekku. Aku harus mengatakannya sebelum semua sia-sia.
''Ada apa atuh nduk?'' Tanya pak lekku yang bingung dengan sikapku
''Pak Lek Ria mau bicara sesuatu dengan pak lek.'' Ucapku lirih agar tak didengar oleh siapapun. Jika ada yang mendengarnya pasti keempat anak pak lek akan meledekiku.
''Ya bicara saja atuh nduk.''
''Pak Lek, Ria sudah mulai suka dan yakin sama pria itu.'' Ku bisikkan lirih pada pak lek. Aku tak berani bicara keras karena ada mas farhan yang mengamatiku. Aku tak ingin diledek mas farhan lagi.
''Pria itu siapa toh nduk?'' Ucap Pak lek dengan keras
''Itu lho bah Rif'an, masa abah ndak tau.'' Sahut Mas Farhan yang mendekati kami berdua
''Pak Lek ih kan.'' Gerutuku karena sudah ketahuan oleh mas farhan. Mas Farhan mendekati kami berdua pula huh. Pasti mas farhan akan meledekiku lagi.
''Oh nak Rif'an atuh nduk. Kenapa gak bicara dari tadi.'' Ujar Pak Lek yang baru mengerti orang yang k maksud.
''Ya karena Ria gak ingin farhan ledek bah hahaha.'' Ledek mas farhan yang baru saja dimulai
''Kamu itu ga boleh terus meledeki adekmu Han.'' Tutur Pak Lek yang membelaku
''Njeh bah tapi asyik atuh bah kalo meledeki Ria haha.''
''Ih mas Farhan selalu gitu huh.'' Gerutuku
''Maaf deh dek Ria ku yang cantik dan manis.'' Mas Farhan berpura-pura meminta maaf padaku. Pasti di balik hal itu dia akan melakukan hal lagi padaku. Apa lagi kalo tidak menjahiliku lagi.
''Sebagai gantinya mas sudah telfon Rif'an sebagai permintaan maaf mas.'' Lanjutnya
Aku mulai geram dengan sikap mas farhan. Mas farhan memperlihatkan ponselnya yang terlihat jelas sedang memanggil Rif'an. Dan panggilan telfon itu tersambung. Aku berusaha menyahut ponsel mas farhan dari tangannya namun mas farhan telah berhasil melarikan diri dariku. Aku berteriak sambil mengejarnya. Pak Lek, Bu Lek dan ketiga saudaraku hanya bisa geleng kepala melihat tingkahku dan mas farhan.
Aku terus mengejar mas farhan ''Mas Farhannn berhentii!''
''Kejar aku kalo bisa dek wlek haha.'' Ejek Mas Farhan tertawa melihatku berhenti karena kecapean mengejarnya.
''Mas farhan awas ya kamu!!'' Aku sudah bersiap lari akan tetapi mas farhan masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya.
Aku menggedor-gedor pintu kamarnya dengan kencang. Tak peduli jika pintu kamarnya rusak.
Ku dengar suara mas farhan yang sedang tertawa. Aku mendengar juga perkataan yang mengatakan ''Iya Rif'an besok kamu datanglah ke rumah. Ria mau memberimu jawaban jadi datanglah. Jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan ini okey?''
''Ya sudah aku tunggu kedatanganmu besok bye.'' Lanjut mas farhan
Aku merasa semakin geram dengan sikap mas farhan. Bagaimana mungkin mas farhan mengadukanku padanya seperti itu. Aku akan semakin malu jika besok aku bertemu dengannya. Semua hanya gara-gara mas farhan!
Mas Farhan membuka pintu kamarnya. Ia menampilkan senyum anehnya padaku ''Semua beres dek. Besok tinggal nunggu dia datang ke rumah.''
''Kamu tenang saja okey dek?'' Lanjutnya yang masih tak merasa bersalah
Mataku melotot pada mas farhan ''Mas itu seenaknya aja sih! Apa mas gak mikirin perasaanku! Mas sudah keterlaluan dan aku benci sama mas!''
Setelah membentak mas farhan dengan kencang, aku pergi ke kamarku. Air mataku menetes. Aku melewati pak lek, bu lek dan ketiga saudaraku yang melihatku. Ku tutup pintu kamarku dengan keras.
Aku tak peduli dengan panggilan mereka. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku merasa sangat kesal dengan sikap mas Farhan. Ia benci dengan sikap mas farhan yang seenaknya!
Bagaimana bisa aku bertemu dengannya besok tuhan?
Entahlah aku hanya bisa pasrah dan menunduk malu..
*****
Keesokan harinya, Aku masih diam. Aku masih membantu umik memasak. Akan tetapi aku masih mendiamkan orang serumah. Setelah membuat kopi aku langsung membawanya ke abah dan kepada ketiga saudaraku. Kecuali mas farhan. Aku sengaja tak membuatkannya kopi. Aku masih marah dengannya.
Beberapa menit kemudian bu lek memanggil kami semua untuk makan bersama. Di meja makan kami hanya bisa diam saja tak seperti biasanya yang penuh dengan canda tawa. Aku tak peduli dengan lirikan mata mas farhan yang melihatku. Saat kami tengah asyik ku dengar suara klakson mobil yang ku kenali.
Oh tuhan suara klakson ini kan suara mobil mas Rif'an! Batinku dalam hati
Dia ternyata beneran datang!
''Assalamu'alaikum..'' Suara Mas Rif'an terdengar
Aku beranjak dari dudukku ''Tuh kan mas semua gara-gara mas! Ria tak peduli dan urus semuanya sendiri!''
Setelah itu aku ingin melangkah pergi namun tangan mas farhan menghentikanku ''Dek duduk dulu. Biar mas jelasin dulu.''
''Ga ada hal yang perlu dijelasin mas! Mas tau gak apa yang ria rasakan! Ria malu mas bertemu dengan dia! Karena mas yang bertindak seenaknya!'' Makiku pada mas farhan
''Dek mas melakukan semua ini karena peduli denganmu. Lagian sebelum mas menghubungi Rif'an abah sudah menghubunginya terlebih dahulu. Abah sudah merencanakan untuk bertemu Rif'an hari ini. Dan mas minta maaf jika mas membuatmu marah.'' Jelas Mas Farhan dengan sungguh-sungguh
Aku menoleh kepada pak lek ''Apa itu benar pak lek?''
''Iya nduk itu benar, Abah sudah menghubungi nak Rif'an terlebih dahulu.'' Tutur Pak Lek menjawab pertanyaanku
''Tapi kenapa pak lek melakukan hal itu padaku? Kenapa?'' Tanyaku meminta penjelasan pada pak lekku
''Karena pak lek tau perasaanmu nduk. pak Lek ingin kamu segera melangsungkan pernikahan maka dari itu pak lek meminta Rif'an untuk datang kemari. Pak Lek ndak ingin menunda-nunda pernikahanmu nduk.'' Terang Pak Lek
''Maafkan pak lek ya nduk.'' Lanjut pak lek
Ku berhari memeluk pak lek ''Hatur nuwun pak lek sudah mengerti perasaan Ria.''
Setelah itu aku memberanikan diriku untuk bertemu dengannya. Ditemani pak lek, bu lek dan ke-empat saudaraku ku katakan dengan jelas perasaanku. Ku beranikan diri untuk menerima ajakan khitbahnya. Aku tak ingin menyia-nyiakannya lagi. Ia tampak senang mendengarnya. Bahkan ia sampai bersujud di hadapanku.
Dua hari kemudian kami melangsungkan khitbah dengan khidmat. Dan kami memutuskan menyusun rencana pernikahan sebulan kemudian. Kami tak menunda lagi. Persiapan pernikahanku dengannya dibantu oleh ke-empat anak pak lek. Bahkan aku tak dibiarkan kelelahan mempersiapkan pernikahanku. Semua karena ke-empat anak pak lek sangat menyanyangiku dan sudah menganggapku sebagai adiknya. Abah dan umikku juga sudah diberitahu oleh pak lek. Meski mereka tak bisa datang tapi mereka selalu mendoakanku.
Hari pernikahanku telah datang. Aku merasa deg-degan. Aku merasa masih tak percaya dengan semua ini. Takdir Allah sungguh indah sekali. Bertemu dengannya, Berta'aruf selama sebulan kemudian khitbah dan menikah. Sungguh semua prosesnya sangat cepat. Aku sangat bersyukur dengan semua itu. Ke-empat anak pak lek mengawalku ke tempat duduk. Aku duduk di sebelahnya dengan jantung yang berdebar.
Ia memiringkan kepalanya dan membisikkan sebuah kata ''Sebentar lagi kamu akan menjadi ratuku jadi jangan gugup.''
Aku tersenyum mendengar perkataannya. Perkataannya membuatku tersenyum malu.
Pak Lek bertanya kepadanya ''Apa sudah siap Le?''
Ia menjawab dengan tegas ''Njeh sudah bah!''
Pak Lek mulai melafalkan doa dan sholawat. Kemudian ia mengucapkan ijab qobul sambil menjabat tangannya ''Ya akhi karim Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha Ria Santika Dewi Bin Abdullah bi mahri mi'ataini alf wa eishrin jiraman min aldhahab madkur.''
Dia menjawab dengan sekali nafas, ia menjawab dengan lantang di depan Pak lekku ''Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur.''
''Sah?''
''Sahhh..''
''Alhamdullilahi robbil alamin, Barakalah lakuma wa baraka alaikum wa jama'a baina kuma fi khoir.''
Setelah proses ijab qobul selesai pak lek mengucapkan doa untuk kami semua. Setelah selesai Ia memasang cincin untukku. Kemudian aku juga memasangkan cincin di jarinya. Setelah itu ku raih tangannya dan mengecupnya. Ia mengecup dahiku dengan melafalkan doa. Setelah itu pandangan mata hangatnya menatapku. Aku tersenyum malu.
''Wajahmu memerah ya humairoku.'' Ucapnya menggodaku
''Semua ini karenamu..''.
Ia menarik tubuhku dan mengecup dahiku lagi ''Assalamu'alaikum zaujati kolbi..''.
''Waalaikumsalam ya zauji kolbi.''
Kemudian ia memelukku dan berkata lirih padaku ''Kamu tau ndak, Sekarang kamu bukan lagi maestro.''
''Hm kenapa? Terus aku apa dong?'' tanyaku yang masih bingung pada ucapannya.
''Kamu sekarang itu My Istri hihi.'' Gombalnya, Ia tertawa cekikikan setelah mengatakan jawabannya.
Aku ikut tertawa malu mendengarnya ''Mas bisa aja hehe.''
''Terima kasih sudah menerimaku dan semoga pernikahan kita sakinah mawaddah warahmah.''
''Terima kasih juga sudah memilihku. Aaminn..''
Berawal dari ia membaca sajakku berakhir dengan jodoh. Ya, inilah takdir manisku dengannya. Bertemu dengannya adalah wujud dari keindahan untukku. Dan aku bahagia serta bersyukur. Semoga pernikahan kami selalu diwarnai oleh rasa syukur yang tiada tara.