Chapter 19

1398 Kata
''Apapun keputusan yang kita ambil adalah bentuk keputusan yang terbaik'' - Soraya - Satu kalimat telah terucap dari bibir Dani. Dani telah berterus terang pada soraya dan sekarang ia hanya menunggu respon dari soraya. Dani berputus asa dengan respon apakah yang soraya berikan padanya. "Mas Dani tolong lepaskan pelukan mas." Pinta soraya "Kenapa soraya? Kau marah padaku? Tak memaafkanku?" Dani merasa takut jika soraya meninggalkannya "Mas ku mohon." pinta soraya lagi "Kamu tak akan ku biarkan pergi begitu saja. Tak akan!" Tolak Dani yang enggan merasa kehilangan soraya lagi. Ia tau jika dirinya salah tapi tak bisakah ia menjelaskannya terlebih dahulu. Soraya berbalik badan, Ia menyentuh pipi Dani "Mas gak enak jika dipandang oleh seseorang jadi tolong lepaskan ya." "Tapi kamu ga akan pergi kan?" tanya Dani "Iya mas Dani, Kita bicarakan dengan duduk ya. Kalo seperti ini kita masih belum mahrom mas Dani. Aku janji gak akan pergi." Soraya menenangkan diri Dani agar ia bisa terlepas dari pelukan mas Dani. Dani melepaskan tangan kekarnya dari pinggang soraya. Ia memegang tangan soraya, "Kita bicara sambil jalan-jalan di taman rumahku ya?" Soraya mengangguk "Iya mas Dani. Tapi bisakah mas Dani melepaskan tanganku?" "Aku ingin menggenggam tanganmu soraya jadi izinkan ya." Pinta Dani dengan raut wajah yang memohon pada soraya. Melihat puppy eyes dari mata Dani membuat soraya tak bisa menolaknya. Ia mengizinkan Dani "Baiklah mas, Tapi jika ada orang lain tolong ya lepaskan. Agar tak menimbulkan fitnah." Dani mengangguk cepat "Iya soraya.." Dani mulai mengajak soraya berjalan-jalan di sekeliling rumahnya. Dani berada di depan soraya sedangkan soraya mengikuti Dani dari belakang. Tentu sambil saling menggenggam tangan. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di taman keluarga Dani. Dani berhenti tepat di sebuah pot bunga yang sangat cantik. Ya, bunga itu adalah bunga mawar pink. "Soraya kamu tau tak jika bunga akan layu pada waktunya dan ia juga akan mekar pada waktu yang tepat juga." Tutur Dani memulai pembicaraan terlebih dahulu "Iya mas Dani." "Ya itulah kondisiku saat ini. Dulu aku sangat bersemangat untuk meraih beasiswa S2 di kampus impianku di timur tengah namun apa yang ku dapatkan? Aku tidak kunjung menerima pengumuman tersebut padahal temanku mendapatkannya." Dani mulai menceritakan hal yang menjadi keinginannya "Aku sempat menyerah namun semua berubah ketika aku bertemu denganmu. Keinginanku untuk melanjutkan s2 pun mulai ku lupakan. Tapi entah kenapa sekarang keinginan itu muncul kembali setelah ku dapati pengumuman tersebut. Jujur saja aku tak ingin meninggalkanmu soraya." Imbuh Dani Soraya mengerti perasaan mas Dani yang sangat menginginkan impiannya tersebut. Semua terpancar jelas di mata Dani. Soraya berjalan ke depan Dani. Menatap mata mas Dani, "Apa mas sangat menginginkan untuk melanjutkan pendidikan mas?" "Ya tentu aku sangat ingin tapi aku tak mungkin bisa melakukannya karena.." Ucap Dani sepotong yang disela oleh soraya "Apa karena kita mau menikah?" Potong Soraya terhadap perkataan Dani Dani memandang mata soraya, "Iya soraya.., Aku juga tak ingin meninggalkanmu." Dani mendekat dan menyentuh pipi soraya "Cukup berat untukku jika diriku harus meninggalkanmu. Aku tak akan pergi meninggalkanmu meski aku harus mengubur impianku." "Mengorbankan impian mas sama saja menyakiti hati mas Dani. Aku tak ingin melakukannya dan aku ingin membiarkan mas mengejar impian mas. Kejarlah impian mas.." Balas Soraya. Jujur saja soraya merasa tak nyaman jika mas dani harus mengubur impiannya. Terlihat jelas di netra mata Dani jika keinginan pada impiannya masih kuat. Bagi soraya mengubur impian mas dani sama saja dirinya menyakiti hati mas Dani. Tentu saja ia tak mau menjadi seorang wanita yang egois pada keinginannya. "Aku tak mau! Aku tak akan melakukannya soraya! Dan tak akan!" Tolak Dani secara sadis "Tapi mas.." "Lebih baik kehilangan impianku daripada aku harus meninggalkanmu soraya!" Tukas Dani dengan tegas. Sebelum soraya memberikan penjelasannya Dani sudah menyelanya terlebih dahulu. "Mas Dani ku mohon mengertilah, Impian mas Dani juga sangat penting bagiku. Aku mengerti bagaimana mas Dani memperjuangkan impian mas dan sekarang impian mas Dani di depan mata. Apa mas Dani masih ingin menguburnya begitu saja? Apa mas Dani ingin menyerah dan melepaskan begitu saja? Aku tak ingin Mas Dani menyerah pada impian mas Dani. Jika mas Dani menyerah dan melepaskan impian mas dani, hal itu sama saja aku menjadi wanita yang egois. Aku tak ingin egois mas Dani. Hal yang ku ingin adalah mas Dani mengejar impian mas." Jelas Soraya, Soraya bernafas lega saat dirinya telah menjelaskan pada mas Dani. Ia berharap jika mas Dani bisa mengerti apa yang menjadi keinginannya. "Tapi bagaimana dengan pernikahan kita Soraya?" Tanya Dani "Kita bisa memundurkan waktunya. Aku akan menunggu mas Dani hingga pulang. Setelah mas Dani pulang kita bisa melangsungkan pernikahan." Terang soraya "Soraya waktu untuk menempuh pendidikan tak sebentar. Apa kamu yakin akan menungguku?" Tanya Dani sekali lagi yang masih merasa ragu "Iya mas Dani soraya mengerti hal itu. Aku yakin akan menunggu mas Dani." Jawab Soraya Dani melihat wajah teduh soraya, "Kenapa kau rela melakukan hal ini untukku soraya?" "Karena aku ingin melihat masa depan cerah mas Dani. Aku ingin kita menata masa depan bersama-sama. Kesempatan tentang impian mas Dani juga tak akan datang dua kali jadi untuk kali ini mungkin aku akan rela untuk menunggu mas Dani. Mas Dani menata masa depan disana dan aku juga akan melakukan hal itu disini juga." Terang Soraya dengan tutur kata yang sangat menenangkan hati Dani. Tutur kata dan kedewasaan soraya membuat Dani merasa terenyuh. Masih ada saja seorang wanita yang memiliki sikap seperti soraya. Ia jarang mendapati seorang wanita yang rela berkorban. "Kamu yakin mau aku meraih impianku lagi?" Tanya Dani sekali lagi "Iya mas Dani, Perlu aku jawab berapa kali lagi hm?" Soraya mencubit pipi Dani karena merasa gemas mendengar Dani yang terus bertanya padanya. Dani menarik tubuh soraya ke dalam pelukannya "Aku akan melakukannya. Aku akan meraih impianku seperti keinginanmu kemudian kita akan membangun rumah bersama. Menata masa depan bersama di keluarga kecil kita nanti." Dani mengusap ubun-ubun kepala soraya. Dani juga melihat kecantikan gadis yang ia peluk sekarang. Ia begitu sangat cantik dan Sholihah seperti namanya "Kamu sangat cantik dan sholihah soraya. Aku beruntung mendapatkanmu dan sekali lagi terima kasih untuk pengertianmu sayang." Raut wajah soraya berubah menjadi merah. Semua karena mendengar kata 'Sayang' yang diucapkan oleh Dani kepadanya "Mas bisakah kau lepaskan pelukanmu? Aku tak ingin orang lain melihat kita." "Kenapa sayang? Bukankah sebentar lagi kita akan sah? Apa aku tak boleh memelukmu hm?" Goda Dani pada calon istrinya di depannya "Mas Dani tak boleh melakukan hal ini karena aku kan harus menunggu mas dani hm. Dan ingat ada hal yang harus mas Dani lakukan huh." "Hal apa yang harus ku lakukan soraya hm?" Tanya Dani yang masih menerka hal yang harus yang ia lakukan "Mengatakan pengunduran pernikahan kita pada abiku. Hal itu yang harus mas Dani lakukan." Tutur Soraya mengatakannya "Oh itu akan siap aku lakukan nona.." Mas Dani berdiri tegak dengan hormat padaku. Aku tertawa melihatnya. "Apapun untuk nona akan siap untuk ku lakukan jadi anda jangan khawatir." Mata soraya berbinar, "Mas Apa kita bisa melakukannya?" "Tentu saja kita akan bisa melakukannya bersama jadi kamu jangan khawatir." Balas Dani menyunggingkan senyumnya sembari mengusap kepala soraya Soraya masih diam dan tak berkutik, Dani meraih kedua tangan soraya ''Soraya apa kamu percaya qadarullah?'' Soraya mendongakkan kepalanya, Menatap mata mas Dani ''Tentu aku percaya Mas..'' ''Nah sebaik-baiknya manusia hanya berusaha sebaik mungkin dan tentang hal yang terjadi selanjutnya biarlah kita pasrahkan pada yang maha kuasa. Karena Qadarullah dari sang illahi pasti yang terbaik untuk makhluknya.'' Tutur Dani mengingatkan Soraya jika Takdir dari sang illahi tak akan pernah salah ''Iya mas, Maafkan soraya yang berburuk sangka. Apa yang mas katakan memang benar adanya, Terima kasih udah mengingatkan soraya mas.'' Ucap Soraya ''Tentu saja soraya..'' ''Jadi kita harus semangat!'' Teriak Dani dengan kencang Soraya ikut tersenyum. Kerisauan soraya kini berubah menjadi sebuah semangat yang baru. Berkat Dani ia bisa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ia hanya bisa berharap takdir membawanya pada hal yang terbaik untuk dirinya dan Dani. "Soraya.. Dani.." Seseorang memanggil soraya dan Dani. Ya dia adalah kak Meli "Kalian ngapain disitu? Ayok sini!" "Iya kak!!" Balas Dani "Ayo soraya kita kesana." Lanjut Dani mengajak soraya "Iya ayo!!" Percakapan mereka telah selesai dan semua hal yang mereka takutkan telah mereka selesaikan. Mereka berdua melangkah bersama untuk menghampiri kak Meli. Akhirnya di setiap kesulitan yang mereka hadapi memiliki jalan keluarnya. Pada dasarnya setiap kesulitan memiliki jalan keluar asal kita mau berkomunikasi satu sama lain. Karena komunikasi itulah kunci dari sebuah hubungan. Bukankah itu benar? Dan hal apakah yang akan terjadi di rintangan soraya selanjutnya? Nantikan di chapter selanjutnya~^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN