''Kejarlah impianmu jika kau menginginkannya. Aku akan rela untuk menunggumu''
- Soraya -
Subuh, seperti biasa aku dan Abi berjamaah di mushola dekat rumah kami. Setelah selesai berjamaah aku mulai membantu pekerjaan bunda di rumah. Mulai dari menyapu, memasak dan membangunkan kedua adikku. Kami sarapan bersama pada pukul 6 pagi. Saat semua sudah berangkat, aku mulai bersiap. Seperti biasa Abi menungguku untuk mengantarkanku mengajar.
''Nduk soraya abi tunggu di depan ya.'' Ujar Abi yang melihatku sedang berkemas
''Njeh Abi.''
Abi pergi dan aku mulai mengemasi buku untuk ku bawa ke pondok pesantren. Ku liat layar ponselku yang berkedip. Satu pesan dari nomer yang tak ku kenali. Ku buka dan k*****a. Ternyata pesan itu dari kakaknya mas Dani. Aku terkejut saat mendapati pesan tersebut. Kak Meli memberitahuku kalo mas Dani sedang sakit. Kak Meli juga memintaku untuk pergi kesana. Aku merasa cemas dengan keadaannya.
Haduh mas Dani sakit apa ya?
Kok tiba-tiba saja dia sakit?
Apa dia sakit karena sedang memikirkan sesuatu ya?
Semua kecemasan yang ku rasakan terus berkecambuk dalam hatiku. Aku merasa tak tenang lagi. Apa aku harus absen untuk menjenguk mas Dani?
Tapi bersama siapakah aku pergi kesana?
Aku berfikir sejenak hingga suara Abi memanggilku. Ia mendatangiku lagi ke kamar.
''Nduk Riha ayo berangkat. Udah jam 7 lebih.'' abi mengingatkanku untuk berangkat
''Um Abi..'' Ujarku lirih
Abi mendekatiku dan tepat di hadapanku ia menyentuh kedua pipiku, ''Kenapa nduk? Ada hal yang kamu fikirkan ya hm?''
Ku gelengkan kepalaku, ''Tak ada abi.''
Sejujurnya aku ingin sekali mengatakan kecemasanku tentang mas Dani. Tapi aku tak mungkin melakukannya. Hal ini adalah urusan pribadi antara aku dan mas dani jadi aku tak mungkin mudah mengatakannya. Aku tak ingin membuat Abi cemas pula.
''Terus kenapa putri abi diam aja hm?'' Abi bertanya kepadaku yang sedang melamun
''Abi sepertinya Riha tak bisa pergi mengajar hari ini.'' Tuturku
"Kenapa nduk?" Abi mengamati wajahku sebentar kemudian ia bertanya padaku lagi "Kamu sakit nduk?"
Abi menyentuh keningku dan memeriksa kondisi tubuhku. Aku menggeleng pelan pada Abi
"Tidak Abi, Riha ada keperluan untuk keluar." Jawabku yang tak berani menatap mata abiku
"Keperluan apa nduk? Kamu kan sedang dipingit dan kamu ga boleh sembarangan pergi. Kalo mau pergi biar Abi anterin ya?" Abi menawarkan untuk mengantarkanku pergi
Aduh jika Abi mengantarkanku pasti dia akan tau kalo diantara aku dan mas dani ada masalah! Batinku dalam hati
Aku harus segera membuat alasan!
Alasan yang tepat biar abi gak curiga padaku!
"Nduk gimana? Kamu kok malah bengong." Tanya Abi
"Tak usah abi." Tolakku dengan cepat
"Lha kenapa atuh nduk?" Tanya Abi
Aku mencoba berfikir cepat agar abi tak curiga padaku!
Ah Iya Lela!
"Karena Riha akan diantarkan oleh Lela. Ini tugas Riha dan Lela jadi abi tak perlu mengantarku." Jawabku dengan cepat
"Kamu yakin itu nduk?" Tanya Abi yang ku balas cepat dengan anggukan
"Njeh Abi, Riha sudah hubungi Lela kok." Balasku agar abi tak cemas padaku
"Baiklah, hati-hati ya nduk jika mau pergi. Hubungi Abi jika ada sesuatu okey?" Abi memberikanku nasehat serta perhatian yang sangat penuh padaku
Ku peluk tubuh ringkih abi "Njeh Abi."
Abi mengusap ubun-ubun kepalaku, "Ya sudah Abi berangkat dulu assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Abi.."
Abi pergi dari hadapanku. Aku buru-buru mengambil ponselku dan menghubungi Lela. Sambungan telfon Lela tersambung. Aku segera memintanya untuk menjemputku di rumah.
"Halo Assalamualaikum Lela, tolong ya jemput aku di rumah ya. Penting kamu ga usah banyak tanya nanti aku jelasin di rumah. Cepat ke rumahku, ku tunggu kamu." Tuturku dengan cepat tanpa spasi. Setelah itu ku tutup panggilan telfonku dengan Lela. Kemudian aku bersiap, mengganti pakaian kerjaku dengan gamis.
Saat aku tengah bersiap suara sepeda Lela terdengar. Aku segera keluar dari kamarku. Lela berjalan dengan mencak-mencak "Mbak Soraya kenapa atuh minta saya kesini? Tadi saya mau mengajar eh mbak Soraya telfon hm! Sekarang cepat jelaskan pada saya."
"Iya aku jelasin, Kamu ganti baju punyaku dulu ya." Pintaku
"Eh kenapa?"
"Karena kita mau pergi jauh masa kamu memakai baju dinas ngajar ini hm?" Tuturku
"Baiklah.."
Lela mengikutiku untuk pergi ke kamar. Di kamarku, Ku tunjukkan baju gamis yang telah ku siapkan untuk Lela. Awalnya Lela menolak tapi aku terus membujuknya dan ia mau menurutiku. Setelah Lela selesai berganti kami baru pergi.
Di tengah perjalanan Lela terus bertanya kepadaku kemana aku akan mengajaknya.
"Mbak kita mau kemana atuh?" Tanya Lela di sela ia mengendarai motornya
"Ke rumah Mas Dani." Jawabku singkat
"Lah mau ngapain? Mbak ada masalah ya dengan mas Dani?" Tanya Lela
Aku tak menjawab apapun pertanyaan Lela. Lela terus mendesakku untuk mengatakannya. Akhirnya ku ceritakan pada Lela.
"Mas Dani ga pernah mengatakan padaku kalo dia pengen s2 di luar negeri dan setelah dia dapat pengumuman tersebut aku ingin memastikan sebesar apa keinginannya Lela." Tuturku tanpa ingin menyalahkan mas Dani
"Kenapa juga mas Dani tuh ga mengatakan pada mbak soraya ya? Aneh banget." Komen Lela dengan julidannya
"Aku gak menyalahkannya Lela, mungkin dia hanya bingung untuk sementara ini. Jadi aku mengerti kondisi perasaannya sekarang." Balasku
"Uh kalo aku jadi mbak soraya pasti ku gibeng tuh mas Dani!" Lagi-lagi Lela berkomentar lucu tentang mas Dani. Aku hanya terkekeh dari belakang.
"Sebelum nikah masa ga mau terbuka banget idih. Gini amat ya ujian orang sebelum nikah." Ucap Lela
"Udahlah Lela, Semoga aja ujian ini bisa memperkuat hubungan kami." Ucapku dengan berbaik sangka. Aku tak ingin menyalahkan siapapun.
"Haish mbak soraya ini memang ya sabar banget. Beruntung banget deh kalo dapat mbak soraya." puji Lela
"Semua wanita itu memiliki kehebatan masing-masing Lela begitu juga kamu. Aku hanya manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah." Tuturku
"Seperti lagu mbak xixi."
"Itu emang lagu Lelaku hehe."
Kami bercanda tawa di sepanjang perjalanan. Aku memilih mengajak Lela karena hanya dia yang bisa mencairkan suasana kecemasanku. Lela adalah seseorang yang memiliki keceriaan yang tinggi, dialeknya yang selalu membuatku tertawa dan komentar recehnya yang bisa membuat siapa saja tersenyum. Dan bagiku Lela adalah sahabat terbaikku.
****
Kami sampai di rumah Dani. Aku turun dari boncengan motor Lela. Ku lihat Dani yang sedang duduk di teras rumahnya. Baru pertama kali aku melihat rumah Dani yang besar nan klasik. Halaman rumah mas Dani sangat luas dan semua terlihat sangat bersih.
Aku langsung berjalan ke rumahnya. Ku liat mas Dani yang masih terdiam termenung.
"Assalamualaikum." Ki ucapkan salam saat menginjakkan kakiku
Mas Dani menoleh dan terkejut melihatku "Waalaikumsalam, soraya.."
"Maaf mas kalo soraya kesini tanpa mengabari mas." Balasku menundukkan kepalaku karena aku takut mas Dani marah padaku.
"Duduklah soraya." Mas Dani mempersilahkanku untuk duduk
"Hai mas Dani!! Apa aku gak disuruh duduk juga?" Sahut Lela mencairkan suasana beku diantara kami berdua
"Silahkan duduk Lela." Ucapnya dingin
Beberapa menit kemudian kami masih saling diam membeku. Aku tak bisa memulai pembicaraan. Lela masih asyik berceloteh ria memuji rumah Dani sedangkan aku masih diam mematung. Beberapa saat kemudian kak meli mendatangi kami bertiga dengan membawa tiga cangkir minuman dan setoples kue.
"Akhirnya kamu datang juga dik soraya, kamu apa kabar dik soraya?" Sapa Kak Meli begitu ramah padaku sembari meletakkan tiga cangkir teh untuk kami.
"Alhamdulillah baik kak. Kak meli sendiri gimana kabarnya?" Aku bertanya balik pada kak meli
"Baik kok dik soraya." Di saat kami tengah bertanya kabar satu sama lain mas Dani menyela "Kakak yang minta soraya datang kemari!?"
Saat menyela pembicaraan aku dan kak meli, Ku lihat raut wajah mas Dani terlihat jelas begitu marah.
"Jawab kak!" Bentak mas Dani pada kak Meli
"Iya kakak yang minta dik soraya kemari. Kenapa? Kau mau marah pada kakak?" Kak Meli seperti berani dan sangat santai menanggapi bentakan mas dani. Aku merasa suasana diantara kami menjadi tegang.
"Kenapa sih kakak ikut campur? Aku bisa mengatakannya di waktu yang tepat!" Cicit Mas Dani dengan mendesis
"Sampai kapan kamu bersikap seperti ini dani? Ingat kau akan menikah dengan soraya sebentar lagi jadi berterus teranglah sekarang sebelum kau menyesal!' Sindir Kak Meli
"Tapi.." Saat mas Dani ingin membalas perkataan kak Meli, Kak Meli memotongnya "Kamu sahabatnya Soraya kan? Ayo ikut aku ke belakang. Biarkan mereka berdua berbicara."
"Baik kak.." Lela mengikuti kak Meli pergi ke belakang.
Kepergian kak Meli membuat amarah mas Dani semakin merajalela. Ia menghantamkan tangannya di meja. Aku kaget melihat sikap marah mas Dani untuk pertama kalinya. Aku tak pernah melihat mas Dani yang marah seperti ini. Mungkin ini waktu pertama kalinya aku melihat ekspresi mas Dani yang begitu berbeda dari sebelumnya.
Aku, aku tak bisa berkata apapun selain hanya diam dan menunggu waktu yang tepat untuk mencairkan suasana hatinya. Mendinginkan kemarahan mas Dani terlebih dahulu adalah hal yang perlu ku lakukan saat ini.
15 menit kami masih sama saling diam. Mas Dani membuang muka dan tak ingin melihatku sedikitpun. Aku merasa semakin merasa bersalah. Apa aku salah ya datang kemari? Jika aku salah apa aku sebaiknya pergi saja ya?
Aku merasa sangat bimbang dengan hal yang sebaiknya ku lakukan. Mungkin ini pertama kalinya diriku menghadapi sikap seorang laki-laki. Dan entah aku harus berkata apa lagi. Apa sebaiknya aku pergi saja ya? Pikirku
Aku terus menatapnya sambil berfikir dengan dalam. Wajahnya masih terlihat jelas jika dia masih marah. Dan sepertinya aku memang harus pergi.
"Mas Dani, Maaf jika kedatanganku membuat mas Dani marah dan kecewa. Oleh karena itu aku mau pamit untuk pulang saja." Ujarku lirih, aku masih tak berani menatap matanya. Aku takut ia semakin marah padaku. Aku juga tak ingin membuat kesalahpahaman pada diri mas Dani lagi. Aku lebih baik berpura-pura tak mengetahui pengumuman beasiswa S2 tersebut daripada aku dan mas dani bertengkar. Lebih baik mengalah dan menghindarinya demi kebaikan satu sama lain.
Mas Dani masih enggan menjawab perkataanku. Sudah ku pastikan jika dia sangat kecewa dengan kedatanganku.
"Aku akan memanggil Lela dan setelah itu aku akan pulang dengan Lela." Lanjutku yang ingin berjalan pergi meninggalkan mas Dani
Saat aku baru saja melangkahkan kakiku 5 langkah, tangan mas Dani menarikku. Tubuhku ditarik mundur oleh Mas Dani. Tubuhku berhenti saat tangan kekarnya memelukku dari belakang.
"Maafkan aku soraya.., Aku tak bermaksud untuk tidak mengatakannya. Aku tak ingin kamu kecewa dan pergi meninggalkanku jadi aku akan katakan hal itu sekarang." Tutur Mas Dani lirih
"Ceritakanlah mas jika kau mau, akan aku dengarkan." Ku persilahkan mas Dani untuk bercerita padaku. Aku tak ingin memaksanya bercerita banyak. Hal yang ku inginkan hanyalah ia bercerita senyamannya padaku.
"Sebenarnya kemaren aku mendapat pengumuman beasiswa S2 dari universitas impianku. Hal itulah yang ingin ku katakan padamu soraya. Maaf jika aku tak mengatakannya padamu terlebih dahulu.. Maafkan aku soraya.."
Apa jawaban soraya tentang kejujuran Dani dalam berterus terang?
Akankah soraya memahami perasan Dani?