''Aku lebih baik memendamnya dan akan ku katakan di waktu yang tepat. Aku melakukannjya karena tak ingin membuatmu berfikir.''
- Dani -
Soraya Pov
Selesai mengajar aku buru-buru keluar dari kelas. Mencari Dani di ruang guru ihwan. Ku liat Firman yang tengah menatapku bingung ''Mbak soraya, ada apa ya?''
"Pak Firman liat pak Dani tidak? Apa dia sudah pulang pak?" Tanyaku dengan nafas ngos-ngosan
"Ah baru saja pak Dani pulang mbak soraya." Jawab Pak Firman
"Yah ternyata dia sudah pulang." Ucapku lirih mendapat tatapan penasaran oleh pak firman
"Emang pak Dani tak bilang ke mbak soraya? Ku liat dari tadi pak Dani diam terus. Ku pergoki dia yang sedang membaca email beasiswa gitu. Eh dia marah ke saya, Emang kalian sedang bertengkar ya?" Cecar pak Firman yang mencoba mencari tau dariku. Dari segi pandanganku pak firman adalah tipe seseorang yang penasaran dengan urusan orang lain. Dan tentu aku tak ingin semua orang mengetahui hal intrinsik antara aku dan mas Dani. Aku ingin menjaga privasi kami berdua.
"Ah kami tak bertengkar pak Firman. Ya sudah saya pulang dulu pak firman, Terimakasih atas informasinya assalamualaikum." Pamitku ingin segera pergi agar pak firman tak mencecarku dengan berbagai pertanyaan lagi
"Ah iya mbak soraya.."
Aku tak menoleh ke arah pak firman dan ku lanjutkan dengan berjalan melangkah. Keluar dari kantor ihwan. Saat aku tengah berjalan, Suara ponselku berdering. Abi menelfonku dan mengatakan bahwa beliau telah sampai di gerbang pondokku. Ah iya aku lupa jika Abi menjemputku akhir-akhir ini. Aku langsung bergegas mengambil tasku dan berlari untuk menghampiri abi. Aku tak ingin abi terlalu lama menungguku.
Di depan gerbang aku bersalaman pada Abi dan bertanya padanya, "Abi Riha kan dah bilang kalo abi tak usah repot-repot menjemputku. Jaga kesehatan atuh Abi."
Abi menggelengkan kepalanya mendengar celotehan omelanku "Liatlah putri abi sekarang dah pintar mengomeli Abinya. Padahal sebentar lagi akan menjadi bini seseorang. Apa ini sikap yang baik hm?"
"Hampura atuh abi, Riha begini karena tak ingin Abi kecapean." Tuturku
"Sudahlah nduk Riha, Abi menjemputmu karena abi ingin menikmati waktu-waktu bersama putri abi sebelum engkau dipinang oleh seseorang. Sebelum kamu menjadi istri Dani. Abi hanya ingin menikmati waktu bersamamu nduk." Tutur Abi yang membuatku terharu
Ku peluk tubuh ringkih Abi, "Riha akan tetap menjadi putri Abi meskipun Riha sudah menikah nantinya."
Abi mengangguk "Iya nduk, Sudah ayok kamu naik."
"Baik Abi." Abi memberikanku helm dan aku segera memakainya. Abi membantuku untuk memakai helm. Abi adalah pribadi yang sangat sweet dengan anaknya, terutama padaku. Ia selalu mencurahkan segala kasih sayangnya untukku. Tanpa ada sedikitpun yang kurang.
"Ayo nduk naik."
Aku naik ke boncengan motor supra Abi. Ku peluk Abi dari belakang. Abi mulai menyalakan motornya. Kami pun mulai melewati jalanan bersama. Saat di perjalanan ku amati setiap jalan yang kami lewati. Aku merasa jika jalanan yang Abi lewati bukanlah arah jalan ke rumah. Aku merasa aneh dan curiga pada Abi. Kemanakah Abi akan membawaku?
Di pertengahan jalan, Ku berikan diri untuk bertanya pada Abi "Abi ini kan bukan jalan pulang. Abi mau membawa Riha kemana?"
"Abi mau mengajakmu menikmati indahnya alam semesta." Balas Abi terkekeh
"Ha? Kemana atuh Abi? Yang benar atuh abi. Nanti kalo bunda marah gimana hm?" Desakku agar Abi segera mengatakan tujuan Abi membawaku
"Iya Abi katakan nduk Riha, Abi mau mengajakmu kuliner nasi gurame bakar di warung maknyus. Disana banyak makanan enak nduk, Mumpung Abi habis gajian mari kita nikmati nduk hehe. Tapi inget ya nduk jangan bilang bundamu hehe." Jelas Abi sambil terkekeh melihatku di kaca spion
"Tapi Abi.."
"Uwis ya nduk manut, Abi pen buat kenangan bersama kamu jadi kali ini aja ya jangan bilang bundamu." Pinta Abi yang masih merayuku untuk tak mengatakan pada bunda
Mendengar gelagat permintaan Abi membuatku tak berhenti tertawa.
"Baiklah, Asal ada syaratnya."
"Apa nduk?" Tanya Abi
"Abi harus beliin semua yang Riha ingin makan." Ku ajukan syarat pda Abi, sebenarnya hanya menggodanya saja
"Oh kalo itu mah siap nduk! Tapi janji jan bilang bundamu." Abi memintaku untuk berjanji lagi
"Baiklah abi Riha janji."
"Okey ayo kita berangkat kulineran!!" Seru Abi melajukan motornya dengan kencang
Ya, inilah tentang pribadi Abi yang sangat tak terduga. Abi memiliki segala sifat yang tentu membuatku takjub. Kasih sayangnya dan bimbingannnya untuk anak-anaknya tak pernah terhingga. Dan aku sangat menyanyangi Abi. Bagiku abi adalah cinta pertama untukku dan tak akan terganti oleh siapapun. Tanpa Abi mungkin aku tak akan sekuat sekarang.
Semua lelah dan fikiran cemasku berubah sekejap. Jika tadi aku cemas memikirkan mas Dani dan sekarang tergantikan oleh canda tawa yang Abi berikan padaku.
Tuhan semoga engkau selalu memberikanku kebahagiaan dan semoga nanti aku bisa segera menyelesaikan masalahku dengan mas Dani..
****
"Soraya aku bisa jelasin semua.. Bukan aku tak ingin menutupi semuanya .. aku hanya.. Soraya jangan pergi.. Soraya!!" Teriakan Dani membuat Meli yang berada di kamarnya langsung menghampiri adeknya
Meli masih melihat adeknya yang tertidur sambil mengigau. Meli mencoba menepuk-nepuk pipi adeknya "Dek bangun dek..Bangun.."
Dani bangun dari tidurnya dengan keadaan keringat yang bercucuran. Ia menoleh ke samping dan melihat kakaknya, "Kak Meli.."
"Ada hal yang lu pikirin ya?" Tebak Kak Meli
"Gak ada kok kak, Dani lanjut tidur lagi ya uhuk.. uhuk.." Dani memilih bungkam dan tak menceritakan masalahnya pada kakaknya. Ia merebahkan kembali tubuhnya.
Dani merasakan udara di kamarnya terasa sangat dingin. Ia juga terbatuk-batuk tanpa sebab. Meli yang melihat sikap adeknya yang janggal langsung menyentuh dahinya.
Meli merasakan suhu panas di dahi adeknya, "Astagah dek suhu tubuhmu panas banget! Kakak ambilin kompres ya! Sama obatnya sekalian!"
Dani ingin menghentikan kakaknya akan tetapi kakaknya dah terlanjur keluar dari kamarnya. Dani mencoba mengecek suhu badannya. Ia merasakan panas di dahinya. Pandangannya juga semakin berkunang-kunang. Matanya tampak tak kuat menahan rasa kantuknya. Beberapa menit kemudian kak Meli datang dengan membawa air kompres, makanan dan obat.
"Dek, Kamu makan dulu ya abis itu minum obat." ujar Meli sambil membantu Dani untuk duduk
"Aku tak apa kok kak, Dani cuma kecapean." Dani menolak permintaan kakaknya
Cetas!
Kak Meli menyentil dahi Dani membuat Dani mengerang.
"Aduh kak sakit tau!" Rintih Dani
"Liat suhu tubuhmu yang panas gini masa dibilang kecapean! Udah nurut aja dan cepat makan! Terus minum obat! Kalo gak mau liat aja nanti akibatnya!" Kak Meli mengancam Dani dengan mengeluarkan ekspresi marahnya
Dani tau jika kakaknya sedang marah maka akan terjadi perang dunia ketiga untuknya. Melihat ekspresi marah kakaknya membuatnya tak berkutik untuk menolaknya lagi.
"Iya kak."
Kak Meli memberikan bantal untuk sandaran tubuh Dani. Kemudian Ia memberikan semangkuk nasi dan lauk untuk Dani. Dani menerimanya dan segera memakannya tanpa tersisa.
Kemudian kak Meli memberikan obat untuk Dani, "Udah tau mendung masih aja gak pulang-pulang. Liat sendiri kan apa akibatnya sekarang. Untung saja umik ga tau kalo tau bisa diomeli kau dek."
"Iya iya kak."
"Lagian ngapain sih ga pulang-pulang hah? Mau cari sakit?" Omel Kak Meli lagi
"Enggak ada kerjaan." Dani memberikan alasan bohong pada kakaknya
"Emang gua bisa lu bohongi dek? Kagak bisa dek!" Kak Meli kembali mengeluarkan ekspresi seramnya. Dani kembali tak berkutik.
"Lu bukan anak kecil lagi yang bisa main hujan-hujanan dek! Apalagi lu naik motor! Kalo lu kenapa-napa gimana hah? Siapa yang repot? Ya kita semua!" Maki Kak Meli pada Dani. Ia berhenti sejak dan menatap wajah lugu adeknya yang hanya diam, "Ingat dek Lu tuh mau nikah! Kalo lu sakit gimana pernikahan lu hah? Batal gitu aja? Ya kasian calon bini lu dek! Inget ya dek lu tuh bukan anak kecil lagi! Lu tuh dah dewasa yang bakal mengemban tugas sebagai calon suami dari Soraya!"
Dani menundukkan kepalanya, "Iya kak."
"Jangan iya-iya aja! Lu tuh kalo ada apa-apa ya coba terbuka bukan malah menutupinya! Apalagi lu mau nikah!" Kak Meli melanjutkan untuk mengomeli Dani
"Iya kak." Jawaban Dani masih sama hanya iya dan iya
"Kalo lu ga bisa cerita sama gua ya cerita sama Soraya! Apa lu mau gua bilangin ke Soraya biar lu mau terbuka hah?" Ujar Meli yang mulai membahas Soraya
"Ha? Gak usah kak, Dani bisa bicara sendiri." Tolak Dani, ia tak mau kakaknya ikut campur dalam urusannya
"Ya udah sampein ke Soraya! Cerita ke Soraya! Masalah lu ya masalah buat Soraya. Jadi jujurlah sama Soraya, atasi semua bersama dan cari jalan dari akar permasalahanmu." Kak Meli menasehati Dani
"Iya kak."
"Iya iya mulu dari tadi dek! Sekarang kakak tanya padamu, kapan kamu bakal cerita ke Soraya?" Tanya Kak Meli yang merasa sudah geregetan dengan kebungkaman Dani
"Nanti aku cari waktu yang tepat kak." Jawab Dani dengan datar
"Iya tapi kapan dek?" Cecar Kak Meli pada adeknya
"Ya nantilah kak, Udah ah aku mau tidur! Kakak sebaiknya keluar deh!" Usir Dani pada Meli
"Lu tidur, Gua akan jaga lu disini." Balas Meli
"Ha? Mau ngapain?"
"Mau ngompres lu lah dek!"
"Ga usah!" Tolak Dani lagi
"Udah diam gak usah banyak cincong! Tidur aja gua kompres lu! Gua janji ga bakal berisik lagi!" Kekeh Meli pada keinginannya
"Tapi.."
"Udah cepet tidur!"
Dani merebahkan dirinya. Ia tak bisa melawan keinginan kakaknya apalagi berdebat dengan kak Meli lagi. Semua perdebatan membuat Dani merasa pusing. Akhirnya ia memilih tidur ditemani kak Meli yang mengompresnya. Lama kelamaan Dani tertidur pulas.
Meli merasa sangat lega dengan melihat adeknya yang sudah tertidur pulas. Ia diam-diam keluar dari kamar Dani. Ia melihat ponsel Dani yang tergeletak di meja. Ia mengambilnya dan membawanya keluar dari kamarnya. Meli melihat ponsel Dani sambil men-chargernya. Mengambil kontak soraya kemudian ia meletakkannya lagi. Setelah dirasa ia telah dapat kontak dari soraya, ia langsung mengirimkan pesan untuk soraya.
Assalamualaikum soraya, Aku kakaknya Dani. Aku mau beritahu kamu kalo Dani sakit hari ini jadi dia besok tak bisa pergi mengajar. Oh iya, kalo kamu ada kesempatan untuk jenguk dani maka kesinilah. Selesaikan masalah kalian berdua dan jangan saling diam-diaman. Aku ingin membuat Dani terbuka padamu jadi tolong luangkanlah waktumu besok ya, Maaf jika merepotkanmu.
Meli
Send..
Setelah mengetikkan pesan untuk Soraya, Meli meletakkan ponselnya. Ia menatap cahaya bintang di langit.
Dek maaf ya kalo aku melakukan hal ini.. Semua demi kebaikanmu dan soraya. Aku tak ingin kamu tertutup dan soraya berhak tau masalahmu.
Hanya ini caranya dan semoga kamu tak marah ya. Semoga semua bisa terselesaikan dengan mudah. Kakak hanya ingin melakukan hal yang terbaik untukmu dan soraya..